Ini Salah, Mas

1348 Kata
Aluna memejamkan mata, sebab ia yakin kalau sebentar lagi pria kejam itu akan menghukumnya dengan kejam. Ia sudah siap jika tangan jahat itu akan memu-ukulnya. Dan saat matanya terpejam dan pasrah akan apa yang dilakukan oleh Raka sebentar lagi padanya, sebuah tangan menghalau puk-ulan yang akan dilayangkan oleh Raka. “Apa yang akan kau lakukan?” Raga datang tepat waktu, sejak Aluna pergi hatinya tak tenang. Ia takut kalau Raka akan melakukan kekerasan lagi pada Aluna, dan ternyata memang benar kalau adiknya yang kurang ajar ini memang akan melayangkan pukulan pada orang yang sangat dicintainya. “Kau memang pecundang! Kau hanya berani pada perempuan!” Raga tak bisa lagi menahan amarahnya, Raka benar-benar memperlakukan Aluna dengan sangat buruk. “Apa masalahmu, sampai kau melakukan semua ini? Kau sangat membenciku, maka hukum aku dan jangan kekasihku!” Raka terbahak, lalu seringai jahat muncul di wajahnya, “Justru yang aku lakukan sekarang adalah menyiksamu. Aku bahagia melihatmu menderita, akan aku buat kau menangis darah, Raga.” “Kau!” Raga akan menyerang Raka lagi, akan tetapi Aluna menghalaunya. Jangan sampai Raga menyerang lagi Raka. Karena Megumi pasti akan marah dan kembali menyalahkan Aluna. “Mas …” Aluna menggelengkan kepalanya. “Jangan lakukan ini.” ucapnya dengan nada memohon. “Kau lihat? Bahkan istriku saja membelaku.” jawabnya dengan sangat menyebalkan. Seolah sedang memperlihatkan kalau Aluna adalah miliknya dan membuat Raga terbakar api cemburu. Aluna menatap Raka dengan tajam, “Aku tidak pernah membelamu dan tidak akan pernah melakukannya.” jawab Aluna, lalu tatapan lembut ia alihkan pada Raga. “Mas bisa pulang, terima kasih karena sudah menolongku.” “Aluna, aku tidak akan membiarkannya menyakitimu.” Raga memegang pipi Aluna. “Jika terjadi sesuatu padaku, bukankah Mas sudah tahu siapa pelakunya.” jawab Aluna. “Aluna …” “Percaya padaku, aku akan bisa menjaga diriku.” ucapnya. “Berhenti membuat drama di depanku, kalian berdua sungguh sangat memuakkan!” Raka benar-benar tak suka dengan sikap mereka berdua. Rupanya pernikahan ini belum cukup untuk memisahkan mereka berdua. Sepertinya ia harus mencari jalan lain untuk membuat mereka menderita. Dengan terpaksa, akhirnya Raga pun pulang dengan berat hati, meski ia tak mau meninggalkan Aluna sendirian disana. Namun, tak ada jalan lain sebab kini mereka bukan lagi sepasang kekasih. Tapi hubungan mereka adalah sebagai kakak dan adik ipar semata. Setelah Raga pergi, Raka kembali menyeringai jahat. Dan Aluna tahu kalau sebentar lagi pria ini akan melakukan hal yang jahat padanya. Semoga saja, kali ini tak ada kekerasan yang dilakukan Raka padanya. Karena Aluna merasa jika tubuhnya sudah sangat lelah. “Kenapa?” Aluna bertanya. “kau tahu kalau sejak tadi aku menunggumu karena aku ingin berganti pakaian.” “Lalu?” “Bantu aku membersihkan diri.” “Apa? Kenapa harus aku yang membantumu, kenapa tidak perawat saja yang melakukannya?” “Jika ada seorang istri yang bisa membantuku. Lalu kenapa kau harus meminta perawat. Lagi pula aku tidak suka jika ada orang lain yang melihat tubuhku.” ucapnya dengan licik. Aluna menggelengkan kepala, ia tahu kalau saat ini Raka tengah berbohong dan ia tahu kalau apa yang dilakukannya semata hanya karena ingin membuat Aluna kesal. Namun, sekali lagi Aluna tak boleh lemah. Raka sengaja ingin membuat Aluna tak nyaman dengan keadaan ini. Akan tetapi, bukankah Aluna bisa membalikan keadaan ini, bukan? Kita buat pria yang merasa dirinya seorang tirani ini tak nyaman dengan apa yang Aluna lakukan. “Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya.” jawab Aluna, ia pun lalu pergi ke kamar mandi dan menyiapkan segala yang akan digunakannya untuk membersihkan tubuh Raka. Mulai dari menyiapkan air dan juga mengambil handuk kecil untuk mengelap tubuhnya, dan handuk yang akan digunakan untuk menutup tubuhnya. Setelah semuanya siap, Aluna kembali ke kamar Raka. Dan bisa Aluna lihat kalau pria itu tengah tersenyum manis sambil melihat ke arah ponselnya. Entah apa yang ia lihat, Aluna tidak peduli. “Bangun, dan duduklah.” ucapnya sambil menghampiri Raka. Raka mendelik kesal, tapi tak urung ia menuruti apa yang Aluna perintahkan. Lagi pula sebentar lagi ia akan membuat Aluna kesal, jadi untuk apa ia marah sekarang. Raka duduk dan siap untuk membuat Aluna marah. “Buka bajuku.” Tanpa banyak bicara Aluna menurutinya, jemari lentiknya mulai membuka piyama yang dikenakan oleh Raka. Ia tampak tenang, dan tidak akan Aluna biarkan suami gilanya senang dengan apa yang dilakukannya sekarang. “Lap tubuhku sampai bersih, dan pastikan tangan kotormu tak menyentuh tubuh berhargaku.” “Jika tanganku tak boleh menyentuh tubuhmu yang berharga, lantas bagaimana aku harus melakukannya. Apa aku harus membersihkan tubuhmu dengan kakiku?” “Jangan lancang! Kau hanya tak perlu menyentuhku, bukankah ada handuk kecil yang kau pegang. Maka gunakan benda itu untuk membersihkan tubuhku. Jangan sampai tangan kotormu …” “Aku mengerti!” potong Aluna, sungguh memuakkan pikirnya. Aluna pun dengan lembut membersihkan tubuh Raka dengan handuk hangat, ia memperlakukannya dengan sangat lembut. Meski sebenarnya ia ingin membuat Raka kesakitan dan juga menderita. Tapi sudahlah, untuk saat ini ia akan diam dan mengalah. Sampai ia menemukan cara untuk lepas dari jerat jahat Raka. Raka memperhatikan Aluna dengan seksama, wajah gadis ini sangat cantik. Pantaslah Raga begitu mencintainya. Namun, Raka tidak akan pernah terpesona oleh Aluna. Karena cintanya hanya untuk gadis cantik bernama Kyara. Gadis cantik yang selama ini menjadi penghuni hatinya, seorang gadis yang diinginkannya untuk menjadi pendamping masa depannya. Tapi sayang, gadis itu malah menolak cintanya sebab ia sangat mencintai Raga. Raka marah, ia kecewa dan menganggap Raga adalah penghalang antara dirinya dan Kyara. Untuk itulah ia ingin membalaskan sakit hatinya, dengan memperalat Aluna. Agar Raga rasanya, bagaimana tak bisa memiliki gadis yang dicintainya. Disini Aluna hanya korban, korban keegoisan Raka yang buta karena cinta. Aluna hanya sebuah pion yang digunakannya untuk balas dendam atas sakit hatinya dari penolakan cinta Kyara. Selesai membersihkan tubuh Raka, ia juga menyuapi Raka. Sebab pria durjana ini ingin makan dari tangan Aluna. Dan ingin membuatnya kesal dan juga kelelahan. Dengan sabar Aluna memperlakukan Raka, tak sedikitpun ia perlihatkan kekesalannya. Meskipun ia sangat marah sekarang, sebab ia tahu kalau Raka memang ingin membuatnya marah dan terlihat menderita. Selesai melakukan tugasnya, Aluna pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan juga mukanya. Ia menarik nafasnya pelan dan melihat tampilan wajahnya yang menyedihkan di cermin. “Ya Tuhan, berikqn aku kekuatan dan juga kesabaran.” gumamnya, lalu ia keluar dari kamar mandi dan melihat Raka sudah tertidur pulas. Tubuhnya sudah bersih dan perutnya sudah kenyang. Pantaslah ia tidur dengan nyenyak. “Dasar jahat.” gumamnya, Aluna duduk sebentar lalu kemudian ia memegang perutnya. Ia juga merasa lapar, beruntung ia masih memiliki pegangan uang. Karena Raka sudah tidur, maka Aluna pun berniat untuk pergi keluar dan mencari makanan. Akan ada banyak pekerjaan setelah ini, dan Aluna harus kuat dan menyimpan banyak tenaga. Dengan langkah pelan, Aluna pun pergi keluar ruangan. Namun, baru saja beberapa langkah ia keluar, sebuah tangan menarik tubuh kecilnya dan memaksanya untuk masuk ke dalam ruangan. Aluna hendak berteriak, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena orang yang menariknya adalah Raga. “Mas Raga …” Pria itu langsung memeluknya dengan erat, “Aku sangat merindukanmu.” “Mas, aku …” “Jangan katakan apapun Aluna, saat ini aku sedang ingin memelukmu.” Aluna tahu ini salah, tapi tidak munafik karena ia pun sangat merindukan Raga dan menikmati pelukan hangat yang ia rindukan. Ruangan ini adalah ruangan VVIP, hingga tak ada banyak yang mengisi ruangan itu. Dan dengan sengaja tadi Raka membayar ruangan itu hanya untuk melepaskan rindunya pada Aluna. Aluna menangis dan membalas pelukan Raga, tidak peduli apa status mereka sekarang. Saat ini, Aluna hanya ingin memeluk Raga dan menumpahkan semua rasa sakitnya. “Masss … aku.” “Aku tahu, biarkan aku bersamamu malam ini, Aluna.” “Mas, ini salah. Seharusnya kita jangan begini, aku tahu aku juga sangat merindukanmu dan mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku, aku eemmmmmmppptt ….” Raka membungkam bibir Aluna dengan bibirnya, saat ini Raga hanya ingin bersama dengan Aluna. Ia tahu ia salah, tapi cintanya tak bisa ia cegah. Raga menyesap kecil bibir itu dan merasakan kelembutannya. “Tidak, ini salah … aku tidak boleh begini.” batin Aluna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN