Cukup lama mereka berdua berpelukan dan saling mengecap rasa cinta mereka berdua. Setelah keduanya puas bercerita, mereka pun segera keluar untuk mencari makan. Bukannya Raga tak mau berlama-lama dengan Aluna. Namun, suara perut Aluna yang keroncongan membuat Raga tak tega, sebab kekasihnya ini tengah kelaparan. Sedangkan jam sudah menunjukan pukul sembilan malam lebih tiga puluh menit. Aluna pasti sangat kelaparan.
“Kenapa tidak bilang kalau kau belum makan?” Raga bertanya pada Aluna yang tengah makan dengan lahapnya. Kekasihnya ini pasti tengah sangat kelaparan. Astaga, ternyata benar kata orang kalau hanya cinta tak akan membuat perut menjadi kenyang.
“Ada orang yang sejak tadi memelukku, jadi bagaimana aku akan mengatakannya.” jawab Aluna, meski mereka makan di kedai yang ada di pinggir jalan. Namun, Aluna begitu menikmati makanan yang sedang dimakannya.
Raga tersenyum, tapi hatinya begitu sedih jika mengingat kalau Aluna bukanlah miliknya. Seandainya saja ia bisa, akan ia bawa pergi Aluna sejauh mungkin. Akan tetapi, nama baik keluarga kembali mengurungkan niat hatinya. Dan ia pun akan terusir dari keluarga Shankara, dan sepertinya itu memang yang diinginkan oleh Raka. Dirinya pergi, dan seluruh kekayaan keluarga Shankara akan jatuh kepadanya. Sungguh sangat licik, b******n kecil itu.
Tapi tunggu dulu, Aluna bilang kalau Raka menikah dengannya karena ia ingin membuat Raga terluka. Sebab, gadis yang sangat dicintainya ternyata malah menaruh hati pada Raga. Apa gadis itu adalah Kyara, putri dari salah satu relasi kerja papanya. Kyara adalah seorang gadis cantik dan juga cerdas, ia juga terlahir dari keluarga terhormat.
Raga harus menyelidiki semua ini, jika memang Raka menikah dengan Aluna karena Kyara. Dan menyiksa Aluna hanya karena kecewa karena gadis itu. Perbuatan Raka sungguh sangatlah kony0l.
Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus menawan Kyara, agar Raka melepaskan Aluna.
“Mas …” panggil Aluna.
“Ada apa?” tanya Raga, lamunannya buyar kala suara manja yang selalu menghiasi hatinya itu memanggil namanya.
“Kenapa melamun?”
Raga menggelengkan kepala, “Aku tidak melamun, hanya saja aku sedang berpikir bagaimana caranya aku melepaskanmu dari b******n tengik itu.”
Seketika Aluna pun menunduk, ia sendiri juga bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Karena Aluna sendiri merasa tersiksa jika terus berada dekat dengan Raka.
“Tentang apa?”
“Tentang kau.” jawab Raga, hembusan nafas berat terdengar begitu jelas di telinga Aluna. “Aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa membebaskanmu. Aku ingin kau menjadi milikku, Aluna. Aku hampir gila, seharian aku merenung dan berusaha untuk menerima takdir kalau kau bukanlah milikku. Namun, semakin aku mencoba menerima, tekanan yang aku rasakan sungguh sangat hebat. Aku tidak bisa, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menerima takdir ini. Akan aku lakukan apapun agar kau lepas dari si Gila itu!”
Aluna mengangguk mengerti, tak terasa air mata itu jatuh lagi. Rupanya getaran hatinya pada Raga, tak bisa semudah itu ia melupakannya. “Aku akan menunggu hari itu, aku akan menunggu Mas menyelamatkanku dan membebaskanku darinya.
Tangan Raga terulur, memegang jemari lentik milik Aluna. “Tunggulah aku, Aluna. Tunggu aku melepaskanmu.”
“Aku akan selalu menunggumu, Mas. Selalu …”
-
-
Selesai makan malam Raga kembali mengantarkan Aluna ke kamar Raka, dan bahkan ia mengantarkannya sampai ke depan kamar. Ia takut kalau Raka bangun, dan akan melukai Aluna. Namun, syukurlah. Pria b******k itu masih tidur dengan terlelap, mungkin karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter. Membuat Raka tertidur dengan begitu nyenyak.
“Aku akan berjaga di kamar itu.” tunjuknya pada ruangan dimana Raga tadi menariknya.
“Apa?” Aluna berusaha menekan suaranya, agar tak terdengar. “Tapi …”
“Dia tidak akan tahu, karena si manja itu akan berbaring seharian disana.” jawab Raga.
Aluna sungguh sangat terharu, perhatian Raga memang sangat luar biasa. Cintanya pada Aluna memang sangat besar dan Aluna tahu itu. Ia pun mengangguk lalu kemudian hendak masuk. Tapi sebelum Aluna masuk, Raga menariknya kembali dan memeluknya sebentar, tak lupa ia mengecup keningnya. Tak peduli dengan takdir, baginya Aluna hanya miliknya. “Tidurlah, aku akan menjagamu.”
“Terima kasih.” ucapnya lalu masuk ke dalam untuk segera beristirahat. Akan ada hanya hari yang melelahkan di esok hari, dan Aluna harus siap dan mengumpulkan tenaganya.
Setidaknya setelah ada Raga, ia merasa tidak sendirian. Dan ia juga merasa kalau ada orang yang akan melindunginya. Semoga saja masalah ini bisa segera berakhir, dan ia bisa segera lepas dari jerat dendam Raka.
-
Keesokan harinya, Raga pulang karena ia harus bekerja. Namun, sebelum ia pergi ia memerintahkan orang untuk menjaga Aluna. Agar jika Raka akan kembali berbuat jahat padanya, ada seseorang yang menjaganya di saat ia tidak ada.
Raga menghentikan mobilnya tepat di depan rumah, ia bergegas masuk dan saat hendak ke kamarnya ia berpapasan dengan ibu tirinya, Megumi.
“Raga, kau dari mana?” tanyanya dengan penuh selidik. Sejak masalah kemarin, sikapnya memang berubah. Sebab, Brama menyalahkannya atas semua kesalahan Raka. “Jangan katakan kau dari rumah sakit dan bertemu dengan Aluna, apa kalian bermain serong di saat Raka terluka? Astaga, kalian sangat keterlaluan.” tuduhnya langsung pada Raga.
“Aku hanya ingin menjaga Aluna, dari jahatnya tangan Raka yang dengan mudahnya selalu memukul dan juga menyakitinya.” jawab Raga tegas.
“Apa kau bilang? Raka memukul dan juga menyakiti Aluna, apa kau sedang membuat tuduhan palsu pada adikmu? Ouh ayolah, Raga kau sangat menyayangi dan juga peduli pada Raka.Jangan hanya karena seorang wanita kau melayangkan tuduhan kejam padanya.”
“Apa perlu kita melakukan visum?” tantang Raga.
“K-kau …”
“Dulu aku memang peduli pada Raka, dan aku menyayanginya seperti adik kandungku sendiri. Tapi semua itu, tentunya sebelum b******n itu merebut cintaku dan menyakitinya.”
“Raga …!!!”
“Megumi, cukup!” Brama menghampiri mereka berdua, ia tatap istri dan putranya yang saat ini tengah berselisih. “Megumi, Raga adalah orang yang tahu batasan. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Dia bukan orang yang bersikap seenaknya hanya demi kesenangan sendiri.” ucap Brama penuh dengan penekanan. Saat ini ia memang tengah menyindir Raka yang bersikap seenaknya pada Raga, putranya.
“Mas, tapi …”
“Jangan kau tutup matamu, Megumi. Jangan hanya karena Raka adalah putramu, kau menolak kenyataan kalau Raka telah melakukan kekerasan verbal pada Aluna. Kau bahkan bisa melihatnya sendiri, jika Aluna terluka di wajah dan juga tubuhnya.
“Bisa saja wanita itu terluka sendiri, terjatuh misalnya. Dan dengan sengaja ia memperlihatkannya pada kita, agar kita simpati padanya dan menyalahkan Raka!”
“Megumi!” bentak Brama, ia maju dan membisikan sesuatu ditelinga istrinya. “Apa perlu aku mempraktekannya padamu. Agar kau tahu bagaimana rasanya terluka akibat pukulan atau terjatuh.”
Degggghhh ….
“M-mas aku …”