Tidak ada cara lain, Megumi akhirnya memilih untuk diam dan tak mengatakan hal apapun lagi kepada Raga maupun kepada suaminya. Ia tahu kalau tubuh Aluna terluka akibat dari pukulan Raka. Namun, ia tidak mau ambil pusing dan membiarkan hal itu terjadi. Karena baginya, kekacauan keluarganya disebabkan oleh Aluna. Dan ia pantas mendapatkannya.
Megumi bahkan tidak sadar diri, atau mungkin ia menutup diri jika semua kekacauan ini disebabkan oleh putra kesayangannya. Tapi ia terus berusaha untuk memungkiri dan menormalisasikan semua kesalahan putranya.
Megumi lalu pergi dan tidak memperdulikan lagi Raga. Lebih baik ia menghindari masalah dengan Brama. Jangan sampai pria ini kehilangan kesabaran, hingga akhirnya berujung pada kehancuran rumah tangganya. Sebab, Brama adalah orang yang tidak mudah dikendalikan jika sedang sangat kesal. Dan sebagai istrinya, ia tentu tahu bagaimana sikap Brama.
Setelah Megumi pergi, Brama mengajak Raga untuk bicara di ruang kerjanya.
“Papa mau bicara denganmu, Raga.” ucapnya pada sang putra.
Raga menghela nafas, tapi tak urung ia menganggukan kepala. Dan mengikuti kemana papanya pergi.
Sesampainya di ruang kerja, kedua pria itu duduk saling berhadapan.
“Apa yang mau Papa katakan padaku?” Raga tidak mau berlama-lama dengan papanya. Suasana hatinya sedang sangat buruk, ia tidak mau banyak berinteraksi dengan orang lain termasuk ayahnya sendiri.
“Papa mengerti bagaimana perasaanmu, Raga.”
“Tidak ada yang mengerti perasaanku.” potongnya.
“Papa sungguh tidak tahu alasan Raka menikah dengan Aluna. Papa juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Raka. Yang jelas Papa sangat kecewa. Terlebih …”
“Terlebih Mama selalu membelanya, semua yang dilakukan oleh Raka adalah benar. Aku harus mengerti dengan apa yang dilakukannya, aku harus memahami perasaannya, aku … aku yang terluka. Tapi aku yang harus menerima, ini semua tidak adil!”
Brama menghela nafas panjang, sebenarnya ia juga sangat kesal karena Raka. Ditambah sikap Megumi yang terlihat membenarkan apa yang dilakukan oleh Raka, justru malah memperkeruh keadaan.
“Raga …”
“Aku tidak mau mendengar apapun lagi.” Raga bangkit lalu kemudian pergi meninggalkan Brama yang sebenarnya masih ingin bicara banyak dengannya. Namun, Brama mengerti. Suasana hatinya yang sedang sangat buruk akan membuat Raga tak bisa mengontrol dirinya.
-
-
Di rumah sakit
Pagi ini Aluna bangun dan langsung membantu Raka untuk membersihkan tubuhnya, perlahan ia membuka kancing baju piyama Raka.
“Jangan harap aku akan menyentuhmu, karena aku tidak akan pernah tergoda olehmu!”
Aluna tak menjawab perkataan Raka, ia hanya ingin menyelesaikan tugasnya dengan baik. Agar ia bisa segera beristirahat, itu saja.
“Hei Aluna! Aku bicara denganmu!”
“Aku tidak tuli, dan aku bisa mendengar suaramu yang begitu kencang. Jarak kita hanya beberapa senti saja, kenapa kau sangat ribut?” jawab Aluna, lalu ia menyeka tubuh Raka perlahan. Bisa Aluna lihat dengan jelas jika bagian tubuh Raka juga memar akibat pukulan Raga.
Namun, apa peduli Aluna. Sebab apa yang dirasakan oleh Raka sekarang tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh pria ini padanya.
Saat tangan itu menyentuh kulitnya, terasa begitu lembut. Tapi tangan itu begitu dingin, apa mungkin ia sedang gugup saat ini.
Ya … pasti Aluna sedang sangat gugup sekarang, sama seperti saat semalam. Tapi ia tidak mau menunjukkannya pada Raka, ia tidak mau terlihat lemah karena pria ini akan semakin menindasnya jika ia tahu kalau Aluna tengah gugup dan tidak suka dengan perintah yang diberikan oleh Raka.
Aluna begitu sabar merawat Raka yang tengah sakit, ia tak mengeluh dan tak mengatakan apapun, meski ia sangat menginginkannya.
Selesai mengganti baju Raka, Aluna segera menyiapkan makanan untuknya. Semuanya memang sudah siap, karena rumah sakit yang menyediakannya. Dan Aluna hanya tinggal menyuapi b******n manja yang bahagia melihatnya menderita.
Saat sedang menyuapi Raka, tiba-tiba saja ia teringat akan kejadian semalam saat ia sedang bersama dengan Raga. Dimana mereka berciuman dan saling mengecap rasa.
Aluna merasa bersalah dan sangat berdosa, karena telah mengkhianati Raka sebagai suami sah-nya. Entahlah, siapa yang ia khianati yang jelas perasaannya saat ini terasa tidak karuan.
“Apa yang kau pikirkan? Apa kau suka melayaniku?”
“Menurutmu?” tanya Aluna balik.
Raka tertawa sinis, “Kau tahu, Aluna. Penderitaanmu adalah kebahagiaanku.”
“Aku tahu, bukankah kau sudah sering mengatakannya.”
“Baguslah kalau kau …”
“Raka …” suara lembut itu kembali terdengar di indera pendengarannya. Suara gadis yang selama ini dicintainya, gadis yang membuatnya tergila-gila. Hingga Raka memang benar gila, karena penolakannya membuat Raka malah menyiksa Aluna.
“Kyara …” Panggilnya.
Aluna melihat ke arah gadis cantik yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat mereka. Gadis yang diketahuinya adalah seorang anak tunggal dari pemilik perusahaan ternama, yang merupakan salah satu relasi perusahaan Shankara.
“Apa yang terjadi? Kenapa kau terluka?” gadis cantik itu lalu duduk di samping Raka tanpa memperdulikan keberadaan Aluna. Setelah mendengar kabar kalau Raka terluka Kyara datang sebab mengira jika Raka telah melakukan hal bodoh karena penolakan cintanya waktu itu.
Rasa bersalah yang tadi sempat singgah dalam hati Aluna, kini perasaan bersalah itu pun menghilang begitu saja. Saat melihat gadis bernama Kyara itu menyentuh Raka dengan sangat perhatian. Bahkan tanpa rasa canggung Kyara bersikap sangat perhatian pada b******n manja itu.
Raka tak menjawab, tapi ia melihat ke arah Aluna. Hingga Kyara pun mengikuti kemana tatapan Raka tertuju.
“Apa karena dia?” tiba-tiba saja Kyara pun mendelik ke arah Aluna. Sorot matanya menunjukkan ketidaksukaannya pada Aluna. Ia memang tidak menyukainya,, sebab yang diketahuinya adalah jika Aluna adalah kekasihnya Raga. Wanita biasa yang merebut hati pria yang selama ini dicintai olehnya.
“Bukan karena aku, tapi sikapnya sendiri yang membuatnya menjadi seperti itu.” jawab Aluna.
“Kenapa kau berada disini? Bukankah kau adalah kekasihnya Raga, lalu kenapa kau malah yang merawat Raka?” tanyanya dengan sinis, suaranya memang terdengar begitu lembut. Tapi nada kebencian bisa terdengar begitu jelas di telinga Aluna.
Dia lembut bagaikan kapas, tapi siapa yang menyangka jika kapas itu terkena kulit maka akan membuat terluka. Seperti ada sebuah goresan kasar yang mengenai hati Aluna.
“Dia istriku sekarang.” jawab Raka.
Kyara menatap tak percaya pada Raka, “Apa kau bilang, istri? Jadi kau menikah dengannya?” Kyara menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang didengar.
“Iya, Aluna adalah istriku dan aku sudah menikah dengannya. Apa kau belum menerima surat undangan pernikahanku?” tanyanya.
Kyara menggeleng, Raka tidak tahu kalau Raga bertindak cepat. Hingga saat undangan pernikahan Raka disebar, ia mengerahkan banyak orang untuk menariknya kembali. Dan pesta pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.
“Ouh astaga, Raka … aku tahu kau sangat mencintaiku. Tapi aku tidak tahu kalau kau akan melakukan pengorbanan sampai seperti ini. Kau menikah dengannya agar aku bisa menikah dengan Raga? Ya ampun Raka …”
Raka dan Aluna pun saling pandang, keduanya seperti saling bertanya tentang apa yang dikatakan oleh Kyara barusan. Jadi Kyara mengira kalau Raka sedang melakukan pengorbanan untuknya.
Sungguh konyol …