Kyara kesal dengan sikap Megumi, ia tidak menyangka kalau Megumi akan berkata sesuatu yang tidak mengenakan hatinya. Padahal dulu wanita ini selalu membanggakannya, dan menginginkan ia menjadi menantunya. Namun, entah mengapa hari ini, Megumi bahkan enggan melihat ke arahnya, seolah ponsel di tangannya jauh lebih menarik dibandingkan dengan dirinya. “Aku pulang dulu.” ia memilih untuk pulang, daripada ia berada di rumah yang dimana keberadaannya tidak diinginkan. Harga dirinya sangat tinggi, mana mungkin ia mau direndahkan oleh orang seperti Megumi. “Ya, baiklah … hati-hati.” ucapannya terdengar tidak tulus dan hanya seperti sebuah basa-basi. Kyara menatap kesal pada wanita yang sedang duduk sambil menikmati teh hangatnya. Tak ada satu katapun yang terucap lagi dari mulutnya. Ia pergi d

