bc

Cinta Sejatiku Istri Orang

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
badboy
heir/heiress
sweet
lighthearted
like
intro-logo
Uraian

Namira Zahra hidup dalam pernikahan yang tampak sempurna hingga ia sadar, kesempurnaan itu dibangun di atas kebohongan yang dirawat bersama.

Ia dinikahi bukan karena cinta,

melainkan karena namanya, statusnya, dan apa yang bisa ia berikan.

Suaminya menyimpan istri lain.

Keluarganya tahu.

Dan Namira… adalah satu-satunya yang dibutakan.

Saat kebenaran terbuka, yang runtuh bukan hanya rumah tangga,

melainkan harga diri, kepercayaan, dan keyakinan tentang cinta.

Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir kembali seseorang dari masa lalu

cinta yang pernah pergi,

dan kini datang dengan risiko yang lebih besar.

Karena terkadang, menjadi istri sah

bukan berarti menjadi perempuan yang dipilih.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab - 1 Rumah Tangga yang Terlihat Sempurna
Bagi Namira Zahra, kebahagiaan tidak pernah terdengar seperti sesuatu yang gemuruh. Ia tidak datang dengan perayaan besar, tidak pula dengan tawa yang terlalu keras. Kebahagiaan baginya adalah pagi yang berjalan pelan, teratur, dan penuh rasa syukur seperti pagi itu, ketika ia terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Rumah masih sunyi, Namira membuka mata perlahan, lalu menoleh ke tengah ranjang. Di sanalah dua dunia kecilnya berada. Putra Azzam tidur meringkuk, satu tangan kecilnya menggenggam bantal, alisnya berkerut tipis seolah sedang berdebat dengan mimpi. Di sebelahnya, Putri Azzura terlentang dengan rambut berantakan, satu kaki keluar dari selimut, napasnya halus dan teratur. Namira tersenyum tanpa sadar. Setiap pagi selalu dimulai seperti ini dan entah mengapa, ia tak pernah bosan menjalaninya, denga peran ibu rumah tangga yang melekat padanya. Ia merapikan selimut Azzura yang terbuka lalu menutupnya sembari mengelus kepala putri perempuan yang sudah dia lahirkan 5 tahun lalu, lalu membenarkan posisi Azam agar lebih nyaman. Gerakannya hati-hati, seperti takut mengganggu dunia kecil yang sedang mereka jelajahi dalam tidur. Di sisi lain ranjang, Raditya snag suami yang masih terlelap. Suaminya itu tidur dengan wajah tenang, rapi bahkan dalam keadaan tidak sadar. Namira sempat berhenti sejenak, memandangnya sambil tersenyum melihat sang pendamping yang enam tahun meminangnya. Ada rasa hangat yang mengalir pelan di dadanya. Raditya bukan tipe pria yang banyak bicara soal perasaan, tapi kehadirannya selalu membuat Namira merasa tidak sendirian, Namira sangat bersyukur karena di pertemukan dengan pria sebaik dan sehangat Raditya. Ia bangkit dari ranjang, melangkah keluar kamar dengan langkah ringan menuju ke mushola kecil rumah mereka, kemudian melakukan kewajibannya sebagai hamba sahaya, memanjatkan doa-doa untuk perlindungan terhadap keluarganya yang sudah dia bina dari 6 tahun yang lalu dari hal-hal yang tidak diinginkan, tak lupa untuk kedua buah hatinya . setelah itu namira menuju dapur menyambutnya dengan kesunyian yang familiar. tak lama Namira kemudian menyiapkan sarapan seperti biasa nasi hangat, telur dadar kesukaan Azam, dan sup bening sederhana untuk Azzura yang sering sulit makan. Tangannya bergerak luwes dan cekatan, seolah hafal betul ritme pagi mereka. Tak lama kemudian, ketika sedang mengemas bekal anak-anak dan suaminya, suara langkah kaki terdengar. Raditya muncul di ambang dapur, mengenakan kaus rumah. Rambutnya sedikit acak-acakan, tapi senyumnya utuh. “Kamu bangun cepat sekali,” katanya sambil tersenyum menatap istrinya yang seang sibuk di dapur Namira menoleh sambil tersenyum. “Biasanya juga begitu kan mas.” Raditya mendekat, mengecup kening Namira dengan singkat namun penuh makna untuk keduanya. Tidak ada kata manis, tidak ada pelukan panjang. Tapi Namira selalu merasa kalau snag suami sangat mencintai dan menyayanginya. Tak lama kemudian, rumah mulai hidup dengan teriakan Azam bangun lebih dulu, berlari ke dapur sambil membawa mainan mobilnya. Azzura menyusul, berjalan pelan dengan mata setengah terpejam, namun masih mencari ibunya. “Mama,” panggilnya lirih. Namira berjongkok, meraih Azzura ke dalam pelukan. “Pagi, sayang.” namira kemudian membawa sang annak menuju ruang makan, sengaja ia tak memakai asisten karena ingin full Ibu Rumah Tannga sesuai yang di inginkan namira. Sarapan menjadi momen paling ramai. Azam bercerita tentang rencana menggambar robot di sekolah, sementara Azzura sibuk memilih sendok favoritnya. Raditya membantu menyuapi Azzura saat Namira merapikan tas perlengkapan mereka Di meja makan kecil itu, tawa terdengar ringan. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Hanya keluarga. Pagi berlanjut dengan rutinitas yang sama memandikan anak-anak, mengantar anak ke sekolah, saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Namira selalu menunggu sampai Azam dan Azzura benar-benar masuk gerbang sekolah sebelum berbalik. Ia suka memastikan mereka aman. Siang hari, Namira menghabiskan waktu di rumah. Merapikan, mencuci, dan sesekali duduk di ruang keluarga sambil memandangi foto-foto yang terpajang di dinding. Foto pernikahan mereka. Foto Raditya menggendong bayi kembar untuk pertama kali. Foto Azam dan Azzura dengan seragam sekolah yang masih kebesaran. Namira sering berhenti di depan foto-foto itu. Ia tidak merasa hidupnya sempurna. Tapi ia merasa hidupnya cukup, dan dia berharap semoga hal buruk dui jauhkan dari keluarganya. Sore hari, Azam dan Azzura pulang dengan cerita baru. Azzura menunjukkan gambar bunga yang ia warnai, sementara Azam menceritakan perlombaan kecil di kelasnya. Namira mendengarkan dengan sabar, mengangguk, sesekali tertawa. Malam datang tanpa drama. Raditya pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, lalu menonton televisi sambil Azam dan Azzura tertidur di pangkuan mereka masing-masing. Namira menyelimuti anak-anak itu satu per satu, mencium kening mereka sebelum mematikan lampu kamar. Di kamar tidur, Namira berbaring di sisi Raditya. Ada rasa lelah, tapi juga rasa puas. “Terima kasih,” kata Raditya tiba-tiba. Namira menoleh. “Untuk?” “Untuk hari ini.” Namira tersenyum kecil. “Kita memang hidup untuk hari-hari seperti ini.” Raditya tersenyum dan membawa sang istri ke pelukan sebelum mereka terlelap dalam mimpi masing-masing Lampu dimatikan. Rumah kembali sunyi. Dan malam itu, Namira tertidur dengan keyakinan sederhana bahwa hidupnya baik-baik saja, bahwa keluarganya utuh, dan bahwa kebahagiaan tidak perlu diuji. Ia belum tahu, bahwa kebahagiaan yang paling tenang sering kali adalah yang paling rapuh. Namira terlelap dengan napas yang teratur, tubuhnya menghadap Raditya, tangannya masih menggenggam ujung selimut seolah itu satu-satunya jangkar yang ia miliki. Di dalam tidurnya, wajahnya tampak damai. Tidak ada gurat cemas. Tidak ada firasat buruk. Baginya, hidup sedang berada di titik paling stabil. Ia telah menjalani peran yang ia pilih dengan penuh kesadaran menjadi istri, menjadi ibu, menjadi rumah bagi tiga jiwa yang ia cintai sepenuh hati. Tidak ada ambisi berlebihan. Tidak ada keinginan lain selain melihat Azam dan Azzura tumbuh dengan tawa, serta Raditya pulang setiap malam dengan selamat. Jika ada doa yang selalu ia ulang-ulang, itu hanya satu: semoga keluarganya dijauhkan dari hal-hal yang mampu merusak kebersamaan mereka. Namira tidak meminta lebih. Ia merasa cukup. Di luar kamar, jam dinding berdetak pelan, menandai waktu yang terus berjalan tanpa pernah menunggu kesiapan siapa pun. Angin malam menyelinap lewat celah jendela, menggerakkan gorden tipis perlahan. Raditya bergeser dalam tidurnya, memeluk Namira lebih erat. Dalam keheningan itu, ingatan Namira sempat melintas pada masa lalu tentang perjuangan Raditya mendapatkan restu sang Papa, tentang perbedaan status sosial yang sempat menjadi tembok di antara mereka. Papanya pernah takut Namira hanya dijadikan alat untuk menaikkan derajat keluarga Raditya. Namun enam tahun keharmonisan akhirnya meluluhkan segalanya. Kepercayaan pun perlahan diberikan, termasuk jabatan manajer yang kini diemban Raditya di perusahaan keluarga Namira. Namira tersenyum kecil dalam tidurnya. Ia merasa telah menang dan beruntung akan hidupnya

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

After We Met

read
188.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.3K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
14.2K
bc

Unchosen Wife

read
6.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook