Part 19. The Real Truth

1257 Kata
Aku sampai di sebuah restoran ramai  di London Bridge, The Breakfast Club, aku tahu restaurant ini, hanya aku belum punya kesempatan mencobanya. Gadis yang menjemputku mengantarku ke ke sebuah meja yang agak tersendiri di ruangan itu, dengan sekat yang cukup private. Seorang laki-laki tua tersenyum padaku. Itu ayah Joshua, Jason Menard. Garis-garis wajahnya tampak seperti Josh, walau tampak lelah. Entah bagaimana aku sedikit bersimpati padanya. "Charlotte, apa kabar. Terimakasih sudah bersedia menemui orang tua ini. Duduklah..." Ayah Josh mempersihlakanku duduk. Sementara wanita yang mengantarku menuangkan kopi dalam cangkirku. "Tuan Jason, apa yang Anda ingin bicarakan dengan saya..." "Kita sarapan dan minum kopi dulu Charlotte, Aku benar-benar  minta maaf menjadi begitu pemaksa pagi ini..." Seorang pelayan masuk dan menghidangkan English breakfast bagi kami. "Ayo makanlah, aku selalu suka sarapan disini, kadang aku sembunyi-sembunyi dari istriku karena ini bukan makanan sehat bagi orang seusiaku." Aku mencoba tersenyum pada orang tua didepanku. Setidaknya dia telah bersikap baik untuk menawariku sarapan. "Kau benar, sausage dan baconnya sangat enak ... " Aku memberinya pendapat sesaat setelah suapan pertama. "Selera kita sama Charlotte, ... " dia tersenyum melihatku makan. Kemudian bercerita bahwa pemiliknya adalah temannya keturunan Jerman yang membuat bacon dan sausage sendiri dari resep orang tuanya dan kemudian pembicaraan tentang masa kecil yang dilewatinya, daan pembicaraan remeh lainnya selama kami menikmati sarapan dan kopi. Aku menimpali percakapan dengan baik, apapun yang dia ingin bicarakan, dia tidak melakukannya dengan konfrontasi terang-terangan. "Kau nampaknya punya Ibu yang sangat hebat Charlotte. Istriku menceritakan bahwa Ibumu membesarkanmu sendiri, kau pasti bangga dengannya ..." "Tentu saja, kami hidup dengan penuh perjuangan Tuan, tapi semua kesulitan akan membuatmu lebih kuat kurasa. Aku sama sekali tak menyesali apapun dari kehidupan yang telah kulewati sampai sekarang. Dan aku bangga dengan Ibuku tentu saja..." Dia diam untuk sesaat dan menatapku. Perkataan itu untuk istrinya yang sudah merendahkan Ibuku sebagai single mother "Mungkin istriku mengatakan sesuatu yang menyinggungmu, aku minta maaf. Dia memang kadang tidak berpikir panjang untuk mengatakan apa yang ada dibenaknya." Aku diam tidak mengucapkan apapun. "Dan tidak, aku tidak menggangapmu sebagai wanita yang orang bilang sejenis "gold digger",  kau jelas adalah wanita yang bangga akan dirimu sendiri, aku tak pernah meragukan itu Charlotte... " "Terima kasih Tuan Menard, saya hargai itu. Saya dan Josh hanya saling mencintai. Saya jelas tidak punya banyak harta seperti Anda, tapi saya juga tidak merendahkan diri saya untuk mengambil harta pasangan saya. Jika Anda ingin jaminan atas apa yang saya katakanpun, saya bisa memberikan hitam dan putihnya kepada Anda." Aku berbicara lebih lanjut untuk menunjukkan intensiku. "Tentu saja saya tidak meragukan perkataanmu Charlotte. Tapi sebenarnya aku takut bukan itu masalahnya." Baiklah kita akan dengarkan apa masalahnya sekarang. "Saya mendengarkan Tuan Menard,..." "Aku menghormati pilihan putraku, sebenarnya aku tak punya keinginan menentang hubungan kalian, atau siapapun yang dia pilih untuk menjadi pendampingnya, aku tak akan mencampuri wilayah privasi putraku terlalu jauh, walaupun mungkin Ibunya sedikit menekannya, tapi jika aku menyetujui Ibunya tidak akan bisa menekan dia ..." ini adalah berita baru, aku baru mendengar hal seperti ini. Aku diam menunggu apa yang akan dia katakan berikutnya. "Katakan padaku Charlotte, apa Ibumu pernah mengatakan padamu siapa Ayahmu. Atau kau pernah menanyakan siapa namanya...." Sebuah pertanyaan yang tidak pernah kuduga. "Tidak, Ibu tidak pernah menyebutkannya. Dia hanya mengatakan ayahku meninggalkanku dan kami tak perlu mengingatnya lagi. Dan bagiku aku juga tak perlu tahu nama orang yang sudah tidak memperdulikan kami lagi." "Sudah kuduga..." "Apa maksud Anda, Anda mengenal Ibuku." Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini. Dia menghela napas panjang. "Hal yang sebenarnya terjadi adalah mungkin Ibumu Marion Blaine juga akan berusaha keras menentang hubungan kalian didepan. Atau mungkin kau sendiri nantinya..."  Dia bahkan tahu nama Ibuku, sebenarnya apa hubungannya dengan Ibuku. "Apa? Kenapa..." Aku tak mengerti apa yang kudengar. Kenapa dia yakin Ibuku menentang kami. Jason Menard menangkupkan tangannya didepan wajahnya. Dia menghela napas panjang sebelum berbicara. "Karena ayahmu ,..." dia berhenti. Kenapa Tuan Menard membawa orang yang tak kukenal dalam pembicaraan ini. "Ayahku ...? Ada apa dengan ayahku?" Aku tak sabar ingin mendengar kelanjutan kalimatnya. "Ayahmu bernama ... Ben Olsen Menard." Otakku sekarang beku. Aku mencerna kalimat itu. Ayahku bernama Ben Olsen Menard! Menard!? Menard! Aku hanya terbelalak dan menutup bibirku yang mengangga. "Apa..?" Hanya itu yang bisa kuucapkan. "Ben adalah sepupuku. Yang berarti kau mungkin bisa memanggilku Paman. Dan iya, dia sudah meninggal lima belas tahun yang  lalu karena kecelakaan." Kurasa ada bom yang jatuh disekelilingku. Ini tak mungkin! Tak masuk akal! Kekasihku adalah sepupuku sendiri?! Dan bagian dari sebuah keluarga yang membuangku? Demi Tuhan apa yang terjadi disini! Apa aku bermimpi? "Ini tak mungkin..." Aku menggelengkan kepalaku. "Charlotte, aku minta maaf, tapi inilah kebenarannya. Kau harus tahu siapa dirimu. Ayahmu memang meninggalkan kalian, dia akhirnya tidak bisa bertahan dari desakan ayahnya yang juga pamanku, yang tidak menyetujui pernikahan mereka. Memang sesuatu hal yang sangat disayangkan, Pamanku adalah orang yang sangat keras kepala dan juga pemaksa. Dan bagi kalian itu mengakibatkan luka yang mendalam. Jika kalian bisa memaafkan kami, maka kau dan Josh bisa berjalan,..." "Ayahku sudah meninggal..." "Iya, mungkin saat itu kau berumur 17 tahun. Dia pernah mengatakan padaku akan mencari kalian lagi, tapi ternyata dia tak punya kesempatan melakukannya." "Dia meninggalkan kami karena kakekku tidak setuju atas hubungan mereka?"  Menard yang meninggalkan aku dan Ibuku terlunta-lunta? "Aku sangat tahu itu salah. Tapi itu memang terjadi, pamanku adalah orang yang keras dan tekanan yang dibuatnya atas Ben melewati batas. Itu bukan sesuatu yang patut diceritakan, mungkin jika kau tak tahu semua ini akan lebih baik. Tapi bagaimanapun kau harus tahu sebelum membuka ini didepan Ibumu." "Ini tak mungkin ..." Aku masih belum percaya apa yang kudengar. "Aku tahu, ini seperti sebuah hubungan yang terlalu aneh, ternyata kita dipertemukan kembali seperti ini. Kau perlu memikirkan ini... Josh belum tahu tentang ini. Tergantung apa yang kau putuskan nanti, aku bisa melihat dia memang sangat mencintaimu... Jika kau bisa menerimanya dan membuka ini didepan Ibumu, ..." Tuan Menard berhenti, dia berjalan ke arahku dan duduk dikursi didekatku. Dia menepuk bahuku. "Charlotte, aku minta maaf atas apapun yang telah kalian lalui, maafkan kami. Jika kau dan Ibumu bisa melakukannya. Aku akan mendukung kalian." Aku hanya diam, semua kenyataan ini terlalu kejam untuk kupercaya. "Aku tak tahu apa yang harus kukatakan..." Orang tua itu hanya mengangguk. "Kau perlu waktu untuk menimbang semuanya, aku sangat mengerti... Apapun itu anakku Joshua mencintaimu, kuharap kalian bisa melalui ini. Aku pastikan Sarah tidak akan menekan hubungan kalian lagi, kadang dia merasa anaknya yang sudah dewasa itu akan selalu menjadi putra kecilnya,... " Aku diam. Otakku masih belum bisa menerima semua kenyataan didepanku. "Terimakasih untuk sarapannya. Aku harus pergi... " Dan tak ada yang  bisa kukatakan lagi. Aku harus memikirkan apa yang kudengar ini. "Sopirku akan mengantarmu." "Terimakasih." Dengan gontai aku melangkah pergi. "Charlotte,..." Aku menoleh memandang orang tua itu. "Sekali lagi maafkan kami..." Aku cuma diam memandanginya. Setidaknya dia minta maaf, tapi bukan dia yang harusnya mengatakan itu. Semuanya sudah terlambat. "Itu bukan salahmu Tuan..." Aku keluar dari ruangan. Wanita yang menjemputku, menunjukkan padaku mobil yang sudah menungguku. "Nona, kau mau diantar kemana?" Aku setengah melamun saat akhirnya sang sopir menanyakanku kemana dia harus mengantarku pergi, setelah duduk menunggu cukup lama dengan aku tak bicara apapun. "One Bishop Square...."Aku menyebutkan alamat kantorku. Tapi aku tak yakin apa aku bisa bekerja hari ini. Aku merasa aku tak  bisa berpikir lagi. Seakan semua udara disekelilingku menekanku. Kenapa dunia begitu sempit. Kenapa kekasihku adalah keluargaku sendiri? Kenapa orang yang kucintai bernama sama dengan orang yang bahkan tak ingin kulihat lagi dalam hidupku. Apa yang harus kulakukan? Apa aku punya keberanian membawa Josh ke depan Ibuku? Itu sama saja melukainya, dia sudah berusaha melupakan rasa sakit ditinggalkan seumur hidupnya. Sampai dia tak pernah mau menikah lagi. Ayahku meninggalkan kami karena kakekku tidak setuju hubungan mereka?! Setega itu dia meninggalkan kami terlunta-lunta. Aku tak akan sanggup melakukan itu... Dan Josh dia satu-satunya orang yang bisa meluluhkanku ternyata adalah keluarga ayahku?! Kenapa Tuhan  begitu kejam padaku?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN