Part 20. I Can't

1379 Kata
"Charlotte, kau punya pertemuan dengan Vivienne Chai jam 11." Elly langsung masuk ke ruanganku begitu aku tiba. Aku cuma duduk dikursiku dan termenung. Pikiranku terbang kemana-mana. "Charlotte, kau mendengarku?" "Elly, bisa kau tinggalkan aku sendiri 30 menit. Tolong..." "Kau baik-baik saja? Perlu kubatalkan pertemuannya?" Elly mungkin tak pernah melihatku begini. "Aku baik, tak usah batalkan. Hanya tinggalkan aku sendiri 30 menit. Jangan ada yang masuk. Aku akan memanggilmu." Mataku sudah panas. "Oke, ..." Dia dengan cepat pergi, dan begitu dia menutup pintu aku membenamkan wajahku ke meja, dan mulai menangis dengan keras. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku sekarang, aku sudah hancur, aku merasa tak berdaya. Aku dan Josh adalah hal yang mustahil dan semua perasaanku yang berkembang harus kukubur dan bagaimana aku bisa membunuh itu seketika, karena itu begitu menyakitkan bagiku. Aku baru saja menemukan cintaku, menemukan orang yang membuatku bisa tertidur dengan aman dipelukannya, bisa saling memandang tanpa merasa bosan, Josh adalah duniaku, cinta dan cahaya setelah sekian lama aku menghindari kata cinta. Dan itu harus kubuang. Karena aku mencintai orang yang salah. Sangat salah! Kenapa ini harus terjadi padaku. Aku menangis sepuasnya untuk melampiaskan perasaanku. Tak bisa selamanya aku bersembunyi dan menagisi nasibku. Setelah beberapa  saat aku harus bangkit. Mataku merah dan sembab, aku pergi ke ruang kecil di kantorku. Mencuci mukaku, menyudahi tangisku. Sebuah suara dihatiku berkata. Ibumu menanggung kesedihannya ditinggalkan dengan tidak bertanggung jawab seumur hidupnya, demi kebahagiaanmu. Kau tidak akan membiarkannya mengingat rasa sakit itu lagi. Kau harus kuat, ini hanya salah satu episode cinta yang bodoh! Dengan kata-kata itu aku memoles makeup ku kembali. Merapikan mata sembabku, memakai kacamata untuk menyembunyikannya. Berusaha terlihat aku adalah seorang profesional bertangan dingin kembali. Aku berhasil, setidaknya cermin didepanku mengatakan begitu, walaupun aku masih hancur didalam sana. "Elly bawakan aku dokumen Mrs. Chai, kau dan Edward kita briefing singkat sebelum tamu kita datang." Elly dan Edwards dengan cepat datang dan aku memaksa diriku untuk berkonsentrasi dengan semua materi didepanku. Vivienne Chai dengan datang dan membawa perkembangan baru kasusnya. Kami baru menyetujui besar pembayaran fee beberapa hari yang lalu. Dan dia memberikan update perkembangan awal kasusnya di Malaysia. Aku sadar aku harus membereskan pertarungan di Malaysia terlebih dahulu, sebelum mengurus perebutan asset di UK. "Aku akan ke Malaysia bersamamu Mrs . Vivienne banyak hal yang kami harus diskusikan dengan pengacaramu disana untuk menjaga semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Kapan kau kembali?" "Minggu depan hari Kamis." "Aku akan kesana dan bicara dengan kolega kami yang mengurus kasusmu Rabu. Kita bertemu disana untuk pembahasan lebih dalam." Aku berencana melarikan diri dari Josh untuk sementara waktu. Membuat diriku tenang untuk bisa berpikir jernih. Dia akan kembali Sabtu malam dua hari lagi dan aku harus bicara padanya  tentang kami. Pertemuan itu berakhir dan aku tidak punya kekuatan lagi untuk meneruskan hariku. Aku pulang dan meneruskan tangisku di kamarku sampai aku lelah. Aku merasa seperti orang paling malang di dunia dan dalam sekejab duniaku yang berwarna menjadi kelabu. Sekarang aku tahu rasanya putus cinta. ---------- "Charlotte sayang..." aku mengerjab saat merasa seseorang memelukku dalam tidurku. Aku tak bisa tidur semalaman kemarin, dan bahkan aku perlu obat tidur untuk memaksa pikiranku berhenti bekerja malam ini. Aku pikir selama ini aku adalah wanita yang kuat dan tidak gampang menangis, tapi sekarang mataku sudah bengkak  karena terus menangis. "Josh... " aku memejamkan mataku, takut dia melihat mataku sembab. Hanya sesaat kupikir kami masih baik-baik  saja, sebelum kusadari dimana aku sekarang. "Tidurlah, kau pasti lelah. Besok kita bisa bicara. Love you..." Seperti biasa dia memelukku dari belakang. Kupikir dia kembali ke apartmentnya sendiri malam ini. Penerbangannya tiba hampir jam delapan malam dan dia bilang harus langsung bertemu klien dibandara. Mataku kembali memanas. Dengan cepat air mataku mengalir di sela mataku yang tertutup. Dan aku tak bisa menahan isakanku walaupun aku sudah berusaha. "Charlotte? ... Kau menangis?" "Tidak..." Tentu saja menjawab dengan suara tercekik adalah kebohongan yang sia-sia. Dengan cepat dia membalik tubuhku. Dan aku sudah banjir air mata. "Ada apa?!" "Kenapa kau kembali malam ini?" "Apa?" "Aku harusnya bisa tidur sebentar..." Aku duduk dan menutup wajahku, membenamkan kepalaku diantara kakiku dan terisak. "Sebenarnya ada apa?! Susan atau Ibuku menemuimu lagi? Bukankah kita sepakat menghindari mereka?" "Bukan itu..." aku mengangkat wajahku dan menatapnya. "Ya Tuhan Charlotte.... Apa yang membuatmu menangis begini..." Josh menarikku dalam pelukannya. Dan menghapus air mataku. "Josh, kau dan aku mustahil kita bisa bersama...." aku mengumam dalam pelukannya. "Kenapa kau berkata seperti itu!?"  Josh memegang pundakku dengan tegang, sementara aku terus terisak. "Katakan Charlotte!" "Ayahku ... ayahku adalah ... Ben Olsen Menard...pamanmu." Josh diam, tampaknya dia perlu waktu mencerna kata-kataku. Dan aku hanya menatapnya dengan pandangan tak berdaya. "Apa? Paman Ben ayahmu?! ....Kau bercanda! Kau bilang kau tidak tahu nama ayahmu! Siapa yang mengatakannya padamu?!" Josh melepas pegangannya. "Ayahmu yang mengatakannya. Dia tahu semuanya, dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan selain merasa tak berdaya..." "Ini tidak mungkin ...." "Kita tak mungkin bersama Josh. Kita masih sepupu. Dan aku tak bisa membawa Menard yang lain ke depan Ibuku, aku akan melukainya... "  Aku membenamkan wajahku ke dadanya, terus terisak dan membiarkan diriku menangis untuk melepaskan semua bebanku. Sesaat aku merasa aku masih memilikinya dan disaat yang lain aku tahu aku tak bisa melepaskannya. Rasanya sakit, seperti terhimpit dalam mimpi buruk yang berulang-ulang. Josh diam tapi dia memelukku erat. Dia sama tak berdayanya seperti aku, sudah takdir kami dipisahkan seperti ini. Tak ada jalan lain selain kami harus berpisah dan sama-sama saling melupakan. "Charlotte, hei... jangan menangis, mungkin kita bisa mencoba meminta izin Ibumu. Kita saling mencintai... Masa lalu hanyalah masa lalu. Mungkin Ibumu sudah memaafkannya." Aku menggeleng. "Josh... Kau tak tahu apa yang kami hadapi setelah kami ditinggalkan, ... kau tahu aku pernah memungut makanan sisa karena kelaparan! Kau tidak pernah mengerti betapa gelapnya kehidupanku, kenapa aku membenci pria dan tidak pernah mempercayai kata cinta bertahun-tahun selama hidupku ... Aku tak pernah memaafkan ayahku dan keluarga yang telah membuang kami kejalanan, dan Ibuku bahkan tak pernah menyebutkan nama Ayahku satu kalipun didepanku. Dan aku tidak mungkin melewati garis itu Josh... tidak mungkin..." Aku mengelengkan kepalaku dengan lemah. Tidak ada jalan lain bagi kami. "Kita belum mencoba...." Aku langsung memotongnya dengan frustasi. "Tak mengertikah kau Josh, aku tak bisa melihat Ibuku terluka lagi dengan mengingat nama Menard. Tidak bisa! Tidak mungkin!" Suara ku meninggi dengan cepat. Tapi aku sama sekali belum selesai. " Dan kau tahu aku masih berpikir dulu ayahku meninggalkanku karena mungkin dia tertekan, terpuruk atau alasan yang mungkin bisa kupahami keadaannya. Tapi ternyata karena karena Ibuku tidak sekelas dengan Menard dan kau tahu... Menard yang kaya raya bahkan membiarkan kami kelaparan, apa  kau kira aku bisa memaafkan itu. Walaupun ayahmu bilang dia berniat mencari kami, untuk apa?!  Bahkan belasan tahun aku hidup dia tidak memperdulikan aku bahkan telah menjalani banyak hal yang bisa dibayangkannya. Tak bisakah dia berbelas kasihan padaku untuk membeli roti, apa kau bisa bayangkan betapa aku membenci itu!" Aku meneriakkan kemarahanku, tentang semua hal yang kupikir adalah kekecewaan terbesarku selama ini, dan rasanya mungkin Ibuku melindungiku dengan tidak menceritakan apapun padaku. "Honey..." Josh tertegun melihat ledakan kemarahanku. "Maafkan aku Josh, aku tak bisa menerima ini. Maafkan aku .... Kumohon." "Honey, I'm only Josh. The one who love you, this just me, a friend who you trusts and feel secure with, don't you forget that."** Kata-katanya  menarikku kembali ke pusaranrasa sedih. Hanya marah dan sedih yang berganti selama dua hari ini. Rasanya seperti masuk ke dunia gelap yang tak berujung. "Aku tahu.... aku benci semuanya  ... aku lelah, untuk satu detik aku berharap semuanya hanya mimpi... mimpi  buruk ...Besok aku akan bangun dan semuanya menjadi baik kembali." Josh bergerak memelukku, aku membiarkannya. Tangisku hanya menyisakan isakan dan aku menjadi lelah. Rasanya aku hanya ingin sejenak tidur dan melupakan semuanya. "Dengarkan aku sweetheart, kau akan baik-baik saja. Besok saat kau bangun keadaan akan membaik. Aku tak perduli apapun yang terjadi, kau akan selalu memiliki aku ... apapun yang terjadi besok, aku akan tetap jadi sahabat terbaikmu. Aku akan tetap menjagamu, kau akan baik-baik saja. Kau tetap memiliki aku apapun yang terjadi. Lupakan semuanya ... tidurlah. Kau akan baik-baik saja." Dia membiarkanku berbaring. Saat dia perlahan membelai rambutku, menyeka sisa air mataku, aku begitu lelah. "Josh, maafkan aku ... " "Tidak ada yang perlu dimaafkan, tidurlah Charlotte,  besok semuanya akan baik kembali."  Aku memejamkan mataku. Dan merasakan tangannya merapikan rambutku. Dan dengan cepat aku tertidur karena kelelahan. Honey, I'm only Josh. The one who love you, this just me, a friend who you trusts and feel secure with, don't you forget that."**Sayang, aku cuma Josh. Orang yang mencintaimu, ini cuma aku, seorang teman yang kau percaya dan tempatmu merasa aman. Apa kau lupa itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN