48 🦋

1182 Kata

“Jadi, Mas sebenarnya gak pernah butuh kursi roda?” tanya Anin hati-hati menelisik ekspresi suaminya. Hadid menunduk. “Awal-awalnya beneran, Nin. Baru-baru ini, sama kamu, baru pulihnya. Ini juga masih agak kaku. Maaf ya, Nin.” “Sekarang Mas udah yakin ‘kan, kalo Anin tulus sama Mas,” balas Anin lirih lalu menggigit bibirnya. Hadid mengangguk mantap. “Maafin Mas ya, Nin.” Anin tak punya alasan untuk tidak memaafkan. Ia senang suaminya pulih, kecewanya tak sebanding dengan kesehatan Hadid yang kembali. “Mas boleh peluk kamu, Nin?” Anin mendekat dan masuk dalam lengan kokoh suaminya. “Syukurlah Mas baik-baik aja,” ucapnya tulus. “Aku minta kamu jaga rahasia ini dari semua ya sementara, Nin. Aku ingin orang-orang yang mengenalku gak tau apa-apa.” “Kalo itu keinginan Mas Hadid, Anin ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN