"Momok, ini sarapannya, bunda udah siapin s**u kalengnya di dalam tas kamu yah?" Nulani berbicara sambil memberikan tas ransel berukuran sedang pada anaknya. "Makasih, Bun." Moti tersenyum lebar. Nulani mengangguk lalu ia balas tersenyum. Nulani dan Mochtar sudah mulai merubah kebiasaan mereka yang terkadang mengabaikan atau mengacuhkan Moti sejak Lili mencecar dan ingin mengambil paksa Moti. "Hari ini kamu mau ke sekolah, kan hari sabtu, kemarin kamu baru dari Lampung," Nulani menoleh ke arah anaknya sambil menyodorkan roti bakar. "Emm...hari ini kak Agil ada pertandingan lagi, Bunda," Moti mengambil roti bakar itu. "Eh? Ada lagi?" Nulani mengerutkan keningnya. "He'em, kan minggu lalu Momok nggak sengaja kacauin pertandingannya," sahut Moti pelan sambil menundukan kepalanya. Nulani

