"Tidak!" "Ayah!" "Bunda!" Agil mengamuk histeris. Pemuda itu terpaksa diberi waktu pulang dan menghadiri pemakaman sang ayah dan bunda. Akademik kepolisian merasakan duka yang mendalam, para rekan dan teman-teman Mochtar menghadiri upacara pemakaman Mochtar. "Aaaakhhh! Jangan! Jangan!" Agil berteriak-teriak agar peti mati sang ayah tidak diturunkan. Para polisi menundukan pandangan mereka, mereka memberi hormat kepada Mochtar. Lili dan keluarganya histeris datang dari Lampung. "Aaaaa!" Bruk "Ibu!" Lili pingsan, ia tak kuasa menahan tangis dan menerima kenyataan, sang putri bungsu dan menantu telah pergi selama-lamanya dengan tragis. "Lepaskan aku! Lepaskan aku! Ayah! Bunda! Haaaaa! Apa yang kalian lakukan!? Lepaskan aku!" Agil bertetiak-teriak. Anak-anak buah Mochtar menahanny
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


