"Huuuuhh," Agil menghembuskan napas susah. Entah sudah berapa kali ia menghembuskan napas itu. Ia memijit-mijit pelipisnya sesekali ia akan mengacak-ngacak rambutnya. Ia salah, ya, ia salah. Ia salah menilai apa yang dibuat adiknya tadi siang. Adiknya itu terpaksa pipis dicelana. Ini karena kekesalannya yang belum reda karena Moti tak sengaja memukul keningnya ketika terkaget bangun. Moti tak mau ikut lomba lagi, ia mengamuk mau pulang saja ke rumah, Agil bahkan tak bisa menggapai adiknya karena Moti tak mau berbicara atau disentuh olehnya. Randra masuk dengan tergesa-gesa lalu membawa adiknya ke tempat lain, sedangkan Cika mengekori mereka, ia memberikan pakaiannya pada Moti. Alan, Febrian, Dwi dan yang lainnya masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Agil membentak Moti kasar tadi,

