Siti memperhatikan bentuk tubuhnya terlihat aduhai memakai gaun tersebut. Walaupun gaun itu terlihat aduhai tapi cukup sopan. Karena lengannya tertutup dan gaun itu panjang sampai setengah betis.
“Nggak, kok. Nanti kamu pakai korset agar tubuhmu terlihat ramping.” Nanet membetulkan gaun yang dipakai Siti.
Siti mendekati Adib yang sedang memperhatikannya. Mata Adib tidak berkedip melihat Siti memakai gaun tersebut. “Bagaimana, Mas?” Siti meminta pendapat Adib.
“Bagus. Kamu terlihat cantik menggunakan gaun itu,” jawab Adib. Siti tersipu malu ketika Adib memujinya cantik. Namun, Siti cepat-cepat menepis pujian Adib. Ia harus sadar apa yang Adib katakan hanyalah bagian dari sandiwara.
“Ada sepatu yang cocok untuk gaun ini, nggak?” Adib bertanya kepada Nanet.
“Ada, Pak,” jawab Nanet.
Siti menoleh ke Adib lalu menarik lengan kemeja Adib. Adib menoleh ke Siti. “Kenapa, Sayang?”
“Tidak usah beli sepatu lagi. Siti pakai sepatu sandal yang kemari,” kata Siti. Menurut Siti itu suatu pemborosan. Sepatu sandal yang kemarin di beli baru dipakai sekali. Kenapa harus beli sepatu baru lagi?
“Sepatu sandal yang kemarin tidak cocok dengan gaun ini,” ujar Adib.
Siti menghela napas mendengar apa yang dikatakan Adib. Bagi Siti sepatu sandal itu cocok-cocok aja dipakai dengan gaun yang dipakainya.
Adib mengelus pipi Siti dengan lembut. “Kamu tenang saja, serahkan semuanya kepadaku. Yang penting nanti malam kamu tampil cantik dan mempesona. Hm?” Adib memandang wajah Siti dengan lembut. Siti pun mengangguk.
“Bu Nanet, tolong ambilkan sepatu yang cocok dengan gaun ini!” ujar Adib.
“Baik, Pak.” Nanet berjalan menuju ke rak sepatu untuk mengambil sepatu yang diminta Adib.
Tidak lama kemudian Nanet kembali membawa sepatu yang diminta Adib. Namun, Siti melotot ketika melihat sepatu tersebut. Nanet membawa sebuah sepatu dengan tungkak setinggi tujuh sentimeter.
“Kak, hak sepatunya ketinggian. Siti belum terbiasa memakai sepatu hak tinggi,” kata Siti.
“Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir. Hak sepatu ini dibuat dari bahan yang khusus sehingga nyaman dan tidak licin ketika dipakai,” ujar Nanet.
“Kamu duduk dulu. Kita coba sepatu ini.” Nanet mengajak Siti menuju sofa. Siti duduk di sofa lalu Nanet memakaikan sepatu di kaki Siti. Kemudian Siti berdiri lalu berjalan, ia mencoba sepatu tersebut. Ternyata Nanet benar, sepatu itu nyaman dipakai. Ia tidak perlu takut jatuh. Akhirnya Siti memutuskan untuk membeli sepatu tersebut.
Ketika Adib hendak membayar, kasir menyebutkan jumlah yang cukup fantastis untuk harga gaun dan sepatu. Siti sedikit kaget mendengar jumlahnya. Ternyata gaun dan sepatu tersebut lebih mahal dari gaun dan sepatu yang kemarin Adib beli.
‘Benar-benar pemborosan,’ gerutu Siti di dalam hati.
.
.
Pukul tujuh malam Adib datang menjemput Siti. Lelaki itu terlihat tampan. Ia menggunakan kemeja putih yang digulung sampai dibawah siku dan menggunakan celana panjang hitam. Siti terpesona dengan penampilan Adib. Bosnya memang benar-benar sangat tampan.
“Pak Adib, kalau bisa pulang dibawah jam sebelas. Tidak baik untuk anak gadis pulang jam dua belas malam!” ujar Arifin. Arifin takut terjadi sesuatu pada Siti.
“Baik, Om. Akan saya usahakan,” jawab Adib.
“Kami pamit, Om. Assalamualaikum.” Adib dan Siti keluar dari rumah Siti. Di depan rumah nampak seorang supir yang sedang berdiri di depan rumah Siti..
“Mas bawa supir?” Siti menoleh ke Adib. Tidak biasanya Adib membawa supir. Adib terbiasa menyetir sendiri.
“Untuk berjaga-jaga,” jawab Adib dengan tenang.
‘Berjaga-jaga untuk apa? Apa Pak Adib hendak minum minuman keras?’ tanya Siti di dalam hati.
‘Ayah pasti marah jika tahu Pak Adib mabuk.’
Adib membukakan pintu mobil untuk Siti. Siti masuk ke dalam mobil. Setelah itu Adib berjalan menutar, ia masuk melalui pintu sebelah. Tidak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan rumah Siti.
Arifin menatap mobil Adib yang mulai menjauh. Sebetulnya, ia tidak mengijinkan Siti pergi ke Pub. Ia takut terjadi sesuatu kepada Siti. Apalagi Siti baru pertama kali pergi ke Pub. Namun, Siti berusaha meyakinkan Arifin.
“Ayah tidak perlu khawatir. Siti bisa menjaga diri.” Itu yang Siti katakan.
“Jangan minum-minuman beralkohol. Dan jangan minum sembarangan!” ujar Arifin.
“Iya, Ayah. Siti tidak akan minum-minuman sembarangan. Kalau perlu Siti tidak akan minum selama di sana.” Itulah jawaban Siti. Siti juga takut pergi ke Pub. Namun, sebagai kekasih bohongan Siti harus menemani Abid ke Pub. Akhirnya dengan berat hati Arifin mengijinkan Siti pergi ke Pub.
“Kalau ada apa-apa langsung telepon Ayah. Ayah tidak akan tidur sebelum kamu pulang,” ujar Arifin.
“Siap, Ayah,” jawab Siti.
Akhirnya Siti pun pergi ke Pub bersama Adib. Arifin menatap kepergian Siti dengan perasaan cemas. Sebuah tangan yang halus menyentuh punggung Arifin dengan lembut. Annisa mengusap punggung suaminya. “Sudah malam, Yah. Ayo kita masuk ke dalam,” ujar Annisa. Pandangan Arifin masih ke arah mobil Adib yang sudah tidak terlihat lagi.
“Kita doakan semoga Siti tidak kenapa-kenapa,” lanjut Annisa.
Arifin membalikkan badan lalu ia merangkul bahu Annisa. “Ayo kita masuk.” Ia membawa istrinya masuk ke dalam rumah.
.
.
Supir menghentikan mobil di depan Pub di kawasan Senayan. Siti memperhatikan suasana di depan Pub. Ia melihat perempuan-perempuan yang menggunakan pakaian yang aduhai dan kekurangan bahan masuk ke dalam Pub bersama beberapa orang laki-laki.
Siti menelan ludah melihat pemandangan seperti itu. Ia membayangkan di dalam banyak perempuan yang menggunakan pakaian seperti itu. Tanpa di sadari oleh Siti, Adib sudah berada di luar mobil, ia membukakan pintu untuk Siti.
“Ayo turun.” Adib mengulurkan tangan ke Siti. Siti ragu-ragu keluar dari mobil. Rasanya ia ingin pulang saja ke rumah.
Tiba-tiba ia melihat dua orang perempuan jalan bersama dengan dua orang laki-laki. Kedua orang perempuan itu memakai celana jeans dan blazer. Siti bernapas lega ketika melihat kedua orang perempuan itu masuk ke dalam Pub. Ia merasa ada teman yang menggunakan pakaian sopan.
Adib sedikit kesal karena Siti belum juga turun dari mobil. “Kamu lagi lihat apa, sih?” tanya Adib.
“Tidak lihat apa-apa.” Siti memegang tangan Adib, ia pun turun dari mobil. Adib menggandeng tangan Siti. Mereka masuk ke dalam Pub.
Ketika masuk ke dalam Pub terdengar suara bising dan penuh dengan asap rok. Siti terkejut dengan suasana di dalam Pub karena ia baru pertama kali ke tempat hiburan malam. Ia hanya melihat di televisi, you*tube dan internet.
Adib membawa Siti menemui seseorang. Ia menghampiri sekelompok orang yang sedang makan sambil berbincang-bincang.
“Hai, Card.” Adib menyapa seorang laki-laki di antara sekelompok orang-orang tersebut.