Tangan Adib menjelajahi punggung Siti. Ia mengusap punggung Siti dengan lembut. Siti tidak membalas usapan Adib, tangannya tetap di samping, Dari cara Adib menyapu lembut bibirnya, Siti menduga kalau Adib sudah berpengalaman. Adib menghentikan kecupannya. Ia memandang wajah Siti dengan mesra. Tangannya masih memeluk pinggang Siti.
“Bibir kamu sangat kaku. Apakah ini pengalaman pertamamu?” tanya Adib dengan suara lembut dan mesra. Siti hanya menjawab dengan anggukan.
“Mantan pacarmu belum pernah menyapu bibirmu?” tanya Adib lagi. Siti kembali menjawab dengan anggukan. Adib merasa girang ketika mengetahui bibir Siti belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Ia adalah lelaki pertama yang menyapu lembut bibir Siti.
“Kenapa?” bisik Adib.
“Tidak boleh sama Ayah dan Ibu,” jawab Siti dengan datar. Adib kaget mendengar jawaban Siti. Siti sudah dewasa tapi masih memegang teguh larangan orang tuanya.
“Kenapa kamu tidak menolak ketika aku menyapu lembut bibirmu?” tanya Adib.
Siti diam, ia tidak menjawab pertanyaan Adib. Ia bingung dengan sikap Adib. Mereka hanya kekasih pura-pura, tapi kenapa Adib bersikap seolah-olah mereka pacaran sungguhan. Ia bingung harus berbuat apa?
Adib mengusap bibir Siti. “Bibir kamu manis,” ujar Adib.
‘Pasti manis. Kan Siti baru minum s**u coklat,’ kata Siti di dalam hati.
Kemudian Adib mengecup kening Siti.” Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mengijinkanku menyapu bibirmu,” ucap Adib dengan lembut.
‘Siapa yang ngijinin? Bapak yang nyosor sendiri!’ teriak Siti di dalam hati.
Adib melepaskan tangannya yang menempel di pinggang Siti. “Sudah waktunya kita kerja.” Adib merangkul bahu Siti. Ia mengajak Siti menuju sofa. Siti dan Adib duduk di sofa. Adib duduk di sebelah kanan Siti. Tangan kiri Adib berada di senderan sofa. Kaki kanan Adib bertopang pada kaki kiri. Ia duduk santai sambil memperhatikan Siti.
Siti membuka buku agenda. Adib mulai mendikte apa saja yang harus dilakukan Siti. Siti mencatat semua pengarahan Adib. Adib memberikan arahan sambil memperhatikan Siti yang sedang menulis di buku agenda.
“Tulisan kamu bagus,” puji Adib. Siti membalas pujian Adib dengan senyum manis.
..
.
Pada suatu ketika Siti sedang fokus pada layar komputer. Ia sedang mengetik dokumen yang diminta oleh Adib. Tiba-tiba pintu ruang kerja Adib terbuka. Adib keluar dari ruang kerja lalu mendekati meja kerja Siti.
“Sit, sudah selesai belum ngetiknya?” tanya Adib.
Siti berhenti mengetik lalu menoleh ke Adib. “Sebentar lagi, Mas,” jawab Siti.
“Cepat kamu selesaikan! Kita akan pergi makan siang,” ujar Adib. Siti melirik ke jam bulat yang menempel di dinding. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Mas, ini baru jam sepuluh. Belum waktunya makan siang.” Siti menunjuk ke jam bulat yang menempel di dinding.
“Kita pergi ke suatu tempat dulu, baru makan siang,” ujar Adib.
“Baiklah, Mas.” Siti melanjutkan pekerjaannya.
Setelah pekerjaan Siti selesai, Adib dan Siti meninggalkan kantor. Mereka hendak pergi ke suatu tempat. Selama di perjalanan Siti tidak banyak bertanya kepada Adib. Sebagai kekasih pura-pura dan sekretaris ia mengikuti kemana pun Adib membawanya pergi.
Adib membelokkan mobilnya ke Butik Narisa. Butik milik teman Gwen. ‘Mau apa Pak Adib ke sini?’ tanya Siti di dalam hati.
Adib menghentikan mobil di depan butik. “Kita ke butik dulu. Aku mau membelikan kamu gaun.” Adib mematikan mesin mobil.
“Untuk apa, Mas?” tanya Siti.
“Nanti malam kita ada acara di Pub Romano. Temanku ulang tahun, ia merayakan ulang tahunnya di sana,” jawab Adib.
Siti kaget mendengar apa yang dikatakan Adib. Seumur hidup ia belum pernah ke Pub. Ia tidak pernah ke tempat-tempat hiburan malam. Bahkan ke tempat karaoke pun, ia belum pernah. Arifin tidak memperbolehkan anak-anaknya ke tempat karaoke dan hiburan malam.
“Ayo kita turun.” Adib membuka pintu mobil. Siti langsung memegang lengan Adib, ia menahan Adib untuk tidak keluar dari mobil. Adib pun menoleh ke Siti.
“Kenapa?” tanya Adib.
“Siti pake gaun yang kemarin saja. Tidak usah beli gaun lagi,” jawab Siti.
“Beda konsep dong, Sayang. Gaun yang kemarin lebih pantas untuk dipakai acara keluarga dan resepsi pernikahan. Tidak cocok untuk dipakai ke tempat hiburan malam,” ujar Adib.
“Ayo kita turun.” Adib keluar dari mobil.
Siti membayangkan gaun seperti apa yang akan dibelikan oleh Adib. ‘Pasti Pak Adib akan membelikan gaun yang kekurangan bahan.’ Siti merinding membayangkan gaun yang kekurangan bahan.
Tanpa Siti sadari Adib sudah berada di samping pintu mobil, ia membuka pintu di sebelah Siti.
“Ayo, Sayang.” Adib mengulurkan tangan ke Siti. Siti memandang tangan Adib.
‘Pak Adib gentleman sekali. Sungguh berbeda dengan Bang Beni,’ kata Siti di dalam hati.
Siti langsung menepis ingatannya. ‘Sudahlah, Bang Beni tidak usah dingat lagi!’ seru Siti di dalam hati. Siti menyambut uluran tangan Adib. Ia pun keluar dari mobil dengan dibantu Adib. Mereka pun berjalan masuk ke butik.
Ketika mereka masuk ke dalam butik mereka bertemu dengan Nanet. Nanet sedang mengatur tempat untuk koleksi baru butiknya.
“Hai Siti.” Nanet menghampiri Siti. Mereka saling cium pipi kiri dan cium pipi kanan.
“Apa kabar, Pak Adib?” Nanet mengulurkan tangan ke Adib, ia mengajak Adib salaman.
“Baik.” Adib menyalami tangan Nanet.
“Apa yang bisa Kak Nanet bantu?” tanya Nanet. Siti bingung pertanyaan Nanet. Ia malu mengatakan terus terang kepada Nanet.
Siti menoleh ke Adib. “Mas, Mas saja yang bilang ke Kak Nanet,” kata Siti.
Nanet mendengar panggilan Siti ke Adib, berbeda dengan minggu yang lalu. Sikap mereka lebih akrab, tidak kaku seperti sewaktu mereka pertama kali datang ke butik miliknya.
‘Apa mereka pacaran?’ tanya Nanet di dalam hati.
Akhirnya Adib yang mengatakan kepada Nanet. “Bu Nanet, saya sedang mencari gaun malam untuk ke Pub.”
Nanet kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Adib. ‘Apa nggak salah dengar, Siti mau pergi ke Pub?! Wah, Gwen harus tahu,’ kata Nanet di dalam hati.
Cepat-cepat Nanet mengatasi rasa kagetnya. “Kebetulan sekali, saya punya gaun yang cocok untuk Siti. Sebentar saya ambilkan.” Nanet berjalan menuju wardrobe gaun malam. Ia mengambil gaun malam berwarna hitam. Ia memperlihatkan gaun tersebut kepada Siti.
Gaun itu terbuat dari bahan bludru. Bentuk gaun itu mengikuti lekuk tubuh. Panjang gaun dibawah mata kaki. Lengan gaun terbuat dari kain yang tipis.
“Gaun ini cocok untukmu, tidak terlalu terbuka dan masih terlihat sopan. Namun, masih terlihat glamour. Kamu coba dulu.” Nanet memberikan gaun itu kepada Siti. Siti membawa gaun tersebut ke kamar pas.
Beberapa menit kemudian Siti keluar dari kamar pas dengan menggunakan gaun tersebut. “Kak, apa ini tidak terlalu aduhai?”