Siti mengabaikan pujian Adib. Bagi Siti itu terlalu berlebihan. Rasa teh buatannya tidak seistimewa itu, rasanya sama saja dengan teh buatan orang lain.
“Mas sudah minum obat?” Siti masih berdiri di depan meja kerja Adib.
“Sudah. Nanti setelah makan siang makan obat lagi.” Adib kembali meneguk teh buatan Siti.
“Tadi malam aku tidak bisa tidur. Kepalaku rasanya sakit sekali. Mungkin karena sudah lama tidak minum minuman keras jadi sakit kepala.” Adib menikmati teh buatan Siti.
‘Salah sendiri minum minuman keras. Sudah tahu itu nggak bagus untuk kesehatan,’ kata Siti di dalam hati.
“Kamu siap-siap, kita makan siang di luar.” Adib meletakkan cangkir di atas meja.
“Kalau Mas sedang sakit, kita makan di kantor saja,” usul Siti.
“Aku sudah janji kepada diri sendiri mau mengajak kamu makan di suatu tempat. Sekarang kamu siap-siap, kita segera berangkat.” Adib memijat-mijat keningnya.
“Baiklah, Mas.” Siti pun keluar dari ruang kerja Adib.
‘Katanya sakit kepala, tapi malah ngajak makan di luar,’ gerutu Siti sambil memandang pintu ruang kerja Adib.
Siti kembali ke meja lalu membereskan kertas-kertas dan buku-buku yang berada di meja kerja. Tidak lama kemudian Adib keluar dari ruang kerja. “Ayo kita berangkat sekarang.” Adib keluar dari kantor. Siti mengambil tas dan telepon seluler kemudian menyusul Adib.
Adib tidak menyetir mobil sendiri. Ia membawa supir karena sedang sakit kepala. Mereka pergi menuju ke sebuah restaurant yang berada di sebuah Mall di jalan Hayam Wuruk. Restaurant itu adalah restaurant Malaysia.
Adib mencari tempat duduk yang nyaman. Seorang pelayan restaurant datang memberikan buku menu. Adib mengambil mengambil buku menu. Adib memesan makanan tanpa menanyakan lebih dahulu kepada Siti. Siti hanya diam melihat Adib sedang memesan makanan.
Setelah Adib selesai memesan makanan, pelayan itu pun pergi. “Semua makanan di restaurant ini rasanya enak. Kamu pasti akan suka dengan rasanya,” ujar Adib.
Siti memperhatikan sekelilingnya, restaurant itu nampak masih sepi. Belum banyak pengunjung yang datang.
“Siti.” Adib memanggil Siti.
Siti menoleh ke Adib. “Ya, Mas,” jawab Siti.
“Kamu punya paspor?” tanya Adib.
“Punya, Mas,” jawab Siti. Ia masih ingat terakhir kali ia keluar negri adalah dua tahun yang lalu. Ia bersama kedua orang tuanya diajak Gwen jalan-jalan ke Jepang. Hingga sekarang paspor nya masih berlaku.
“Bulan depan kita pergi ke Singapura. Aku disuruh mewakili orang tuaku datang ke acara pernikahan anak teman mereka,” ujar Adib.
‘Ke Singapura?’ Siti senang diajak Adib ke Singapura. Ini kesempatannya untuk refreshing. Sudah lama ia tidak refresing.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan membawa minuman dan snack. Namun, snack hanya ada satu piring. Adib menggeser piring snack ke depan Siti. “Cobain, deh. Ini rasanya enak loh,” ujar Adib.
Siti memandangi snack tersebut. Ternyata hanya singkong yang diberi tabura bawang putih dan cabe rawit. “Itu namanya singkong garlic,” ujar Adib.
Siti mencoba sepotong singkong dengan menggunakan taburan. Ternyata rasanya enak. Tidak lama kemudian datang lagi pelayan membawa sepiring snack.
“Nih, cobain lagi.” Adib menggeser piring itu agar dekat dengan Siti.
“Loh. Mas nggak makan?” tanya Siti.
“Aku mau makan makanan yang berat,” jawab Adib.
Seorang pelayan datang membawa makanan. Kemudian datang lagi seorang pelayan yang membawa makan. Terus saja datang pelayan membawa makanan hingga meja mereka penuh dengan makanan.
“Nggak salah, nih Mas?! Banyak sekali makanannya.” Siti melongo melihat meja mereka penuh dengan makanan. Ia memperhatikan satu persatu makanan di atas meja. Berbagai macam makanan terhidang di atas meja.
‘Apa kalau habis banyak minum minuman keras Pak Adib pengen makan banyak?’ Siti melirik ke arah Adib. Adib sedang bersandar pada kursi sambil memijat kepalanya. Ia masih menggunakan kaca mata hitam.
“Masih sakit, ya Sayang?” tanya Siti dengan mesra. Tiba-tiba wajah Adib terlihat terkejut mendengar Siti memanggilnya ‘Sayang.’
‘Ah, biarkan saja dia kaget. Sudah kepalang tanggung menjadi pacar bohongan Pak Adib. Salah sendiri ngajak bersandiwara jadi pacar bohongan,’ kata Siti di dalam hati.
“Iya, Sayang. Kepalaku masih sakit.” Adib memijat pelipisnya.
Siti memperhatikan makanan di atas meja. Ia mencari makanan yang bisa mengurangi sakit kepala. Ia melihat sop iga di antara makanan lainnya. Siti mengangkat mangkok sup. “Mas, coba makan sup. Sup ini masih panas. Siapa tahu sakit kepala Mas akan berkurang.” Siti menyodorkan mangkok sup ke Adib. Adib mengambil mangkok sup tersebut.
“Kasih sambel biar rasanya tambah mantap.” Siti memberikan tempat sambel ke Adib. Adib memasukkan sambel ke dalam mangkok sup. Kemudian ia memakan sup tersebut.
Siti memperhatikan Adib yang sedang makan sup. “Bagaimana? Enak nggak?” tanya Siti.
“Enak.” Adib memakan sup dengan lahap.
“Kamu juga makan. Cobain semuanya! Nanti kamu pilih makanan yang mana yang cocok untuk menu di resto kita,” ujar Adib sambil mengunyah makanan.
‘Oh, dia mengajakku ke sini untuk itu. Nggak apa-apa, namanya juga pacar bohongan. Kelihatannya seperti kencan makan siang, padahal kerja. Makan aja semuanya, mumpung gratis dibayarkan oleh bos,’ kata Siti di dalam hati.
Siti pun menyantap makanan yang dihidangkan, ternyata semua makanan yang dihidangkan enak semuanya. Adib juga ikut menyantap makanan yang ada.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Adib setelah mereka selesai makan. Mereka tidak menghabiskan makanan tersebut karena perut mereka sudah kenyang.
“Siti bingung. Makannya enak semua,” jawab Siti.
“Kamu kira-kira saja, yang cocok dengan menu di resto kita,” ujar Adib. Siti menunjuk makanan-makanan yang cocok untuk dihidangkan di resto milik Adib.
“Kamu catat semuanya! Nanti aku suruh chef untuk membuat menu-menu tersebut,” ujar Adib.
“Ya, Mas.” Siti mencatat semua makanan yang menurut Siti cocok untuk dihidangkan di resto milik Adib.
Setelah selesai Adib dan Siti kembali ke resto. Ketika mereka masuk ke dalam resto, seorang pelayan yang bernama Iwan menghampiri Siti. “Mbak, tadi ada tamu yang mencari Pak Adib,” kata Iwan.
“Siapa?” tanya Siti.
“Nona Marisa, Mbak,” bisik Iwan. Siti mengerutkan keningnya. Ia bingung mengapa Iwan menjawab sambil berbisik?
“Baik, nanti saya sampaikan ke Pak Adib.” Siti pun menyusul Adib masuk ke kantor Resto.
Siti langsung masuk ke dalam ruang kerja Adib. Adib sedang menyalakan laptop. Siti menyampaikan apa yang dikatakan oleh Iwan kepada Adib. Tiba-tiba wajah Adib terlihat kesal.
“Kalau dia datang lagi, bilang saya tidak ada. Dan jangan biarkan dia masuk ke ruang kerja aku, mengerti!” Suara Adib seperti orang yang sedang marah. Sepertinya Adib marah dengan orang yang bernama Marisa. Siti tidak tahu siapa itu Marisa.