Di Antar Adib.

1102 Kata
Setelah beberapa menit di dalam kamar pas, Siti pun keluar dari kamar pas. Ia menggunakan gaun tersebut. Gaun itu pas di tubuhnya. Ia telihat cantik menggunakan gaun tersebut. “Pas kan, Mbak?” Mira memperhatikan gaun yang dipakai oleh Siti. “Iya, pas,” jawab Siti. Adib mendekati Siti dan memperhatikan gaun yang dipakai oleh Siti. Ia memutari Siti dan memperhatikan Siti dari semua arah. Siti merasa tidak nyaman diperhatikan oleh Adib. Namun, karena Adib yang akan membeli gaun tersebut Siti tidak bisa protes. “Bagaimana, Pak?” tanya Siti. “Bagus. Pantas dipakai sama kamu,” jawab Adib. Adib memperhatikan sepatu yang dipakai oleh Siti, tidak sesuai dengan gaun yang dipakai oleh Siti. “Ada sepatu yang pas untuk gaun ini, nggak?” Adib menunjuk gaun yang sedang digunakan oleh Siti. “Ada, Pak,” jawab Mira. “Coba ambilkan. Saya mau lihat,” ujar Adib. “Baik, Pak.” Mira pun menuju ke tempat sepatu. Siti masih berdiri di tempat semula. Ia menunggu Mira sambil memperhatikan penampilannya di cermin. Tiba-tiba terdengar suara hak selop menuruni anak tangga. “Mira.” Terdengar suara wanita memanggil Mira. Siti kenal dengan itu. Ia menoleh ke arah arah tangga. Ia melihat Nanet turun dari tangga. Siti menghampiri Nanet. “Mbak Mira sedang mengambil sepatu, Kak,” jawab Siti. Nanet menoleh ke Siti. Ia kaget melihat Siti yang sedang memakai gaun koleksi butiknya. “Siti?!” Siti mendekati Nanet lalu mereka saling cium pipi kiri dan cium pipi kanan. “Sama siapa ke sini?” tanya Nanet. Ia tidak melihat Gwen di dalam butik. “Sama Bos,” bisik Siti. “Mana?” tanya Nanet. “Tuh.” Siti menunjuk ke Adib yang sedang duduk di sofa. Adib sedang fokus dengan telepon seluler sehingga tidak memperhatikan Siti yang sedang berbicara dengan Nanet. Nanet kaget ketika mengetahui bos Siti ternyata laki-laki, ia mengira kalau bos Siti adalah perempuan. “Ganteng juga bos kamu,” puji Nanet. Siti menanggapi dengan nyengir kuda. Nanet memperhatikan gaun yang dipakai Siti. Gaun itu nampak pas di badan Siti. “Kamu cari gaun untuk acara apa?” tanya Nanet. “Acara keluarga Pak Bos,” jawab Siti. Mira datang membawa dus sepatu. Ia mengeluarkan sepatu dari dalam dus. “Ini sepatunya, Mbak.” Mira memberikan sepatu tersebut kepada Siti. Sebuah sepatu sandal berwarna hitam, bertali dengan hak setinggi tiga centimeter. Siti membawa sepatu sandal tersebut lalu ia duduk di sebelah Adib. Siti melepas sepatu pantofel lalu menggunakan sepatu sandal tersebut. Adib memperhatikan Siti yang sedang menggunakan sepatu. “Muat, nggak?” tanya Adib. “Sepertinya muat, Pak.” Siti memasang tali sepatu. Setelah memasang sepatu Siti berdiri lalu berjalan. Ia mencoba sepatu tersebut. Adib memperhatikan Siti yang sedang mencoba sepatu. Ia memperhatikan Siti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia menilai penampilan Siti. Apakah penampilan Siti sudah pantas sebagai kekasihnya? Nanet mendekati Siti yang sedang berjalan-jalan mencoba sepatu. “Sepatu itu cocok dengan gaun yang kamu kenakan,” ujar Nanet. “Iya, Kak. Ukurannya juga pas,” jawab Siti. “Nanti rambut kamu jangan dikuncir, biarkan terurai. Make up nya juga jangan terlalu tebal, pakai make up warna yang lembut saja,” lanjut Nanet. “iya, Kak.” Siti mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nanet. Siti menghampiri Adib yang sedang memperhatikannya. “Bagaimana, Pak?” Siti meminta pendapat Adib. “Bagus, cocok dipakai sama kamu,” jawab Adib. “Kalau begitu, saya akan ambil gaun dan sepatu ini,” kata Siti. “Hehm.” Adib mengangguk. Siti melepas sepatu yang sedang dicobanya lalu di berikan kepada Mira. Kemudian ia menuju kamar pas untuk mengganti pakaian. Setelah keluar dari kamar pas ia memberikan gaun tersebut kepada Mira. “Saya jadi ambil gaun ini dan sepatu ini, Mbak,” kata Siti. Mira membawa gaun tersebut untuk di bungkus. Adib beranjak dari tempat duduk, ia menuju ke meja kasir. Siti ikut juga ke kasir. “Semuanya berapa?” Adib bertanya kepada kasir butik. Kasir menyebutkan jumlah nominal yang harus dibayar oleh Adib. Siti kaget mendengar jumlah yang harus dibayar oleh Adib. Adib memberikan kartu sakti kepada kasir. Kasir pun memproses pembayaran dengan kartu sakti. Setelah selesai proses pembayaran, kasir memberikan kartu sakti dan struk pembayaran kepada Adib. Mira memberikan dua buah tas kertas yang bertuliskan nama butik tersebut kepada Siti. “Terima kasih, Mbak Siti,” ucap Mira. Nanet mendekati Adib dan Siti ketika mereka hendak keluar dari butik. “Terima kasih, Pak,” ucap Nanet. “Hehm.” Adib menjawab dengan mengangguk. “Terima kasih, ya Siti.” Nanet mengusap punggung Siti. “Sama-sama, Kak Nanet,” jawab Siti. Adib dan Siti keluar dari butik. Mereka masuk ke dalam mobil Adib. Tidak lama kemudian mobil pun meluncur meninggalkan butik. “Rumah kamu dimana?” Adib bertanya tanpa menoleh ke arah Siti. Pandangan Adib fokus ke jalan. “Di daerah Lebak Bulus,” jawab Siti. “Saya antar kamu pulang ke rumah,” ujar Adib. Siti kaget mendengar perkataan Adib. Ia langsung menoleh ke arah Adib. “Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri,” kata Siti. Siti merasa tidak enak jika Adib mengantarnya pulang. Bagaimana pun juga adib adalah bosnya. Status mereka sebagai pacar hanyalah sandiwara. “Kalau saya tidak mengantarmu pulang, bagaimana saya tahu rumah kamu?” Adib menoleh sejenak ke Siti. “Nanti malam saya akan jemput kamu di rumah. Kita berangkat bersama-sama ke rumah kakek saya,” lanjut Adib. “Bapak tidak usah menjemput saya. Saya berangkat sendiri naik taksi,” kata Siti. Adib langsung menoleh ke Siti setelah mendengar perkataan Siti. “Kalau kamu berangkat sendiri, nanti mereka curiga. Lebih baik kita bersama-sama, agar keluarga saya percaya kalau kamu adalah kekasih saya,” ujar Adib. Siti berpikir ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Adib. Sebagai sepasang kekasih tidak mungkin mereka berangkat masing-masing. Apalagi, ini baru pertama kali Siti datang ke rumah kakek Adib. “Baiklah, Pak.” Akhirnya Siti setuju dengan rencana Adib. Adib mengemudikan mobilnya menuju ke Lebak Bulus. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Siti. Adib menghentikan mobilnya di depan rumah Siti. Ia melirik ke arah toko kue yang berada di sebelah rumah Siti. Toko kue itu nampak ramai oleh pembeli. Adib selalu tertarik ketika melihat toko kue yang dikunjungi oleh banyak pembeli. Ia penasaran seenak apa kue yang dijual toko kue tersebut. “Itu toko kue milik orang tua kamu?” Adib menunjuk ke toko kue tersebut. “Iya, Pak. Kalau Bapak mau, saya bungkuskan beberapa kue untuk Bapak,” kata Siti. Tawaran Siti cukup menggiurkan Adib. Ia bisa menyetir mobil sambil mencicipi kue-kue buatan orang tua Siti. “Boleh. Kamu pilihkan saja beberapa kue yang menurut kamu rasanya enak,” ujar Adib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN