Menjadi Pacar Bohongan.

1096 Kata
“Saya tidak memiliki kekasih. Saya mengajak kamu untuk saya perkenalkan sebagai sekretaris sekaligus menjadi kekasih saya. Kamu pura-pura menjadi kekasih saya agar Kakek saya tidak menjodohkan saya dengan cucu kerabat jauh nya,” ujar Adib. Siti kaget mendengar perkataan Adib. Dia belum lama menjadi sekretaris Adib tapi sudah disuruh menjadi pacar pura-pura Adib. “Tidak mau ah, Pak. Bapak cari orang lain saja untuk menjadi pacar bohongan Bapak,” jawab Siti. “Saya malas mencari perempuan untuk dijadikan kekasih bohongan saya. Lebih baik kamu saja yang saya jadikan pacar bohongan saya,” jawab Adib. Siti menghela napas mendengar perkataan Adib. “Saya takut berdosa, Pak. Karena sudah membohongi kakek dan keluarga Bapak,” kata Siti. “Kamu tidak akan berdosa, kamu hanya menolong saya,” ujar Adib. Lagi-lagi Siti menghela napas mendengar perkataan Adib. “Sampai kapan saya jadi pacar pura-pura Bapak?” tanya Siti. “Sampai saya mendapatkan kekasih,” jawab Adib. Siti berpikir sejenak. Ia mempertimbangkan permintaan Adib. “Beri saya waktu untuk berpikir,” kata Siti. “Jangan kelamaan berpikir. Karena acaranya nanti malam,” ujar Adib. Siti kaget mendengar perkataan Adib. “Hah?! Saya belum mempersiapkan pakaiannya. Saya tidak mempunyai baju yang cocok untuk acara makan malam,” kata Siti. “Kamu tidak usah bingung. Saya akan membelikan kamu baju yang pantas ke acara keluarga saya,” ujar Adib. “Nanti kita pergi ke butik untuk membeli baju kamu,” lanjut Adib. Siti tidak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaaan Adib karena sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir. “Baiklah, Pak. Saya akan menemani Bapak ke acara keluarga Bapak,” jawab Siti. “Terima kasih,” ucap Adib. . . Setelah Siti istirahat makan siang, Adib mengajak Siti menuju ke butik. “Kamu punya butik langganan, nggak?” Adib bertanya tanpa menoleh ke arah Siti. Pandangannya fokus ke jalan raya. Ia sedang menyetir mobil. Sedangkan Siti duduk manis di sebelahnya. “Saya tidak pernah membeli pakaian di butik,” jawab Siti. Adib menoleh ke Siti, “Kamu tidak pernah ke butik?!” Adib kaget mendengar jawaban Siti. Biasanya para perempuan sering berbelanja pakaian dan perlengkapan lainnya di butik. Kalau tidak pernah ke butik, Siti berbelanja dimana? Di pasar? Pandangan Adib kembali ke depan. Ia kembali fokus menyetir mobil. “Kamu kalau membeli baju dimana?” tanya Adib. “Di Departement Store. Yang sering berbelanja di butik adalah kakak saya,” jawab Siti. Adib mengerut kening mendengar jawaban Siti. Mengapa Siti tidak pernah berbelanja di butik sedangkan kakak Siti suka berbelanja di butik? ‘Keluarga aneh,’ celetuk Adib di dalam hati. “Coba tanya sama kakak kamu, dia sering berbelanja di butik mana,” ujar Adib. Siti diam sejenak setelah mendengar perkataan Adib. Ia enggan menelepon Gwen. Pasti Gwen akan meminta penjelasan dari Siti. Kakaknya pasti ingin tahu mengapa Siti tiba-tiba mencari butik. Siti sedang malas menjelaskan semuanya kepada kakaknya. Adib menoleh ke Siti yang masih terdiam di tempat duduknya. Siti tidak memegang telepon seluler. “Kok diam saja? Cepat telepon kakak kamu!” ujar Adib. “Tidak usah telepon kakak saya. Kebetulan teman kakak saya mempunyai butik di dekat sini. Kita ke sana saja,” jawab Siti. “Oh, ya? Pakaiannya bagus-bagus, nggak? Kamu jangan sampai mempermalukan saya di depan keluarga saya!” ujar Adib. ‘Kalau tidak mau dipermalukan, kenapa harus memilih aku menjadi pacar bohongan? Kenapa tidak menyewa artis atau model untuk dijadikan pacar bohong?’ Siti menggerutu di dalam hati. Adib tidak ingin Siti mempermalukannya di depan keluarganya dengan menggunakan pakaian yang sederhana. Sebagai kekasih Adib, Siti harus terlihat anggun dan menawan. “Pakaian di sana bagus-bagus. Kakak saya suka berbelanja di sana. Saya dan ibu saya pernah dibelikan oleh beberapa potong pakaian oleh kakak saya di butik itu,” jawab Siti. “Oke. Kita ke sana. Kamu kasih tahu jalannya,” ujar Adib. Siti pun memberitahu jalan menuju ke butik milik teman Gwen. Adib memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik di jalan Metro. Butik tersebut bernama ‘Narisa.’ Adib mematikan mesin mobil lalu melepas safety belt. Ia menoleh ke Siti, Siti masih duduk manis tanpa membuka safety belt. “Ayo kita turun.” Adib membuka pintu mobil. Siti langsung membuka safety belt ketika melihat Adib hendak turun dari mobil. Ia pun keluar dari mobil. Adib dan Siti berjalan masuk ke dalam butik. Adib berjalan mengelilingi dalam butik. Ia memperhatikan barang-barang yang ada di butik. Siti mengikuti Adib yang sedang melihat-lihat isi butik. Salah seorang pegawai butik menghampiri mereka. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapa pegawai itu. Siti menoleh ke pegawai itu. Senyumnya merekah ketika melihat pegawai itu. Ia mengenal pegawai itu. “Siang, Mbak Mira,” jawab Siti. Mira kaget ketika mengetahui siapa tamu yang datang. Ia tidak menyangka Siti yang datang, apalagi Siti datang bersama dengan seorang pria. Biasanya Siti datang bersama dengan Gwen. “Eh, Mbak Siti,” sapa Mira. Mira mengenal Siti karena Siti adalah adik teman pemilik butik. Gwen sering mengajak Siti ke butik tersebut. “Mbak Siti sama siapa ke sini?!” tanya Mira. Ia tidak melihat Gwen. Ia hanya melihat Siti datang bersama dengan seorang pria. “Sama, Pak Bos,” bisik Siti. “Ooohhhh.” Mira mengangguk-angguk tanda mengerti. “Kak Nanet mana?” tanya Siti. Nanet adalah teman Gwen. Ia pemilik butik tersebut. “Ada di atas,” jawab Mira. Siti membiarkan Adib melihat-lihat isi butik. Ia berbincang-bincang dengan Mira. Setelah melihat semua pakaian yang ada, Adib menghampiri Mira dan Siti yang sedang berbicara. “Tolong carikan gaun yang elegan untuk dia.” Adib menunjuk ke Siti. “Untuk acara apa, Pak?” tanya Mira. “Untuk acara makan malam keluarga,” jawab Adib. “Baik, Pak,” jawab Mira. “Ayo Mbak, saya tunjukkan koleksi kami yang baru.” Mira berjalan menuju ke wardrobe yang menyimpan koleksi pakaian baru, Siti mengikuti Mira. Mira mencari-cari gaun yang pantas untuk Siti. Ia mengambil sebuah gaun hitam dengan lengan pendek. Bagian atas terbuat dari bahan brokat mengikuti bentuk tubuh. Sedangkan bagian bawahan terbuat dari satin, dibuat longgar dan asimetris. Dengan potongan pita di bagian pinggang. Gaun itu terlihat glamor dan mewah. “Coba yang ini, Mbak.” Mira memberikan gaun tersebut kepada Siti. Siti memperhatikan gaun tersebut. Ia memperkirakan apakah gaun itu pantas dipakai olehnya? “Ini ketat nggak, Mbak?” Siti takut gaun itu terlalu ketat di tubuhnya karena ia sadar kalau badannya tidak langsing seperti gadis-gadis pada umumnya. “Nggak, Mbak. Gaun ini pasti pas untuk Mbak Siti,” jawab Mira. “Dicoba dulu, Mbak.” Mira mengantar Siti menuju ke sebuah kamar pas. Siti masuk ke dalam kamar pas untuk mencoba gaun tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN