Dahulu, sebelum David menjadi pria keras kepala yang dikenal banyak orang, ia hanyalah seorang anak laki-laki dengan sorot mata yang hampa dan langkah yang selalu ragu-ragu. Sejak kecil, dunia bukan tempat yang ramah untuknya. David adalah anak yang terbelakang secara intelektual—dalam istilah medis, IQ-nya berada di bawah rata-rata. Ia sulit memahami penjelasan guru, apalagi ketika bahasa yang digunakan terlalu abstrak. Kata-kata rumit terasa seperti jaring-jaring tak terlihat yang membelit lidah dan pikirannya. Di kelas, ia kerap duduk paling belakang. Tidak karena ia pemalas, tapi karena ia tidak tahu harus duduk di mana agar tidak menjadi sorotan. Ketika teman-temannya sudah pandai membaca, ia masih terbata-bata mengeja. Ketika yang lain bisa menjawab soal matematika dengan cepat, Dav

