Lamaran tiba-tiba
Langit sore Jakarta berpendar oranye keemasan ketika Rurayya menginjakkan kaki di teras rumahnya. Ia baru saja pulang dari perjalanan singkat ke Lombok, mengisi hari-harinya dengan debur ombak dan pasir putih, sesuatu yang selalu membuatnya merasa hidup. Namun, begitu ia masuk ke dalam rumah, suasana hangat itu langsung berganti menjadi sesuatu yang lebih berat—ibunya duduk di sofa dengan wajah cemas, dan bapaknya berdiri di dekat jendela dengan ekspresi serius.
"Rau, duduklah," suara ayahnya terdengar tegas.
Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia menaruh tas travelnya di kursi dan duduk berhadapan dengan orang tuanya. "Ada apa, pak?" tanyanya, mencoba terdengar santai.
Bapaknya menarik napas dalam sebelum berbicara. "Ada seseorang yang ingin melamarmu."
Ruangan terasa berputar sesaat. "Apa? Kenapa tiba-tiba? "
"Bukan sekadar orang biasa," lanjut ayahnya. "Dia adalah David Jahan."
Rurayya terkesiap. Nama itu bukan sekadar asing—ia mengenalnya dari berita, dari cerita-cerita tentang keluarga Jahan yang menguasai dunia bisnis Indonesia. David Jahan, pria berusia 35 tahun, duda anak satu, yang tak hanya kaya, tetapi juga memiliki reputasi sebagai pebisnis tegas dan berjaya.
"Kenapa aku harus menikah dengannya?" tanyanya pelan, hampir tak percaya.
"Pak Alaric Jahan menyuruh bapak untuk menikahkan mu dengan David."
Ibunya mencoba tersenyum, tapi ada ketegangan di matanya. "Bapakmu sudah memikirkan ini baik-baik. Ini kesempatan besar, Rau. Kamu akan menjalani kehidupan yang mapan, menjadi Nyonya besar dan tak perlu lagi khawatir tentang masa depanmu."
Rurayya tertawa kecil, tapi itu bukan tawa bahagia. "Masa depan? Apa maksud bapak dan Ibu, kalian menjual putri semata wayang untuk stabilitas keluarga?"
Bapaknya mendesah. "Ini bukan tentang menjualmu Rau. Bapak sudah bekerja dengan pak Alaric Jahan selama bertahun-tahun, dan dia ingin mengikat keluarga kita lebih erat. Lagipula bapak percaya anaknya pak alaric bisa menjagamu."
"Bahkan bapak belum menanyakan apakah aku ingin dinikahi olehnya atau tidak," balasnya tajam.
Keheningan mengisi ruangan. Hatinya memberontak, tetapi pikirannya berusaha tetap rasional. Ini bukan sekadar pernikahan—ini transaksi, politik keluarga, sesuatu yang lebih besar daripada perasaannya sendiri.
“Sudahlah, dengarkan saja kata bapakmu, Nak.. “
Lalu, di tengah kebimbangan itu, muncul satu bisikan dalam benaknya. Jika ia menolak, bapaknya mungkin akan kehilangan segalanya. Jika ia menerima, ia akan terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta—tapi dengan kehidupan yang dijanjikan begitu mewah.
Rurayya menelan ludah. Pilihan ini bukan miliknya sepenuhnya.
"Aku... aku butuh waktu," katanya akhirnya.
Bapaknya menatapnya dalam. "Tidak banyak waktu, Rau. Pertunangan akan diadakan 3 hari lagi, pernikahanmu akan menyusul minggu depan."
Rurayya tak sanggup berkata-kata, linangan air mata kecewa merembes di wajahnya.Dan dengan itu, dunianya yang sempurna mulai retak.“Aku masih muda pak, masih punya mimpi. “
“Sudah cukup Rau, ini sudah saatnya kau menikah. Mimpi bisa dikejar setelah menikah, apalagi calon suamimu orang kaya.” jawab bapaknya ringan.
“Buk?” Tanyanya kepada sang ibu, meminta harapan agar semua ini tidak dilakukan. Tetapi satu gelengan kepala dengan raut menyesal membuat Rurayya berlari meninggalkan kedua orang tuanya.
*********
Rurayya menatap langit-langit kamar dengan perasaan bercampur aduk. Udara dingin dari pendingin ruangan pun tak mampu meredam panas di dadanya. Ia masih tak percaya bahwa hidupnya yang muda dan penuh petualangan kini terancam terkekang dalam pernikahan tanpa cinta.
Ia mendengus pelan, lalu bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap taman kecil di belakang rumah.
Pikirannya terus berputar, mengulang-ulang satu nama yang kini menghantuinya: David Jahan.
Pria itu bukan sekadar kaya dan berkuasa, tetapi juga memiliki kisah cinta yang pernah menggegerkan media. Semua orang tahu siapa Mawar Beauchêne, mendiang istrinya. Seorang perempuan keturunan Prancis-Indonesia yang kecantikannya sering dipuja-puja media.
Dengan wajah khas Eurasianya, kulit seputih porselen, dan sikap anggun yang selalu terlihat di berbagai acara sosial, membuat Mawar adalah sosok sempurna di mata publik.
Bagaimana dengan aku?
Rurayya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Hijabnya berantakan setelah seharian bepergian, kemeja berwarna gading oversized yang ia kenakan sama sekali tidak menggambarkan sosok seorang calon nyonya Jahan. Ia tidak hidup dengan penampilan yang selalu sempurna—penampilannya bergantung pada suasana hati dan situasi.
Terkadang ia hanya mengenakan pakaian sederhana, tanpa riasan, lebih nyaman dengan sepatu boots atau sneakers daripada high heels.
Menikahi orang terpandang bukan hal yang gampang, sekecil apapun ia sembrono. Kesalahan pasti akan selalu menghantuinya. Apalagi David punya seorang anak lelaki, bahkan ia belum pernah sama sekali mengurus anak kecil.
Bagaimana mungkin ia bisa menggantikan perempuan seperti Mawar?
Media pasti akan membandingkanku habis-habisan.
Pikiran itu membuatnya bergidik. Ia sudah bisa membayangkan judul-judul berita yang akan muncul setelah kabar pertunangannya diumumkan:
"David Jahan akhirnya menikah Lagi. Namun Calon Istrinya Berbeda Jauh dari Mendiang Mawar!"
Dadanya terasa sesak. Ia tidak hanya harus menghadapi pernikahan yang tak ia inginkan, tetapi juga harus bertahan dari sorotan publik yang kejam.
Lagipula ia juga salah satu orang media, tak dapat dibayangkan seorang jurnalis seperti dirinya menghadapi para jurnalis lain yang bekerja untuk menganalisis hubungan pribadinya.
Habislah gue, bagaimana gue menghadapi teman-teman sekantor gue nanti?
Pikirannya melayang ke sosok David. Pria itu selalu tampak dingin dalam wawancara, hampir tak pernah tersenyum. Namun, di masa lalu, ketika ia masih bersama mendiang istrinya, ada begitu banyak foto yang menunjukkan betapa bahagianya mereka. David yang menatap istrinya penuh cinta, Mawar yang tersenyum lembut di sisinya.
Lalu sekarang, Rurayya harus menjadi penggantinya?
Sudahlah Rau, ya ampun lo terlalu overthinking.
Heh kalau gak gelisah itu namanya gak normal, siapa sih yang tetap santuy kalau tiba-tiba dinikahin sama duda konglomerat.
Ia mengusap wajah dengan frustrasi.
Aku bukan mawar. Tidak mau menjadi mawar, dan tidak mau di bawah bayang-bayang mendiang mawar.