Rurayya duduk diam di ruang pengantin, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Napasnya terasa berat, d**a sesak oleh ketidaknyamanan yang tak bisa ia ungkapkan.
Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi seorang perempuan.
Tapi bagi Rurayya, ini adalah hari di mana segala kebahagian dan kenyamanan hidupnya berakhir.
Ia menatap lurus ke depan, ke ruangan luas yang didominasi warna putih. Megah, berkelas, tetapi dingin dan kaku—lebih mirip gedung pemerintahan daripada tempat untuk sebuah pernikahan. Dan kata mereka, gedung ini adalah salah satu gedung pribadi milik keluarga Jahan.
Tidak banyak tamu yang hadir. Hanya beberapa orang yang tidak ia kenal, serta kedua orang tuanya yang duduk di barisan depan. Tidak ada kebisingan, tidak ada tawa bahagia, tidak ada suasana hangat seperti yang ia bayangkan tentang sebuah pernikahan.
Semua serba tertutup.
Pintu ruangan tertutup rapat.
Jumlah tamu dibatasi.
Dan Tak ada media.
Hatinya mencelos. Ia tidak tahu apakah harus bersyukur atau justru merasa semakin terpuruk.
Di satu sisi, ia lega karena setidaknya tidak ada kamera yang menyorot wajahnya, membingkainya dalam berita sensasional di layar kaca. Namun, pemikiran lain menyelinap masuk ke dalam benaknya.
David mungkin sengaja menyembunyikan pernikahan ini, karena ia tak pantas dipertontonkan.
Apa yang bisa dibanggakan dari menikahi seorang Rurayya?
Ia melirik bayangannya di cermin besar di sisi ruangan.
Kebaya putih panjang dengan detail bordiran emas membalut tubuhnya dengan anggun. Hijabnya yang terbuat dari sutra lembut ditata sempurna, menjuntai di punggungnya dengan hiasan kecil berkilauan. Penampilannya terlihat begitu mewah—tapi semua ini bukan pilihannya.
Bahkan sekadar memilih kebaya pun gue nggak bisa. Dulu gue kepingin punya gaun akad warna pasir seperti yang ada di gurun sahara.
Ia mendesah pasrah lagi.
Keluarga David Jahan yang menyiapkan semuanya. Mulai dari tempat, pakaian, hingga tamu yang diundang. Seakan-akan ia hanyalah boneka yang dipersiapkan untuk tampil sempurna dalam sebuah pertunjukan.
Pertunjukan yang bahkan tidak ada penontonnya hahaha.
Di depan sana, David Jahan duduk dengan tenang, ekspresinya tetap dingin dan tak terbaca. Dari kejauhan, ia terlihat seperti sosok yang tak tersentuh—seseorang yang terbiasa mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya.
Memang iya sih dia ganteng, mukanya ada campuran eropa sedikit. Ya Allah, nelangsa sekali diriku..
Tapi yang paling membuat hati Rurayya terasa semakin berat adalah, kenyataan ia akan punya suami sempurna tapi tetap menjadi sosok lelaki yang mencintai perempuan pertamanya.
Mawar Beauchêne.
Mendiang istrinya.
Semua orang tahu siapa Mawar—perempuan keturunan Prancis-Indonesia yang kecantikannya dipuja banyak orang. Elegan, berkelas, dan sempurna.
Dan Rurayya?
Ia hanyalah gadis biasa, seorang jurnalis muda yang lebih suka hidup bebas.
Sampai sekarang pun Ia belum tau kenapa Pak Alaric sudi menjadikan ia menantu, segalanya berbanding jauh. Rurayya merasa tak lebih dari sebuah objek yang akan direndahkan nantinya.
Ruangan itu begitu sunyi, seolah waktu berhenti di antara dinding putih yang menjulang tinggi. Cahaya lampu kristal menggantung megah di langit-langit, berpendar lembut menerangi setiap wajah yang hadir di ruangan ini.
Rurayya duduk di samping pria yang akan segera menjadi suaminya—David Jahan.Jarak di antara mereka begitu dekat, tetapi terasa lebih dingin daripada udara yang berhembus dari pendingin ruangan.
Namun, sejak awal, pria itu tidak sekalipun menoleh ke arahnya.
Sikapnya dingin, ekspresinya datar, dan tatapannya kosong, seolah-olah pernikahan ini hanya sekadar formalitas yang tak berarti. Jari-jari Rurayya mengepal di atas pangkuannya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena gugup atau bahagia.
Tapi karena kenyataan bahwa ia akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak menginginkannya.
Penghulu mulai memberikan instruksi. Dan bapaknya segera berbicara, suaranya menggema di ruangan besar ini.
"David Jahan bin Alaric Jahan, apakah Anda menerima anak saya Rurayya binti Hasanuddin sebagai istri Anda dengan mahar yang telah disebutkan?”
Keheningan menggantung.
Rurayya menahan napas, meski ia tahu jawabannya.
Semua ini sudah ditentukan. Tidak ada ruang untuk menolak.
David menarik napas panjang. Dengan suara rendah dan tegas, ia akhirnya mengucapkan kalimat yang mengikat mereka dalam pernikahan.
"Saya terima nikahnya Rurayya binti Hasan dengan mahar tersebut, tunai."
Selesai.
Semudah itu.
Tanpa jeda, tanpa ragu, tanpa perasaan.
Para saksi mengangguk. Pernikahan mereka sah.
Rurayya menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi yang sulit ia artikan sendiri. Ia seharusnya merasa lega karena semua ini telah berakhir, tetapi mengapa hatinya justru terasa kosong?
Doa-doa dipanjatkan, tetapi telinganya berdengung. Seakan-akan dunia di sekelilingnya menjadi latar belakang yang tidak nyata.
Ia seharusnya bersiap untuk sesuatu setelah ini.
Mungkin David akan menoleh dan menatapnya, walau tanpa senyum.
Mungkin ia akan menjabat tangannya dengan dingin, sekadar formalitas di depan semua orang.
Atau mungkin… ia akan berbicara padanya. Mengatakan sesuatu. Apa pun.
Tapi tidak.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Saat doa terakhir diucapkan, David langsung berdiri dari tempatnya.
Tanpa cium tangan.
Tanpa tatapan sekilas.
Tanpa sepatah kata pun.
Rurayya masih terpaku di tempatnya, sementara David berjalan meninggalkan latar akad, begitu saja.
Seolah tidak ada hal penting yang baru saja terjadi.
Seolah pernikahan ini tidak ada artinya.
Ia ingin tertawa. Ia ingin marah. Tapi yang paling ia rasakan saat ini hanyalah rasa malu.
Semua mata kini tertuju padanya.
Bisik-bisik mulai terdengar. Tamu-tamu yang tidak dikenalnya saling berbisik di antara mereka.
"Kenapa dia langsung pergi?"
"Kan sudah kubilang, David tidak pernah melupakan mawar. “
"Lihat pengantinnya, dia bahkan tidak bereaksi."
Rurayya mengepalkan tangannya lebih erat. Ia bisa merasakan matanya memanas, tetapi ia tidak akan menangis di sini. Tidak di depan orang-orang ini.
Ia melirik ke arah kedua orang tuanya yang duduk di barisan depan. Ibunya terlihat gelisah, sementara ayahnya… tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Tentu saja.
Bagi ayahnya, ini hanya sebuah kesepakatan. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Rurayya menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri.
Saat seorang bridesmaid—yang bahkan namanya pun tidak ia tahu—datang membantunya berdiri, ia langsung bangkit dan berjalan meninggalkan latar akad.
Ia tidak berani menoleh ke belakang.
Ia tidak ingin melihat bagaimana dirinya dipermalukan di hadapan orang-orang yang bahkan tidak ia kenal.