kehampaan rumah baru

506 Kata
Rurayya duduk di dalam mobil mewah yang membawanya ke rumah baru—rumah yang kini menjadi miliknya dan David Jahan. Setelah akad yang begitu dingin dan penuh rasa malu, kini ia duduk sendiri di dalam kendaraan ini. Tanpa suaminya. David menghilang begitu saja setelah akad selesai, dan entah di mana ia sekarang. Tak ada sesi foto pengantin. Tak ada jamuan mewah yang dihadiri banyak tamu. Tak ada kalimat selamat dari keluarga David Jahan. Pernikahan ini benar-benar dilakukan dengan sesederhana mungkin. Atau lebih tepatnya, dengan sesepi mungkin. Sopir yang mengantarnya tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik lewat kaca spion. Seakan ingin memastikan bahwa pengantin baru ini baik-baik saja. Tapi Rurayya tahu, ia tidak baik-baik saja. Tangannya menggenggam erat kain kebaya putih yang masih ia kenakan, merasakan teksturnya yang lembut namun terasa begitu asing di tubuhnya. Pikirannya kacau. Ia sudah tahu sejak awal bahwa David tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi ia tidak menyangka bahwa pria itu akan setega ini. Rurayya menarik napas dalam-dalam. "Lo udah tahu, Rayya. Lo udah tahu sejak awal. Jadi jangan kaget." Tapi tetap saja, mengetahui sesuatu dan menghadapinya secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar. Bukan rumah, tapi mansion. Gerbang besi tinggi terbuka secara otomatis, dan sopir melajukan mobil melewati halaman luas dengan taman yang tertata sempurna. Rumah ini terlihat seperti istana modern, dengan arsitektur megah dan dinding marmer putih yang bersinar di bawah lampu-lampu taman. Pintu utama terbuka, dan seorang pria tua berpakaian rapi berdiri di sana. Seorang pelayan. "Selamat datang, Nyonya," ucapnya dengan sedikit membungkuk. Rurayya tercekat. Nyonya? Baru kali ini ada yang memanggilnya dengan sebutan itu. Pelayan itu tampak sopan, tapi ekspresi wajahnya begitu netral. Seperti sudah dilatih untuk tidak menunjukkan emosi apa pun. Rurayya melangkah masuk, matanya mengagumi interior rumah yang begitu luas dan mewah. Tangga besar berkelok naik ke lantai dua, dengan lampu gantung kristal raksasa yang menjuntai di tengah ruangan. Di dinding, tergantung beberapa lukisan klasik yang sepertinya sangat mahal. Tapi suasana rumah ini… begitu hampa. Tak ada jejak kehangatan. Tak ada tanda-tanda bahwa ini adalah rumah yang dihuni oleh seseorang yang memiliki keluarga. Ini bukan rumah yang menyambut. Ini hanyalah tempat tinggal. "Pak David belum pulang," ujar pelayan itu, seolah tahu pertanyaan yang ada di dalam kepala Rurayya. Belum pulang? Yaudalah dia aja gak peduli, kenapa gue harus peduli? Jadi setelah akad nikah, pria itu bahkan tidak berniat datang ke rumahnya sendiri? Rurayya mengangguk kecil. Pelayan itu kemudian menunjukkan jalan ke kamar utama—kamar yang seharusnya menjadi tempat mereka berdua. Tapi melihat situasinya sekarang, Rurayya ragu apakah David pernah tidur di kamar itu. Saat pintu kamar terbuka, pemandangan yang ia lihat adalah ruangan luas dengan nuansa gelap dan maskulin. Tempat tidur king-size dengan sprei hitam. Sofa mahal di sudut ruangan. Lemari besar yang tertutup rapat. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan David di sini. "Apakah ada yang bisa saya siapkan untuk Anda, Nyonya?" Rurayya menggeleng. "Tidak, terima kasih. Saya mau istirahat dulu ya?” Pelayan itu mengangguk dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan lembut. Kini Rurayya sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN