Disiram

564 Kata
"Apakah ada yang bisa saya siapkan untuk Anda, Nyonya?" Rurayya menggeleng. "Tidak, terima kasih. Saya mau istirahat dulu ya?” Pelayan itu mengangguk dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan lembut. Kini Rurayya sendirian. Ia melangkah perlahan ke arah tempat tidur dan duduk di tepinya. Ia mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin besar di seberang ruangan. Seorang wanita dengan kebaya pengantin yang masih utuh, tapi tatapan matanya kosong. Ia tidak pernah membayangkan bahwa begini awal dari kehidupan barunya. Sendirian, di rumah yang bukan rumahnya. ********** Siang berlalu dalam keheningan. Rurayya duduk di tepi ranjang dengan kebaya putih yang masih ia kenakan sejak akad. Sesekali ia menatap jam di dinding, lalu kembali menatap layar ponselnya yang kosong dari notifikasi. Tidak ada pesan dari siapapun, apalagi David. Ia juga belum punya nomor pria itu. Tidak ada kabar apapun dari pria yang kini resmi menjadi suaminya. Tidak ada juga pesan dari orang tuanya. Semua terasa begitu sunyi, seolah ia adalah seorang tamu yang tidak diinginkan di rumah ini. Sore pun tiba. Matahari mulai turun, langit berubah jingga keemasan, tapi David masih belum muncul juga. Pelayan datang, menawarkan makanan, tapi Rurayya hanya makan beberapa suap sebelum kehilangan selera. Adzan Maghrib berkumandang. Rurayya mengambil air wudhu, lalu menunaikan shalat di sudut kamar. Saat bersujud, ia menahan perasaan yang bergemuruh di dadanya. "Ya Allah, aku tidak tahu apa yang Kau rencanakan untukku, tapi hamba mohon... berikan hamba kekuatan." Sudah berjam-jam sejak ia diantar ke kamar ini, tapi David tidak juga muncul. Bahkan setelah ia menunggu dari Zuhur, Asar, Maghrib, hingga Isya. Ia sempat berpikir David tidak akan pulang malam ini—atau mungkin memang tidak ingin pulang. Pernikahan ini bukan hal yang diinginkan David. Itu jelas. Dan Rurayya pun sama sekali tidak meminta takdir ini. Tapi setidaknya, sedikit sopan santun akan lebih baik daripada menghilang begitu saja di malam pernikahannya sendiri. Entah mengapa pria itu terlihat sengaja membuatnya malu di depan orang-orang. Ia menghela napas. Dari awal sebenarnya Rurayya ingin bertemu anak lelaki dari David dan Mawar. Tapi ia tidak mau dicap lancang. Rayya juga takut reaksi Madiev akan buruk jika ia tiba-tiba mendatanginya tanpa perkenalan yang jelas. Bagaimanapun juga, Madiev adalah anak kecil yang sudah lama ditinggalkan ibunya. Ia butuh waktu untuk menerima kehadiran Ibu baru. Dan bukankah hal seperti ini seharusnya David yang mengatur? Tapi nyatanya, sejak akad tadi, David bahkan tidak sekali pun menatap apalagi sudi berbicara dengannya. Malam semakin larut. Rurayya mengerjapkan mata, tubuhnya terasa berat. Rasa lelah yang menggantung sejak siang tadi masih terasa, tapi setidaknya, untuk pertama kalinya hari ini, ia bisa merasakan sedikit kenyamanan. Ranjang tempatnya berbaring terasa empuk, menyelimuti tubuhnya yang masih diliputi kebingungan dan emosi sejak siang terjadi. Tapi meski badannya ingin terus beristirahat, pikirannya masih belum bisa tenang. Setelah shalat Isya, Rurayya akhirnya menyerah. Ia yakin David tidak akan datang malam ini. Dengan berat hati, ia mengganti pakaian dengan baju tidur yang diberikan oleh pelayan. Rasanya nyaman, bahannya lembut, tapi tetap saja, semua ini terasa asing. Ia berbaring di ranjang besar itu. Kasurnya begitu empuk, jauh lebih nyaman daripada tempat tidur di rumah orang tuanya. Tapi hati Rurayya terasa keras dan penuh gumpalan kecemasan. Lelah yang menumpuk sejak pagi akhirnya menariknya ke dalam lelap. Namun, tidurnya tidak nyenyak. Ia bermimpi… mimpi aneh. Kepala sekolah SMA-nya tiba-tiba muncul, menatapnya dengan ekspresi serius, seperti ingin menyampaikan sesuatu. Tapi sebelum ia sempat memahami maksud mimpi itu— BYURRR! Seketika, tubuhnya tersentak bangun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN