BYURRR!
Seketika, tubuhnya tersentak bangun.
Dengan napas tersengal, ia membuka mata.
Dan di sana, di samping ranjang, berdiri David Jahan dengan wajah penuh amarah dan tangan yang masih memegang gelas kosong.
Seketika Rurayya terlonjak dari tempat tidur.. Sensasi dingin yang menusuk kulit membuat tubuhnya bergetar hebat. Ia butuh beberapa detik untuk menyadari apa yang baru saja terjadi.
Kepalanya terasa berat, hijabnya basah kuyup. Air merembes hingga ke pakaian dalamnya.
Bibir David tertarik ke samping, membentuk seringai mengejek."Bangun cepat."
Rurayya masih mencoba memahami situasi ini, dan melihat sekeliling kamar.“Apa-apaan ini?" suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
David mendengus sinis. "Kamu pikir ini hotel? Belum sehari jadi istri, sudah malas-malasan tidur seperti ini?"
Matanya menyapu Rurayya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seakan-akan ia adalah makhluk menjijikkan yang tidak pantas berada di sini.
"Saya bukan pemalas. Saya menunggu sejak siang. Sejak akad selesai. Dari Zuhur, Asar, Maghrib, bahkan Isya. Tapi kamu yang gak pulang-pulang."
David tertawa—bukan tawa yang menyenangkan, tapi tawa penuh penghinaan.
"Menunggu? Omong kosong. Kalau memang menunggu, kamu seharusnya gak tidur seperti ini!"
"Jadi saya harus melek terus, gitu? Kamu yang kelamaan, saya udah nunggu lama sampai ketiduran." Rurayya mulai kehilangan kesabaran. "Kamu bahkan gak ada kasih kabar ke saya!”
David kembali tertawa kecil, kali ini lebih dingin."Oh, jadi ini salah saya sekarang?"
Ia melangkah mendekat, suaranya semakin rendah tapi tetap tajam. "Seharusnya seorang istri menunggu suaminya pulang, bukan tidur nyenyak di kamar-
“Mawar sangat jauh berbeda dari perempuan manapun. “ katanya pelan, namun penuh tekanan.
Jantung Rurayya mencelos. Ia mencebik pasrah.
"Mawar tidak akan tertidur begitu saja. Mawar selalu memastikan saya pulang ke rumah dengan suasana nyaman. Mawar akan selalu melayani saya. Bukan malah bersantai di ranjang seperti ini."
Lihatlah, lelaki ini menekannya menjadi orang yang paling bersalah.
Mawar lagi.
Nama itu seperti palu yang menghantam harga dirinya.
Sejak awal, ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu nantinya akan dibandingkan. Tapi ia tidak menyangka David secara gamblang mulai melakukannya sejak hari pertama mereka menikah.
"Saya gak Terima kamu banding-bandingkan." suara Rurayya terdengar lebih pelan, tapi matanya menatap David dengan sorot serius.
David mengangkat alis, matanya menyipit penuh ejekan.
"Kenapa? Insecure ya? Karena kamu tahu kan, kamu gak akan pernah bisa sebanding dengan istri saya. “
Rurayya merasakan sesuatu mengganjal di dadanya.
Ia tidak mengenal Mawar.
Tapi ia tahu satu hal—David sangat mencintainya. Pria itu membenci Rurayya karena masih cinta pada mendiang istri sempurnanya tersebut.
Itulah kenapa sekarang ia diperlakukan seperti ini.
"Saya nggak berusaha menggantikan mba Mawar." suara Rurayya lebih tegas sekarang. "Saya hanya ingin menjalani pernikahan ini dengan cara saya, dengan menghormati perasaan semua orang, termasuk anakmu, Madiev."
David mencibir. "Menghormati? Omong kosong. Kamu bahkan gak berusaha mengenalnya. Seharusnya sejak siang kamu sudah menemuinya, bukan malah berdiam diri di kamar."
Rurayya tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya saya harus nunggu ayahnya pulang dulu! agar ayahnya sendiri yang mengenalkan anaknya pada saya!" suaranya naik satu oktaf. "Mikir dong! Emang bisa masa PDKT dilakuin seenak jidat!"
"Alah alasan!” suara David lebih keras kali ini. "Jangan sok baik! Kamu cuma peduli uang, jangan bermuka dua kalau lagi di hadapan saya. “
"Astaghfirullah, banyak banget pahala gue. "Untuk pertama kalinya, Rurayya membalas dengan bahasa yang tidak sopan.
Lalu menatap David sambil menggeleng pasrah."Terserah deh mau bilang apa, memang kalau sudah benci apapun yang saya lakukan tetap terlihat salah.”
Tapi David tetap tidak peduli.
Ia memandang Rurayya seolah ia hanya suara bising yang mengganggu.
Hingga akhirnya, tanpa berkata apa-apa lagi—
BRUKK!
Pintu kamar dibanting keras.
Suara benturan itu menggema di ruangan besar itu.
Rurayya terlonjak, tubuhnya bergetar.
Perlahan, ia menunduk, meremas ujung bajunya yang masih basah.
Huuh.. Jangan nangis jangan nangis. Masih hari pertama, lembek amat..
Di malam pertama pernikahannya, ia sudah dihina, dibanding-bandingkan, dan bahkan disiram air seperti bukan manusia.