Rurayya masih terduduk di pinggir ranjang, bajunya masih basah akibat siraman air tadi. Udara dingin dari AC semakin membuat tubuhnya menggigil, tapi bukan itu yang membuatnya diam terpaku.
Kata-kata David masih berputar di kepalanya.
"Istri pemalas."
"Bukannya kenalan sama Madiev, malah enak-enakan di kamar?"
"Kamu malas, Pemalas!"
Dan yang paling menyakitkan…
"Mawar nggak pernah seperti ini."
Lagi-lagi Mawar.
Nama yang bahkan belum pernah ia dengar secara langsung dari mulut suaminya, tapi sudah menjadi momok di dalam rumah ini.
Rurayya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Ia tidak akan menangis, tidak akan.
Sampai sebuah suara kecil membuatnya menoleh ke arah pintu.
Klek.
Seseorang berdiri di sana. Rurayya merasa was-was jika manusia bernama David akan datang lagi.
Alhamdulillah bukan David.
Seorang anak laki-laki datang mengenakan piyama biru muda, rambut tebalnya agak berantakan, matanya besar, mengingatkan Rurayya pada seseorang.
David. Tapi versi kemasan sachet.
Penampilannya ternyata menggemaskan, belum pernah ia lihat anak David secara langsung.
Walaupun begitu ia masih merasa canggung. Tentu saja anak kecil di hadapannya adalah Anak yang jelas masih sangat menyayangi ibunya.
Sedangkan Madiev tidak berkata apa-apa, hanya diam menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Agar menghilangkan kecanggungan, ia berdehem pelan.Ini bukan pertemuan pertamanya dengan seorang anak kecil, tapi ini anak dari pria yang baru saja menikah dengannya, dan dari perempuan yang semua orang puja.
Rupanya menelan ludah, lalu mencoba tersenyum."Madiev?". Madiev masih diam."Kamu mencari ayahmu?".Tak ada jawaban. Tapi anak itu mulai melangkah masuk, mendekat.
Kini Rurayya bisa melihat wajahnya lebih jelas.
Anak ini sangat mirip dengan David. Tapi sorot matanya?
Itu milik Mawar.
Seakan baru menyadari sesuatu, Madiev akhirnya membuka mulut.
"Kamu yang menikah dengan Ayah?"
Suaranya kecil, tapi terdengar jelas di ruangan yang hening ini. "Kebetulan, iya.. Hehe. “ Jawab rupanya dengan gelak garing.
Madiev menatapnya lama, lalu dengan nada datar berkata, "Aku nggak suka."
Jleb.
Rurayya mengerjap. Jujur, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Nggak bapak, nggak anak Blak-blakan banget.
Tapi bagaimana bisa ia menyalahkan seorang anak kecil yang telah lama kehilangan ibunya?
Rurayya menarik napas pelan, mencoba tetap tersenyum meskipun hatinya sedikit tergores.
"Kakak tahu, kok.”
Madiev mengernyit, seolah tak menyangka jawaban itu keluar dari mulutnya.
Rurayya lalu menepuk tempat di sampingnya, memberi isyarat agar Madiev duduk. "Mau bicara sebentar?"
Madiev diam sesaat, lalu dengan langkah ragu-ragu, ia mendekat dan duduk di ujung ranjang, menjaga jarak.
Rurayya tersenyum kecil.
"Dengar… kakak di sini bukan buat gantiin bundamu. "
Madiev tidak bereaksi.
"Kakak mana bisa jadi bundamu. Kakak juga gak mau ih maksa kamu suka sama kakak. "
Anak itu menggigit bibirnya, menunduk menatap tangannya sendiri.
"Tapi kalau kamu mau ngobrol kapan aja, kakak di sini."
Madiev menegang, seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi urung melakukannya.
Setelah beberapa detik, ia berdiri, lalu tanpa mengatakan apa-apa, berjalan keluar kamar.
Rurayya menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk.
Ia tidak tahu apakah ini awal yang baik atau buruk.
Tapi setidaknya, malam ini Madiev tidak melihatnya dengan kebencian.