Tidak Dihargai

935 Kata
Udara dini hari masih terasa sejuk saat Rurayya bangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah kejadian semalam, tapi ia tak ingin memikirkan itu terlalu lama. Ia mengambil air wudhu, lalu menunaikan shalat subuh dengan khusyuk. Selesai berdoa, ia melipat mukena dengan rapi dan menatap bayangannya di cermin. Hari ini ia ingin memulai segalanya dengan lebih baik. Tanpa banyak berpikir, ia melangkah keluar kamar dan menuju dapur. Dapur masih sepi ketika ia tiba, hanya ada satu pelayan tua yang sedang menyiapkan bahan makanan. Beberapa menit kemudian, para pelayan lain mulai berdatangan, membawa bahan-bahan segar untuk sarapan. "Biasanya, sarapan yang disiapkan menu apa aja ya?" tanya Rurayya, mencoba terdengar ramah. Beberapa pelayan menatapnya dengan terkejut. Beberapa lagi hanya berpura-pura tak mendengar. Seorang pelayan muda dengan wajah ramah tersenyum padanya. "Biasanya kami menyiapkan roti, telur, dan bubur untuk Madiev. Tuan David biasanya cuma minum kopi dan makan roti panggang." Rurayya mengangguk, menghafalkan informasi itu. "Apa mereka punya makanan favorit?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan. Pelayan muda itu melirik ke arah seorang wanita paruh baya yang sejak tadi menatap Rurayya dengan ekspresi ketus. Wanita itu menyilangkan tangan di d**a dan mendengus. "Kenapa bertanya? Mau coba menggantikan posisi Nyonya Mawar?" katanya dingin. Rurayya bisa merasakan hawa tak suka dari wanita itu, tapi ia tetap tersenyum. "Bukan, saya cuma mau tahu." Pelayan muda itu tampak ragu, tapi akhirnya berbisik, "Pak David dan Madiev punya makanan favorit yang sama. Mereka suka nasi liwet dan roti panggang coklat." Rurayya mengangguk. Matanya berbinar. Mereka menyukai makanan yang sama? Itu mungkin bisa menjadi jembatan kecil di antara mereka. "Terima kasih," katanya tulus. Wanita paruh baya itu kembali mendengus dan berbalik, enggan melayani lebih lanjut. Tapi Rurayya tidak mempermasalahkannya. Ia tahu tak semua orang bisa menerimanya dengan mudah. Dengan semangat baru, ia mengambil bahan-bahan dan mulai memasak. Mungkin, ini caranya untuk sedikit masuk ke dalam dunia mereka. Langkah kaki bergema di tangga, menandakan dua penghuni utama rumah ini akhirnya turun untuk sarapan. Rurayya menoleh, melihat David dan Madiev muncul dari lorong menuju ruang makan. David tampak segar dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, sementara Madiev mengenakan kaos polos dan celana pendek. Keduanya berjalan tanpa banyak bicara, tanpa senyum, dan tanpa ekspresi yang bisa ditebak. Satu hal yang pasti—jangan tanyakan di mana David tidur tadi malam. Yang jelas, bukan di kamar yang seharusnya ia tempati bersama Rurayya. Tapi entah mengapa, Rurayya malah senang ia tidak sekamar dengan David. Para pelayan bergerak cepat, meletakkan piring demi piring di meja panjang itu. Aroma nasi liwet yang gurih masih mengepul, roti panggang coklat tersusun rapi di atas piring, dan secangkir kopi hitam telah disiapkan untuk David. Di antara semua yang hadir, hanya Rurayya yang memiliki harapan kecil di hatinya. Ia tak meminta banyak. Ia hanya ingin melihat David dan Madiev menikmati sarapan yang ia buat. Jika mereka menyukainya, itu sudah cukup baginya. Tapi saat David mengambil sendoknya, ia tidak langsung makan. Ia justru menatap nasi liwet itu sejenak, lalu mengangkat kepalanya ke arah seorang pelayan senior. "Siapa yang memasak ini?" tanyanya dengan nada santai, tapi dingin. Pelayan senior itu melirik Rurayya sekilas sebelum menjawab dengan suara pelan, "Nyonya baru yang memasaknya, Pak." Keheningan menyergap ruangan sesaat. Semua orang menunggu reaksi David. Dan reaksinya datang dalam bentuk sebuah senyum miring yang mengandung penghinaan. David mengalihkan tatapannya ke Rurayya, matanya menelusuri sosok wanita yang baru saja dinikahinya dengan pandangan meremehkan. "Cari muka, ya?" Jleb. Satu kalimat sederhana, tapi tajamnya melebihi pisau. Rurayya menegang di tempatnya. Ia tidak langsung membalas. Hanya menatap David, mencoba membaca apakah laki-laki itu benar-benar beranggapan demikian atau hanya ingin menyakitinya. Sayangnya, tak ada keraguan di wajah David. "Saya gak butuh istri penjilat," lanjutnya dengan nada yang menusuk. "Kalau kamu pikir memasak makanan favorit saya bisa membuat say llunak, kamu salah besar." Rurayya merasakan dadanya sedikit sesak, tapi ia menahannya. Tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan, David langsung menoleh ke pelayan lain. "Kalian Ganti makanan ini," katanya dengan suara datar, seakan hidangan yang ada di hadapannya itu sampah. Para pelayan saling berpandangan, beberapa terlihat ragu, tapi tidak ada yang berani menentangnya. Dalam hitungan detik, piring-piring itu mulai diangkat satu per satu. Rurayya hanya bisa menatap kosong saat makanan yang ia siapkan dengan hati-hati itu dibawa pergi. Lagi-lagi ia dipermalukan. Hanya dalam beberapa menit, semua yang ia buat lenyap begitu saja. Dia maunya apa sih? Nanti kalau gak masak dibilang pemalas, gantian udah rajin dikatain cari muka. Namun yang paling menyakitkan bukanlah fakta bahwa makanan itu tak disentuh. Melainkan kata-kata yang David ucapkan setelahnya. "Saya nggak akan makan makanan favorit saya sendiri, kecuali dari tangan Mawar." Sunyi. Seakan waktu berhenti sejenak setelah kalimat itu meluncur dari mulutnya. Madiev, yang sejak tadi diam di tempatnya, tiba-tiba menggigit bibir bawahnya, matanya menunduk ke piring kosong di depannya. Rurayya mengeratkan jemarinya di pangkuan, berusaha menahan rasa malu yang mengalir di dadanya. Secuek apapun, Rayya tetaplah manusia berperasaan. Seolah belum cukup, David menatapnya lagi dan menambahkan dengan suara dingin, "Mulai sekarang, jangan ikut campur di dapur. Itu bukan tempatmu." Semua mata tertuju pada Rurayya. Beberapa pelayan yang sejak awal memang tidak menyukainya tampak puas dengan kejadian ini. Pelayan senior yang tadi bersikap ketus bahkan menyeringai kecil. Namun Rurayya menolak untuk menunjukkan kelemahannya. Ia menarik napas pelan, mengangkat wajahnya, lalu tersenyum kecil. "Oke, saya paham." ucapnya dengan nada datar. David mendengus, mengalihkan perhatiannya ke makanan baru yang disajikan di depannya, lalu mulai makan tanpa menoleh lagi ke arahnya. Madiev, di sisi lain, masih belum bergerak. Bocah itu menatap nasi liwet yang sudah diambil dari meja dengan tatapan tak terbaca. Rurayya tahu, pagi ini ia baru saja menerima satu kenyataan pahit—di rumah ini, dirinya masih dianggap sebagai orang asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN