******* Pagi itu, suara ketukan keras menggema di pintu utama. David mengerutkan dahi. Ia tidak perlu membuka pintu untuk tahu siapa yang datang. Alaric Jahan.Ayahnya. Benar saja, saat pintu dibuka oleh seorang pelayan, ayahnya melangkah masuk dengan penuh wibawa. Jasnya tersetrika rapi, langkahnya tegap, dan sorot matanya penuh ketegasan. David mendengus. "Ayah datang terlalu pagi." "Aku datang untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana," Jawab Alaric tanpa basa-basi. "Jangan berpikir kamu bisa menghindar dari ini, David." David menyandarkan tubuh ke meja dengan ekspresi muak. "Kalau begitu, aku akan bicara dengan Ibu." "Aku sudah berbicara dengan Jasmin," potong Alaric santai. "Dan dia mendukung keputusanku." David terkesiap. Ia tahu ibunya jarang menentang keputusan Alar

