Zio masih setia menunggui Velove yang asyik bermain kuda-kudaan bersama teman kuliahnya. Dengan sesekali Zio mengabadikan moment itu, tawa bahagia Velove yang selama ini sulit ia temui. Dia tahu, hidup Velove tidak mudah. Dari penolakan sang papa hingga pertengkaran kedua keluarga membuat Velove rapuh meski di luar Velove terlihat biasa saja. Ibarat kata, kertas yang sudah diremas takkan bisa kembali seperti semula. Ya itulah menurut Zio yang pas untuk Velove, meskipun Velove sudah menerima kenyataan tapi nyatanya Velove seperti membentengi dirinya terhadap keluarganya sendiri. Seakan Velove takut, jika suatu saat ada dari mereka yang menolak kehadiran Velove. Rasa trauma dalam diri Velove membuat Zio ingin menjadi alasan bagi wanita itu merasa sangat dihargai dan diinginkan. "Kak Zio

