10. Skorsing Uang Saku

1018 Kata
Aku sedikit terpental saat tubuhku menabrak seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di tengah pintu, menghalangiku untuk keluar mengejar Dinka yang berlari membawa kotak pizza kesukaanku dan juga Dinan. Aku mendongak, sekejap aku ternganga melihat seorang lelaki tampan yang kini menatapku dengan tatapan menyapanya. "Vee kamu tidak apa-apa?" tanya lelaki itu memegangi tanganku, memastikan jika aku baik-baik saja. Aku menggeleng pelan, ‘Ini, hatiku yang rasanya ingin meledak sekarang juga Dirgazio,’ jawabku membatin. Aku mengerjapkan mataku pelan, menyadarkan diri ini bahwa lelaki di depanku tengah menatikan jawabanku. "Mau cari siapa, Kak?" tanyaku Kemudian dia tersenyum ke arahku, behhhh senyumannya mampu membuatku berkeliling dunia fana. Huhh, lupakan kegaje’an diriku ini. "Cari Aunty," jawabnya. Aku mengangguk. “Masuk aja Kak, kebetulan mama baru pulang,” ucapku mempersilahkan Kak Zio untuk masuk ke rumah kami. Rumah kami? Maksudnya itu rumah aku, mama, papa, Dinand, Dinka. Benar kan kalau aku menyebutnya dengan rumah kami? "Mama, dicari Kak Io tuhhh," teriakku menyusuri ruang keluarga. Aku memang terbiasa memanggil Kak Zio dengan panggilan Kak Io, dulu saat aku masih kecil aku tipe anak yang sulit mengucapkan huruf ‘z’. Ah aku akan memperkenalkan lelaki ini, dia Dirgazio Princenata Corlyn. Yup, dia keturunan Keluarga Corlyn, kalau tidak salah dia garis keturunan ketiga dalam silsilah kelurga kerajaan bisnis itu. Kak Zio sendiri anak bungsu dari pasangan Aunty Sisil dan Uncle Nata. Kak Zio hanya dua bersaudara, memiliki satu kakak perempuan yang sangat cantik dan baik hati bernama Kak Nayna. Aku yakin kalian sudah mengenal mereka semua, hehe. Mama turun dengan pakaiannya yang santai, namun meski begitu dia tetap cantik loh diusianya yang sudah menginjak kepala 4. Aku suka sekali melihat wajah mama, sangat teduh, namun juga sangat galak di waktu yang bersamaan. "Kenapa Vee? Jangan teriak-teriak dong Nak, itu enggak baik kamu kan cewek." Ucap Mama menasehatiku. Aku menyengir, menunjukkan deretan gigi putihku membuat mama menggelengkan kepalanya, mungkin mama lelah menghadapi sikap anak-anaknya yang sangat luarrrr binasa, eh biasa maksudku, hahaha. "Ada Kak Io di depan Ma," ucapku diangguki mama. Setelah mama melenggang menemui Kak Zio atau Kak Io, aku langsung duduk di samping Dinand yang menonton berita seperti kesukaan para kakek-kakek, tapi opaku tidak suka sama berita loh. Dinand menoleh ke arahku. “Mana pizzanya?” tanya Dinand yang langsung aku jawab dengan tonyoran di kepalanya. “Pizza gambar? Adikmu itu membawanya keluar entah kemana!” dengusku sebal. Aku mengambil makroni dalam genggaman tanganku, menguyahnya dengan kasar hingga membuat suara remukan karenanya. "Nyebelin banget deh adikmu itu," cibirku serasa mendengus. Dinand menaikkan satu alisnya , keningnya pun ikut berkerut menatapku bingung. "Siapa?" tanyanya penasaran. Apakah lelaki di sampingku ini sudah kehilangan memori otaknya tentang adiknya sendiri? Kenapa lelaki itu malah bertanya ‘siapa?’. "Ya Dinka lah, siapa lagi dia kan hanya dia adikmu Dinannnn," jawabku menatapnya dengan malas. "Dia adikmu Veeeee!" "Adik Dinannnn!" jawabku menatapnya jengah. "Adik Veloveeeee!" "Dinannn!" "Velovee!!!!!!" "Adikmu, Dinannnnnnnnnn!" teriakku frustasi. "Veeeee lo, Veeee." teriaknya sambil menjambak rambutnya saking frustasinya. "Din-," "STOPPPPPP, mama pusing sama kalian!!" pekik mama menghentikan perdebatan kami. Aku hanya cemberut , sedangkan Dinand memalingkan wajahnya kesal. "Dinan tahu Ma, yang mulai," aduku pada mama membuat Dinand melotot garang padaku. "Velove dulu Ma yang mulai," ucapnya membela diri. Mama melipat tangannya ke depam d**a dan menghembuskan napasnya kasar. "Siapa yang salah?" tanya mama sekali lagi. Aku adu pandang dengan Dinand, kalau mama sudah begini mah bakal berabe. "Dinka Maaaa," teriak kami berdua dengan kompak. Mama mengangguk dan mengambil napas, aku dan Dinan langsung menutup telinga kami. Bersiap untuk teriakan yang akan memekakkan telinga kami. "DINKAAAAAAAA KE MARIIII!!!" teriak mama membuat barang-barang di sekitar kami bergetar, hahaha enggak sih lebay amat. Dinka berjalan kearah kami, dia meringis ketakutan sambil menaikkan 2 jarinya tanda 'peace' ala anak metal gitu. 'Rasakan tuh adik nakal,' batinku tertawa dalam hati. "Ampun Maaa," rengek Dinka manja, meletakkan satu box pizza itu ke meja. "Kalian," ucap mama menunjuk kami bertiga. "Mama tidak akan memberi kalian uang jajan tiga hari ke depan," lanjut mama membuat mata kami membulat sempurna. What to the hell ma? Apa salah incess mama yang cantik ini? "Hah? Mama bercanda kan?" Pekik kami bersamaan "No, Mama serius. Kalian diam saja, Mama mau tidur tubuh Mama lelah sekali, " ucap mama meninggalkan kami yang masih syok dengan ultimatumnya. Aku dan Dinand menatap Dinka dengan tajam, anak itu menatap kami dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Semua gara-gara elooo!" tandasku dan Dinand kearah Dinka yang masih meringis merasa bersalah. "Kok aku sih," jawabnya menggaruk kepalanya. Kami berjalan ke kamar masing-masing. Tanpa menoleh kearah Dinand , aku langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya. Huwaaaa papa, oma, opa lihatlah Velove hidupnya sangat menderita sengsara dan nelangsa. Aku tidak memiliki tabungan apapun selain sisa uang saku tadi siang, hiks malangnya nasibku. "Uhhhh masa nggak dikasih uang jajan sih, mana papa belum pulang. Ahaaa ama dan opa.” Aku terkikik geli dengan ide yang terlintas di kepalaku. Tanpa menunggu lagi, aku mengambil ponselku dan menekan tombol hijau pada kontak oma. Lihat saja aku akan mengadukan mama ke oma, biar mama juga kena semprot mamanya karena sudah menyengsarakan kehidupan anak-anaknya tiga hari ke depan. Tutttttt...tuuuutt.. "Halo Oma?" sapaku pada oma. "Wa'alaikumussalam Vee cantikk " jawab Omma membuatku tersenyum. "Hehehe, assalamualaikum omaku sayang," sapaku mengulang kembali. "Sepertinya ada sesuatu nih, tumben-tumbenan nelpon oma duluan," tebak oma membuatku terkekeh geli. Sepertinya oma memang tahu benar gelagat anak cucunya kalau sedang butuh sesuatu. "Hihihi, Oma ... Mama nggak ngasih uang jajan sama Vee nih tiga hari kedepan. Vee jajan pakai apa dong, oma tega nih kalau Vee kelaparan di sekolah?" rengekku manja. Oma tertawa, "Kamu mau minta jatah kan sama Oma?" tebak oma. "Hehehe, Oma tahu aja," kekehku. "MAMAAA AWAS SAJA KALAU MAMA MEMBERI UANG JAJAN PADA ANAK NAKAL ITU!" teriak mama dari luar kamarku membuatku berjingkat kaget, kok bisa dengar sih jangan-jangan mama punya penyadap suara, hiii aku bergidik ngeri membayangkannya. "Hahaaha, sorry sayang. Kamu bawa bekal aja ya dari pada mamamu marah dengan kalian. Selamat istirahat cucu oma yang pualing cantik." Bawa bekal? Dalam mimpi saja aku enggan membayangkannya. Huwaaaaaa siap siap bawa bekal ala anak TK dong. Hikss mama jahat bingit sama anak sendiri, haaaaaa nyebelinnnnn ini semua karena Dinka!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN