11. Imbalan Tumpangan Zio

1005 Kata
Velovee berjalan dengan lesu menyusuri jalanan, hari ini dipastikan dia tidak akan sampai sekolah tepatwaktu. Berkali kali dia mengumpat saking kesalnya. Betapa apesnya Velove, wanita itu diturunkan di tengah perjalanannya menuju sekolah karena sopir ojek online yang dia pesan harus berputar arah untuk menjemput istrinya yang mau melahirkan. Berkali-kali Velove mencoba melakukan order kendaraan lewat aplikasi online, tapi semua driver tidak ada yang menyantol sama sekali. Velove maklum, ini adalah saat-saatnya jam kerja yang mana semua orang pasti membutuhkan ojek online baik motor maupun mobil untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan mereka. Tinnnn ... tinnn ... Velove mendengus mendengar suara motor di belakangnya, dia sudah berada di pinggir jalan padahal. Lalu apa maunya nih si punya motor? Dia ingin menabrak Velove kah? Tinnnn ... tin ... Velove kehilangan kesabarannya, wanita itu menghentikan langkahnya. "Siapa sihhh!" kesalnya menghentakkan kaki dan berbalik menatap siempunya motor. Mata wanita itu terbelalak melihat siapa yang ada di belakangnya. Lelaki tampan dengan motor besarnya kini membuka kaca helmnya dan menatap Velove. "Kak Zio?" ucapnya seperti gumaman. Zio menghentikan motor Harley Davidsonnya yang berwarna hitam orange. Lelaki itu menyandarkan motornya dan segera turun menghampiri Velove. Lelaki itu menatap Velove bingung, tumben sekali wanita itu jalan kaki di jam-jam mepet seperi sekarang. "Kok jalan kaki? Memangnya sopir keluarga mana?" tanya Zio celingukan mencari mobil yang biasa mengantar jemput wanita itu. Velove hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Em ... anu ... ah pokoknya gitu deh Kak," jawab Velove pada akhirnya. Zio tersenyum mengerti, sudah jelas kalau Velove tengah mendapatkan hukuman dari mamanya. "Ya sudah ayo naik, sekolahanmu kan satu arah sama kampus Kakak," ajak Zio menggandeng tangan Velove untuk mendekat ke arah motornya. 'Yess tumpangan geratis,' pekik Velove girang dalam hati. Vee mengangguk dan langsung naik diatas motornya Zio, "Pegangan ya,” ucap Zio sambil menarik tangan Vee hingga mereka seperti berpelukan. Deg deg deg deg ... 'Jantungkuuuu,' teriak Velove dalam hati. Wanita itu memejamkan matanya, angin yang menerpa wajah cantik wanita itu nampaknya membuat Zio terhipnotis dengan wajah Velove. Lelaki itu mencuri pandang kearah wanita yang kini duduk di belakangnya lewat kaca spion motornya. Dirgazio sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi supaya Velove semakin memeluknya erat. Kapan lagi Zio bisa berpelukan dengan Velove seerat sekarang jika bukan di saat-saat seperti ini? Lelaki itu mengulum senyumnya, menatap kembali wajah cantik Velove dari kaca spion untuk kesekian kalinya. ‘Ini yang namanya mencari kesempatan dalam kesempitan’ kekeh Zio di dalam hatinya. Zio mengerem motornya mendadak, hingga tubuh Velove merosot ke depan membuat hatinya berbunga tidak karuan. “Maaf, Kakak tadi tidak sadar kita sudah sampai,” ucap Zio yang tentu saja sengaja melakukan itu. Velove mengangguk, “Tidak apa-apa Kak,” jawab Velove. “Bisa turun sendiri?” tanya Zio. “Bisa dong,” jawab Velove tersenyum. Velove menatap Zio. "Thanks ya Kak tumpangannya," ucap Velove dengan tulus. Mungkin tanpa tumpangan dari Zio dirinya bisa telat masuk sekolah dan juga telat untuk ulangan mata pelajaran pertamanya hari ini. "Iya sama-sama, tapi tidak gratis," jawab Zio membuat Vee menatap Zio penuh arti. Maksudnya lelaki itu minta ongkos tumpangan dari Velove? Haduh bagaimana dong, kan Velove tidak punya uang banyak yang bisa dia berikan kepada Zio. Ini saja Velove hanya membawa uang lima puluh ribu rupiah sisa uang sakunya kemaren, dan ojek onlinenya tadi sudah dibayarkan sama mamanya. Velove sepertinya harus berhutang dulu dengan Zio kalau lelaki itu meminta uang ongkos dari dirinya. "Tapi ... tapi Vee nggak punya uang Kak, mama nggak berikan uang saku sama Vee," jawab Velove menatap Zio tidak enak. Zio terkekeh, lelaki itu mengacak pelan rambut Velove. ‘Aish, pakai pegang ni rambut kusut lagi. Fix, kalau mama sudah ngasih uang jajan aku bakalan ke salon rambut biar rambutku lembut selembut hatiku. Malu dong masa rambut ABGeh kasar gini, apalagi dipegang sama lelaki setampan Kak Io,’ teriak Velove di dalam hati saat Zio mengacak rambutnya. Kening Zio berkerut menatap ekspresi wajah Velove yang kini terlihat berbeda. Wajah Velove berubah kemerahan karena malu. "Bukan uang Vee, sini deh Kakak bisikin," Zio menarik tangan Vee yang berdiri di hadapannya agar wanita itu mendekat kearahnya. Zio menatap ke sekelilingnya, memastikan tidak ada yang melihat apa yang akan dia lakukan kepada Velove. Cup , Zio mencium kening Velove hinga membuat mata wanita itu melebar sempurna. Velove menatap Zio dengan membulatkan matanya. Apa Velove sedang bermimpi sekarang? Benarkah yang tadi Zio mencium keningnya? Aaaaaaaarghh, betapa bahagianya wanita itu mendapatkan morning kiss dari Zio meskipun hanya di keningnya saja. "Ya sudah, aku duluan ya Vee, kabari saja kalau mau kakak jemput," pamit Zio memakai kembali helmnya dan menaiki motor mewahnya. Lelaki itu menoleh kembali ke arah Velove, Zio melambaikan tangannya sebelum melajukan motornya menuju kampusnya meninggalkan Velove yang masih terpaku di tempatnya karena ciuman singkat dari Zio. ‘Astaga, itu ciuman pertamaku,’ batin Velove, mengelus keningnya dengan senyuman lebar yang mengembang di pipinya. Vee langsung berlari memasuki kelasnya tanpa menghiraukan sapaan dari teman dan adik kelasnya. Semoga saja tidak ada yang melihat insiden itu atau Velove akan malu karenanya. "Veeeeeeee!!!" teriak Zakia memasuki kelas, wanita itu menatap Velove meminta penjelasan. Vee mengerutkan keningnya, “Kamu kenapa?” tanya Velove. "Jelaskan padaku siapa laki-laki yang nganterin kamu tadi," pinta Kia membuat Vee menghela napas. Tunggu, jadi Kia melihat Velove diantarkan oleh Zio? Sejauh mana Zakia melihat mereka berdua? Apakah Zakia juga melihat saat Zio mencium keningnya? “Kamu tadi melihatnya?” tanya Velove berbisik. Zakia memicingkan matanya, “Iya lah aku melihatnya,” jawab Zakia membuat mata Velove melebar sempurna. “Jadi kamu melihat Kak Zio nyium keningku?” “Whattt? Nyium kening kamu?” pekik Zakia membuat seluruh teman sekelasnya menoleh kearah bangku mereka. Zakia meringis, Velove dengan cepat menarik teman sebangkunya itu untuk duduk. “Jadi siapa lelaki itu? Pacar baru kamu?” tanya Zakia beruntut. "Bukan siapa-siapa," jawab Velove dengan tangannya sibuk mengeluarkan alat-alat tulisnya untuk ulangan hari ini. "Aku tidak percaya, mana mungkin tidak ada apa-apa tapi dia nyium kening kamu?” tanya Zakia. Velove langsung membekap mulut Zakia dengan tangannya. "Dia anaknya temen mamaku, tadi di jalan diajak bareng," jelas Velove kepada Zakia. "Dia itu seperti artis-artis luar negeri ya, tapi gantengan Dinand lah meskipun sikap saudaramu itu sangat mengesalkan," ucap Zakia mendapat tonyoran dari Velove.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN