Jam pelajaran telah selesai, Velove dan Zakia berjalan keluar dari sekolahnya. Wanita itu merogoh ponselnya, menunggu pesan dari seorang lelaki yang seharian ini mengganggu konsentrasi belajarnya. Bayangan wajah Dirgazio terus saja berputar di otaknya, senyum sumringah dari Zio membuat Velove kelimpungan tidak karuan rasanya.
Suara klakson mobil membuat wanita itu menoleh, Velove menautkan alisnya begitu melihat mobil mewah berhenti di belakangnya.
“Velove,” panggil seseorang yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.
“Opa Ardika?” pekik Velove menatap opanya dengan binar bahagia.
Velove berlari kecil kearah Ardika, sedangkan Zakia berjalan kearah sopir keluarganya yang sudah menunggu di depan gerbang sejak tadi.
" Vee sayang, apa yang kamu lakukan di pinggir jalan kayak gini? Kamu menunggu sopi kamu?" tanya Ardika.
“Opaaaa,” rengek Velove memeluk Ardika dengan erat.
“Mana sopirmu Vee?” tanya Ardika.
Lelaki itu sengaja memberikan kejutan kepada Velove setelah beberapa minggu dirinya pergi untuk urusan bisnis ke luar kota. Velove memang menjadi cucu kesayangannya, meskipun dengan Dinan dan Dinka juga sama sayangnya. Hanya saja Velove lebih manja dengan sang kakek dari pada saudara-saudaranya yang lain. Mungkin karena Velove satu-satunya cucu perempuan jadi terkesan lebih manja dengan kakek neneknya.
“Opa emangnya nggak dikasih tahu sama oma? Vee dan saudara-saudara Vee kan nggak dikasih uang jajan sama mama tiga hari. Jadi dua hari lagi baru dikasih,” ucap Velove membuat Ardika melebarkan matanya.
“Jadi mama kalian nggak ngasih uang jajan sama kalian? Astaga, untung saja opa punya firasat ingin jemput kamu di sekolah. Kalau tidak bagaimana coba? Masa kamu mau jalan kaki sampai ke rumah,” Cerca Ardika tidak terima Nadia memperlakukan cucu-cucunya seperti ini.
Velove hanya bergelayut manja kepada Ardika, Velove tersenyum bahagia karena penderitaannya dan kedua saudaranya akan berakhir hari ini. Velove yakin opanya pasti akan memarahi sang mama dan membela mereka semua.
“Ayo kita pulang, mama kalian memang keterlaluan kalau menghukum anak. Dulu opa nggak pernah begitu sama mamamu.” Ucap Ardika.
Tentu saja tidak pernah, semasa remaja Nadia tinggal bersama Sonia saat dirimu berselingkuh dari Sonia.
Mereka masuk ke dalam mobil, Ardika mengeluarkan dompetnya.
“Ini bagi dengan Dinan dan Dinka,” ucap Ardika menyodorkan uang lembaran seratus ribuan sebanyak 6 lembar kearah Velove.
Velove tersenyum bahagia, “Terimakasih opa,” ucap Velove memeluk opanya dengan erat.
“Ck, dasar cucu-cucu matre,” kekeh Ardika mengacak rambut Velove gemas.
Mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan padat di Kota Bandung. Setelah menempuh hampir 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Nadia dan Fernando.
"Assalamualaikum mamaaaa, Vee pulanggggg , teriak Velove memasuki rumah.
"Waalaikumussalam , kamu dari mana aja sih jam segini baru pu..lang?" mata Nadia terbelalak saat melihat Ardika menyusul langkah Velove masuk ke dalam rumah.
Melihat sang papa sedang menatapnya tajam membuat Nadia menyipitkan matanya, dilihatnya Velove yang seenak jidatnya melenggang naik ke lantai atas.
'Pasti ngadu nih, ckck ana kdurhaka,' cibir Nadia dalam hati.
Nadia menghampiri Ardi dan mencium tangannya, wanita itu tersenyum kearah papanya.
"Papa kemari kok nggak ngabarin dulu ?" Tanya Nadia.
"Papa tadi menjemput Velove di sekolahnya, papa lihat dia sendirian di sana. Kenapa juga kamu tidak meminta sopir menjemputnya?”
Nadia mendengus dan memegang bahu papanya,
"Pa, mereka itu masih anak-anak jadi wajar lah Nadia ngasih pelajaran ke mereka," bela Nadia.
"Tapi Nad, kamu tahu kan untuk Velove itu bisa bahaya. Bagaimana jika Denis menemukannya lalu Velove dibawa ke Bangkok?" kata Ardi membuat Nadia sedikit terkejut.
Satu hal yang mungkin sudah Nadia lupakan, tentang papa kandung Velove yang mungkin bisa membawa pergi Velove kapan saja dari mereka. Untunglah, tidak terjadi apa-apa dengan Velove, Nadia sangat menyesal.
"Maaf pa, Nadia tidak berfikir sejauh itu. Mulai besok Vee akan diantar jemput sopir lagi," jawab Nadia dengan nada penuh penyesalan.
"Ya sudah papa pulang, mamamu pasti akan meledakkan emosinya jika papa tidak cepat pulang," kata Ardi membuat Nadia tertawa.
Sepulangnya Ardi dari rumahnya, Nadia langsung menuju ke kamar Velove. Ternyata Velove malah tertidur tanpa mengganti seragamnya lebih dulu.
"Huh anak ini tidak berubah," Nadia menggelengkan kepalanya.
Dielusnya puncak kepala Vee yang agak basah karena keringat, Nadia meringis di dalam hatinya. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Velove diambil paksa oleh Denis dari tangannya.
'Maafkan mama membuatmu kelelahan , mama tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami Vee,' batin Nadia dalam hati.
*
Velove memeluk Nadia dari belakang saat melihat sang mama sedang sibuk memasak makan malam untuk keluarganya. Masalah masak memasak Nadia tidak mau jika asisten rumah tangganya yang urus. Mbok Seh hanya boleh membersihkan rumah, dan untuk memasak Nadia yang mengambil alih.
"Hei jangan begini , sana bangunkan Dinan dan Dinka sebentar lagi masakan siap," suruh Nadia kepada Velove saat anaknya menggelendoti punggungnya manja.
"Siap Kapten " jawab Vee sambil hormat kearah Nadia.
Makan malam pun dimulai dengan keluhan keluhan Vee, Dinand dan Dinka tentang harinya dengan uang tipis tidak bisa ini itu hingga dua hari ke depan. Itu hanya ekting saja, Velove sudah memberikan uang jajan yang diberikan Ardika untuk Dinan dan Dinka secara adil.
"Mama, papa kapan sih pulangnya?" tanya Dinand sudah tidak tahan lagi memegang uang yang pas-pasan. Kalau saja papa mereka pulang, mereka pasti mendapatkan uang jajan tambahan dari Fernand.
"Mungkin besok siang papa udah pulang," jawab Nadia membuat ketiga anaknya bersorak dalam hati.
Nadia menatap ketiga anaknya, " Tapi jangan kira mama akan biarkan papa kalian memberi uang jajan, skorsing itu masih berlaku. Mama hanya menyediakan sopir saja untuk mengantar jemput kalian," lanjut Nadia membuat Dinand dan Dinka melongo, sedangkan Vee hanya tertawa dalam hati.
‘Aku punya alasan nebeng sama Kak Zio,’ kekeh Velove di dalam hatinya.
“Tapi Dinand kan butuh beli pertamax mamaaa, Dinan nggak mau diantar jemput sopir seperti anak TK saja," keluhnya membuat Velove menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kamu tenang saja, mama sudah isi full kok, cek aja kalau tidak percaya," jawab Nadia.
Velove berdiri,"Vee keatas dulu deh mau ngerjain tugas," pamit Velove menggeser kursinya dan berlalu meninggalkan keluarganya dibawah sana.
Vee mengunci pintu kamarnya dan terbahak bahak,"Yeyeyyee, bisa minta tebengan Kak Zio," kikiknya tertawa geli.
Bodoh amat dengan sopir yang mamanya minta mengantarkan mereka ke sekolah, biar saja Dinka yang diantar jemput sopir keluarga. Velove biarlah berangkat bersama dengan lelaki pujaannya.
Ting!
Suara pesan masuk membuat Velove mengambil ponselnya yang tergeletak di ranjangnya.
‘ Happy nice dream veLOVE ;) :* ‘
- Dirgazio -
Wajah Vee bersemu merah membaca pesan masuk yang terkirim dari kontak bernama Dirgazio itu. Velove merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, Velove memeluk ponselnya, membayangkan jika ponsel itu adalah Dirgazio. Ah betapa bahagianya Velove malam ini.
“Happy nice dream Kak Zio,” balas Velove mengelus keningnya yang sempat dicium oleh Zio tadi pagi.