13. Korban Kecelakaan

1019 Kata
Fernand membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan, rencananya dia akan memberi kejutan kepada Nadia dan anak-anak. Fernand sengaja menyembunyikan berita kepulangannya ke Indonesia dari istri dan anak-anaknya. Fernand dengan sengaja menonaktifkan ponselnya agar Nadia dan ketiga anak mereka mengira Fernand masih dalam perjalanan naik pesawat dari LA ke Indonesia. Harum aroma masakan membuat Fernand yakin jika istrinya sudah bangun untuk membuatkan sarapan. Diletakkannya koper yang dia bawa di samping meja dapur. Lelaki itu berjalan kearah Nadia yang kini sibuk mencuci sayuran yang akan dia masak. "Pagi sunshine," sapa Fernand membuat Nadia menegang di tempatnya. Nadia menoleh mendapati Fernand memeluknya dari belakang, Nadia tersenyum dan mengelus tangan Fernand yang melingkar di perutnya. "Kamu bukannya pulang nanti siang ?" Tanya Nadia menatap lelaki yang telah menjadi suaminya lebih dari lima belas tahun itu. "Kamu tidak senang aku pulang lebih awal? Atau kamu tidak merindukanku ?" Tanya Fernand memasang wajah sedihnya. Nadia memukul bahu Fernand,"Jangan merajuk Fernand, ingat kita sudah punya tiga buntut," cibir Nadia membuat Fernand terkekeh. Fernand memutar tubuh Nadia hingga mereka saling berhadapan, “Nambah satu boleh?” tanya Fernand menaikkan alisnya menggoda kearah wanita itu. “Boleh, pakai cabe atau tidak?” tanya Nadia balik dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. “Kamu pikir membuat mie rebus pakai cabe?” dengus Fernand. Nadia mencium pipi Fernand, “Aku senang melihatmu pulang lebih cepat,” ucap Nadia dengan segera menjauhkan dirinya dari Fernand. Wanita itu merona malu, entahlah padahal mereka sudah sering melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar ciuman di pipi. Tapi Nadia selalu saja merona ketika mencium suaminya. Dan itu membuat Fernand sangat gemas dengan wanita yang sudah dia cintai sejak dirinya duduk di bangku SMA. "Apakah ada kabar hits dari anak-anak ?" Tanya Fernand. Nadia mengecilkan api kompornya, wanita itu membuatkan the hangat untuk Fernand dan meletakkannya di pantry dapur. "Seperti biasa mereka berulah sayang, Vee, Dinand, dan Dinka selalu saja ribut. Jadi aku tidak memberi uang saku mereka tiga hari," jelas Nadia dengan wajah geli. Fernand tertawa terbahak bahak ,"Tidak terasa ya sayang, anak-anak sudah tumbuhbesar " ucap Fernand diangguki Nadia. Nadia melihat jam dinding di atas dispenser berbentuk bulat, sudah pukul 5:25. "Sana bangunin anak-anak, aku siapkan sarapannya," suruh Nadia diangguki Fernand. Fernand membuka kamar bernuansa putih pink itu, dilihatnya Velove yang masih bergelung dengan selimut hello kittynya. Fernando tersenyum, satu minggu tidak melihat anak-anaknya sudah membuatnya sangat merindukan para pembuat ulah itu.  Satu ide melintas di otak lelaki itu. Fernand mengambil gelas berisi air dan memercikkannya di wajah Velove membuat wanita itu menyerngit. Velove mengerang, dia tidak akan memaafkan seseorang yang sudah berani mengganggu tidur nyenyaknya. "Oh shittttt, siapa yang membangunkanku sepagi ini!" umpat Vee sambil mengelap wajahnya. Fernand langsung menyibak selimut Velove,"Velove sejak kapan kamu mengumpat ?" Tanya Fernand dengan suara dinginnya. Vee terbelalak mendengar suara sang papa, dia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menatap papanya tak percaya. Matanya berbinar bahagia melihat Fernand berada di depan matanya sangat nyata. "Papaaaaaaa," pekik Vee langsung memeluk Fernand erat. Vee lalu meloncat-loncat kegirangan diatas kasurnya, wanita itu bersorak bahagia karena penderitaan dia dan saudara-saudaranya telah berakhir dengan kepulangan Fernand hari ini. "Hei kamu seperti anak kecil sayang, umurmu hampir tujuh belas tahun kan minggu depan," peringat Fernand membuat Vee menyengir kuda. "Please papa, Vee sangat senang papa pulang. Behhh Vee seperti di kandang singa taukk," cibir Velove bergidik ngeri dengan apa yang sudah mamanya lakukan kepada dirinya dan kedua saudaranya yang lainnya. "Memangnya siapa singanya ?" Tanya Fernand dengan sengaja karena tahu kalau Nadia saat ini berada di ambang pintu kamar Velove. "Tentu saja mama, mama kan singa betina." jawab Velove membayangkan wajah mamanya saat marah. "Oh jadi mama singa betina ?" Tanya Nadia sambil berkacak pinggang menatap Velove dengan tajam. Velove hanya meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ,sedangkan Fernand sudah terbahak-bahak hingga membangunkan Dinand dan Dinka. “Papa sudah pulang?” pekik Dinand dan Dinka bersamaan, berlari keluar dari kamar mereka berdua mencari asal suara dan menerjang tubuh papanya dengan erat. “Papaaa, selamatkan kami,” teriak mereka berdua membuat Nadia melebarkan matanya tidak percaya. Wuahhh, ketiga anaknya rupanya sangat pintar dalam berekting rupanya. * "Kusut amat muke luu," komentar Kia yang duduk di depan Vee sambil meminum the botol yang tadi dia beli dari kantin sekolah mereka. Velove hanya mendengus,"Huhh gua mah apa atuh, kena sial mulu," jawab Vee lemas. Zakia memicingkan matanya, "Why? Nggak jelas banget sih," gerutu Zakia kesal. "Hukuman gue diperpanjang jadi satu minggu dan parahnya ini nih disuruh bawa bekal kayak anak SD," cibir Velove menunjuk bekal makanannya yang sudah disiapkan Nadia. "Hahaha sumpah Tante Nadia emang gokil ya Vee. Andai gue punya mama kayak dia, apalagi hemm papa gue sibuk sama pasiennya," keluh Zakia. "Mama pernah kok cerita tentang Om Leo, papa kamu yang jadi dokternya mamaku dulu," jelas Velovee diangguki Zakia. Siapa yang menyangka justru anak Nadia yang tidak lain adalah Ferdinand menyukai putri dari Leo, Zakia. Mungkinkah karena itu cinta Leo kepada Nadia tidak terbalaskan? Karena ada kisah cinta di masa depan yang baru saja akan dimulai. * Velove sudah duduk di dalam mobil yang memang sudah disediakan untuk mengantar jemputnya di sekolah.  Dinand sendiri bersekolah di sebuah SMK Negeri dan mengambil peminatan tekhnik. Jadi ya bisa dibayangkan bahwa lelaki itu memang sangat suka otomotif dan aneka jenis modif motor maupun mobil. Untuk mobil, keluarga mereka masih belum membiarkan Dinand mengendarai mobil sebelum lelaki itu masuk kuliah. Velove menyerngit, mobil yang kini dia tumpangi berhenti karena jalanan yang sudah ramai oleh orang-orang yang terlihat mengerubungi sesuatu. Mungkinkah terjadi kecelakaan? "Sepertinya ada kecelakaan non di depan," ucap sopirnya membuat Vee menatap kerumunan tersebut. "Coba lihat dulu ya mang, Velove kepo nih," ucap Velove membuka pintu mobilnya. Vee lalu berjalan menuju kerumunan tersebut, jantungnya berdetak dengan cepat, darahnya seakan mengalir lebih deras dari biasanya. Velove tersengang ketika melihat wajah gadis seumuran dengan Dinka bersimbah darah di depannya.  "Tolong bawa dia ke mobil saya, mobil yang itu," tunjuk Velove kearah mobilnya. Lalu mereka membopong tubuh tak berdaya itu masuk kedalam mobil Velove. Mang Asep sang sopir hanya bingung dengan sikap majikannya. 'Selain cantik, nona Vee sangat baik hati,' pujinya dalam hati melihat kebaikan hati anak majikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN