Part 10 - Apa?

1912 Kata
Byunggyu berjalan di koridor sambil menguap. Ia merasa benar-benar tersiksa karena dua kurcaci tadi malam. Seojun memaksa tidur dengannya dan merengek tak ingin makan bila Byunggyu tak mau menuruti permintaannya. Karena kesal dengan rengekan Seojun, akhirnya Byunggyu mengiyakannya. Saat tahu Seojun akan tidur di kamar Byunggyu, Namjoo juga ikut merengek ingin tidur bersama kakaknya. Byunggyu tak tega menolaknya karena ini pertama kalinya Namjoo meminta hal itu padanya. Byunggyu benar-benar menyesali hal ini. Ia tidak tidur karena sepanjang malam Seojun dan Namjoo terus saja berdebat dan saling mengejek. Byunggyu saja merasa heran mengapa dua kurcaci itu tak terlihat lelah sama sekali. "Mereka bahkan berciuman? Kukira Nayoung itu kekasihnya Kak Wooseok!" Langkah Byunggyu terhenti saat ia mendengar para siswi bergosip tentang sahabat-sahabatnya. Ia berjalan mundur dan berhenti tepat di sebelah siswi-siswi itu. "Kalian sudah melihatnya di mading sekolah bukan? Astaga aku patah hati! Mengapa harus dengan Kak Byunggyu?" Tunggu! Mengapa namanya dibawa-bawa? Byunggyu segera berlari menuju mading sekolah. Di sana banyak sekali murid yang berkerumun. Byunggyu menerobos kerumunan mereka. Matanya terbelalak melihat foto yang terpajang di mading sekolah. Ia segera mencabut foto itu dan merobek-robeknya. Itu adalah fotonya saat di Jeju. Foto ia dan Nayoung yang terlihat seperti berciuman. Pasti ini adalah ulah dari keluarga Nayoung. Byunggyu sebenarnya tak apa-apa bila reputasinya rusak karena foto ini. Yang ia takutkan adalah Gaeun dan Wooseok akan salah paham. Ia pun berteriak. "Di antara kalian ada yang melihat Kim Wooseok?" *** Wooseok memantulkan bola basketnya dengan keras ke lantai. Emosinya campur aduk. Namun ia tak mengerti mengapa. Byunggyu dan Nayoung berkencan memangnya kenapa? Apa urusannya dengan dia? Kenapa ia marah tentang itu? Ia bahkan tak punya hak untuk marah. "Wooseok-ah!" panggil seseorang. Wooseok menoleh dan langsung memasang wajah masam. Ia melempar bola basketnya dengan kencang ke arah orang itu. Byunggyu langsung menangkap bola basket yang dilemparkan oleh Wooseok sebelum bola itu mengenai kepalanya. Tapi tanpa ia sadari, Wooseok tiba-tiba melompat ke arahnya dan menghujaninya dengan pukulan. Byunggyu yang tak terima pun melawan. Terjadilah guling-guling dan saling memukul di lapangan basket itu. Karena lelah, mereka berhenti berkelahi dan membaringkan tubuh mereka di lantai. Wajah mereka babak belur. Mereka berdua berusaha menormalkan nafas mereka yang tak beraturan. "Mengapa kau tak memberitahuku kalau kau berkencan dengan Nayoung?" tanya Wooseok. "Aku tak berkencan dengannya." ucap Byunggyu pelan. "Apa kau bilang?!" Wooseok langsung bangun dan terduduk. "Tapi mengapa kalian berciuman? Aku tak menyangka kau orang yang seperti itu!" Mengetahui sahabatnya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, Byunggyu langsung menarik Wooseok agar pemuda itu kembali berbaring. Mungkin terlalu keras, karena kepala Wooseok terantuk di lantai. "Jangan berpikir yang tidak-tidak! Kami tak berciuman, kami hanya pura-pura agar Bibinya Nayoung percaya kami berkencan." jelas Byunggyu. "Tapi untuk apa?" Wooseok semakin tak mengerti. "Untuk membatalkan perjodohan Nayoung dengan Lixuan. Kau tentu tak mau melihat Nayoung menikah dengan bocah bukan? Atau Xieyu, memangnya kau mau dia menikah dengan Xieyu?" cibir Byunggyu. "Tapi, mengapa harus kau? Mengapa bukan aku?" tanya Wooseok tak terima. Byunggyu tersenyum miring, "Astaga? Apa ini? Kau marah?" Wooseok menggembungkan pipinya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Byungyyu. Byunggyu terkekeh. Tak percaya kalau sahabatnya yang sering bertingkah imut ini yang membuat wajahnya babak belur sekarang. "Itu karena Lixuan melamar Namjoo. Dan itu berarti aku juga akan masuk ke dalam keluarga Han. Nenek Nayoung hanya ingin cucunya menikah dengan salah satu dari keluarga Han." jelas Byungyyu. Wooseok kembali membalikkan tubuhnya dan berbaling telentang. Ia mengangguk mengerti. Ia jadi merasa bersalah karena berpikir yang tidak-tidak pada Byunggyu. "Kak Byunggyu," panggil Wooseok. "Hm?" "Tolong jangan jatuh cinta pada Nayoung." pinta Wooseok lirih. Byunggyu membalikkan tubuhnya ke arah Wooseok. "Kenapa?" tanya Byungyu. Ia sebenarnya tahu alasannya, tapi ia ingin menggoda Wooseok, "Kau menyukainya? Tapi bukannya kau bilang kau selamanya hanya akan menyukai ibuku?" "Karena.. Eum karena..." "Karena apa?" pancing Byunggyu. "Karena... Arghhhh yang jelas jangan sampai kau menyukainya! Fokus pada Gaeun saja!" Wooseok bangkit berdiri dan berlari keluar lapangan. Byunggyu melongo. Saat sadar, ia pun menyeringai. "Astaga dia itu, kenapa ekspresi malu-malunya jadi mirip wanita?" kekehnya sebelum menyusul Wooseok. *** Nayoung menggigiti kukunya gugup. Ia sedang mencari seseorang, dan ia harus menemukan orang itu sekarang. "Wooseok-ah!" panggil Nayoung begitu melihat Wooseok. Wooseok memasang wajah acuh, tak ingin Nayoung tahu bila ia marah soal foto itu. "Kalau kau ingin menjelaskan soal foto itu, aku tak mau mendengar apapu—" Nayoung memotong ucapan Wooseok. Dirinya sedang dalam situasi darurat sekarang. Nayoung mencengkram bahu pemuda itu, "Kau lihat Byunggyu?" Wooseok mengernyit, Nayoung bukannya mencarinya untuk menjelaskan masalah foto itu tapi malah mencari Byunggyu? "Byunggyu-ya!" panggil Nayoung saat melihat Byunggyu berlari di belakang Wooseok. Wooseok merasakan sakit saat Nayoung melepaskan cengkramannya dari bahunya. Dan saat Nayoung berlari ke arah Byunggyu, Wooseok merasa ada sesuatu yang membuat hatinya terasa sesak. Ini terasa sama seperti saat Nayoung mengabaikan Wooseok dan memberikan bekalnya pada Byunggyu saat mereka masih kecil dulu. "Ada apa?" tanya Byunggyu. Wooseok tak sanggup mendengar lagi. Wooseok menatap Byunggyu sengit. Ia pun berlari meninggalkan dua orang itu. "Wooseok-ah!" panggil Byunggyu. "Jangan kejar dia. Ada masalah penting yang harus kita bicarakan." ucap Nayoung panik. Tiba-tiba Byunggyu mencengkram kedua bahu Nayoung dan mengguncangkannya dengan keras. "Park Nayoung, kau sepertinya makin tidak waras! Kau kesurupan yah? Atau matamu buram? Pria tadi itu Kim Wooseok! Atau kau sudah tak suka padanya lagi?" tanya Byunggyu kalap. "Bukan begitu, dasar bodoh! Kau pikir aku bisa memikirkan hal itu setelah aku mendengar hal ini? Acara makan malam dipercepat! Nenekku tiba-tiba memintamu makan malam dengannya malam ini!" jerit Nayoung panik. "Apa kau bilang?! Bukannya dulu nenekmu mengatakan makan malamnya ditunda sampai hari sabtu? Mengapa dipercepat?" tanya Byunggyu heran. Nayoung melepaskan cengkramannya. Ia mengacak-acak rambutnya, "Aku yakin ini ulah Bibiku! Arrrggghhh, aku bisa gila! Kita bahkan tidak punya persiapan apapun!" Byunggyu mendengus, "Jadi ini ulah Bibimu lagi?" Nayoung menoleh dengan cepat pada Byunggyu. "Apa maksudmu? Ulah bibiku lagi?" "Yang menempel foto kita di mading itu bibimu bukan?" Ucap Baekhyun. Nayoung mengernyit, "Foto? Ah! Astaga aku bahkan tak tahu hal itu karena panik tadi!" "Wooseok marah karena hal itu, dan kau memperparahnya." Byunggyu memijat tengkuknya karena pusing. "Astaga jadi karena itu dia pergi tadi? Kukira kalian sedang bermain kejar-kejaran." ucap Nayoung polos. Byunggyu hanya bisa menepuk dahinya kesal. Astaga kalau berurusan dengan Nayoung dan Wooseok ia harus memiliki kesabaran ekstra. "Baiklah ayo cari Wooseok dan menjelaskan semuanya padanya." Nayoung menarik tangan Byunggyu. "Hei, kenapa aku juga harus ikut?" *** Wooseok mengerucutkan bibirnya kesal. Ia menuju ke perpustakaan. Bila kalian berpikir ia ingin belajar di sana itu berarti kalian salah besar. Wooseok tak pernah belajar, walaupun ia selalu berada di peringkat tiga umum. Tentu saja dibawah duo jenius, Nayoung dan Byunggyu. Ia hanya ke perpustakaan untuk tidur dan melarikan diri dari Byunggyu. Byunggyu alergi dengan sesuatu yang berdebu dan kotor, sedangkan perpustakaan penuh dengan buku-buku berdebu juga bangku yang kotor. Karena itu Byunggyu tak akan datang ke perpustakaan dan Wooseok aman di sini. Ia benar-benar kesal pada Nayoung dan Byunggyu tadi. Ini bukan berarti ia cemburu, yah! Ingat itu! Wooswok tersenyum pada Penjaga Perpustakaan Jang. Wanita itu terlihat tersipu dan mengedipkan matanya pada Wooseok. Wooseok menelan ludahnya kasar sambil meringis jijik. Tapi ia mengabaikannya dan masuk ke dalam perpustakaan. Ia terkejut melihat Gaeun juga berada di perpustakaan. Memandangi sebuah foto yang Wooseok yakin itu adalah foto Nayoung dan Byunggyu. "Gaeun-ah?" Gaeun menoleh dan segera menyembunyikan foto itu. Wooseok duduk di sebelah Gaeun. "Tak apa. Aku tahu itu foto Nayoung dan Kak Byunggyu bukan? Kak Byunggyu bilang mereka tak berciuman. Itu hanya untuk menipu bibinya Nayoung agar bibinya Nayoung percaya mereka berkencan. Yeah, walaupun aku tak yakin apa yang dikatakan oleh Kak Byunggyu itu benar karena mereka sangat dekat." ucap Wooseok dongkol. "Kau cemburu?" tanya Gaeun. "Tidak! Aku hanya merasa Nayoung membohongiku, dia mengatakan ia menyukaiku. Tapi ia berkencan dengan Kak Byunggyu!" gerutunya. Gaeun terkekeh, "Apa hatimu terasa sesak?" Wooseok mengangguk. "Apa di sini terasa sakit saat kau melihat foto itu?" Gaeun memegangi dadanya. Sekali lagi Wooseok mengangguk. "Apa kau merasa ingin memisahkan mereka sejauh-jauhnya agar mereka tak bisa dekat lagi satu sama lain?" tanya Gaeun. Wooseok terdiam lalu mengangguk ragu. Itu membuat Gaeun sekali lagi terkekeh. "Itu artinya kau cemburu. Sebentar lagi kau pasti akan menyadarinya. Kau menyukai Nayoung, itulah faktanya. Kau tak rela bila Nayoung bersama Byunggyu, seharusnya ia bersamamu. Nayoung memang mencintaimu tapi bila kau tak segera memberi kepastian padanya lama-lama ia akan bosan dan melupakanmu." ucap Gaeun. Gaeun menepuk bahu Wooseok, "Pikirkanlah ucapanku baik-baik maka kau akan menemukan jawabannya." Wooseok terdiam. Apa benar ia mencintai Hayoung? Bukannya hanya merasa kehilangan bila kehilangan penggemar setianya? "Baiklah ayo cari topik lain! Kulihat ayahmu pulang kemarin, apa dia berbuat ulah lagi?" tanya Wooseok. Gaeun terdiam. Matanya tak fokus dan mencoba mencari hal-hal yang bisa membuatnya tak membahas hal ini dengan Wooseok. Sayangnya Wooseok menyadarinya. Ia menggenggam tangan Gaeun yang ada di atas meja dan menatap Gaeun serius. "Jangan menghindar! Kita sudah saling mengenal sejak kita masih bayi Gaeun-ah. Aku tahu segalanya tentangmu dan kau tahu segalanya tentangku. Kumohon beritahu aku." ucap Wooseok. Gaeun menatap tangannya yang digenggam Wooseok. Lalu beralih menatap tepat dimata pemuda itu. "Kau tak tahu segalanya tentangku Wooseok-ah. Kau tak tahu bagaimana perasaanku padamu. Kau tak tahu itu." ucapnya. "Apa?" *** Makassar, 6 Juni 2016 *** Tambahan : Taeoh membantu Namjoo dan Seojun untuk belajar. Sebenarnya niat awal Namjoo adalah agar ia bisa dekat dengan Taeoh. Lagipula ia kan jenius. Bahkan ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah Byunggyu. Tapi karena ada Seojun yang ingin ikut-ikutan, rencana Namjoo gagal dan ia jadi benar-benar belajar. Walaupun sesekali gombalan masih dilancarkan. "Kak, ajari aku." pinta Namjoo sambil duduk di sebelah Taeoh. "Soal yang mana yang tidak kau mengerti?" tanya Taeoh sambil menatap Namjoo. "Ajari aku ... cara untuk mendapatkan cintamu!" ucap Namjoo. Taeoh menghela nafas. Lalu mengemas barangnya. "Hieee Kakak mau kemana?" tanya Namjoo. Taeoh mendengus, "Kalau kau tak serius belajar aku lebih baik tidur saja." "Jangan! Aku serius! Aku tak mengerti soal ini." Namjoo menunjuk ke salah satu soal matematika yang memang sulit. Taeoh kembali duduk dan memperhatikan soal yang ditanyakan Namjoo. Taeoh mulai menjelaskan. "Cara menyelesaikan soal yang ini itu dengan cara nilai yang ini dikalikan dengan yang ini." jelas Taeoh. "Aku masih belum mengerti." bohong Namjoo. "Baiklah kau punya pulpen? Akan kuberikan contoh padamu." tanya Taeoh. "Aku tak punya pulpen, Kak. Aku hanya punya hati untuk mencintaimu." ucap Namjoo dengan raut serius. Taeoh menatap Namjoo sengan ekspresi datar. Seojun tak bisa menahan tawanya saat melihat reaksi Taeoh yang digombali oleh Namjoo. Ting tong... "Biar aku saja." Seojun bangkit berdiri dan ingin pergi membuka pintu. "Aku ikut!" Namjoo berlari mengikuti Seojun. Seojun membuka pintu dan terperangah. Baiklah berapa kali aku harus mengulang adegan ini? Pintu itu seperti kado yang membuat orang terkejut ketika membukanya. "Hei, anak bangsawan mau apa kau kemari?" tanya Seojun. Lixuan ingin menerobos masuk. Tapi ia terhenti ketika melihat Namjoo berlari ke arahnya. "Lixuan-ah kau mengapa bisa ada di sini?" tanya Namjoo. "Kau belum tahu? Aku dan kakakku yang menyewa apartemen di sebelah apartementmu. Kita bertetangga sekarang." ucap Lixuan sambil tersenyum cantik.. Eh maksudnya tampan! "Bukannya yang menyewa apartemen itu seorang kakek?" tanya Namjoo tak percaya. "Ah aku ingin memberi kejutan jadi kusuruh pelayanku yang menyewanya." ucap Lixuan. Sebenarnya ia tak ingin Bomin menolak menyewakan apartemen itu padanya bila tahu dirinya yang menyewa apartemen itu. Namjoo dan Seojun berpandangan sejenak. Tapi setelah itu mereka saling membuang muka. Astaga, Lixuan akan tinggal di apartemen sebelah itu berarti ia akan sering menempeli Namjoo dan berdebat dengan Seojun? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN