Gaeun tersadar kalau ia baru saja menyebut-nyebut mengenai perasaannya. Ia mulai gugup, terlebih Wooseok menatapnya dengan pandangan 'Kau-bilang-apa-tadi?'. Padahal ia baru saja meminta Wooseok menyadari perasaannya pada Nayoung, tapi malah sekarang ia mengungkapkan perasaannya.
Mata Gaeun beralih pada foto yang masih ada di pangkuannya. Apa tidak apa-apa bila sekali ini saja ia egois? Bukannya Nayoung telah bersama Byunggyu? Jadi tak apa bukan bila ia berusaha mengambil posisi Nayoung di hati Wooseok? Lagipula selama ini ia selalu mengalah. Mungkin sudah saatnya untuk ia memperjuangkan cintanya.
"Ya, perasaanku. Aku tahu kau sedang bingung sekarang. Maafkan aku yang membuatmu semakin bingung. Tapi aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Kim Wooseok kau mengatakan dirimu mengetahui segalanya tentangku. Tapi apa kau mengetahui ini? Perasaanku padamu lebih dari seorang sahabat. A-aku... a-aku mencintaimu."
Wooseok membelalak. Tak menyangka bila Gaeun memiliki perasaan seperti itu padanya.
"Kukira tadi kita membahas tentang ayahmu," Wooseok berusaha kabur dari pembicaraan ini.
"Kumohon jangan lari. Kau tahu dengan jelas betapa menyakitkannya ini bagiku." pinta Gaeun.
Wopseok menatap Gaeun. Ia berharap kalau ini bulan april lalu Gaeun tak lama lagi akan berteriak 'april Moop!'. Tapi sayangnya ini bulan juni dan tak ada istilah 'June Moop'.
"Gaeun-ah, apa kau tahu akibat dari perasaanmu ini pada persahabatanku, kau, Nayoung dan Kak Byunggyu?" tanya D.o.
"Aku..." ucapan Gaeun langsung dipotong oleh Wooseok.
"Aku tahu sulit bagimu untuk menahannya. Aku minta maaf bila aku kejam padamu tapi ... kau bahkan tahu dengan jelas bagaimana perasaanku bahkan melebihi diriku sendiri. Jadi ... Maaf." Ucap Wooseok tegas.
Gaeun berusaha menahan tangisnya. Ini juga salahnya karena ia nekad menyatakan perasaannya padahal ia tahu Wooseok menyukai Nayoung.
"Eum, tak apa. Lagipula yang terpenting bagiku aku sudah mengungkapkan kalau aku menyukaimu."
"Apa kau bilang?!"
Wooseok dan Gaeun sontak menoleh ke belakang. Byunggyu menatap mereka dengan pandangan tak percaya. Di sebelahnya ada Nayoung yang menahan tangan Byunggyu. Jika saja Nayoung tak menahan Byunggyu, mungkin pemuda itu sudah memukuli Wooseok.
Hatchi... hatchi...
Byunggyu mengusap hidungnya kasar hingga hidungnya berwarna merah seperti hidung badut. Walaupun dalam momen menegangkan Byunggyu tetap bersin-bersin. Byunggyu alergi debu dan tempat kotor, ingat? Penjaga perpustakaan Jang juga seperti tak peduli mereka ribut di perpustakaan. Ia bahkan sekarang sedang mengunyah coklat sambil melihat drama para anak-anak remaja labil ini. Jarang-jarang bukan ada drama di perpustakaan yang biasanya sepi seperti kuburan.
"Kim Wooseok, bukankah kau tahu dengan jelas perasaanku? Kau menusukku dari belakang? Bukankah sudah kukatakan padamu aku tak punya hubungan apapun dengan Nayoung?!" marah Byunggyu.
"Hei, bukan salahku bila Gaeun menyukaiku! Memangnya kau bisa mengatur perasaan seseorang untuk mencintai siapa?" balas Wooseok.
"Memang tidak, tapi mengapa harus dirimu?" jerit Byungyu tak rela.
"Memangnya ada apa dengan diriku hah?" tantang Wooseok.
Nayoung mencari aman dengan menarik Gaeun diam-diam dan mengajak sahabatnya itu keluar dari perpustakaan. Lagipula ia tak ingin ikut ke dalam pertengkaran absurd dua orang ini. Biarkan saja mereka bertengkar. Nanti juga mereka berhenti sendiri.
"Kau jelek, pendek, tak waras, bodoh, cerewet dan ceroboh! Bagaimana bisa aku membiarkan Gaeun jatuh cinta pada pria sepertimu?" cibir Byunggyu.
"Walaupun mencibirku seperti itu tapi itu tak mengubah fakta bahwa kau baru saja kalah dari pria sepertiku! Lagipula kau juga tak waras, bermulut pedas, wajah tembok, dan kau juga pendek! Kau tak lebih baik dariku!" balas Wooseok.
"Setidaknya aku lebih tinggi darimu!" Byunggyu masih tak mau kalah.
"Benarkah?! Coba ukur!"
Mereka berdiri berdampingan dan membandingkan siapa yang paling tinggi. Byunggyu tersenyum penuh kemenangan. Wooseok meringis miris.
"Kau lebih tinggi dariku."
"Aku menang! Yuhuu!"
Pertengkaran macam apa ini?
***
Nayoung membawa Gaeun ke ruang OSIS. Tempat yang aman menurutnya karena Byunggyu sedang pergi dan pengurus lain sedang berada di kantin. Lagipula siapa yang mau tinggal di ruang OSIS saat jam istirahat kecuali sang ketua dan wakil ketua?
"Baiklah sekarang jelaskan. Mengapa kau mengungkapkan perasaanmu pada Woooseok? Aku sebenarnya sudah tahu dari awal. Tapi aku tak mengerti mengapa baru sekarang kau mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanya Nayoung.
"Kau tahu dari awal? Bagaimana bisa?" pertanyaan Nayoung dibalas pertanyaan juga oleh Gaeun.
"Itu tidak penting. Tolong jawab pertanyaanku saja. Kau tahu? Karena hal ini persahabatan Byunggyu dan Wooseok bisa hancur!" ucap Nayoung.
Gaeun menatap Nayoung dengan pandangan tak percaya. Mengapa Nayoung menyalahkan itu semua padanya.
"Apa maksudmu? Mengapa perasaanku dikaitkan dengan persahabatan mereka? Jika kau merasa keberatan aku mengungkapkan perasaanku pada Wooseok, katakan saja! Lagipula aku juga ditolak olehnya karena ia menyukaimu." ucap Gaeun.
"Tentu saja ini perasaanmu dikaitkan dengan hal ini! Apa kau tidak tahu? Byunggyu mencintaimu sejak kita masih kecil, bodoh! Dan karena ia tahu kau menyukai Wooseok, semuanya akan menjadi semakin sulit!" ucap Nayoung.
Nayoung berusaha menahan rasa cemburu dan juga kesalnya sejak tadi. Lagipula Gaeun tak bisa disalahkan dalam hal ini. Cepat atau lambat Byunggyu juga pada akhirnya akan tahu tentang perasaan Gaeun pada Wooseok.
"Byunggyu ... B-Byunggyu suka padaku? Tidak mungkin!" seru Gaeun tak percaya.
"Kukira kau peka, tapi ternyata tidak sama sekali. Tak sadarkah dirimu? Diantara orang-orang yang mengenal Byunggyu, hanya kau yang tak pernah mendapat semprotan mulut pedasnya yang pedas tak terkira. Ia selalu memperlakukanmu dengan lembut. Kau saja yang tak sadar akan fakta itu." cibir Nayoung.
Gaeun terdiam. Kalau begini berarti ia tak bisa membantah perkataan Nayoung. Perasaannya memang akan menghancurkan persahabatan dua pemuda. itu.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Gaeun.
Nayoung hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan Gaeun. Ia juga tak memiliki solusi tentang ini.
***
Walaupun sedang emosi, Byunggyu tetap membantu Nayoung. Lagipula masalahnya dengan Wooseok dan Gaeun, bukan? Dengan makan malam ini bahkan Byunggyu berniat melampiaskan kekesalannya. Nayoung sendiri ngeri melihatnya. Tapi gadis berambut pirang itu memilih bungkam daripada harus terkena semprotan beracun Byunggyu.
Ayah dan Ibu Nayoung terkejut melihat Byunggyu. Tapi setelah itu mereka bahkan terus saja tersenyum bahagia karena Byungjin adalah rekan bisnis mereka. Jika Byunggyu dan Nayoung menikah, hubungan bisnis mereka dengan Byungjin juga akan semakin erat.
"Jadi apa kalian sudah memilih tanggal pernikahan kalian?" tanya Nenek Nayoung.
Nayoung melotot pada neneknya. Oh ayolah bahkan neneknya baru saja bertemu dengan Byunggyu, tapi ia sudah menanyakan tentang pernikahan?
"Sebenarnya kami berdua sepakat untuk menunggu hingga kami menyelesaikan pendidikan kami." jawab Byunggyu sopan.
"Bukankah itu terlalu lama?" Bibi Nayoung terlihat tak setuju.
"Sebenarnya ini semua berkat foto yang Bibi tempelkan di majalah dinding sekolah kami. Bila kami menikah sekarang, akan banyak kabar miring mengenai kami berdua," Byunggyu tersenyum sinis.
O-ow! Sepertinya Byunggyu berniat membalas dendam pada Bibinya Nayoung dengan mempermalukannya. Nayoung tersenyum. Ia memang tidak salah memilih orang untuk menangani keluarganya.
"Biarkan saja orang-orang itu berpendapat. Lagipula kalian tak melakukan hal itu bukan?" ucap Bibinya Nayoung. Oh aku benar-benar ingin menggantinya dengan nama, tapi aku kehabisan ide untuk nama-nama anggota keluarga Nayoung.
"Bibi memang mudah berbicara seperti itu, tapi kami yang akan menjalani dan merasakan akibatnya." ucap Byunggyu dengan tatapan 'Berhenti-mengurusi-urusan-kami-atau-kupe malukan-kau-di-sini'.
Nayoung ingin bertepuk tangan sekencang-kencangnya untuk Byunggyu. Pemuda itu mampu membungkam bibinya yang cerewet! Hebat!
Nenek Nayoung yang merasakan suasananya mulai memanas pun mencari topik pembicaraan lain.
"Nayoung ajak Byunggyu berkeliling setelah makan malam. Ah, kalian memiliki banyak tugas sekolah bukan? Ajak Byunggyu untuk mengerjakan tugas kalian di perpustakaan." ucap Nenek Nayoung.
"Ya, Nenek."
***
Bomin cukup terkejut melihat Wooseok yang pulang dengan wajah penuh lebam. Untung saja Nayoung sudah menceritakan apa yang terjadi pada Baekhyun dan Wooseok saat ia meminta izin agar Byunggyu bisa makan malam di rumahnya.
Namjoo bermain bersama Lixuan di apartemen Lixuan. Namjoo ingin pergi ke sana setelah diiming-imingi makanan oleh Lixuan. Bomin jadi menyesal mengapa ia tak memeriksa dengan baik pada siapa ia menyewakan apartemen itu.
Seojun menatap Wooseok tanpa berkedip. Sadar akan tatapan bocah itu, Wooseok tersenyum dan berjongkok di depan Seojun. Memegang kepala bocah laki-laki yang seimut boneka itu.
"Kak, anak ini kenapa?" tanya Wooseok sambil terus menatap Seojun.
"Jangan ganggu dia! Kau tahu ibunya galak bukan? Kau mau di mutilasi oleh Chaerim?" peringat Bomin.
Wooseok mengendikkan bahunya dan masuk ke kamarnya. Seojun sendiri masih menatap Wooseok Kemarin ia hanya memperhatikan Namjoo dan Byunggyu. Karena sekarang Byunggyu sedang tidak ada di rumah barulah ia memperhatikan sekitarnya.
"Bibi, Kakak perempuan yang itu namanya siapa?" tanya Seojun.
"Kakak perempuan yang mana?" tanya Bomin heran. Ia menyicip sayur yang ia buat.
"Yang bicara tadi! Yang wajahnya banyak lebamnya." ucap Seojun polos.
Bomin hampir tersedak. Anak ini mengira Wooseok perempuan? Wooseok dipanggil 'Kakak perempuan'? Bomin tertawa terpingkal-pingkal.
"Ada apa?" tanya Wooseok yang baru saja selesai mengganti pakaiannya.
Bomin tersenyum jahil. Ia mendekati Wooseok dan merangkul bahunya.
"Seojun-ah, kakak perempuan yang ini namanya Kim Wooseok~" Bomin menggoda Wooseok.
"Kim Wooseok? Kak, lain kali kalau potong rambut jangan terlalu pendek. Kakak memang manis tapi orang lain bisa salah paham kalau Kakak ini pria." ucap Seojun.
"Apa? Kakak perempuan? Kau mengira aku wanita? Aku bahkan tak punya kelenjar s**u!" jerit Wooseok sambil memegangi dadanya.
Seojun melongo. Jadi yang ada di depannya ini seorang pria? Kenapa manis sekali? Yeah walaupun wajahnya sedang babak belur sih.
"Astaga harga diriku sebagai pria benar-benar terluka." gumam Wooseok miris.
"Siapa suruh kau terlalu manis dan selalu bertingkah seperti wanita?" ejek Bomin. Kembali melanjutkan acara memasaknya.
"Kau menganggapku manis? Benarkah? Baiklah aku akan tetap seperti ini! Apapun agar aku bisa terlihat manis di mata Kak Bomin!" ucap Wooseok dengan nada imut.
Seojun menatap Wooseok sekali lagi. Memastikan Wooseok itu pria atau bukan. Pria tapi tingkahnya imut begitu? Sulit dipercaya.
"Kak, wajahmu kenapa?" tanya Seojun.
Senyum yang tadi mengembang di wajah Wooseok pun luntur. Ia membungkuk menyamakan tingginya dengan Seojun. Lalu mencubit hidung bocah itu dengan keras.
"Anak kecil tidak boleh tahu!"
"Sakit! Sakit Kak! Lepaskan!" jerit Seojun.
"Hei, Wooseok-ah lepaskan dia! Kau benar-benar akan dimutilasi oleh Chaerim nanti." tegur Bomin.
"Aku tak peduli~" ucap Wooseok sambil bersenandung. Ia malah tambah keras mencubit hidung Seojun.
Yeah, ia sedang tak ingin membahas tentang luka di wajahnya saat ini. Luka yang ia dapatkan karena perselingkuhan Nayoung. Luka yang ia dapatkan karena pengakuan Gaeun. Dan luka yang ia dapatkan karena hati Byunggyu yang patah. Ia benar-benar tak ingin membahas hal ini.
*****
Makassar, 9 Juni 2016