Sesuai perintah dari neneknya, Nayoung mengajak Byunggyu ke perpustakaan rumahnya. Saat pintu sudah tertutup, ia mulai berteriak, tertawa dan bertepuk tangan seperti orang gila. Oh apa yang kalian harapkan? Ia memang gila bukan?
"Oh Byunggyu kau memang hebat! Ah, kalau tahu dengan mengandalkanmu aku bisa terbebas dari perjodohan, aku takkan menculikmu ke Jeju dulu!" jerit Nayoung senang.
"Diamlah! Kau membuat telingaku sakit dengan suaramu yang melengking seperti tikus terjepit itu. Aku hanya ingin membalas dendam pada Bibimu yang menyebarkan foto-foto kita." ucap Byunggyu. Ia memilih duduk di sofa sambil membuka-buka buku yang menarik perhatiannya.
Nayoung duduk di sofa yang berada di depan Byunggyu. Menimbang-nimbang apakah ia harus mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Mengenai masalah Gaeun, apa kau masih marah pada Wooseok karena Gaeun mencintainya? Oh ayolah, Oh Byunggyu! Aku mengenalmu dengan baik, kau berpikiran dewasa. kau tak bisa menyalahkan Wooseok tentang hal ini."
Byunggyu berhenti membaca bukunya dan menatap Nayoung sengit. Nayoung meringis, sebentar lagi Byunggyu pasti akan mengeluarkan kata-kata pedasnya.
"Kau pikir seseorang bisa berpikir dewasa bila membahas tentang cinta? Kau sang gadis dingin dan ketus saja akan berubah manja bila bersama Wooseok yang kau cintai," Byunggyu menaruh buku yang dipegangnya kembali ke meja. "Aku tak bisa menerima bahwa Gaeun mencintai Wooseok, sahabatku sedangkan aku telah mencintainya sejak kita semua masih kanak-kanak."
"Gaeun juga mencintai Wooseok sejak dia masih kanak-kanak, bahkan mungkin sebelum kita dan mereka berdua saling mengenal. Mereka bertetangga ingat?" Nayoung masih berusaha membujuk Byunggyu.
"Hal yang membuatku heran adalah ... " Mata Byunggyu memicing, "Mengapa kau tak terlihat terkejut atau marah sedikit pun saat tahu Gaeun menyukai Wooseok?" tanya Byunggyu.
Nayoung meringis. Bingung harus bagaimana cara menjelaskannya pada Byunggyu.
"Eum begini, aku sebenarnya sudah tahu hal ini sejak lama. Saat kita masih anak-anak ingatkah kau aku menjauhi Wooseok dan Gaeun? Itu semua karena hal ini. Awalnya aku marah sepertimu, tapi untungnya Kak Bomin menenangkanku. Lagipula aku merasa bersalah pada Gaeun karena ia harus menyembunyikan perasaannya demi aku." jelasnya.
"Oh bagus, Ibu dan kau tahu hal ini sejak awal tapi tak memberitahuku." ucap Byunggyu sarkastis.
"Maaf, aku dan Kak Bomin berpikir ini yang terbaik. Kami tahu kau dan Wooseok pasti akan bertengkar karena hal ini. Lagipula kami mengira seiring berjalannya waktu Gaeun pasti akan melupakan perasaannya. Tapi ternyata semua tak seperti yang kami pikirkan."
Byunggyu awalnya tak berniat membuat Nayoung merasa bersalah. Ia hanya tak bisa mengontrol apa yang ia katakan karena terbiasa berucap pedas pada orang lain. Sekarang ia salah tingkah sendiri karena Nayoung berusaha membujuknya.
"Sudahlah. Eum, sepertinya sudah waktunya aku pulang, ayo keluar dari sini." ajak Byunggyu.
Byunggyu berjalan ke arah pintu dan mencoba membukanya. Eh? Eh? Apa ini? Kenapa pintunya tak mau terbuka?
"Oh Nayoung kau mengunci pintunya ya? Berikan kuncinya!" ucap Byunggyu kesal.
"Ha? Aku tidak menguncinya! Minggir sana biar aku yang membukanya." ucap Nayoung.
Sekarang giliran Nayoung yang mencoba membuka pintu itu. Oh bagus! Sekarang mereka terkunci dalam perpustakaan itu.
"Ini pasti ulah keluargaku!" tuduh Nayoung.
"Apa tidak ada jalan lain untuk keluar dari sini?" tanya Byunggyu.
Nayoung mencoba memikirkan cara lain. Ah! Mengapa tidak terpikirkan olehnya?
"Ada! Dinding perpustakaan yang itu! Bantu aku mencari remotenya." pinta Nayoung.
"Ha? Remote apa?" Byunggyu mengernyit bingung.
Nayoung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Itu dia! Remotenya ada di atas meja dekat rak buku astronomi.
"Ini dia. Hmm, yang mana tombol untuk membuka pintu rahasianya ya? Aku lupa," gumam Nayoung bingung.
"Yang ini!" Nayoung memencet salah satu tombol di remote itu.
Klik..
Tak terjadi apa-apa pada tembok itu. Mungkin Byunggyu yang sedang s**l atau apa, dari tembok malah keluar semprotan air yang menyemprot ke arahnya. Oh bagus sekarang tubuh dan juga pakaiannya basah semua.
"Oh-Na-Young!" seru Byunggyu marah.
"Ups, maaf," ringis Nayoung, "Aku sudah lama tak menggunakan ini! Ini kubuat untuk mengerjai Bibiku dulu. Gawat! Yang mana yang untuk membuka pintu rahasianya?"
***
Kring ... Kring ... Kring ...
Bomin yang sedang menonton film bersama anak-anak dan suaminya segera bergegas untuk mengangkat telpon yang terus berdering itu.
"Halo?" Bomin menerima telpon itu.
"Apa benar ini kediaman Tuan Oh Byungjin?" tanya si penelpon.
"Iya benar, anda siapa ya?"
"Ah Bomin-ah ini aku Inha, ibunya Nayoung." ucap Nyonya Park.
"Kak Inha? Ada apa? Apa Byunggyu berbuat ulah di sana?" tanya Bomin khawatir.
"Tidak, aku menelpon hanya ingin meminta izin. Apa boleh Byunggyu menginap di sini selama sehari?"
Bomin mengernyit. Setahunya Byunggyu bukanlah orang yang suka menginap di rumah orang lain. Terlebih teman wanitanya. Ah, mungkin ini bagian dari rencananya untuk membantu Nayoung.
"Ah tentu saja boleh. Tapi apa tidak merepotkan?" tanya Bomin.
"Tidak, tidak sama sekali. Byunggyu anak yang baik dan sopan. Kami akan menjaganya dengan baik. Kau tak perlu khawatir."
"Baiklah jika kau berkata begitu, Kak."
"Terimakasih Bomin-ah."
"Ya."
Telpon ditutup. Bomin kembali duduk bersama Byungjin dan anak-anak.
"Ada apa?" tanya Byungjin.
"Tadi telpon dari Kak Inha. Ia ingin meminta izin apa Byunggyu bisa menginap di rumahnya." jawab Bomin acuh.
"Apa kau bilang?!" jerit Wooseok tak percaya.
Ia menggenggam kedua tangan Bomin.
"Kak Bomin tak mengizinkannya bukan? Tolong katakan padaku Kakak tak mengizinkannya!" ucap Wooseok penuh harap.
"Memangnya kenapa? Tentu saja aku mengizinkan bila Byunggyu yang meminta." ucap Bomin yang risih dengan perlakuan Wooseok.
"Kenapa Kakak izinkan!" Wooseok menjerit tak rela.
Wooseok melepaskan genggamannnya dari tangan Bomin. Ia mulai membayangkan Byunggyu dan Nayoung bermesraan di rumah Nayoung.
#Dalam khayalan si polos Wooseok ...
Byunggyu dan Nayoung duduk berdempetan di kamar Nayoung. Mereka sesekali menatap dan tersenyum malu-malu.
"Nayoung-ah~" panggil Byunggyu mesra.
"Ya?" jawab Nayoung manja.
"Aku akan menginap di sini malam ini." nada Byunggyu berubah seduktif.
"Lalu?" Nayoung menyengir sok polos.
"Bagaimana bila kita bermain suami istri sampai pagi?" ajak Byunggyu sambil menyenggol-nyenggol bahu Nayoung.
Nayoung menutupi wajahnya malu-malu. Kakinya menendang-nendang mengekspresikan rasa malunya.
"Bagaimana, hm?" Byunggyu bertanya dengan nada menggoda.
Nayoung mengangguk pelan. Byunggyu menyingkirkan kedua tangan Nayoung dari wajah cantiknya lalu mengarahkan dagu Nayoung agar mata gadis itu menatap ke arahnya. Mereka mulai berpandangan. Semakin dekat ... Semakin dekat ... Dan Byunggyu langsung menyembunyikan apa yang mereka lakukan di balik selimut.
#End of Imajinasi Wooseok
"Tidak boleh!" jerit Wooseok tak terima.
Ia membentur-benturkan kepalanya dan menggigit-gigit bantal sofa. Ia tak rela Byunggyu dan Nayoung melakukan hal yang sama dengan apa yang ada di dalam imajinasinya. Benar-benar tak rela!
"Bibi, apa semua orang di rumah ini tak waras?" tanya Seojun pada Bomin.
"Begitulah, ingatkan aku untuk membuang semua bantal sofa itu nanti." ucap Bomin cuek sambil memakan popcroonnya.
***
Akhirnya Nayoung menemukan tombol untuk membuka pintu rahasianya. Rambut, pakaian, dan wajah Byunggyu acak-acakan berkat itu. Di remote itu ada tombol untuk mengeluarkan angin panas, gas bau dan juga semprotan busa yang berperan penting dalam membuat keadaan Byunggyu menjadi seperti itu.
Dinding perpustakaan itu ternyata berbatasan langsung dengan kamar Nayoung. Nayoung berusaha membuka pintu kamarnya tapi ternyata dikunci dari luar.
"Arrggghhh keluargamu benar-benar gila!" jerit Byunggyu kesal.
Wow! Byunggyu yang biasanya dingin menjadi penuh emosi begini. Ia benar-benar sudah melalui banyak cobaan hari ini.
"Terimakasih atas pujiannya. Keluarga anda juga begitu." ucap Nayoung sarkastis.
"Baiklah ayo cari pakaian yang hangat agar kau tak sakit." ucap Nayoung sambil membuka lemarinya.
"Oh tuhan ... " Byunggyu kehabisan kata-kata.
Sebenarnya isi dari lemari Nayoung normal. Hanya saja ... Semuanya penuh dengan pakaian wanita. Nayoung memang wanita yang feminin jadi ia tak mungkin menyimpan pakaian pria atau setidaknya pakaian biasa di dalam lemarinya. Nayoung tak akan memaksanya memakai pakaian itu bukan? Byunggyu menatap Nayoung takut-takut.
"Walaupun aku ingin menyuruhmu memakai ini tapi sepertinya pakaianku tidak ada yang muat untukmu." gumam Nayoung. Mungkin ia menyadari tatapan horor Byunggyu.
Nayoung melirik ke kotak penyimpanannya. Ada piyama kelinci di sana. Ia membeli itu karena berpikir Wooseok akan imut menggunakan itu. Nayoung menatap Byunggyu bertanya.
"Kau pilih piyama kelinci atau pakaian wanita?" tanyanya.
"Apa ada pilihan yang tak menjatuhkan harga diriku?" Byunggyu menatap Nayoung dengan tatapan memelas.
"Bagus! Piyama kelinci." Nayoung mengambil piyama itu dan memberikannya pada Byunggyu, "Kau tak punya pilihan lain. Cepatlah mandi dan pakai ini."
***
Lixuan menatap Namjoo yang asik mengunyah makanannya. Lixuan merasa heran, gadis yang ada di depannya ini makannya banyak sekali tapi tubuhnya tetap kurus. Kemana larinya semua makanan itu?
"Namjoo-ya," panggil Lixuan.
"Eum?" Namjoo menoleh pada Lixuan.
"Katakan dengan jujur, Seojun itu siapa?"
Namjoo berhenti mengunyah. Ia tahu cepat atau lambat LIxuan akan menanyakan hal ini padanya. Karena itu awalnya Namjoo menolak saat diajak ke apartemen Lixuan. Tapi sayangnya semua makanan ini terlalu menggoda dan membuat Namjoo tak kuasa menolaknya.
Namjoo ingin menjelaskan secara langsung siapa itu Seojun dan mengapa Seojun ada di rumahnya. Sayangnya ia ingat bahwa Lixuan hanya anak polos yang sangat polos hingga ingin menikah dengannya. Ia tak ingin merusak anak orang jadi ia beri penjelasan yang lebih mudah saja.
"Seojun? Anggap saja ia anak kucing yang diasuh sementara oleh ibuku karena ibu dan ayahnya sibuk membuat anak kucing baru." jelas Namjoo.
"Aku tak suka padanya. Ia mengaku sebagai calon suamimu. Padahal hanya aku calon suamimu satu-satunya." aura Lixuan menggelap.
"Ya ya ya terserah! Oh iya kue yang ini enak." puji Namjoo.
"Benarkah? Itu buatanku. Aku pandai memasak. Nanti, jika kita sudah menikah akan kubuatkan kau makanan yang enak setiap hari." Lixuan melancarkan bujukannya.
Oh itu benar-benar sangat menggoda. Makanan enak setiap hari? Memiliki chef pribadi yang merangkap jadi suami? Namjoo jadi semakin bingung harus tetap memilih kembali mengejar Taeoh atau memilih menikah dengan Lixuan?
***
Byunggyu keluar dari kamar mandi dengan perasaan malu luar biasa. Nayoung awalnya hanya mendengus geli, tapi lama-kelamaan dengusan itu berubah menjadi tawa.
"Ya tertawalah! Akan kubantai keluargamu nanti! Karena mereka aku harus menanggung malu seperti ini!" seru Byunggyu penuh dendam.
"Hahaha aduh perutku! Maaf kelinci Byunggyu yang imut. Keluargaku pasti ingin terjadi sesuatu antara kau dan aku malam ini agar kita bisa menikah secepatnya. Jadi mereka mengurung kita di sini." ucap Nayoung.
Byunggyu mengambil tasnya. Ia hendak menelpon ibunya agar keluarganya tak khawatir. Kalian pasti bertanya-tanya mengapa ia tak meminta pertolongan saja lewat ponselnya tadi. Itu karena walaupun ia mengadu, tak akan ada yang bisa menolongnya. Hanya Wooseok yang cukup gila untuk menerobos masuk ke rumah ini tapi mereka berdua sedang bertengkar jadi Byunggyu tak mungkin meminta tolong pada Wooseok.
"Bagus! Jangan bilang bibimu juga mengambil ponselku?" gerutu Byunggyu.
"Tenanglah. Mereka pasti sudah meminta izin agar kau bisa menginap di sini." ucap Nayoung sambil duduk di ranjang.
Byunggyu mendengus kesal dan hendak kembali ke perpustakaan tapi Nayoung menahannya.
"Hei kelinci Byunggyu, kau mau pergi kemana?" tanya Nayoung.
"Aku ingin tidur." jawab Byunggyu polos.
"Tidur? Bukannya ranjangnya ada di sini? Mengapa kau malah ingin pergi ke perpustakaan?" Nayoung menatap Byunggyu heran.
Byunggyu berdecak dan mengetuk dahi Nayoung dengan telunjuknya membuat gadis cantik itu mengaduh sambil memegangi keningnya.
"Seorang pria dan wanita dewasa tak boleh tidur di ranjang yang sama. Oh Nayoung, kau tahu dengan jelas hal itu bukan?" cibir Byunggyu.
Nayoung membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, "Iya tapi itu tak berlaku antara kau dan aku. Aku percaya padamu. Kau tak akan melakukan apapun padaku."
Hening. Tak lama terdengar kekehan dari bibir Byunggyu. Ia tersenyum.
"Bukan aku yang akan melakukan apapun padamu. Aku malah takut kau yang akan memperkosaku." ejek Byunggyu.
"Hei, hal itu baru terjadi bila yang terkurung di sini bersamaku itu Wooseok. Kau mengantuk bukan? Kemarilah." Nayoung menepuk ranjang di sebelahnya.
Byunggyu pun mengalah dan ikut berbaring di sebelah Nayoung. Suasana kamar itu mulai hening.
"Oh Byunggyu,"
"Hm?"
"Selamat malam." ucap Nayoung pelan.
Byunggyu tersenyum dan memejamkan matanya.
"Hm."
*****
Makassar, 11 Juni 2016