Part 13 - Harga Diri

1744 Kata
Sepasang remaja sedang tertidur lelap sambil berpelukan dengan erat satu sama lain. Sang remaja laki-laki yang memakai piyama kelinci menggeliat sambil mengeratkan pelukannya. Ia merasa benar-benar nyaman saat ini. Gulingnya yang biasanya dingin sekarang terasa hangat dan bisa balas memeluknya juga. Oh bahkan gulingnya itu bisa menghembuskan nafas hangat yang teratur. Tunggu! Gulingnya bernafas? Byunggyu sontak membuka matanya dan melirik ke arah 'gulingnya'. Matanya terbelalak. "Kyaaaaa!" Bugh! Nayoung jatuh dari ranjang berkat dorongan maut dari Byunggyu. Eh seharusnya terbalik yah? Ah tapi tak apalah, di sini kan Nayoung yang agresif seperti pria. Nayoung membuka matanya dengan cepat kala rasa sakit menjalari punggungnya yang terjatuh dari ranjang. Ia bangkit berdiri dan menatap Byunggyu garang. Nayoung selalu memiliki suasana hatiku yang buruk saat bangun tidur. Dan Byunggyu benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Matanya memicing saat melihat Byunggyu yang memeluk dirinya sendiri dan menatap Nayoung dengan pandangan waspada. Kenapa Byunggyu jadi seperti wanita yang baru saja diperkosa, ya? "Hei Oh Byunggyu! Apa kau sudah tak waras? Kau berteriak pagi-pagi begini dan mendorongku dari ranjang? Kau mau mati ya?" bentak Nayoung. Byunggyu berdiri dan menatap Nayoung menantang. Oh sebenarnya tak terlihat seperti itu. Bukannya merasa tertantang Nayoung malah merasa Byunggyu tambah imut. "Hei, kau bilang kau tak akan melakukan apapun padaku! Tapi apa itu tadi? Kau memelukku saat kau tertidur!" balas Byunggyu. "Itu refleks kau tahu! Kau juga memelukku!" ucap Nayoung tak terima. "Itu karena kau duluan yang memelukku!" balas Byunggyu tak mau kalah. "Darimana kau tahu? Kau juga tertidur tadi! Atas dasar apa kau mengatakan aku yang lebih dulu memelukmu!" bantah Nayoung. Mereka saling bertatapan sengit. Pandangannya seperti di film-film saat vampir bertemu manusia serigala. Kalau seperti itu pasti Byunggyu vampirnya dan Hayoung manusia serigalanya. Setelah lama bertatapan sengit akhirnya mereka saling memalingkan wajah dengan bibir mengerucut. Saat memalingkan wajah, Nayoung menatap langsung pada jam. Tunggu! Sepertinya ada yang salah. "Oh Byunggyu sudah jam enam! Kita berdua harus mandi! Eh tidak, maksudku kita berdua mandi sendiri-sendiri dan segera ke sekolah!" jerit Nayoung. Byunggyu membelalak. Benar juga! Mereka harus segera ke sekolah! Nayoung sudah masuk lebih dulu ke kamar mandi. Byunggyu memeriksa seragamnya sudah kering atau tidak. Ia mencucinya saat mandi tadi malam dan menjemurnya di balkon Nayoung. Byunggyu mengecek pintu. Ternyata pintunya sudah tidak dikunci. Byunggyu mengernyit, merasa aneh. Kalau pintunya tak terkunci, berarti sudah ada orang yang masuk ke kamar mereka tadi? "Nayoung-ah aku akan mandi di kamar mandi yang lain! Pintunya sudah tak terkunci lagi!" teriak Byunggyu. Byunggyu mendengar kata 'ya' dari arah kamar mandi. Ah, Byunggyu tak ingin ambil pusing tentang masalah itu sekarang ini. Yang ia harus lakukan sekarang adalah ia harus segera mandi dan berpakaian. *** Wooseok menunggu di depan gerbang sekolah. Ia menunggu dengan cemas. Gaeun yang baru saja datang merasa heran mengapa Wooseok mondar-mandir di sana. "Wooseok-ah!" panggil Gaeun sambil tersenyum. Wooseok menoleh. Saat ia sadar orang yang memanggilnya itu Gaeun, ia hanya tersenyum simpul. Ia terlihat kecewa. Oh siapa yang kau harapkan Wooseok-ah? "Kau sedang apa? Mengapa kau mondar-mandir di depan gerbang dan tak masuk ke kelas?" tanya Gaeun. "Aku menunggu Kak Byunggyu dan Nayoung." ucap Wooseok jujur. "Eh? Iya juga! Mengapa Byunggyu tak bersamamu? Dan Nayoung? Wuaaa ini keajaiban, mengapa kau mencarinya?" tanya Gaeun. Baru saja D.o ingin menjawab pertanyaan Gaeun, tiba-tiba mobil Nayoung memasuki pekarangan sekolah. Sang ketua dan wakil ketua organisasi sekolah itu terlihat keluar dari dalam mobil bersamaan. Orang-orang yang melihat mereka pun terkagum. Kedua orang itu seperti malaikat dan bidadari yang baru saja jatuh dari surga. Well, mereka sepertinya benar-benar jatuh dari sana karena keduanya memasang wajah masam. Wooseok segera menghampiri pasangan ketua dan wakil itu. Byunggyu yang melihat Wooseok bersama Gaeun pun memandang sengit ke arah sahabatnya. Oh maaf, bukan sahabatnya. Tapi 'mantan sahabatnya'. "Kalian datang bersama?" tanya Gaeun polos. "Tentu saja, Kak Byunggyukan menginap di rumah Nayoung." sindir Wooseok. Mata Byunggyu makin melotot. Oh, seandainya bola mata bisa copot mungkin bola mata Byunggyu sudah menggelinding di tanah saat ini. Byunggyu berdecih. "Apa urusanmu bila aku menginap di rumah Nayoung? Kau kan bukan siapa-siapanya Nayoung!" ejek Byunggyu. Darah Wooseok mendidih. Seandainya saja ia tak ingat kalau wajahnya masih memar karena pertarungan mereka kemarin, mungkin saja ia akan mengajak Byunggyu berkelahi. "Bisakah kalian tidak bertengkar? Ini masih pagi demi tuhan!" jerit Nayoung. "Dia yang datang ke sini lebih dulu dan merusak pagiku. Oh ayolah, semalam harga diriku sudah ditelanjangi habis-habisan! Aku lelah!" Byunggyu berjalan lebih dulu ke kelas. "Hei! Oh Byunggyu tunggu aku!" Nayoung menyusulnya. Tunggu! Apa yang Byunggyu ucapkan tadi? Wooseok segera menyusul pasangan itu. "Hei! Jelaskan apa yang terjadi pada kalian semalam? Harga diri? Ditelanjangi? Mengapa terdengar ambigu begitu? Hei, awas kau kalau berani melakukan yang tidak-tidak pada Nayoung!" teriak Wooseok penuh amarah. Gaeun sendiri hanya diam di tempat sambil menatap mereka. "Ada apa sih dengan mereka?" gumam Gaeun tak mengerti. *** Namjoo memasuki kelas dengan Lixuan yang mengekor di belakangnya. Lixuan menatap semua siswa laki-laki yang memandangi Namjoo dengan tatapan 'Alihkan-pandangan-kalian-dari-calon-istriku-atau-kalian-mati'. "Namjoo-ya!" panggil seseorang. Namjoo dan Lixuan menoleh bersamaan. Namjoo menyengir kuda melihat sahabatnya, Changwoo yang terburu-buru menghampirinya. Lixuan sendiri hanya cemberut, ia tak suka Namjoo merasa senang karena dihampiri laki-laki lain. "Ada apa Changwoo-ya? Mengapa kau memanggilku?" tanya Namjoo. Changwoo meringis melihat tatapan Lixuan padanya. Ia memilih mengabaikan Lixuan dan menatap Namjoo serius. "Apa kau sudah dengar?" tanya Changwoo. "Dengar apa?" "Akan ada peragaan busana untuk pertunjukan sekolah nanti. Setiap kelas mendaftarkan satu murid dan Guru menunjukmu untuk mewakili kelas kita!" ucap Changwoo "Apa kau bilang?!" *** Wooseok menggoyangkan gelas yang ia pegang dengan pelan. Wajahnya terlihat lesu. Ia mengingat pertengkarannya dengan Byunggyu. Itu membuatnya benar-benar frustasi. Hei! Bukan salahnya kalau Gaeun menyukainya. Salahkan wajahnya yang luar biasa tampan! Salahkan kepribadiannya yang memikat! Dan salahkan pesonanya yang tak bisa ditolak itu! Sudah jelas ini bukan salahnya kan? Belum lagi kenyataan Byunggyu dekat dengan Nayoung sekarang. Sampai ada kejadian menginap kemarin. Itu membuat dirinya merasa ... Eumm cemas? Bagaimana bila Byunggyu memanfaatkan kedekatannya dengan Nayoung untuk balas dendam pada dirinya? Wooseok segera meneguk minumannya cepat. Ia lalu mengelap mulutnya membersihkan bibirnya dari sisa-sisa minumannya. "Paman, tambah!" teriak Wooseok. Pemuda itu menyenderkan kepalanya ke permukaan meja yang dingin. Nayoung yang sejak tadi memperhatikan Wooseok pun duduk di sebelah pemuda itu. Ia menatap Wooseok bingung. "Wooseok-ah, kau sedang apa?" tanya Nayoung heran. "Diamlah, aku sedang berakting kalau aku sedang ada di bar sekarang. Dan kau tak ada dalam skenarioku!" ucap Wooseok sambil menunjuk wajah Nayoung. "Baiklah. Apa kau sedang berakting mabuk sekarang? Kantin sekolah ini tak mirip sedikitpun dengan bar. Dan s**u? Oh ayolah kau menggantikan alkohol dengan s**u? Apa tak ada yang lebih baik seperti soda?" canda Nayoung sambil terkekeh. "Kita kehabisan soda. Lagipula orang dewasa selalu ke bar setiap ada masalah. Sayangnya aku belum cukup umur untuk ke sana." keluh Wooseok. "Apa ini tentang kau dan Byunggyu? Aku sudah mencoba membujuk Byunggyu. Kau tenang saja. Akan kupastikan kalian akan berbaikan secepatnya." ucap Nayoung bersungguh-sungguh. "Sebenarnya bukan hanya karena itu." ucap Wooseok. Nayoung menatap Wooseok bingung. Wooseok merasakan tenggorokannya kering karena gugup. Perlahan kalimat yang sejak tadi mengganggunya pun mulai terucap. "Mungkin ini terdengar aneh dan gila, tapi ... Maukah kau pergi berkencan denganku?" Nayoung melongo dan menatap Wooseok horor. Saat segelas s**u lagi dihidangkan oleh paman penjaga kantin, Nayoung segera berteriak. "Paman! Berhenti mencekoki Wooseok dengan s**u! Sepertinya ia benar-benar mabuk." "Hei aku serius! Mengapa kau heboh sekali sih!" gerutu Wooseok. Nayoung menoleh cepat pada Wooseok. Yang tadi itu serius? Wooseok mengajaknya berkencan? Ini benar-benar saat-saat terindah dalam hidup Nayoung. Nayoung menggenggam kedua tangan Wooseok dengan senyum yang cerahnya bisa mengalahkan sinar dari matahari yang bersinar terang di luar. "Aku mau!" *** "Model? Peragaan busana?" jerit Bomin horor. Demi apa! Bomin tak menyangka anaknya akan ditunjuk untuk hal-hal seperti itu. Kalau untuk Byunggyu mungkin ia akan percaya. Tapi ini Namjoo! Namjoo! "Eum ibu mertua. Namjoo sudah berusaha memprotes hal ini pada guru kami. Tapi guru tak ingin mendengar." ucap Lixuan sambil merangkul pundak Namjoo yang terlihat ketakutan. Kelihatan sekali orang ini cari-cari kesempatan. "Ibu, aku bahkan tak anggun sama sekali! Ajari aku!" jerit Namjoo sambil terisak. Bomin menggaruk tengkuknya gugup. "Apa yang kau harapkan dariku? Kau yang tidak anggun itu menurun dariku, bodoh. Ah aku berharap Wooseok ada di sini untuk mengajarimu memakai high heels. Ia bahkan bisa menggunakan high heels di umur sembilan tahun. Aku yakin kau akan pandai bila diajari olehnya." ucap Bomin. Seojun yang sejak tadi membaca koran pun menaruh korannya di meja dengan mata memicing pada ibu dan anak itu. "Ibu dan anak sama saja, kelakuan seperti monyet yang suka melompat ke sana ke mari. Sini berikan itu padaku. Akan kuajari kau cara menjadi anggun." ucap Seojun pedas sambil meminta high heels Namjoo. Sambil terisak, Namjoo memberikan high heelsnya pada Seojun. Ia sama sekali tak berniat membantah ucapan Seojun. Seojun memasang high heels itu di kakinya. Pas? Ini kakinya Namjoo yang terlalu besar atau kaki Seojun yang terlalu kecil? Layaknya model yang sedang berjalan di catwalk, Seojun melangkah dengan anggun dan percaya diri. Tak terlihat sama sekali kalau ia itu laki-laki. Setelah selesai ia melepas high heels itu dari kakinya dan memberikannya pada Namjoo. "Ini! Lakukan seperti yang kulakukan tadi!" perintah Seojun. Bomin dan Namjoo menatap Seojun kagum. Lixuan di sebelah Namjoo terlihat kesal karena Namjoo dan ibu mertuanya kagum pada Seojun. Baiklah! Lixuan tak akan berusaha menjaga imagenya lagi. "Sini aku juga akan mencobanya." Lixuan merebut high heels itu dari Seojun. Lixuan memakainya tapi kali ini kakinya kebesaran. Ia berjalan dengan anggun. Lebih anggun dari Seojun tadi. Bomin dan Namjoo melongo lagi. "Lixuan-ah dan bocah lembek, kalian hebat! Kalian lebih berbakat menjadi wanita dibanding diriku." Namjoo menunjuk Seojun dan Lixuan. "Pasti di kehidupan sebelumnya kedua orang ini adalah model wanita terkenal! Aku yakin itu!" Bomin mengangguk-angguk sambil bertepuk tangan untuk kedua bocah itu. "Tak ada satu pun yang tak bisa kulakukan karena aku sempurna." ucap Seojun sambil melakukan gerakan seperti mengibas rambut. "Kalau kau sempurna berarti aku lebih sempurna karena aku tadi bisa melakukannya lebih baik darimu!" ejek Lixuan. "Haha kau bercanda! Kau tidak lebih baik dariku!" ucap SeoJun sarkastis. "Baiklah! Ayo kita bertanding ulang! Aku yakin kau kalah anggun dariku!" tantang Lixuan. "Siapa takut!" Bomin dan Namjoo hanya bisa menatap mereka sambil mengasihani diri mereka. Mereka merasa gagal menjadi wanita karena melihat kedua orang ini. Harga diri mereka telah terlukai ... Poor Bomin dan Namjoo... *** Makassar, 14 Juni 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN