Namjoo menggeliat tidak nyaman. Matanya terbuka dan menoleh ke sebelah kiri dan kanannya. Hah ... ternyata ia ketiduran setelah berlatih bersama Lixuan dan Seojun. Seojun dan Lixuan ada di sebelah kiri dan kanannya. Keduanya masih menyelam dalam dunia mimpi. Uhh, Namjoo merasa dirinya benar-benar seorang pemenang kehidupan karena bisa tidur satu ranjang dengan dua bocah yang tampan itu.
Mungkin karena gerakan Namjoo yang menggeliat tadi, kedua bocah itu mulai membuka matanya. Mereka menoleh ke arah Namjoo secara bersamaan. Awalnya mereka hanya tersenyum.
Tapi begitu dua bocah laki-laki itu saling berpandangan, mereka yang awalnya tersenyum langsung melotot horor dan bangun terduduk secara bersamaan.
"Apa yang kita lakukan? Mengapa kita tidur bersama?" tanya Lixuan.
"Tadi bukan mimpi? Aku benar-benar tidur bersama perempuan penyihir ini? Dan lagi, kenapa kau juga ada di sini!" marah Seojun pada Lixuan.
"Memangnya kenapa? Ah, dan apa tadi kau bilang? Benar-benar tidur? Kau sering memimpikan yang tidak-tidak tentang calon istriku, ya!" marah Lixuan.
"T-tidak!" Seojun tergagap.
Namjoo merasakan kepalanya pening dan tiba-tiba ia merasa mual. Ia segera menerobos kedua bocah itu dan berlari ke arah kamar mandi.
Hueekkk ... Huekkk ...
Semua isi perut Namjoo terpaksa keluar. Kedua bocah yang awalnya berkelahi itu pun segera menyusul Namjoo dengan wajah khawatir.
"Namjoo-ya kau tak apa?" tanya Lixuan.
"Y-ya hueeekkkkk ...."
"Bagaimana bisa ia baik-baik saja bila ia muntah-muntah begitu, bodoh!" Seojun mendekati Namjoo dan memijat tengkuknya. Mengikuti apa yang dilakukan pria dalam drama yang ditontonnya ketika tokoh wanita muntah.
"Mengapa kau muntah-muntah begini? Merepotkan saja!" keluh Seojun walaupun tangannya masih memijat tengkuk Namjoo dengan lembut.
Jika saja Namjoo sedang sehat sekarang, mungkin ia akan melempari Seojun dengan sabun yang ada di depannya. Siapa juga yang ingin muntah-muntah begini? Ini kan bukan salah Namjoo!
"Jangan-jangan ... Namjoo hamil!" Lixuan melotot.
"Ha?"
"Tadi dia tidur bersama kita bukan? Ibuku bilang bila perempuan dan laki-laki tidur bersama, perempuannya bisa hamil." Lixuan beralih menatap Namjoo. "Tapi kau hamil anak siapa?" tanyanya.
Namjoo benar-benar ingin menjitak Lixuan saat ini. Bagaimana bisa Namjoo hamil jika mereka hanya tidur bersama saja tanpa melakukan proses 'itu'? Lagipula Namjoo kan baru berumur tujuh tahun.
Namjoo ingin sekali menjelaskan hal ini, tapi mengucapkan satu kata saja ia tak mampu. Tubuhnya terlalu lemas. Tak bisakah kedua namja ini memanggil ibunya saja agar ia tak perlu menderita begini? Namjoo menoleh pada Seojun. Ia mengernyit, mengapa wajah Seojun pucat begitu?
"Jadi Namjoo hamil?" gumam Seojun bodoh.
Jangan bilang Seojun percaya dengan kata-kata Lixuan tadi? Oh demi tuhan!
Lixuan segera mengambil ponselnya dan menghubungi pelayannya.
"Segera siapkan pesta pernikahan untukku! Pastikan semua siap minggu ini! Aku ingin secepatnya menikah."
Setelah mematikan telponnya, Lixuan menatap Namjoo serius.
"Aku siap bertanggung jawab! Kita akan segera menikah!" ucapnya.
"Hei mana bisa begitu! Anak itu belum tentu anakmu! Bisa saja itu anakku!" protes Seojun.
Seojun mengambil ponselnya dan menghubungi Chaerim.
"Halo, Bu! Aku akan segera menikah dengan Namjoo!"
"Apa kau bilang?" Chaerim terdengar histeris di ujung telpon.
"Aku akan menikahi Namjoo. Aku telah mengha—"
Lixuan segera merebut ponsel Seojun dan mematikan telponnya. Ia menatap Seojun garang.
"Tak peduli itu anak siapa, yang jelas aku yang akan menikah dengan Namjoo!"
"Mana bisa begitu? Aku juga punya hak untuk menikah dengannya!" bantah Seojun.
"Yang jelas aku yang akan menikahinya!" marah Luhan.
"Tidak! Aku yang akan menikahinya!"
"Aku!"
"Ak—"
"DIAM!" jerit Namjoo sekuat tenaga.
Kedua bocah laki-laki itu sontak terdiam. Tak berani bicara. Namjoo memijat keningnya dengan frustasi.
"Kalian berhentilah bertengkar! Aku tidak hamil! Kalian dengar! Jika kalian masih bersikeras, akan kutendang b****g kalian satu persatu! Sekarang cepat panggilkan ibuku karena rasanya kepalaku ingin terlepas saat ini!" perintah Namjoo.
Kedua bocah yang bertengkar tadi hanya bisa mengangguk patuh karena takut.
"Baik Nyonya."
***
Nayoung bahagia! Benar-benar bahagia! Bagaimana bisa Wooseok tiba-tiba mengajaknya pergi berkencan? Dalam mimpi terindahnya sekalipun, Nayoung tak pernah berharap Wooseok akan mengajaknya berkencan terlebih dahulu.
"Ini? Ah tidak! Astaga yang mana yang harus kupakai?" jerit Nayoung bingung.
"Ah, tunggu! Mungkin aku bisa menanyakannya pada Gaeun!" Nayoung mengambil ponselnya dari meja riasnya.
"Tapi bagaimana kalau Gaeun merasa sedih? Ah kalau begitu aku tak usah bertanya padanya." Nayoung meletakkan kembali ponselnya.
"Eh, tapi aku benar-benar harus menanyakan apa yang kupakai pada seseorang! Ah, Kak Bomin saja!"
Nayoung mencari kontak Bomin dan menelponnya.
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat la—"
Nayoung mematikan telponnya.
"Mengapa ponsel Kak Bomin sedang tidak aktif? Aneh sekali." gumam Nayoung.
"Kalau begitu Byunggyu!"
Ia pun menelpon Byunggyu. Tak berapa lama, Byunggyu pun mengangkat telponnya.
"Halo?"
"Halo?! Oh Byunggyu! Coba tebak siapa yang akan berkencan dengan Wooseok?" ucap Nayoung bersemangat.
"Siapa?" tanya Byunggyu malas.
"Aku! Muahahaha akhirnya keberuntungan tertuju padaku! Oh iya mengapa ponsel Kak Bomin tidak aktif?" tanya Nayoung.
"Kau akan pergi berkencan dengan Woossok? Pantas saja ia seperti orang linglung sejak tadi. Namjoo sakit, kami sedang berada di rumah sakit sekarang. Baterai ponsel ibuku mungkin habis." ucap Byunggyu.
"Namjoo bisa sakit juga? Wuaa, memangnya ia sakit apa?" tanya Hayoung.
"Kau ini minta digampar ya? Adikku manusia jadi tentu saja ia bisa sakit! Namjoo muntah-muntah tadi, kata dokter itu hanya karena ia masuk angin biasa." ucap Byunggyu kesal.
"Padahal aku ingin menanyakan pakaian apa yang cocok untuk kupakai berkencan nanti." gerutu Nayoung.
"Pakai pakaian yang tebal, udara di luar sangat dingin. Ah, jangan lupa membawa payung. Dari perkiraan cuaca hari ini akan ada hujan. Tampillah sederhana, aku yakin Wooseok akan lebih senang kau memakai pakaian yang sederhana dan dapat melindungimu dibanding kau memakai pakaian yang mewah tapi menyiksamu. Apa kalian sudah menentukan kalian akan kencan dimana?" tanya Byunggyu.
"Wuaaa kau memang sahabatku yang bijak! Kami akan berkencan di akuarium jam tiga nanti. Ah aku bersiap-siap dulu!"
Klik...
Nayoung menatap tumpukan pakaiannya yang ada di atas ranjang.
"Baiklah, pakaian yang tebal ... Pakaian yang tebal ...."
***
Wooseok dan Byunggyu berada di lift saat ini. Namjoo akan dirawat di rumah saja. Byungjin dan Bomin sudah membawanya ke mobil lebih dulu. Wooseok dan Byunggyu baru saja selesai menebus obatnya di apotek.
Wooseok menatap Byunggyu sambil memicingkan matanya. Yang tadi menelpon itu Nayoung? Kenapa Nayoung menelpon Byunggyu?
"Yang tadi itu Nayoung?" tanya Wooseok.
"Hm." gumam Byunggyu singkat.
"Oh." Wooseok sebenarnya masih ingin bertanya. Tapi ia malu. Lagipula ia dan Byunggyu masih belum berbaikan.
Tiba-tiba ponsel Wooseok bergetar. Wooseok segera mengambil ponselnya. Ia mengernyit saat mengetahui yang menghubunginya itu Gaeun.
"Halo?"
"Wooseok-ah, aku tak kuat lagi. Rasanya ingin mati. Kumohon tolong aku."
"Gaeun-ah, kau kenapa? Mengapa kau menangis? Apa terjadi sesuatu?" tanya Wooseok panik.
Byunggyu yang tadinya tak tertarik langsung menatap Wooseok saat sahabatnya itu mengatakan Gaeun menangis. Apa yang terjadi? Mengapa Gaeun menangis?
"Ayahku ... Ayahku! Bagaimana ini? Aku tak ingin pergi dari Korea. Aku tak mau meninggalkan ibuku dan dirimu. Aku tidak mau!"
"Gaeun-ah dimana kau sekarang? Aku akan ke sana! Tunggu aku!" ucap Wooseok.
"Di rumahku."
"Tunggu aku! Aku akan segera ke sana!"
Begitu lift sampai ke lantai yang mereka tuju, Wooseok langsung berjalan dengan terburu-buru ke luar. Byunggyu menahannya.
"Kau akan pergi ke rumah Gaeun? Apa yang terjadi? Lalu bagaimana dengan Nayoung?" tanya Byunggyu.
"Hal ini lebih penting! Gaeun lebih membutuhkanku. Akan kuceritakan padamu nanti. Tolong beritahu pada Nayoung aku akan terlambat."
***
From : Si Bodoh Byunggyu
Wooseok akan datang terlambat karena ada urusan penting. Kau masuk duluan saja. Ia akan menyusulmu nanti.
Bibir Nayoung mengerucut. Wooseok yang akan terlambat tapi kenapa Byunggyu yang mengiriminya pesan? Tapi kerucutan itu berubah jadi lengkungan yang manis saat ia menyadari suatu hal. Apa hubungan Wooseok dan Byunggyu mulai membaik?
Ah, baiklah. Tak apa bila ia menunggu. Nayoung rela melakukan apapun bila Wooseok yang meminta.
"Eh ternyata benar-benar mendung. Byunggyu benar, lebih baik aku menunggunya di dalam."
***
Wooseok datang secepat yang ia bisa ke rumah Gaeun. Ibu Gaeun menangis terus menerus sehingga Wooseok yakin telah terjadi sesuatu yang benar-benar buruk. Kamar Gaeun terkunci. Wooseok mendobraknya hingga terbuka. Jangan tanyakan padaku mengapa ia bisa melakukan itu. Kalian tahu kekuatan orang yang sedang panik bukan?
Ia segera masuk ke kamar Gaeun. Tak ada Gaeun di sana. Kamar Gaeun tak ubahnya kamar Bomin sewaktu masih muda. Berantakan. Tapi sepertinya yang ini sengaja dibuat berantakan.
"Gaeun-ah?" panggil Wooseok ragu.
Wooseok dengan perlahan membuka pintu kamar mandi di kamar itu dan terkejut melihat Gaeun terduduk di lantai tubuh yang babak belur.
"Gaeun-ah!"
Wooseok menggendong Gaeun keluar kamar mandi. Ia membaringkan Gaeun di atas ranjang. Ia sudah mencoba datang secepat yang ia bisa namun ia masih saja terlambat menyelamatkan Gaeun.
Ia segera memanggil Ibu Gaeun, "Bi! Bibi!"
Begitu Ibu Gaeun datang, ia sama terkejutnya dengan Wooseok saat melihat keadaan anaknya.
"Oh Tuhan, anakku!"
"Bibi, kumohon berhentilah menangis. Tolong gantikan pakaiannya. Ia bisa sakit bila memakai pakaian basah. Aku ada di bawah, aku akan mengambil obat dan membuat sup untuk menghangatkan tubuhnya."
***
Nayoung menunggu dan terus menunggu. Sudah lima jam ia menunggu tapi Wooseok belum datang juga. Akhirnya ia memutuskan keluar. Ah, ia terlalu bahagia karena hal ini. Mungkin Wooseok hanya berniat mengerjainya tadi. Mengapa ia dengan bodohnya percaya?
"Bodoh! Aku memang bodoh!" rutuknya pada dirinya sendiri.
Ia menatap langit yang bahkan menangis untuknya. Mungkin langit pun kasihan padanya. Ia menghela nafas. Ia membawa payung, tapi entah mengapa ia tak ingin menggunakannya sekarang.
Ia berjalan di bawah guyuran hujan. Ia berniat pergi ke taman. Apa kalian ingat? Taman sekolahnya dulu. Taman dimana ia selalu bersedih bila ditolak oleh Wooseok. Taman dimana ia menangis bersama Bomin karena menangisi kisah cintanya.
Sudah lama ia tak kesana. Nayoung tersenyum miris.
"Hei, Oh Nayoung!" panggil seseorang.
Hayoung menoleh. Matanya mengerjap.
"Anak baru?"
Xieyu menghampirinya. Pria itu mengernyit dan menatap payung di tangan Hayoung.
"Apa kau bodoh? Kau membawa payung di tanganmu tapi tak menggunakannya dan malah memilih basah seperti itu?" cibir Xieyu.
"Ini bukan urusanmu!" ucap Nayoung.
"Oh tentu saja urusanku," Ia mengambil payung Nayoung. Membukanya lalu memayungi Nayoung dengan tangan kanannya. Tangan kirinya ia gunakan untuk memegang payungnya sendiri, "Jika kau sakit, siapa lagi yang akan membawaku ke ruang BK untuk dihukum?"
Nayoung mengerjap. Lalu dengan ragu mengambil payungnya untuk memayungi dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nayoung.
"Aku? Aku baru selesai berkencan dengan kekasihku." Xieyu tersenyum miring.
"Kekasih yang mana? Han Jieun?" tanya Hayoung.
"Kali ini Yun Hyera." Xieyu menyeringai.
Nayoung menggeleng-geleng sambil memicingkan matanya pada Xieyu. Ia sudah tahu sejak awal bahwa pria ini memang pemain wanita.
"Kau tak risih pulang dengan pakaian basah seperti itu?"
"Ah, baiklah kemana arah pembicaraan kita saat ini?" sindir Nayoung.
"Mau ikut denganku? Kau terlihat seperti gadis yang baru saja diputuskan oleh kekasihnya, atau memang begitu? Aku bisa menghiburmu. Aku ahli melakukan hal itu kau tahu?" tawar Xieyu.
Nayoung mengerjap. Sejujurnya Nayoung masih berharap Wooseok datang. Tapi ia tahu itu tak mungkin.
"Baiklah asal kau tak melakukan hal yang aneh saja." ucap Nayoung.
"Baiklah! Itu perjanjiannya. Kita akan bersenang-senang hingga kau lupa dengan semua masalahmu."
*****
Makassar, 18 Juni 2016