Part 15 - Like a Fool

2059 Kata
Wooseok duduk si sebelah Gaeun. Gadis itu masih menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Entah apa yang ia pikirkan. Wooseok menggerakkan tangannya pelan ke arah kepala Gaeun. Mengelus kepalanya lembut. Hal yang dulu Wooseok lakukan saat Gaeun sedih karena orang tuanya bercerai. Gaeun menoleh pada Wooseok. Wooseok tersenyum menenangkan. Mata Gaeun kembali memanas. Wooseok menarik Gaeun dalam dekapannya. Membiarkan gadis itu menangis di bahunya. Jujur, Wooseok masih belum tahu apa yang terjadi. Ia menunggu Gaeun tenang dan menceritakan semua padanya. "Sudah tidak apa-apa. Aku ada di sini. Dia takkan bisa menyentuhmu lagi." bisik Wooseok. Tangisan Gaeun mengencang. Saat ayahnya datang dan memukulinya, Gaeun menahan dirinya untuk tak menangis. Ia tak ingin kelihatan lemah di hadapan ayahnya. "Wooseok-ah, aku harus melakukan apa? Ayah berhasil mendapatkan hak asuhku. Aku harus ke Amerika bersamanya. Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau! Aku tak ingin meninggalkan segalanya di sini!" tangis Gaeun. Gaeun melepaskan pelukannya. Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah lebam di seluruh tubuhnya. Ia bersikap seperti seorang anak yang mengadu pada ibunya. "Lihat ini? Ia memukulku. Aku takut Wooseok-ah ... Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau aku benar-benar harus tinggal bersamanya." jeritnya. Wooseok mengeratkan pelukannya. Ia bisa merasakan kesedihan Gaeun. Luka yang awalnya telah mengering dan mulai sembuh kini mulai berdarah lagi. Trauma masa kecil Gaeun, k*******n yang ia dapatkan. Gaeun menderita, Wooseok tahu itu. "Tenanglah, aku di sini bersamamu. Tak akan kubiarkan ia menyentuhmu barang seujung kuku pun. Kau aman bersamaku. Ia tak akan bisa membawamu." *** Byunggyu mondar-mandir di kamar Namjoo sambil menatap ponselnya. Namjoo sendiri terbaring di ranjang sambil menatap kakaknya heran. Seojun dan Lixuan tidak dibiarkan mendekati Namjoo untuk sementara ini. Karena itu, dua bocah tadi dibawa pergi oleh Taeoh. Bomin sendiri tiba-tiba ada rapat dengan penerbit bukunya dan Byungjin harus kembali ke kantornya. "Ada apa, Kak? Mengapa kau terlihat tak tenang begitu?" tanya Namjoo. "Ha? Eumm tak apa. Kau tidurlah agar kau cepat sembuh. Kau dengar kata dokter tadi bukan?" ucap Byunggyu yang membuat Namjoo menutup matanya mencoba tidur. Sejujurnya pikiran Byunggyu terbagi menjadi dua cabang sekarang. Ia mengkhawatirkan Gaeun dan penasaran apa yang terjadi pada gadis yang ia sukai itu. Tapi di sisi lain, ia juga merasa khawatir pada Nayoung. Apa Wooseok sudah datang ke tempat mereka ingin berkencan? Di luar hujan deras, apa gadis itu tak apa-apa? Apa ia menuruti saran Byunggyu dengan memakai pakaian yang tebal dan memakai membawa payung? Namjoo membuka matanya dan menatap kakaknya yang masih gelisah. Ia berdecak. "Jika Kak Byunggyu memiliki urusan lain lebih baik Kakak pergi saja. Aku bukan anak kecil yang harus kau jaga. Sebentar lagi Ibu juga akan segera pulang," cibir Namjoo. "Tapi ...." "Sudah pergi saja! Itu lebih baik daripada aku melihatmu mondar-mandir dengan gelisah di sana. Jujur itu membuatku tak bisa tidur." tambah Namjoo lagi. Byunggyu menatap adiknya. Ia ragu apa ia harus meninggalkan Namjoo sendirian di rumah. "Aissshhh, pergi saja sana!" usir Namjoo. "Eh, eum baiklah." Byunggyu keluar dari kamar Namjoo. Namjoo mengernyit, sepertinya kakaknya benar-benar cemas. Diusir begitu pun langsung pergi tanpa melawan? Rumah jadi sepi. Namjoo benci hal itu. Seketika ia merindukan Seojun dan Lixuan. *** Begitu keluar dari kamar Namjoo, Byunggyu segera menelpon Wooseok. "Halo?" "Wooseok-ah, apa kau sudah datang ke akuarium? Kau dan Nayoung sedang jalan-jalan sekarang bukan?" tanya Byunggyu memastikan. "Ha? Astaga bagaimana bisa aku melupakannya? Sejak tadi aku belum keluar dari rumah Gaeun." "Apa yang kau lakukan! Nayoung menunggumu sejak lima jam yang lalu!" bentak Byunggyu. "Aku tak punya pilihan! Gaeun lebih membutuhkanku! Aku tak bisa meninggalkannya!" balas Wooseok. "Setidaknya telpon Nayoung dan katakan kencannya batal, dasar kau s****n! Aisshh, diluar hujan dan kau membiarkan Nayoung sendirian menunggumu? Gunakan otakmu! Dia juga membutuhkanmu bodoh!" marah Byunggyu. "Tap—" Klik... Telpon diputuskan secara sepihak oleh Byunggyu. Baekhyun segera mencari kunci mobil ayahnya. Ia tak pernah mau menyetir karena menurutnya itu merepotkan. Tapi sekarang ini keadaan darurat dan Byunggyu harus segera menjemput Nayoung. Begitu sampai di parkiran, ia segera berlari ke akuarium dan mengelilinginya untuk mencari Nayoung. Tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh karena ia berlari seperti orang gila. Setelah memastikan Nayoung tak ada di sana, Byunggyu segera menelpon Nayoung. "Halo?" "Nayoung-ah kau dimana?" "Di restoran." "Ah syukurlah." Byunggyu menghela nafas lega. "Ada apa?" "Tidak, bukan ada apa-apa. Hahh, kau tahu aku bersyukur kau tak menunggu pria itu seperti orang bodoh di sini." gumam Byunggyu. "Ha?" "Bukan apa-apa. Lanjutkan makanmu!" "Oh Byunggyu, kau semakin tak jelas sumpah!" "Biarkan saja. Telponnya kututup, ya?" "Baiklah, sampai jumpa." Klik... Byunggyu kembali menghela nafas lega. Tapi begitu ia memperhatikan sekelilingnya menatapnya heran, ia jadi bingung sendiri. Ia menyadari tindakan bodohnya. "Aisshhh, apa yang kulakukan di sini? Mengapa aku peduli? Seperti orang bodoh saja!" rutuknya pada dirinya sendiri. *** Wooseok merasa bersalah pada Nayoung. Tapi ia memang tak bisa meninggalkan Gaeun untuk sementara ini. Ditatapnya wajah Gaeun yang terlelap damai. Tangan Gaeun menggenggam tangan Wooseok erat. Tak ingin melepaskan pemuda itu. Wooseok meringis melihat lebam di tubuh Gaeun. Seandainya saja ia tinggal di rumahnya hari ini dan bukan menginap di apartemen Byunggyu, mungkin ia bisa mencegah hal ini terjadi. "Maaf Gaeun-ah, mulai sekarang aku akan menjagamu. Aku berjanji." ucapnya pelan. Ia bangkit dari duduknya dan membungkuk untuk mengecup pelipis Gaeun pelan. Ia melepaskan genggaman Gaeun pada tangannya dengan perlahan lalu keluar dari kamar itu. Begitu Wooseok keluar dari kamar Gaeun, gadis itu membuka matanya. Ia mendengar pembicaraan Byunggyu dan Wooseok tadi. Ia jadi ikut merasa bersalah pada Nayoung. "Nayoung-ah, bolehkah sekali ini saja aku egois?" *** Taeoh memijat pelipisnya karena dua bocah di depannya sejak tadi merengek agar bisa pulang. "Kalian akan mengganggu Namjoo nanti!" "Tidak! Aku takkan melakukan itu! Dia yang melakukan hal itu!" Lixuan menunjuk ke arah Seojun. "Enak saja! Aku masih cukup tau diri untuk tak mengganggu orang sakit! Memangnya siapa yang mengatakan hal bodoh 'Namjoo hamil' tadi? Kau bukan!" ucap Seojun tak terima. Taeoh baru remaja berusia tiga belas tahun demi tuhan! Tapi mengapa ia harus menjadi pengasuh dua bocah absurd ini? Bisa-bisa wajahnya mengkerut hingga menjadi seperti umur tiga puluh tahun saking tertekannya. Drrtt drrttt.. Ponsel Taeoh berdering. Taeoh mengernyit dan mengambil ponselnya. Wajahnya berbinar mengetahui siapa yang menelponnya. "Taeoh oppa!" Kedua bocah tadi sontak menoleh pada Taeoh dengan tatapan horor. Tadi itu suara laki-laki bukan? Taeoh sedang video call dengan laki-laki dan ia dipanggil 'Oppa'? "Hmm Yookyung-ah! Bagaimana kabarmu?" tanya Taeoh. "Aku? Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Kakak? Namjoo masih mengejar-ngejar Kakak?" tanya Yookyung. "Entahlah, tapi di sini penggemarnya semakin banyak. Lihat ini?" Taeoh menyorotkan layar ponselnya ke arah Seojun dan Lixuan. Seojun dan Lixuan mengernyit. Wanita? Tapi mengapa suaranya tadi seperti pria? Taeoh yang tak rela Yookyung dipandangi dengan aneh oleh bocah-bocah absurd itu pun segera pergi untuk berbicara dengan Yookyung. "Mereka menggemaskan! Astaga Namjoo beruntung!" puji Yookyung. "Kau juga beruntung disukai olehku." gumam Chen pelan. "Aishhh, Kak jangan mengatakan hal yang membuatku malu begitu!" Yookyung memegangi pipinya. Sementara itu, Lixuan dan Seojun saling berpandangan. "Tadi aku tak salah dengar bukan? Tadi suara pria kan?" tanya Lixuan. "Eum aku mendengarnya. Terdengar sangat jelas." Seojun mengerjap. "Apa kekasih Kak Taeoh itu benar-benar waniya? Ia wanita, tapi suaranya seperti pria." Lixuan mengelus dagunya ala detektif. "Atau tadi itu pria berwajah seperti wanita? Saat aku tinggal di Thailand, banyak yang seperti itu." ucap Seojun. Dan tadaaaa ... Dengan kekuatan suara Yookyung, dua bocah yang selalu bertengkar itu berhasil di buat akur. Memang ajaib, tapi itulah kenyataannya. "Aku tak menyangka ternyata selera Kak Taeoh seperti itu." komentar Lixuan. "Jangan terlalu kaku begitu. Semua orang memiliki tipe yang disukai masing-masing. Hargai itu!" ucap Seojun. "Pantas saja walaupun Namjoo mengejarnya berkali-kali ia tak pernah goyah. Ternyata ia suka yang seperti itu." ucap Lixuan. Lixuan dan Seojun mengira Yookyung benar-benar pria dan Taeoh adalah gay. Wuaaa keren sekali pemikiran anak-anak ini. *** Bomin baru saja pulang dari rapat. Byungjin menjemputnya jadi mereka pulang bersama. Rumahnya sepi? Aneh. Bahkan saat sakit sekalipun yang jelas ada yang menemaninya, Namjoo akan berisik dan berbicara terus agar ia tak punya waktu untuk mengeluh atau sebagainya. "Sayang, sebenarnya ...," Byungjin menatap Bomin ragu. "Aku memiliki urusan bisnis di Jepang. Ini mengenai hotel cabang kita di sana." ucap Byungjin. "Berapa lama?" tanya Bomin sambil melepas mantelnya. "Satu bulan." Gerakan Bomin terhenti. Satu bulan? Lama sekali! Bomin tak mau berpisah lama-lama dengan Byungjin. Biasanya ia akan ikut bila Byungjin pergi untuk urusan bisnis. Tapi kali ini tak bisa karena ia sedang hamil. "Eum, tak apa. Hanya satu bulan bukan?" ucap Bomin pura-pura tenang. "Kau yakin tak ingin ikut?" Bomin menggeleng. Byungjin tahu istrinya itu sedih. Byungjin juga sebenarnya tak ingin meninggalkan istrinya yang sedang hamil seperti sekarang. Byungjin melangkah mendekati Bomin dan memeluknya dari belakang. "Maaf." bisiknya sambil menyenderkan dagunya di bahu Bomin. "Tak apa." ucap Bomin pelan. "Aku tahu kau sedih." ucap Byungjin. Bomin membalikkan tubuhnya agar ia dan Byungjin berhadap-hadapan. Ia tersenyum manis dan berjinjit untuk mengecup bibir Byungjin. Kecupan itu hanya berlangsung selama sedetik. Byungjin menatapnya tidak puas namun Bomin hanya terkekeh. "Tak apa. Aku akan baik-baik saja. Ada Byunggyu dan yang lainnya di sini." ucap Bomin. "Justru itu yang kutakutkan." keluh Byungjin main-main. "Apanya?" "Aku takut kau malah selingkuh dengan Wooseok." Bomin tergelak kencang. Byungjin tersenyum melihat tawa istrinya. Sekarang suasana hati Bomin pasti sudah membaik. Sehun mengecup pelipis Bomin, lalu kedua pipinya, lalu dagu dan hidung. Saat ia ingin mengecup bibir Bomin, istrinya itu menahannya. "Kenapa?" tanya Byungjin. "Tidak mau! Aku ingin melihat keadaan Namjoo dulu." Bomin meninggalkan Byungjin yang menatapnya tak percaya. Seorang Byungjin ditolak Bomin? Kemana Bomin yang selalu berusaha menggoda Byungjin? Sekarang ia bahkan menolak Byungjin? Tak memerdulikan Byungjin yang kelihatannya merajuk padanya, Bomin masuk ke kamar Namjoo. Memeriksa suhu tubuh anaknya. Demamnya sudah turun. Bomin menghela nafas lega. Ia lalu mengusap sayang kepala anak perempuannya yang sedang terlelap itu. Tapi sepertinya ada yang salah! Di mana Byunggyu? Bomin mengernyit, padahal anaknya yang satu itu bukanlah orang yang suka meninggalkan tanggung jawabnya. Tapi sekarang putranya itu malah pergi entah kemana. Ah sudahlah, mungkin Byunggyu sedang ada urusan penting. "Cepat sembuh Namjoo-ya." bisik Bomin sebelum keluar dari kamar Namjoo. *** Nayoung mengernyit dan menaruh ponselnya kembali di sakunya. "Ada apa?" tanya Xieyu. "Bukan urusanmu." ucap Nayoung pelan. "Biar kutebak, itu pasti Oh Byunggyu. Wuaaa, dia sepertinya memiliki radar sendiri. Ia tahu wanitanya makan dengan pria lain." kekeh Xieyu. Nayoung mengendikkan bahunya dan menyantap makanan di depannya. Berpura-pura tenang. Jangan bilang kalau Byunggyu sudah tahu tentang kencannya yang batal? Ah habis sudah! Hubungan Byunggyu dan Wooseok pasti semakin memburuk setelah ini. Walau Byunggyu kasar dan bermulut pedas, ia orang yang setia kawan. Ia pasti marah bila Nayoung disakiti oleh Wooseok. Xieyu benar-benar menepati janjinya. Pria itu mengajaknya jalan-jalan untuk melupakan kesedihannya. Yeah, walaupun hingga sekarang moodnya masih buruk karena Wooseok. "Eh bukannya itu Oh Byunggyu?" Xieyu menunjuk ke pintu masuk restoran itu. Nayoung menoleh dan membelalak. Byunggyu yang kebetulan menoleh ke arahnya juga terlihat sama terkejutnya. Awalnya Byunggyu hanya ingin membelikan Namjoo makanan kesukaan adiknya itu sebagai kompensasi karena telah meninggalkannya. Ia tak tahu ia akan bertemu dengan Nayoung dan Xieyu di restoran ini. Setelah memesan, Byunggyu menghampiri meja Nayoung dan Xieyu. Matanya memicing. "Setelah rencana berkencan dengan Woossok yang gagal, sekarang kau malah berkencan dengan Xieyu? Park Nayoung, apa kau seputus asa itu?" cibir Byunggyu. Nayoung tahu ia akan menerima semprotan Byunggyu jadi ia diam saja. Xieyu sendiri hanya terkekeh. Byunggyu benar-benar terdengar seperti kekasih yang sedang cemburu. "Setelah kau makan, kita akan bicara di luar. Jangan coba-coba lari atau kupatahkan kakimu nanti!" ancam Byunggyu. Nayoung mengangguk patuh. Melawan Byunggyu itu namanya cari mati. Nayoung sudah cukup lama bersahabat dengan Byunggyu untuk tahu yang harus ia lakukan saat Byunggyu marah adalah diam. Menunduk dan jangan bantah ucapannya. Jika ia membantah, kupastikan dirinya sendiri yang akan sakit nantinya. Begitu Byunggyu keluar, Nayoung langsung menempelkan kepalanya di atas meja. "Mengapa kuterima ajakanmu tadi?" rutuknya pada Xieyu. "Ketua OSIS benar-benar hebat! Auranya luar biasa." puji Xieyu. Nayoung hanya berdecak. Ia mengambil kantung yang berisi pakaian basahnya. Ia menaruh uang untuk membayar makanannya di meja dan hendak pergi. Xieyu menahannya, "Kau mau pergi? Makananmu belum habis!" "Lebih baik aku pergi sekarang daripada aku yang habis di makan macan nantinya." ucap Nayoung. Xieyu terkekeh dan memandangi punggung Nayoung yang menjauh sebelum akhirnya menghilang ditelan oleh pintu. "Mereka pasangan yang unik." kekeh Xieyu. **** Makassar, 22 Juni 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN