Nayoung masuk ke dalam mobil Byunggyu. Byunggyu menatapnya lekat. Jujur tatapan itu membuat Nayoung menjadi risih. Byunggyu jadi seperti seorang ayah yang baru saja memergoki anak gadisnya berkencan diam-diam dengan seorang pria.
"Oh Nayoung, kau tak apa?" tanya Byunggyu.
"Ha?" Byunggyu tak marah? Nayoung menatap Byunggyu seakan-akan sahabatnya itu adalah alien yang menyamar sebagai Oh Byunggyu.
"Kencanmu dan Wooseok batal, apa kau tidak apa-apa?" tanya Byunggyu lagi.
Nayoung menunduk. Ia terkekeh miris, "Bohong jika kukatakan aku tidak apa-apa."
Byunggyu menatap Nayoung iba. Tangannnya menggenggam tangan gadis itu. Ia berdecak. Kim Wooseok! Awas saja pemuda itu! Byunggyu takkan memaafkannya karena berani menyakiti sahabatnya.
"Hei, kulihat tadi kau bersama Han Xieyu, apa kau sudah berpaling padanya?" tanya Byunggyu.
Nayoung menatap Byunggyu tak percaya, "Ha? Dengan pria itu? Kau bercanda? Aku pasti sudah benar-benar putus asa seperti yang kau katakan bila aku berkencan dengannya!"
"Memangnya kenapa? Bukannya pemuda yang seperti itu yang disukai para gadis?" ucap Byunggyu heran.
"Mungkin bagi gadis lain iya, tapi bagiku tidak. Dengar, aku tak mungkin memintamu berpura-pura menjadi kekasihku bila aku bisa menyukainya. Pria itu benar-benar bukan tipeku. Bahkan wajahnya benar-benar tak sesuai seleraku. Aku suka yang berpipi chubby dengan gigi yang rata." cibir Nayoung.
Byunggyu mengendikkan bahunya. Pandangannya tertuju pada kantung yang dibawa oleh Nayoung sejak tadi.
"Itu apa?" tanya Byunggyu.
"Ini? Pakaian basah."
Byunggyu menatap Nayoung marah. Ia siap mengomel ala ibu-ibu sekarang.
"Oh Nayoung, jangan bilang kau kehujanan tadi? Bukannya sudah kukatakan padamu untuk membawa payung?" omel Byunggyu.
"Aku membawanya!" Nayoung mengeluarkan payungnya dari kantung itu, "Tapi aku tak menggunakannya."
"Apa? Tapi kenapa? Kau ini mau cari penyakit? Hei, walaupun kau sakit Wooseok takkan menjengukmu karena sibuk dengan Gaeun!" omel Byunggyu lagi.
Ups! Sepertinya Byunggyu melakukan sebuah kesalahan besar. Namun dirinya tak menyadari apa yang baru saja yang ia katakan dan terus mengomel.
Nayoung menatap Byunggyu tak percaya. Jadi ... Yang membuat Wooseok tak datang adalah Gaeun?
"Hei, katakan kalau yang tadi itu tidak benar!"
"Apanya?" tanya Byunggyu belum menyadari kesalahannya.
"Wooseok tak datang karena Gaeun?"
Byunggyu meringis. Jadi Nayoung belum tahu apa yang membuat Wooseok tidak datang? Aisshh Oh Baekhyun! Kau dan mulut besarmu.
"B-begitulah, saat kami di rumah sakit Gaeun menelpon Wooseok. Wooseok mengatakan bahwa Gaeun menangis dan membutuhkannya. Karena itu ia terburu-buru pergi dan melupakan kencannya denganmu." ucap Byunggyu.
Nayoung mencengkram erat kantung yang ada di pangkuannya. Byunggyu kembali menggenggam tangan Nayoung. Membiarkan gadis itu meremas telapak tangannya untuk menyalurkan emosinya.
"Kau mau ke apartemenku? Kurasa ibuku akan membuatmu lebih baik." tawar Byunggyu.
"Ya tolong, aku harus melakukan apapun agar emosiku kembali stabil atau aku akan membunuh gadis yang kau cintai itu!"
***
"Namjoo-ya aku pulang!" seru Byunggyu.
Bomin menyambutnya dengan tatapan sinis. O-ow! Byunggyu dalam masalah. Ia meringis dan menyerahkan makanan yang ia beli di restoran tadi.
"Ibu ma—"
Bomin menjewer telinga Byunggyu sekuat yang ia bisa. Byunggyu menjerit sakit. Nayoung tertawa melihatnya.
"Sakit! Sakit Ibu! Aku salah! Aku salah!"
"Beraninya kau meninggalkan adikmu yang sedang sakit! Kau sudah membuat kemajuan Oh Byunggyuku sayang! Kau berani lari dari tanggung jawab." omel Bomin.
"Namjoo yang mengatakan aku boleh pergi!" protes Byunggyu.
Jeweran Bomin bertambah keras. Byunggyu merasa telinganya sudah hampir terlepas dari tempatnya.
"Aw aw aw Ibu, sakit! Jangan membuatku jadi mirip seperti pelukis kesukaanmu, Bu! Dia tak punya telinga karena ia sendiri yang mengirisnya! Sangat tidak keren bila telingaku juga putus tapi karena jeweranmu!" jerit Byunggyu.
"Kak Bomin jewer saja dia hingga telinganya putus!" Nayoung menyemangati Bomin.
Bomin melepaskan jewerannya. Ia berdesis, memandang anaknya merendahkan.
"Jangan berani-berani melanggar perintahku lagi. Karena aku sedang hamil aku jadi mudah marah. Kali ini hanya telingamu yang kusakiti, mana tahu nanti yang lainnya yang akan kusakiti!" ancam Bomin.
Byunggyu mengangguk patuh, "Ya, Bu."
Telinganya terlalu sakit untuk membalas perkataan Bomin. Karena itu ia diam saja. Nayoung tertawa lagi. Merahnya telinga Byunggyu hampir sama dengan warna sofa merah yang ada di ruang tamu apartemen ini.
Nayoung berhenti tertawa saat seorang pria yang sedang duduk di ruang tamu dan menatap ke arahnya. O-ow sepertinya Nayoung melupakan sesuatu. Ia lupa bahwa Wooseok tinggal bersama Byunggyu sekarang.
"Nayoung-ah, ayo masuk! Biasanya kau juga tak punya malu dan menerobos sendiri. Apa kau kerasukan jadi kau sekarang punya etika?" tanya Bomin heran.
Nayoung berdecih dan masuk ke dalam apartemen. Karena tak ingin berada satu ruangan dengan Wooseok, ia memilih untuk membantu Bomin di dapur.
Bomin yang merasa aneh akan tingkahnya pun bertanya, "Ada apa? Kau tak menyapa Wooseok? Apa kalian bertengkar? Kulihat belakangan ini kau jadi lebih dekat dengan Byunggyu."
"Begitulah. Kau tahu ? Dia seorang pemberi harapan palsu. Ia mengajakku berkencan di akuarium tapi ia malah tak datang dan membuatku menunggu lima jam di sana." gerutu Nayoung.
"Jadi karena itu ...," Bomin mengangguk-angguk, "Apa kau tak menanyakan apa alasannya? Setahuku Wooseok bukan orang yang seperti itu. Walau otaknya sedikit miring, tapi ia bukan orang yang tak menepati janji."
"Aku tahu, tapi sulit untuk melakukan itu. Hatiku sudah terlanjur sakit. Lagipula Byunggyu mengatakan kalau Wooseok tak datang karena Naeun." ucap Nayoung sedih.
Bomin mengangguk-angguk. Sementara itu di ruang tamu, Byunggyu terus saja memandan Wooseok sinis. Wooseok mengerti bila Byunggyu marah padanya tentang Nayoung. Karena itu ia diam saja.
Melihat kakak kesayangannya memandang Wooseok sinis, Seojun pun ikut-ikutan. Ia duduk di pangkuan Byunggyu sambil menatap Wooseok setajam yang ia bisa. Kalian bisa rasakan betapa risihnya Wooseok saat itu? Wooseok bahkan berusaha agar tidak menatap ke arah keduanya.
Byungjin datang dari arah ruang kerjanya dan duduk di tengah-tengah mereka. Wooseok untuk itu. Byunggyu mengalihkan tatapannya ke tv, begitu pun Seojun.
"Paman," panggil Wooseok.
Byungjin menjawab, "Ada apa?"
"Aku akan pulang kembali ke rumahku."
"Kenapa? Ibumu menitipkanmu di sini. Lagipula aku akan pergi ke Jepang selama satu bulan untuk urusan bisnis. Tetaplah di sini dan pastikan Bomin tak membuat masalah." ucap Byungjin.
"Tapi ...."
"Paman tak pernah meminta apapun padamu bukan? Sekali ini saja turuti permintaan Paman. Paman tahu kau sedang bertengkar dengan Byunggyu. Paman bisa pastikan kau bisa tetap merasa nyaman di apartemen ini." ucap Byungjin.
"Ayah!" Byunggyu tak terima.
"Semakin banyak yang menjaga Ibumu maka semakin baik. Ayah bahkan berpikir meminta Paman Junho dan Bibi Eunjin untuk menjaga ibumu di sini jika tak mengingat mereka juga orang yang sibuk. Tolong mengertilah Byunggyu-ya," ucap Byungjin pada Byunggyu.
Byunggyu cemberut. Tunggu! Cemberut? Ah iya! Jika berada di depan Bomin atau ayahnya, Byunggyu memang suka bertingkah manja. Apalagi bila di depan Byungjin.
Wooseok tak punya pilihan lain. Byungjin memberinya kesempatan bicara saja tidak. Sekarang ia mengerti sifat pemaksa Byunggyu berasal dari mana.
***
Namjoo makan dengan disuapi oleh Lixuan. Lixuan dengan sabar menunggu Namjoo berhenti mengunyah sebelum menyuapinya lagi.
"Aku tak menyangka hanya karena dipilih sebagai model pertunjukan kau bisa jadi sakit seperti ini." ucap Lixuan.
"Hei, ini bukan karena menjadi model itu!" gerutu Namjoo.
"Terserah. Apa kau ingin aku membujuk Guru? Kurasa ia akan mendengarkanku." ucap Lixuan khawatir.
"Yak kau gila? Aku adalah Oh Namjoo, anak dari Park Bomin dan adik dari Oh Byunggyu. Tantangan kecil seperti ini akan dengan mudah kujalani. Bila aku menyerah sebelum aku mencoba maka aku akan merasa malu pada diriku sendiri!" ucap Namjoo bersungguh-sungguh.
Lixuan tersenyum. Ia menggigiti bibirnya gugup. Mengapa Namjoo bisa sangat mempesona di matanya? Padahal ia masih anak kecil, tapi ia bisa merasakan jantungnya yang berdebar-debar saat menatap wajah Namjoo yang berbinar. Lixuan sendiri tak mengerti dengan hal itu.
"Lixuan-ah," panggil Namjoo.
"Hm?"
"Kenyang."
Lixuan menatap Namjoo tak percaya. Ini baru setengah piring dan Namjoo sudah kenyang? Kemana perut karet yang biasanya harus diisi dengan lima piring full itu?
"Kau yakin?"
"Hm." Namjoo mengangguk.
Lixuan menghela nafas dan menaruh piringnya. Orang yang sedang sakit memang berbeda.
"Aku ingin keluar, antarkan aku ya?" pinta Namjoo.
"Lebih baik kau istirahat sekarang." nasihat Lixuan.
"Tapi aku ingin keluar yah yah! Ayolah Lixuan-ah~ hm?" Namjoo mulai mengeluarkan tatapan memelasnya.
Oh tuhan, bisakah kau tak memberi cobaan yang berat? Namjoo sangat manis di matanya saat memelas begitu. Lixuan jadi memiliki ide jahil.
"Baiklah kalau kau ingin kubantu, cium aku dulu!" Lixuan memulai aksinya sambil menunjuk pipinya.
Namjoo takkan mau melakukan itu. Lixuan terkekeh. Tapi kekehannya berhenti saat sesuatu yang lembut dan lembab menyentuh pipinya.
Cup...
Kalian pikir itu bibir? Iya sih memang bibir. Tapi bukan bibir Namjoo melainkan bibir katak. Namjoo menjauhkan wajah katak peliharaannya dari pipi Lixuan. Namjoo memang memelihara katak di kamarnya. Sebenarnya katak itu adalah katak yang dulu digunakan sebagai percobaan oleh dirinya dan Byunggyu. Itu adalah pertama kalinya Namjoo melihat percobaan sains. Karena kebetulan katak itu bisa hidup hingga sekarang, makanya katak itu ia pelihara dengan baik. Katak itu selalu berada dalam kotak yang ada di samping meja yang ada di dekat ranjangnya.
"Hei, kau mau mati? Cium apanya? Kau masih kecil tapi berani berharap yang seperti itu padaku? Rasakan itu ciuman katak! Kalau kau tak membantuku sekarang, kupastikan kau takkan menjadi temanku lagi!" ancam Namjoo.
Lixuan tersenyum kecut dan mengambil tisu untuk melap wajahnya. Namjoo begitu kejam padanya.
***
Lixuan memegangi tangan Namjoo saat gadis itu berjalan keluar dan mendudukkannya di sofa. Seojun menatap mereka tajam sedangkan Nayoung yang baru saja datang dari arah dapur bergumam 'Owww romantisnya...'
"Kau kenapa keluar? Bukannya kau harus istirahat?" tanya Byunggyu pada Namjoo.
Namjoo menatap Seojun yang duduk di pangkuan Byunggyu dengan sinis. Bocah laki-laki itu menjulurkan lidahnya mengejek Namjoo dan malah membalikkan tubuhnya untuk memeluk Byunggyu.
"Aku bosan dalam kamar. Lagipula bagaimana bisa aku membiarkan si cebol lembek itu memonopolimu?" cibir Namjoo, "Hei! Turun dari pangkuan kakakku dasar kau anak manja! Kau sudah besar tapi masih manja seperti anak kecil!"
"Tidak mau! Katakan saja kau iri dasar penyihir jelek! Dia kakakku!" balas Seojun.
Jujur, Seojun kesal pada Namjoo yang begitu dekat dengan Lixuan. Bahkan tadi Seojun tak diizinkan masuk ke kamarnya. Hanya Lixuan yang bisa. Memangnya apa istimewanya Lixuan dibanding dirinya?
"Kak, Kakak cantik yang itu kekasihmu yah? Cantik sekali!" seru Seojun sambil menunjuk ke arah Nayoung.
Nayoung yang ditunjuk sontak salah tingkah. Semua memandanginya. Termasuk Woosek. Wooseok terlihat kesal karena pertanyaan Seojun.
"Kakak yang itu? Entahlah, aku tidak kenal." ucap Byunggyu acuh.
"Dia bukan kekasihnya Kak Byunggyu tapi kekasihnya Kak Wooseok." ucap Namjoo malas.
"Siapa bilang dia kekasihnya Wooseok? Dia kekasihku." jawaban Byunggyu sontak membuat semua orang kaget.
Namjoo bahkan menatap Byunggyu sambil melongo. Nayoung kekasih oppanya? Bukannya Nayoung suka pada Woossok? Tanpa memerdulikan kepalanya yang terasa pening, Namjoo menggebrak meja yang ada di hadapannya.
"Apa kau bilang?!"
Nayoung segera mengambil tindakan.
"Oh Byunggyu, bicara di kamarmu."
Byunggyu mengangguk dan menurunkan Seojun dari pangkuannya lalu menyusul Nayoung. Namjoo limbung dan jatuh ke sofa. Ia menatap Wooseok tak percaya.
"Apa ini alasan kau dan kakakku canggung belakangan ini? Yang benar saja!" seru Namjoo.
"Hei ada apa denganmu! Memangnya kenapa kalau kakak yang itu kekasihnya kakakku?" tanya Seojun heran.
"Pendatang baru diam saja! Kau tak tahu apapun jadi tutup mulutmu!" bentak Namjoo.
Seojun benar-benar diam setelah itu. Chen, Bomin dan Byungjin tak bisa melakukan apapun saat semua berubah canggung. Bomin sendiri tak tahu semua akan menjadi seperti ini.
****
Makassar, 22 Juni 2016