Nayoung menepati janjinya, mereka akan pulang sore ini. Bomin sebenarnya memaksa ingin tinggal karena masih ingin di Jeju. Tapi Eunjin melarangnya karena Bomin masih harus mengurus anak-anaknya dan memeriksakan kandungannya pada dokter ahli. Eunjin itu dokter jantung, ingat? Ia tak bisa mengurus Bomin.
Taeoh sendiri juga merasa tak rela bila mereka harus meninggalkan Jeju secepat ini. padahal ia juga belum berhasil mengajak Yookyung untuk berbicara. Ia menatap Yookyung yang sedang berusaha mengajak Namjoo bermain. Sepertinya Namjoo masih dendam pada Yookyung.
"Kak Yookyung, aku sedang tak ingin bermain." tolak Namjoo ketus.
Yookyung terlihat sedih, dan Taeoh tak suka bila Namjoo bertingkah kasar pada gadis itu. Ia menghampiri kedua gadis kecil itu.
"Namjoo-ya kenapa kau ketus sekali? Yookyung hanya mengajakmu bermain!" omel Taeoh.
Namjoo mengerucutkan bibirnya, cemberut. Tak terima kalau Taeoh marah begitu padanya. Taeoh pikir memangnya karena siapa Namjoo jadi ketus begini pada Yookyung?
"Bukannya wajar bila istri pertama tak suka pada istri kedua? Kau menduakanku dan kau berharap aku akan baik pada selingkuhanmu?" cibir Namjoo.
Namjoo mengibaskan rambutnya dan pergi meninggalkan Yookyung dan Taeoh yang melongo. Namjoo benar-benar mirip dengan pemeran antagonis sekarang. Sepertinya anak ini benar-benar harus dijauhkan dari novel-novel Bomin.
Taeoh memijat pangkal hidungnya, berusaha meredakan rasa pusing yang melanda kepalanya. Apa dulu ia juga begitu saat masih anak-anak? Ia tak tahu harus berbuat apa lagi pada sepupunya itu. Taeoh menoleh pada Yookyung. Saat Yookyung ikut menoleh, mata mereka berpandangan. Yookyung yang lebih dulu memutuskan kontak mata mereka. Gadis itu mendengus. Baiklah, kali ini apa lagi salah Taeoh?
"Ada apa? Kenapa kau terlihat marah begitu?" tanya Taeoh.
Yookyung mengambil buku catatannya dengan malas. Tapi Taeoh menahannya.
"Kalau kau bisa mengatakannya secara langsung, mengapa kau harus repot-repot menuliskannya di kertas?" tanya Taeoh.
Yookyung terkejut, ia terlihat gugup. Ingin pergi tapi sayangnya Taeoh masih menahan tangannya.
"Aku serius, apa kau tak memikirkan bagaimana khawatirnya orang tuamu padamu? Mereka bingung mengapa kau tak mau bicara. Kau tidak bisu, tapi kenapa kau tak ingin bicara?" Taeoh semakin mendesak Yookyung.
Yookyung yang merasa terdesak berusaha melepaskan tangan Taeoh. Kali ini Taeoh mengalah, ia membiarkan Yookyung mengambil buku catatannya.
"Aku.... Malu dengan suaraku. Mereka bilang suaraku jelek, aku juga terlalu cerewet. Untuk meredamnya akan lebih baik bila aku seperti ini." tulis Yookyung.
Taeoh menatap Yookyung, tak habis pikir dengan pemikiran Yookyung. Hanya karena itu Yookyung tak ingin bicara?
"Aku ingin kau bicara padaku saat ini. Aku tak peduli suaramu jelek atau bagus." pinta Taeoh.
Yookyung menggeleng, menolak. Taeoh tak kehilangan akal. Ia merebut buku catatan Yookyung. Yookyung membelalak. Dalam buku catatan itu ada rahasia Yookyung! Yookyung berjinjit berusaha mengambil buku itu.
"Sebelum kau berbicara padaku, aku takkan mengembalikan buku ini. Kalau perlu aku juga akan membawanya ke Seoul!" ancam Taeoh.
Baiklah! Baiklah! Yookyung mengaku kalah. Ia mengangguk dan berhenti berusaha merebut buku. Itu. Ia menghela nafas.
"Kembalikan bukuku." ucap Yookyung pelan.
Taeoh terperangah. Suara Yookyung benar-benar persis dengan suara Junso. Eum, kalian tahu maksudku bukan? Baritone dan serak-serak khas pria. Bila Yookyung seorang pria mungkin tidak apa-apa. Tapi Yookyung adalah wanita, dan wanita yang suaranya seperti pria bukanlah hal yang bagus.
"Sudah bukan? Berikan itu!" marah Yookyung.
Taeoh memberikan buku catatan Yookyung pada pemiliknya masih dengan wajah melongonya. Yookyung berdesis, tak suka dengan reaksi Taeoh yang masih terdiam. Kalau ingin tertawa seharusnya pemuda itu tertawa saja bukan? Orang-orang di desa juga menertawainya karena suaranya, jadi ia sudah terbiasa dengan hal itu. Benar saja tak berapa lama terdengar dengusan geli dari Taeoh. Yookyung menghela nafas kesal.
"Pffttt... Maaf aku tak bisa menahan diriku. Jadi karena ini kau tak ingin bicara? Keren! Kau mendapatkan suara itu dari Paman Junho? Dari dulu aku sangat ingin mempunyai suara seperti itu!" puji Taeoh. Pemuda itu masih tertawa.
"Aku... Ibu pernah mengatakan ia mengidam mendengarkan ayahku bernyanyi dangdut saat aku masih dalam kandungannya. Mungkin karena terlalu sering mendengar suara ayahku jadi suaraku mirip dengannya." ucap Yookyung kikuk.
Taeoh mengangguk-angguk mengerti. Jadi karena dangdut?
"Seharusnya kau tak perlu menyembunyikan suaramu. Walau sebagian orang mengejeknya, tapi mungkin sebagiannya lagi menyukainya. Aku juga tertawa karena aku belum terbiasa. Lagipula, bila kau sembunyikan terus menerus warga desa takkan terbiasa dengan suaramu. Tapi bila kau tetap berbicara dan tak malu dengan suaramu, kurasa warga desa akan terbiasa dan tak akan mengejekmu lagi." Nasihat Taeoh.
Yookyung mengangguk malu-malu, sekarang ia mengerti mengapa Namjoo tergila-gila pada Taeoh. Taeoh tersenyum dalam hati. Ia bisa kembali ke Seoul dengan tenang sekarang. Akhirnya misteri ini terpecahkan juga.
***
Wooseok tersenyum melihat Bomin yang sibuk dengan laptopnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Byungjin. Aman? Aman! Ia mengendap-endap seperti maling jemuran. Takut tiba-tiba ayahnya Byunggyu datang.
"Kak Bomin! Psstt Kak Bomin!" panggil Wooseok.
Bomin yang mengenakan earphone pura-pura tak mendengar panggilan Wooseok. Lagipula biasanya saat menulis ia akan fokus dan tak bergerak dari tempatnya. Wooseok akan berhenti sendiri nanti.
"Kakak sedang apa?" tanya Wooseok.
Bomin mengabaikannya lagi. Wooseok tak bodoh, ia melihat tubuh Bomin yang bergerak sedikit tadi. Itu menandakan Bomin mendengarnya.
"Kak Bomin! Kak Bomin!" Wooseok mencolek-colek pinggang Bomin dengan telunjuknya.
Lumayan, kebetulan Bomin juga pura-pura tak melihat atau mendengarnya bukan? Tak apalah modus sedikit.
Bomin yang risih pun menepis tangan Wooseok. Ia menoleh dan melotot marah. Wooseok menyengir.
"Lain kali Kak Bomin abaikan aku lagi, ya?" Wooseok menyengir dan mencium jari telunjuknya, "Karena dengan begitu aku bebas menyentuh Kakak." ucapnya sambil tersenyum m***m.
"Coba saja sentuh aku lagi," Bomin menyeringai. "Maka kupastikan kau akan botak dan lubang hidungmu tinggal satu!" Bomin menaikkan kedua jarinya membentuk capit.
"Kalau harus seperti itu untuk berbuat m***m padamu aku rela, Kak!" ucap Wooseok dengan nada bersungguh-sungguh.
Bomin mendengus, ia tahu sekarang Wooseok sudah lebih pandai untuk membalas ucapannya. Ia kembali mengetik.
"Pergi sana atau kau ingin kupanggilkan suamiku?" ancam Bomin.
"Kak Bomin jangan kejam begitu padaku. Aku kesepian! Gaeun dan Kak Eunjin pergi ke pasar, Nayoung pergi bersama Byunggyu, dan yang lainnya juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing." keluh Wooseok.
Bomin berhenti mengetik dan berbalik menatap Wooseok dengan cepat.
"Tunggu! Apa tadi kau bilang? Byunggyu pergi bersama Nayoung?"
***
Nayoung duduk di sebelah Byunggyu sambil menatap ke arah laut. Byunggyu sendiri sedang memotret warga desa yang sedang berkumpul di tepi laut. Kebetulan hari ini warga desa akan memanen abalone.
"Aku juga ingin ikut menyelam." keluh Nayoung.
"Jangan membuat masalah, kau sudah janji kita akan pulang nanti sore." ucap Byunggyu. Ia masih sibuk dengan kameranya.
Nayoung memasang wajah masam. Jujur ia belum siap menghadapi neneknya.
"Apa kau sudah memberitahu nenekmu?" tanya Byunggyu.
Nayoung mengangguk, "Eum, aku sudah memberitahunya tadi pagi. Dia mengundangmu makan malam di rumahnya. Mungkin agar bisa mengenalmu dan menentukan kau pantas atau tidak untukku."
Byunggyu menaruh kameranya. Ia tersenyum angkuh, sejujurnya ia merasa tertantang dengan kata-kata Nayoung. Pantas atau tidak? Hei seorang Oh Byunggyu selalu bisa menjadi pantas bahkan bagi putri raja sekalipun.
"Pria seperti apa yang nenekmu inginkan untuk menjadi suamimu?" tanya Byunggyu.
Nayoung menggeleng, "Kurasa nenekku tak memiliki kriteria khusus. kau lihat betapa cerobohnya ia menjodohkanku dengan bocah bukan? Yang terpenting adalah kau memiliki hubungan keluarga dengan keluarga Han. Sebenarnya bukan ia yang kutakutkan."
"Lalu?"
"Bibiku, kita akan habis bila rencana kita diketahui oleh bibiku!" jawab Nayoung.
Mereka terdiam dan kembali menatap ke arah laut. Nayoung merasa heran melihat ekspresi Byunggyu yang tiba-tiba berubah. Pemuda itu mengernyit dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba Byunggyu memegang dagu Nayoung dan mendekatkan wajah mereka.
"Hei! Oh Byunggyu! Apa yang kau lakukan?" tanya Nayoung. Wajahnya memerah karena baru kali ini diperlakukan seperti ini oleh seorang pria.
Biasanya bila ada pria yang nekad melakukan ini padanya, Nayoung akan membanting mereka dengan keras. Tapi ini berbeda, Nayoung tak bisa membanting atau melepaskan tangan Byunggyu dari wajahnya karena level pemuda ini berada jauh di atasnya.
"Hei Oh Byunggyu, Kau terlalu dekat! Jangan bilang kau ingin menciumku?" Nayoung berkata gugup.
Begitu bibir Byunggyu sudah hampir menyentuh bibirnya, Byunggyu tersenyum meremehkan.
"Jangan terlalu percaya diri. Lihat dibelakangmu. Apa yang itu bibimu? Ia sebenarnya mengikuti kita sejak tadi, tapi kuabaikan karena kukira itu hanya orang iseng." ucap Byunggyu.
Byunggyu mengusap pipi Nayoung lembut. Bersikap senatural mungkin. Ia ingin memberi pemandangan menarik untuk bibinya Nayoung. Nayoung menoleh sedikit dan terbelalak melihat siapa yang bersembunyi di balik pohon yang ada di belakang mereka.
"Apa bibimu selalu turun tangan sendiri bila mencari tahu mengenai seseorang?" tanya Byunggyu sambil mengambil kembali kameranya.
"Tidak, biasanya tak separah ini. Walaupun ia pernah mengatakan cita-citanya adalah menjadi mata-mata. Aisshh, padahal aku sudah mengatakan akan pulang hari ini tapi ia tetap datang!" gerutu Nayoung.
Mereka berpura-pura tak melihat bibi Nayoung. Tanpa mereka sadari selain bibinya Nayoung, ada orang lain lagi yang melihat mereka berpura-pura bermesraan.
"Gaeun-ah ada apa? Mengapa kau berhenti?" tanya Eunjin.
Gaeun tersadar dan cepat-cepat menoleh pada Eunjin.
"T-tidak, tak ada apa-apa." Gaeun kembali berjalan mengikuti Eunjin.
Gaeun benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat. Byunggyu berciuman dengan Nayoung? Apa mereka berpacaran? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Byunggyu sebenarnya adalah alasan mengapa Nayoung tak ingin dijodohkan?
Bila Nayoung bersama Byunggyu sekarang, berarti Woooseok ... Ah mengapa ia berpikir seperti itu?
"Gaeun-ah mengapa melamun? Ayo cepat masuk!" ajak Eunjin.
"Y-ya!"
***
Makassar, 28 Mei 2016