Namjoo terkejut setelah diberitahu tentang Lixuan yang melamarnya. Ia pun dilema. Bila ia menerima Lixuan, asupan makanannya akan terjamin. Ia tak akan kekurangan apapun. Tapi ia kan menyukai Taeoh! Taeoh itu pangerannya walaupun Taeoh sedang nakal karena berani menggoda gadis lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yookyung. Bukankah Namjoo pernah bilang di 'Crazy!!![1]'? Makanan dan Taeoh sama kedudukannya di hati Namjoo.
"Kau memikirkan apa?" tanya Junso.
"Paman, apa menurutmu aku harus menerima lamaran dari Lixuan?" tanya Namjoo.
"Menurutku tolak saja bila ia memintamu untuk menikah dengannya sekarang. Kau itu masih kecil. Kecuali bila ia memintamu menikah dengannya setidaknya empat belas tahun lagi, baru kau bisa menerimanya." saran Junho.
"Kalau begitu aku akan tetap mengejar Kak Taeoh!" ucap Namjoo semangat.
"Itu juga salah! Kau tak seharusnya mengejar-ngejar sepupumu itu. Saranku, setidaknya bersahabatlah dengan Lixuan setidaknya hingga kalian cukup umur dan siap menjalin hubungan." ucap Junho.
Namjoo mengerucutkan bibirnya. Ia menengadah menatap langit yang penuh dengan bintang. Suasana pedesaan memang berbeda....
Junho yang mengerti Namjoo masih bingung pun mendapatkan ide.
"Kau tahu, aku pernah tinggal di indonesia. Dulu saat ibumu bersedih, aku sering menyanyikannya lagu yang berasal dari negara itu dan ia akan langsung bersemangat. Mau dengar?" tawar Junho.
Tanpa mendengar tanggapan Namjoo, Junho berdiri dan mulai bernyanyi.
"Namjoo pilih yang mana? Kak Taeoh atau Lixuan?
Kak Taeoh memang tampan, Lixuan lebih menawan...
Namjoo pilih yang mana? Kak Taeoh atau Lixuan?
Kak Taeoh memang antik, Lixuan lebih menarik...
Kalau Namjoo pilih Kak Taeoh...
Sepupuan dan ketuaan...
Masih dalam kejaran...
Belum masuk jebakan...
Kalau Namjoo pilih Lixuan..
Bangsawan dan seumuran...
Sudah ajukan lamaran...
Tinggal tentukan tanggal pernikahan..."
#Lagu Cita-Citata Perawan atau Janda Versi Crazy
Namjoo menatap horor melihat pamannya menari seperti orang gila. Ia segera mengambil sapu lidi di sebelahnya memukuli Junho dengan sapu itu.
"Hei! Hantu keluarlah dari tubuh pamanku!" teriak Namjoo.
"Aduh! Aduh!"
Wuaaa, kelihatannya Namjoo mengira pamannya kesurupan.
***
Bomin sudah bangun dari acara pingsannya. Yeah, dia pingsan lama sekali sampai-sampai Eunjin dan Byungjin khawatir. Memang hanya dua orang itu yang menjaga Bomin. Anak-anak dan Junho disuruh keluar saja agar tidak merusuh.
"Eunjin-ah ... Hauss.." keluh Bomin.
Eunjin segera mengambilkan Bomin air minum. Byungjin akhirnya bisa bernafas lega melihat istrinya sudah sadar. Astaga, ini baru lamaran tapi Bomin sudah pingsan.
"Sayang, apa salahku sampai-sampai anak kita terlalu cantik? Genku terlalu banyak menurun padanya sampai-sampai dia dilamar di usia yang masih muda. Pesonanya memang kuat sekali. Bahkan gadis-gadis yang umurnya dua puluhan ke atas yang hingga sekarang belum dilamar kalah olehnya!" Bomin menerawang.
Eunjin hanya bisa menghela nafas. Ini Bomin sedang memuji dirinya sendiri, memuji anaknya, atau khawatir dengan anaknya sih?
"Soal lamaran itu aku tak menyetujuinya! Namjoo masih muda belum pantas untuk menikah." ucap Byungjin tegas.
"Tapi kau tega menolak calon suami bermutu seperti Lixuan? Dia anak bangsawan dan pastinya hidup Namjoo terjamin bila bersamanya. Ini kesempatan sekali seumur hidup!" ucap Bomin.
"Hmm, benar juga."
Eunjin mengernyit. Bahkan pasangan ini dilema akan menolak Lixuan atau tidak?
"Sayang,"
"Hmm?"
"Aku ingin acara barbeque." ucap Bomin tidak nyambung.
"Apa?"
***
Karena permintaan ibu hamil yang tak boleh ditolak, mereka pun barbeque di depan rumah Eunjun. Acara dadakan. Bahkan Byunggyu dan Wooseok yang mendapat tugas belanja pun kelimpungan mencari bahan-bahannya.
"Wuaa ramainya!" jerit Bomin senang.
Ternyata bayinya mengerti situasi. Kalau ia tak meminta ini tadi, suasana di rumah ini pasti akan canggung karena kejadian saat sore. Tapi sekarang mereka tak ada waktu untuk canggung karena semua sibuk membuat acara.
Nayoung menatap Byunggyu. Apa sekarang saja ia bicara pada Byunggyu? Walau ia tak yakin tentang ini, tapi ini akan menentukan jalan hidupnya kedepannya. Ia tak ingin dijodohkan dengan Han Xieyu! Tidak mau!
"Oh Byunggyu, bisa kita bicara sebentar?" pinta Nayoung.
Byunggyu menatap Gaeun yang berada di sebelahnya. Gaeun tersenyum mengerti dan menggantikan Byunggyu untuk memanggang daging.
"Ada apa?" tanya Byunggyu setelah mereka sampai di tempat yang agak sepi.
"Kau ingin pulang cepat dan kembali ke sekolahkan?" tanya Nayoung.
"Tentu saja."
"Kalau begitu jadilah kekasihku." ucap Nayoung serius.
Byunggyu melongo. Tunggu! Nayoung bilang apa tadi?
"Oh Nayoung, kukira kau menyukai Wooseok? Aku tak menyangka kau menyimpan perasaan seperti itu padaku!" jerit Byunggyu tak percaya.
"Diamlah, bodoh! Aku memang tak menyimpan perasaan seperti itu padamu! Membayangkannya saja aku sudah merinding!" Nayoung bergidik ngeri.
"Lalu untuk apa kau memintaku menjadi kekasihmu?" tanya Byunggyu.
"Jadi begini....."
#Flashback
Setelah kerusuhan itu mereda, Nayoung mengajak Lixuan bicara berdua. Yeah, agak aneh karena harus bicara serius dengan bocah kecil. Tapi mau bagaimana lagi? Lagipula Nayoung yakin Lixuan sama tidak polosnya dengan Nayoung saat ia masih kecil.
"Apa maksudmu melakukan semua ini? Bukannya kau menyetujui perjodohan itu?" tanya Nayoung heran.
"Hmm, aku tahu aku tampan dan kau pasti kecewa dengan keputusanku yang tak ingin menikahimu. Tapi maaf Kak, aku mencintai Namjoo dan harus menolakmu." ucap Lixuan percaya diri.
Nayoung tiba-tiba merasa mual mendengar kata-kata Lixuan yang baginya menjijikkan. Siapa juga yang kecewa? Nayoung hanya tak ingin Namjoo menjadi mainan bocah yang ada di depannya ini. Bagaimanapun Namjoo adalah anak dari muridnya.
"Sudahlah katakan saja alasanmu." ucap Nayoung malas.
"Awalnya aku menerima perjodohan itu karena aku mendengar Namjoo akan menikah dengan pria lain." ucap Lixuan sedih.
Tunggu! Apa yang dikatakan bocah ini? Namjoo akan menikah? Ada-ada saja! Siapa yang cukup gila untuk menikahi anak kecil seperti Namjoo? Satu-satunya yang segila itu bukannya hanya bocah ini?
"Tapi setelah tahu pria yang disukai Namjoo adalah sepupunya sendiri membuat semangatku bangkit kembali. Lagipula pernikahan antara sepupu yang sedarah itu dilarang bukan?" Lixuan menyengir kuda.
"Jadi perjodohan itu batal?" Nayoung menjerit senang.
"Tidak, mungkin bagiku iya. Tapi dari pihak nenekmu sepertinya akan kembali menjodohkanmu dengan Kak Xieyu." ucap Lixuan.
Semangat Nayoung menurun kembali. Lixuan mencoba membantu Nayoung sebagai kompensasi karena memutuskan perjodohan mereka secara sepihak.
"Ada dua pilihan yang kau miliki." ucap Lixuan.
"Apa itu?" tanya Nayoung.
"Terima saja perjodohanmu dengan Kak Xieyu atau berpacaranlah dengan Oh Byunggyu." sarannya.
Tunggu! Apa Lixuan bilang tadi? Berpacaran dengan Byunggyu? Kenapa Byunggyu dikaitkan dengan masalah mereka?
Lixuan yang mengerti dengan kebingungan Nayoung pun menambahkan, "Bila aku menikah dengan Namjoo, maka Byunggyu hyung juga akan menjadi salah satu keluargaku. Tujuan nenekmu hanyalah agar kau menikah dengan salah satu dari keluargaku."
"Mengapa kau percaya diri bahwa kau akan diterima oleh Namjoo? Lagipula aku takkan menjalin hubungan dengan siapapun kecuali Woseok!" ucap Nayoung tegas.
"Kau ingin tahu mengapa aku percaya diri? Jawabannya adalah karena kau akan membantuku. Kau tak punya pilihan lain! Beritahu tentangku pada nenekmu dan berpacaranlah dengan Kak Byunggyu lalu buatlah masalah dan... boom!!! Putus dengannya maka masalahmu selesai." ucap bocah itu.
Nayoung tercengang. Ia tak tahu ada bocah yang sepintar dirinya saat ia masih menjadi gadis kecil dulu! Tapi satu hal yang membuat Nayoung khawatir. Apa Byunggyu mau membantunya?
#flashback end
Byunggyu mengangguk mengerti setelah mendengar cerita Nayoung. Sebenarnya ia ingin membantu. Tapi....
Ia menatap Gaeun yang saat ini berbicara pada Bomin. Gaeun terlihat manis saat tertawa karena lelucon ibunya.
"Aku ingin membantu tapi aku takut Wooseok dan Gaeun salah paham mengenai ini." ucap Byunggyu.
"Kita beritahu mereka. Ayolah! Ini menyangkut masa depanku! Kau sahabatku bukan? Kau adalah lawan yang tepat bila ingin melawan nenekku." rengek Nayoung.
Byunggyu menatap Nayoung sekali lagi. Ia menghela nafas lalu mengangguk membuat Nayoung menjerit girang. Byunggyu kembali ragu. Keputusannya sudah benar kan?
***
Gaeun menatap Byungyyu yang pergi menjauh bersama Nayoung. Padahal dulu saat mereka masih kanak-kanak, Nayoung tak dekat dengan Byunggyu. Tapi sekarang Nayounglah yang paling dekat dengan Byunggyu dan Wooseok. Entah mengapa Gaeun sedikit merasa, eumm... Cemburu?
Gaeun menatap Wooseok yang menggoda Namjoo. Mungkin mengenai lamaran itu. Gaeun tersenyum melihat pipi Namjoo yang menggembung kesal.
"Gaeun-ah aku juga ingin membantu!" ucap seseorang.
Gaeun menoleh dan mendapati Bomin yang menyengir padanya.
"Kak Bomin duduk saja. Nanti lelah bila berdiri terlalu lama." ucap Gaeun perhatian.
"Tapi aku ingin membantu!" Bomin menggembungkan pipinya.
"Kakak jadi mirip dengan Namjoo sekarang!" Gaeun tertawa.
"Tentu saja. Bila tak mirip kau harus meragukan Namjoo anak siapa. Siapa tahu saja dia anak Junho yang terdampar di rumahku?" canda Bomin.
Sekali lagi Gaeun tertawa. Bomin tersenyum.
"Ada apa? Tadi kulihat kau melamun." tanya Bomin.
Gaeun menghela nafas. Ia menatap pada Nayoung yang sedang berbicara serius pada Byunggyu.
"Sebenarnya selama ini aku selalu merasa iri pada Nayoung. Dia pintar, cantik, dan mempesona dengan caranya sendiri. Ia juga benar-benar cocok dengan Wooseok dan Byunggyu. Aku merasa tak pantas menjadi sahabat mereka. Aku hanya gadis biasa. Benar-benar berbeda dengan mereka bertiga." ucap Gaeun.
Bomin tersenyum. Ia sebenarnya bingung mengapa Gaeun merasa tak pantas? Gaeun juga cantik! Sebenarnya Gaeun juga tergolong gadis yang pintar, hanya saja ketiga sahabatnya saja yang IQnya kurang normal. Gaeun juga menawan! Buktinya ia bisa menaklukkan Byunggyu.
"Dengar! Kau tahu bukan mereka abnormal dan cenderung gila?" tanya Bomin.
Gaeun mengangguk.
"Mereka butuh kau untuk menetralisir kegilaan mereka. Hanya kau yang normal di antara mereka. Jadi kau pantas dan harus tetap bersama Nayoung, Wooseok dan Byunggyu. Kau bisa mengingatkan mereka bila apa yang mereka lakukan salah dan sudah kelewatan." tambah Bomin.
Gaeun tersenyum. Ah, Bomin memang pandai menyemangati orang lain! Walaupun cara menyemangatinya harus dengan menjelek-jelekkan anaknya.
"Aku mencium bau gosong. Apa dagingnya tidak apa-apa?" tanya Byungjin.
Kedua wanita itu terbelalak dan memandang daging yang ada di atas panggangan. Oow!
Junho yang menyadari hal itu segera memindahkan daging yang gosong tadi ke atas piring. Anehnya, Bomin terus memandangi daging yang gosong itu.
"Bayiku menginginkan daging yang gosong itu..." Bomin dengan nada memelas menyodorkan tangannya meminta piring yang dipegang Junso, "Berikan!"
Junho, Byungjin dan Gaeun menatap Bomin horor. Mereka bersamaan berkata...
"Tidak boleh!"
***
Makassar, 25 Mei 2016