Kebenaran Terungkap...

2143 Kata
“ Alankar!” Teriak sosok itu berlari mengejar Alankar yang rela mengejar bus yang berangkat beberapa waktu lalu. Sosok itu menoleh dengan peluh yang membuat senyum di wajahnya terlihat semakin sexi. Alankar benar benar mempesona seperti apa yang dikatakan orang orang. Seragam SMU nya terlihat basah, tentu saja, anak sultan berlari sejauh itu. Biasanya ia selalu membawa mobil atau motor mewahnya ke mana mana. Melihat gadis itu mengulas senyum di belakangnya, Alankar tertawa. Itu gadis yang sama, gadis yang Alankar lihat di tembok kamar Regan waktu itu. Wajah orientalnya begitu manis, dengan gigi kelinci cantik yang begitu indah saat ia mengulas senyum “ Aku kira kau benar benar pergi. Jadi aku pikir bus tadi... Alankar mengusap rambutnya yang penuh keringat jengah. Gadis itu menghampirinya, memberinya sapu tangan “ Kau pikir aku pergi menaiki bus itu dan kau mengejarnya!” Tanyanya manis “ Itu konyol bukan. Astaga! Ginjalku bahkan terasa nyeri berlari secepat itu.” Canda Alankar kemudian tertawa renyah. Tawa yang sekarang sudah hilang entah ke mana bersama jasadnya yang kaku. “ Apa kau begitu mencintaiku?” Tanya wanita itu “ Apa aku harus mati untuk membuktikannya?” Tanya Alankar memasang wajah serius. Gadis di depannya mengulas senyum “ Tidak, hanya saja ini begitu luar biasa. Aku Maria, hanya gadis sederhana. Aku bahkan masuk ke sekolahmu dengan jalur beasiswa. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan hati seorang pangeran.” Senyum gadis itu senang. “ Ayo!” Alankar mengulurkan tangannya. Gadis bernama Maira itu mengernyit tidak mengerti “ Ayo! Aku akan menunjukkan sesuatu yang akan membuatmu yakin.” Ajaknya lagi. Mariapun menjawab tangannya kemudian berlari bersamanya menuju bukit di dekat taman. Mereka mengatur napas yang tersenggal setibanya di sana. Sore itu taman tampak begitu sepi, tidak seperti biasanya, lampunya pun tidak menyala. Lalu tiba tiba... Klek Semua lampu menyala di depan Maria. Tak hanya itu, ada tulisan yang dibentuk dari bunga mawar kesukaannya di depan. Tulisan bertuliskan ... I LOVE YOU MARIA Maria meneteskan air mata terharu. Apalagi saat Alankar bersujud di depannya mengulurkan tangan “ Kau suka segala hal yang sederhana bukan? Kau suka semua yang berasal dari alam. Aku bisa saja membelikanmu berlian atau sesuatu yang mahal. Tapi kau tidak menyukai hal itu. Karena itu aku meminta bantuan Radit untuk membuat semua ini. Jangan pergi! Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya Alankar Tentu saja, Maria sangat bahagia. Awal pertemuannya dengan Alankar mungkin tidak terduga. Alankar hampir menabraknya saat pertama masuk sekolah, gadis itu bahkan berani membela saat Alankar membully beberapa siswa, ia satu satunya gadis yang melihat Alankar bukan dari kaya atau wajahnya, dia juga tidak mengejar Alankar seperti yang lainnya. Itu membuat Maria terlihat istimewa “ Aku mau.” Jawab Maria kala itu membuat Alankar menjadi pemuda paling berbahagia di dunia ini. Sejak ada Maria, Alankar berubah. Ia menjadi lebih baik dan sopan, ia lebih bisa menghargai orang lain. Cintanya pada Maria membuat sisi kemanusiaannya semakin baik. Alankar bahkan sering membantu Maria membagikan bantuan, meringankan beban anak anak panti asuhan dan lain sebagainya. Hingga hari itu... “ Al.” Maria menolak saat Alankar hendak mencium bibirnya di mobil. Gadis itu menghindar, matanya terlihat ragu. “ Kenapa?” Tanya Alankar mengernyit. Ini bukan yang pertama, Maria sering menolak dirinya beberapa kali. “ Aku tidak bisa melakukan hal itu.” Ujar Maria. Mendengar hal itu, Alankar mengulas senyum. Ia berpikir, Maria mungkin berbeda. Ia sangat menjaga diri, berbeda dengan semua gadis yang ditemui Alankar sebelumnya “ Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Senyum pemuda itu, menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju pergi. Sepanjang jalan, Maria tidak berhenti menatap wajah Alankar, seakan... Ia benar benar merasa bersalah. Tapi apa yang membuat Maria merasa bersalah? Itu terjawab saat malam menjelang. Malam itu, Alankar sengaja membeli sebuah cincin untuk Maria, cincin dengan permata putih yang begitu cantik. Ia ingin membawa cincin itu ke rumah kekasihnya, dengan buket mawar merah di tangan. Alankar sengaja tidak memberi tahu Maria bahwa hari itu adalah hari Anniversary hubungan mereka. Alankar sengaja memarkir mobilnya jauh agar suara kedatangannya tidak terdengar. Dengan senyum senang, pemuda itu melangkah melewati pagar. Ia bahkan menyewakan sebuah rumah agar Maria tetap di daerah itu, rumah yang cukup besar dan nyaman, semua kebutuhan Maria Alankar cukupi walaupun gadis itu tidak memintanya. Itu karena Alankar sangat mencintainya. Tapi... Malam itu, tidak biasanya Maria tidak mengunci pintu, Alankar bahkan melihat ada sepatu lain di depan rumah. Alankar membuka pintu itu pelan, benar saja, terdengar suara desahan ringan dan canda tawa renyah dari kamar Maria. Alankar melangkah pelan ke sana, mengintip dari pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Air matanya langsung menetes menyaksikan apa yang terjadi. Maria tampak sedang b******a dengan sahabatnya sendiri, Radit ( Ayah Regan ). Sosok yang bahkan membantu Alankar untuk mendapatkan Maria. Mereka menghianati Alankar, dan Maria tidak sesuci yang Alankar bayangkan. Ia bahkan terlihat menikmati semuanya. “ Sayang, bagaimana jika Al tahu? Sampai kapan aku harus berpura pura mencintainya?” Tanya Maria pada Radit “ Sabarlah, semenjak kedatanganmu. Dia menjadi lebih baik pada kita semua. Aku tahu, dia memang baik. Tapi... Setidaknya semuanya berjalan lebih baik lagi. Dia banyak membantu.” Senyum Radit kemudian mengecup bibir Maria mesra “ Aku sangat mencintaimu Radit.” “ Aku juga.” “ Kau tidak akan meninggalkanku kan? Aku rela melakukan apa pun untukmu.” “ Tidak akan.” Mereka kemudian tertawa renyah, tertawa bagai tak pernah menyakiti hati siapa pun. Hal itu, membuat Alankar rapuh. Ia melangkah mundur, menjauh kemudian menghilang. Lalu keesokan paginya... “ Kau mengajakku bertemu?” Tanya Maria dengan wajah tanpa dosa. Di sekolah itu, Maria bebas masuk ke ruang mana pun. Tidak ada yang berani melarang kekasih Alankar bukan? Pemuda itu berbalik kemudian mengulas senyum pucat. Ia menyerahkan kotak cincin ke hadapan Maria “ Aku teringat wajahmu saat melihat ini. Kumohon jangan menolaknya.” Tutur Alankar membuka kotak itu. Maria tersenyum senang “ Ini sangat manis.” Ujarnya menyematkan cincin itu ke jarinya. “ Ya, sangat manis. Sama sepertimu. Aku hanya ingin mengatakan hal ini, terima kasih sudah datang.” Tutur pemuda itu pucat “ Kau baik baik saja?” Tanya Maria hendak menyentuh kening Alankar. Tapi... Pemuda itu menghindar “ Aku baik baik saja.” Senyum Alankar dusta “ Kalau begitu, aku ke kelas dulu ya. Jangan lupa makan tepat waktu. Jika butuh kau bisa meminta anak anak memanggilku.” Ujar Maria mengusap lengan putih Alankar kemudian beranjak ke luar dari ruang OSIS itu. Kenapa... Alankar yang awalnya berniat memutuskan hubungan dengannya justru tidak bisa melakukan hal itu? Kenapa ia begitu mencintai Maria yang dengan tega telah menghianatinya? Alankar marah pada dirinya sendiri, ia kemudian ke luar dari ruang OSIS. Dan... Brak Ia hampir saja menabrak Qian culun yang hanya mengulas senyum meminta maaf. Lagi pula, Alankar tidak akan marah bukan? Namun... “ Berani sekali kau!” Alankar memegang kerah kemeja Qian dengan wajah sangar. Emosi pada Maria membuatnya membenci siapa pun yang ia temui dan membuat kesalahan “ Ma-maaf. Aku tidak sengaja Al.” Ujar Qian takut “ Lari di lapangan 50 putaran! Atau aku akan mengeluarkanmu dari sekolah ini!” Ancam Alankar Semua orang memperhatikan dirinya. Ya, sejak saat itu... Alankar bahkan berubah menjadi lebih egois dari apa yang dibayangkan. Ia suka menyiksa Radit dan lainnya tanpa alasan. Tapi, ia tidak mau memutuskan hubungannya dengan Maria. Cintanya pada Maria membuat Alankar menjadi pemarah, pemurung dan juga diktator. Sore itu, sebelum pulang sekolah, banyak siswa yang meminta agar Maria bicara dengan Alankar dan mengembalikan Alankar seperti dulu. Maka, Maria mengajak Alankar bertemu di perpustakaan. “ Aku tidak suka dengan sikapmu saat ini Al, kau berubah. Kenapa kau seperti ini? Di mana Alankar yang dulu?” Tanya Maria berkaca kaca duduk di hadapan pemuda itu. Alankar hanya mengulas senyum sinis kemudian melanjutkan membaca buku dengan kacamata minus yang menambah pesona. “ Al... “ Lalu kau mau apa? Apa aku harus menjadi seperti yang kau mau? Jika kau mau kau bisa meninggalkanku.” Celetuk Alankar yang entah kenapa membuat hati Maria sakit kala itu. Pemuda itu menatapnya tajam “ Al, kenapa kau jadi begini? Apa karena aku tidak pernah menuruti keinginanmu dalam hal seks kau menjadi sedingin ini? Kalau itu maumu, aku akan melakukannya sekarang.” Tutur Maria “ Kau pikir aku mencintaimu karena nafsu? Kalau itu yang kau pikirkan kau salah. Aku tulus mencintaimu, bahkan kalau kau mungkin menghianatiku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Tutur Alankar dengan wajah memerah Deg Wajah Maria seketika berubah menjadi pucat. Apa Alankar sudah tahu semuanya? “ Al.. bagaimana mungkin aku bisa menghianatimu. Kau begitu baik.” Tutur Maria menggenggam tangan Alankar yang menatapnya kelu “ Itu juga yang aku pikirkan. Bagaimana mungkin kau menghianatiku? Sudahlah, aku ada les private dan harus pulang. Minta antar pada Radit ya, aku tahu dia menunggumu di belakang sekolah.” Alankar kemudian berdiri dan beranjak meninggalkan Maria yang menggigit kukunya cemas. Benar saja, Radit memang menunggu Maria di belakang sekolah. Kenapa Alankar bisa tahu? Apakah Alankar sudah tahu semuanya? Tidak, kenapa rasanya Maria tidak rela kehilangan Alankar.. ia menangis sedih di perpustakaan itu. Apakah Maria mulai menyukai pemuda itu? Di sana, Alankar melaju pulang ke rumahnya dengan perasaan luka yang teramat sangat. Ia bertemu dengan Miss. Jenn yang menjadi guru private nya. Tak hanya mengajar, Miss. Jenn mampu menjadi teman Alankar. Walaupun Miss. Jenn tahu, Alankar tidak benar benar mencintainya, Miss. Jenn rela melakukan segalanya untuk Alankar bahkan meredakan emosinya di atas ranjang. Miss. Jenn terpikat dan jauh terperangkap dalam cinta Alankar. Ia bahkan rela menjadi guru honorer demi menemani Alankar di sekolah “ Maafkan aku Jenn.” Tutur Alankar usai mengsenggamai Miss. Jenn di ranjangnya siang itu. “ Kenapa? Aku menyukai ini. Aku ingin selamanya begini.” Ujar Miss. Jenn memeluk muridnya itu dalam satu selimut yang sama. Alankar meneteskan air mata.. “ Aku tidak akan pernah bisa mencintai siapa pun lagi. Aku hanya cangkang kosong. Sebentar lagi, aku akan menempuh pendidikan akhir di sekolahku. Setelah itu aku akan pergi ke luar negeri, mungkin dengan begitu, semua lukaku bisa pulih.” Tutur Alankar “ Lupakan aku!” Ia memegang pipi Miss. Jenn lembut. Miss. Jenn meneteskan air mata, tak berkata sepatah kata pun kemudian memeluknya erat. Entah kenapa, ia merasa ... Ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Alankar lagi, untuk selamanya Ternyata, hari itu... Memang hari terakhir ia melihat Alankar. Tapi bukan karena Alankar pergi ke luar negeri, melainkan... Karena Alankar ditemukan terbunuh di perpustakaan itu 2 hari kemudian. Hari terburuk bagi Miss. Jenn dan Maria yang hanya bisa terdiam menangis tanpa suara, selama beberapa hari, Maria hanya bisa menangis dan mengutuk dirinya sendiri. Itu kabar yang beredar di sekolah saat itu, Maria begitu tertekan dan depresi. Seminggu kemudian, Maria menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi, dia bahkan tidak mengurus surat kepindahan sekolah. Dengan kata lain, Maria memutuskan menghentikan pendidikannya. Dan tak ada yang tahu di mana dia sekarang. ----***----***----***---- Regan terdiam bergeming. Bola matanya meneteskan air mata, tangannya gemetar membaca semua kisah itu. Kisah yang ditulis di dalam sebuah catatan yang ditemukan Profesor Sammuel dari dalam rumah megah tua yang ternyata dulu adalah rumah yang dulu diberikan Alankar untuk Maria. Rumah yang sekarang tampak tidak terurus. Entah siapa yang menulis catatan itu dan meletakkannya di sana, yang jelas, sekarang Regan tahu apa yang sebenarnya terjadi. “ Lihat ini nak!” Profesor Sammuel menyerahkan lembar biodata Alankar. Ia juga menyerahkan daftar yang diberikan administrasi sekolah untuk siswa angkatan Alankar 40 tahun yang lalu. “ Di daftar ini semua nama siswa ada. Kecuali Alankar, jadi kemungkinan dia memang ditiadakan.” Regan membaca daftar nama itu satu persatu. Tapi... Deg Tatapannya terhenti pada beberapa nama. “ Semua siswa di kelas itu rata rata meninggal di usia muda. Ada yang terkena stroke, ada juga yang kecelakaan pesawat dan terpaksa menyerahkan anak mereka ke panti asuhan seperti Yusef. Dia putra Harri, salah satu rekan Alankar yang meninggal karena kecelakaan pesawat bersama seluruh keluarganya. Yusef diberikan di panti asuhan lalu kemudian diadopsi oleh Qian.” Tutur Profesor Sammuel Regan tercekat “ Ja-di semua yang meninggal ada hubungannya dengan Alankar? I-ini Jack Al debaran. Dia ayah Jennie yang meninggal malam ini. Dia juga teman sekelas Alankar? Ada apa ini Prof. Kenapa semuanya seakan sangat berkaitan? Dan Radit... Radit itu... Dia ayahku. Jangan jangan...” Regan langsung berdiri dari duduknya dengan wajah pucat Ya, benar, semua yang meninggal memiliki hubungan dengan Alankar. Orang tua mereka atau mereka sendiri adalah teman sekelasnya. Kenapa Alankar membunuh mereka semua. “ Prof, saya harus segera ke rumah sakit. Saya takut, ayah saya... “ Pergilah!” Maka Reganpun berlari ke luar dari rumah itu dengan jantung berdebar Benar saja, di sana... Di ruangan yang sama dengan ayah Alankar, di ruangan gelap itu... Alankar berdiri di sisi ayah Regan yang masih tak sadarkan diri. Pemuda itu mengulas senyum dengan mata berkaca kaca “ Aku tidak pernah menyakiti siapa pun tanpa alasan kan Radit. Lalu kenapa kau menyakitiku tanpa alasan. Tak apa aku dikenal jahat, asal aku bisa membalas semua pengkhianatanmu.” Tuturnya kemudian mengarahkan belati itu ke d**a Radit Kau harus mati!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN