Manusia Atau Bukan...
" Kutuk aku!" Teriaknya berbarengan dengan kaca kaca jendela yang pecah bersamaan.
Darah di pelipisnya mengalir deras, menyebarkan bau anyir yang semakin pekat, gemuruh kilat menyambar di langit lepas b*********a bersama malam yang pekat. Rasa takut mulai menyeruak di iris ambernya, rasanya dingin, sangat dingin, seakan sesosok tubuh memeluknya dalam beku kemudian menghilang membawa jiwanya pergi. Meninggalkan raga yang tergeletak tak berdetak
1 tahun yang lalu...
Tap tap tap
Ia menghentikan langkah di depan gerbang sebuah sekolah. Sekolah yang cukup ternama SMU Adirangga. Tempat yang hanya menerima siswa siswa populer, atlit yang berprestasi atau mereka mereka yang berduit serta memiliki orang tua berdasi. Diantara 2500 siswa yang mendaftar, hanya 200 siswa yang diterima setiap tahunnya, termasuk gadis muda bermata amber itu, Anindi Regantara. Gadis berusia 17 tahun, berambut coklat pekat sepinggang, tinggi semampai dengan kulit putih dan wajah cantik yang pasi. Ia mengulas senyum tipis kemudian melanjutkan langkahnya. Hingga...
Seseorang menghadang ia yang hendak memasuki koridor menuju kelas 1A Biologi. Seorang pemuda yang tampak mengenalnya dengan cukup baik
" Minggir!" Pinta gadis yang akrab dipanggil Regan itu. Raut wajahnya tak suka, ia bahkan enggak menatap paras pemuda di depannya
" Hmm rupanya kau juga diterima di SMU ini? Ternyata standart sekolahku menurun tahun ini ya." Sindir pemuda itu membuat Regan mengambil napas berat hendak beranjak. Tapi, lengannya tertahan
" Tatap mataku saat aku bicara!" Tekannya
" Kleo, aku tidak ingin bertengkar. Biarkan aku lewat. Setidaknya bersikap baiklah di sekolah." Pinta gadis itu mengangkat wajah cantiknya, menatap iris coklat pemuda di depannya. Tak butuh berapa lama, beberapa siswa sudah memperhatikan mereka.
Ya, ia adalah Kleoandra Baskara. Sepupu langsung dari Regan, ibu Kleo merupakan saudara kembar dari ayah Regan. Akan tetapi, ia tidak pernah menyukai Regan sejak kecil. Terlebih, Regan adalah anak broken home. Ibu Regan mengakhiri hidupnya setelah 2 hari bercerai dari ayahnya dengan cara gantung diri dan itu terjadi saat Regan masih sangat kecil. Setelah itu, ayah Regan justru menjadi pengangguran, setiap saat datang ke rumah keluarga Kleo hanya untuk meminta bantuan keuangan atau makanan pokok. Itu membuat Kleo membenci Regan dan ayahnya, menganggapnya sebagai beban.
" Aku ingin tahu, kau masuk ke sekolah ini dengan jalur apa? Membayar atau menjual diri?" Pertanyaan Kleo tentu membuat Regan emosi dan hendak mengangkat tangannya ingin menampar. Hanya saja, Kleo menahan lengannya
" Jangan sembarangan bicara! Aku sekolah di sini karna prestasiku. Jika kau tidak suka cukup diam dan anggap aku tidak ada. Mengerti?" Jawab Regan dengan mata berkaca kaca lalu menarik lengannya lepas dari cengkraman Kleo
Pemuda itu mengulas senyum sinis. Melangkah semakin dekat, bahkan napasnya menyapu wajah Regan yang sudah mulai memerah
" Aku ketua OSIS di sini. Aku berhak bertanya, menghukum dan mengizinkan. Kau harus mematuhi aturan yang aku buat. Jika tidak, aku akan membuatmu menyesal sudah berani menginjakkan kaki di SMU Adirangga ini!" Ancamnya.
" Ada apa ini?" Tanya seseorang yang seketika membuat wajah sangar Kleo berubah menjadi manis, tangan yang tadinya ingin menyakiti Regan justru berubah menjadi uluran hangat saat seorang pria tua dengan name tag Kepala Sekolah melangkah ke arahnya.
Di sisinya, seorang wanita paruh baya tampak tersenyum manis ke arah Regan
" Kenapa ribut ribut di sini? Kelas sebentar lagi akan dimulai." Tuturnya tegas
" Saya hanya ingin menyapa murid baru pak, selamat datang Anindita Regantara. Selamat bergabung di SMU kami dan semoga betah di sini ya." Ujar Kleo mengulurkan tangan, Regan menyambut uluran tangannya dengan senyum hambar.
" Kembalilah ke tempatmu Kleo, saya meletakkan beberapa proposal yang harus kamu kerjakan di sana!" Perintah kepala sekolah itu yang langsung disambut anggukan patuh oleh Kleo. Pemuda itu menatap Regan penuh kebencian sebelum akhirnya melenggang pergi.
Prof. Sammuel, kepala sekolah SMU Adirangga itu hanya menatap Regan sekilas kemudian beranjak pergi. Ya, begitulah yang Regan dengar selama ini. Profesor itu memiliki sikap yang dingin, tegas namun sangat disegani.
Sebaliknya, wanita paruh baya tadi justru tersenyum mendekati Regan.
" Kelas berapa?" Tanyanya manis, sangat ramah. Dipadu dengan wajahnya yang cantik walau cukup berumur.
" 1A Biologi." Jawab Regan segan
" Namamu siapa? Kamu sangat cantik." Tanya wanita itu lagi
" Anindita Regantara."
" Nama saya Miss Jenn. Saya adalah guru sejarah di sini. Semoga kamu betah ya, dan kalau ada sesuatu yang mengganggu seperti Kleo tadi. Kamu bisa menemui saya." Tutur wanita itu memegang pundak Regan kemudian beranjak pergi.
Dingin, tangannya terasa begitu dingin...
Apa ia sedang sakit?
Regan menatap kepergian Miss Jen hingga menghilang di sebuah ruangan. Sebaliknya, orang orang di sekitarnya menatap Regan aneh. Iapun tak perduli dan memutuskan meneruskan langkahnya mencari ruangan kelas 1A Biologi.
Hari itu, sekolah dimulai dengan santai. Hanya ada materi sambutan dan pengenalan setiap guru yang akan memberikan materi kepada mereka selama satu semester ke depan. Regan memilih kursi paling belakang di dekat jendela untuk duduk. Sesekali ia memijit pelipisnya yang masih terasa nyilu. Ada bekas luka di sana, seperti bekas jahitan yang ditempeli plaster. Kejadian 3 bulan lalu masih suka mengganggu pikirannya, membuat Regan trauma dan lebih memilih berjalan kaki dari rumahnya dari pada harus menaiki kendaraan umum.
Regan hampir saja mati tiga bulan yang lalu, jika tak ada seorang pemuda misterius yang tiba tiba mengulurkan tangan padanya sebelum akhirnya angkot yang ia kendarai terbakar habis. Regan tidak bisa mengingat wajah pemuda yang menolongnya. Yang ia ingat hanya logo SMU Adirangga pada almamater yang dikenakannya serta aroma parfum yang tidak bisa Regan temukan di toko parfum manapun selama dua bulan ini. Itulah kenapa Regan memutuskan mendaftar ke SMU itu. Berharap bisa menemukan pemuda yang menyelamatkannya waktu itu. Karena tak ada yang Regan ingat selain sorot mata biru tajam yang menatap matanya sebelum akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri. Saat terbangun, waktu sudah berlalu dua minggu lamanya, Regan mengalami koma pasca operasi dibagian kepala. Membutuhkan waktu dua minggu sampai dokter mengizinkannya pulang.
Regan menghela napas jengah, menatap satu persatu siswa yang ia temui. Tidak ada sosok yang bahkan mendekati kemiripan dengan pemuda yang ia cari cari. Seandainya hubungan Regan dengan Kleo baik, mungkin ia bisa menanyakan tentang pemuda bermata biru itu pada Kleo. Bukankah Kleo adalah ketua OSIS di sana, ia pasti mengenal semua orang. Tapi Regan lebih memilih mati dari pada bertanya pada Kleo.
Jauh dalam lamunannya, tiba tiba...
Deg
Tatapan Regan terarah ke luar jendela. Bola matanya membundar melihat siapa yang tampak berjalan santai bersama Miss Jenn di koridor sana. Pemuda dengan almamater SMU Adirangga, rambut coklat terang yang sedikit curly, tubuh tinggi tegap, kulit yang putih pucat dan... Saat pemuda itu menoleh ke arah Regan karna merasa ada yang memperhatikan, Regan melihat sepasang iris biru yang indah di kedua matanya.
" Izin ke toilet pak, eh bu!" Regan langsung berdiri meminta izin pada guru wanita yang menjelaskan struktur sekolah di depan kelas. Tanpa basa basi ia langsung berlari ke luar ruangan. Mencoba mengejar bayangan pemuda misterius tadi. Setidaknya, ia harus mengucapkan terima kasih bukan?
Tapi, setelah lolos dari pintu kelas, Regan justru tidak melihat siapapun yang ia lihat dari kaca jendela tadi. Lorong dan koridor tampak kosong dan hening. Regan memutar pandangannya ke sana ke mari sembari mencoba menapaki jalan yang tadi dilewati pemuda bermata biru itu. Ia kembali mencari sosok itu dari sudut ke sudut sekolah. Hingga... Ada pantulan bayangan pemuda itu di cermin ruang BK. Regan segera menoleh ke belakang, tampaknya pemuda itu berjalan menuju asrama yang ditempatkan di belakang gedung sekolah.
" Dia bisa ke luar kelas di jam sekarang, itu artinya dia anggota OSIS bukan?" Gumam Regan hendak melangkah menuju asrama. Sebelum...
Deg
Seseorang memegang pundaknya. Regan menarik napas panjang saat menyadari itu adalah Mrs. Jenn
" Kenapa kamu berada di sini? Sepertinya kamu sedang mencari seseorang. Bisa saya bantu?" Tanya wanita yang sejak awal memang berkarakter lembut itu.
" I-itu s-saya mencari seseorang yang tadi bersama Mrs. Jenn di koridor sebelah sana!" Tunjuk Regan. Wanita berkisar 40 tahun itu mengulas senyum
" Tapi dari tadi saya berada di sini. Ini ruangan saya." Jawabnya menunjuk papan nama di atas pintu tempat ia ke luar barusan. Benar saja, itu ruangan guru sejarah. Lalu siapa yang tadi bersama pemuda itu? Apa mungkin Mrs. Jenn memiliki kembaran?
" Boleh saya bertanya sesuatu, Mrs?"
" Silahkan."
" Apa ada siswa di sini yang memiliki mata berwarna biru, rambutnya coklat cerah hampir kepirangan dan kulitnya putih bersih. Tingginya sekitar 174 cm?" Tanya Regan akhirnya.
Mrs. Jenn terlihat mengernyit, seakan pertanyaan Regan adalah pertanyaan yang mustahil di sana.
" Ada beberapa siswa blasteran di sini. Sebagian mereka ada juga yang memiliki warna mata berbeda. Tapi kalau setinggi itu saya rasa tidak ada. Kenapa?" Tanyanya menebak mimik wajah Regan yang tampak kecewa
" Tidak apa apa Mrs. Maaf saya sepertinya hanya salah lihat." Ujarnya
" Kembalilah ke kelas, siswi baru tidak boleh berkeliaran tanpa pemandu. Jika ada yang kamu cari, pergilah ke perpustakaan lama diujung jalan sana." Tunjuk Mrs. Jenn. Regan mengangguk hormat kemudian beranjak pergi.
Gadis itu menghembuskan napas berat. Benarkah yang ia lihat hanya halusinasi? Jika itu benar, berarti ia memang hampir gila. Halusinasi itu hampir mirip seperti nyata.
" Kau berkeliaran di sini? Kenapa? Melihat hantu lagi hmm?" Sebuah suara membuat Regan tersentak.
" Kenapa harus bertemu b******n ini di sini sih." Gerutunya mencoba mengabaikan Kleo kemudian segera bergegas
" Hei!! Kenapa kau muncul dari arah gudang lama!" Teriak Kleo yang akhirnya menghentikan kaki Regan. Gadis itu menoleh dengan kening mengernyit
" Gudang lama? Sepertinya kaulah yang mulai gila. Berhentilah menggangguku Kleo. Aku tidak ingin bermasalah denganmu." Jawab Regan kemudian meneruskan langkahnya.
Giliran Kleo yang menautkan alis
" Dibilangin gak percaya." Decaknya dengan beberapa tumpuk buku tua di tangan yang kemudian melangkah menyusuri jalan yang tadi dilalui Regan.
Anehnya, ruangan yang tadi Regan lihat sebagai ruang guru sejarah justru terlihat berantakan saat Kleo membuka kuncinya. Pemuda itu meletakkan buku itu dalam box kemudian bergegas ke luar dan mengunci pintu itu kembali. Ya, itu memang gudang. Lalu siapa yang tadi Regan temui di sana.
Orang bilang ada dua hal yang bisa membuat seseorang melihat dunia lain. Yang pertama adalah kemampuan dari lahir atau mata batin yang sengaja dibuka. Yang ke dua adalah mereka yang pernah hampir meninggal kemudian kembali hidup dengan keajaiban. Dan untuk pilihan ke dua hal itu merupakan kutukan. Inilah yang dialami Regan saat ia tersadar dari koma. Gadis itu seakan sesak melihat beberapa penampakan yang tidak seharusnya. Seakan alam lain berusaha mengatakan kalau Regan adalah milik mereka. Butuh 2 minggu bagi gadis itu melewati masa trauma dan beradaptasi dengan segala macam cara. Hingga akhirnya, ia kembali merasa normal lagi.
Tapi mungkinkah, Regan belum sepenuhnya pulih?
Saat kembali ke kelas, Regan terus memikirkan ucapan Mrs. Jenn tadi. Jika ia membutuhkan jawaban atau mencari sesuatu, ia harus pergi ke perpustakaan lama. Haruskah ia ke sana saja?
Jauh dalam lamunannya...
" Hei kau tidak ke kantin?" Sapa seorang gadis duduk di sisinya. Regan menoleh, dan seisi kelas tampak berhambur ke luar. Saking sibuknya dengan melamun, Regan sampai tidak mendengar bunyi bel.
" Aku Jessy. Salam kenal." Sapa gadis berambut sebahu itu mengulurkan tangan.
" Regan." Jawab Regan santai. Ia memang tidak terlalu nyaman berbicara dengan orang baru.
" Oh iya, kau ada hubungan apa dengan kak Kleo? Tadi pagi sepertinya dia mencegatmu di depan gerbang?" Pertanyaan Jessy membuat Regan mengerti, kenapa gadis itu repot repot menyapanya. Ia pasti salah satu dari penggemar berat Kleo. Sepupunya itu memang memiliki tampang lumayan yang bisa membuat siapapun jatuh hati.
" Dia sepupuku." Jawab Regan
" Wow, menyenangkan ya punya sepupu kak Kleo. Tampan dan pintar. Boleh aku menjadi temanmu?" Tanya Jessy dengan tatapan imut
" Percuma saja kau berusaha dekat denganku. Hubunganku dengannya tidak cukup baik. Jadi sebaiknya kau langsung mendekatinya saja." Senyum Regan dingin. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan hendak beranjak. Sebelum...
" Bantu aku dekat dengan kak Kleo. Aku berjanji akan membalas jasamu." Ucap gadis itu menghadang. Sepertinya ia tergila gila pada Kleo. Regan berpikir sejenak
" Please. Setidaknya berikan aku alamatnya." Pintanya
Regan menghela napas kemudian menatap iris gadis itu lekat
" Bagaimana kalau ikut aku ke perpustakaan lama. Aku akan memberimu nomor telfon dan alamatnya. Bagaimana?" Senyum Regan mengambil kesempatan. Tentu saja Jessy berbinar binar.
" Tapi... Perpustakaan lama kan..." Wajah cerianya berubah datar
" Kenapa?" Tanya Regan
" Rumornya, perpustakaan itu ditutup karna ada mayat yang ditemukan di sana. Orang bilang perpustakaan itu terkutuk." Jawaban Jessy justru membuat Regan tertawa
" Terkutuk? Hahaha kau kira ini abad 80 an masih percaya dengan hal begitu? Begini saja, kau ikut aku ke sana lalu aku akan memberimu nomor telfon kak Kleomu itu. Atau tidak sama sekali." Regan memberikan pilihan yang membuat gadis itu agak kesulitan berpikir
" Baiklah! Ayo!" Sanggupnya kemudian
--------*----*----*---------
15 menit kemudian...
Tempat itu sangat berdebu. Ada dua lantai yang sepertinya memang ditinggalkan tanpa tuan. Seperti diabaikan begitu saja. Banyak buku buku yang terpajang di raknya. Sebagian terlihat usang dan jatuh ke lantai. Sebagian raknya bahkan terlihat sangat lapuk. Suasana di dalamnya mencekam karna minim penerangan.
" Berapa lama perpustakaan ini ditutup?" Tanya Regan penasaran
" Tidak tahu sih. Kata orang orang sekitar 45 tahun yang lalu." Jawab Jessy yang tampak mulai pucat
" Kenapa ditutup?" Tanya Regan lagi sembari menyenter ke sana ke mari
" Jangan bertanya di sini dong. Aku takut." Jawab Jessy
Regan melanjutkan langkahnya ke lantai 2. Hingga...
" Aw shhh!" Kakinya tersandung kayu tangga yang copot dari tempatnya. Rasanya sangat menyakitkan. Sebelum...
Ia menemukan potongan kertas di lantai. Potongan kertas yang menggambarkan foto. Cukup buram, tapi Regan bisa melihat wajahnya dengan jelas, senyumnya terbuka lebar.
" Aku menemukannya!!" Serunya menoleh ke arah Jessy yang tampak semakin pucat mematung
" Hei kamu kenapa?" Tanya Regan mengernyit
" Regan, aku kembali ke kelas saja ya. Rasanya badanku tidak enak. Gak apa apa kan?" Tanya Jessy pucat, mirip seperti orang ketakutan
" Ya tapi kan perjanjiannya kamu ha..." Belum selesai Regan berucap, Jessy sudah berlari ngacir ke luar dari gedung itu.
" Ck dasar penakut." Decak Regan menatap foto di tangannya. Ia mengulas senyum, setidaknya pemuda itu benar benar ada. Ia tidak berhalusinasi dan tidak gila. Ya benar, kertas foto di tangannya memperlihatkan wajah pemuda yang ia cari. Si pangeran bermata biru, ia terlihat mengenakan almamater sekolah itu. Wajahnya sedikit menunduk mungkin foto itu diambil diam diam. Sosok seperti dirinya pasti banyak yang memuja. Regan tersenyum hendak mengantongi foto itu ke dalam sakunya. Sebelum...
" Letakkan foto itu di bawah. Kau tidak berhak menyimpannya!"
Deg
Regan gemetar. Rasa kaget bercampur shock membuat tangannya gemetar hingga foto yang ia pegang terjatuh ke lantai. Matanya seakan tak bisa berkedip saat menoleh dan mendapati sosok yang ia cari berdiri di hadapannya dengan tangan dilipat di depan d**a.
Ia tampan
Benar benar sangat tampan
Jika benar wujud vampir dalam sinetron itu ada, maka ia lebih tampan dari itu
Kulitnya begitu putih bersih terawat seakan tidak pernah tergores seumur hidupnya
Sepasang mata dengan sorot tajam dan iris biru yang memikat
Hidungnya mancung dengan bibir kemerahan yang mengundang gugup pada siapapun yang melihat
Rambutnya terlihat sedikit curli berwarna golden brown.
Jika ada perwujudan dewa di dunia, maka ia adalah salah satunya.
Regan hampir tidak bisa mengeluarkan suara. Ia begitu gugup hingga lidahpun tidak sanggup bergerak. Tidak menyangka sosok yang ia cari akan sesempurna ini.
" Kenapa kau ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu ke tempat ini?" Tanyanya dengan suara tegas berwibawa yang seakan membuat Regan semakin ciut nyalinya
" Itu kak, aku... Hmmm begini, aku Regan." Regan mengulurkan tangannya. Namun pemuda itu hanya menatapnya dingin
" Aku tidak bertanya namamu. Kenapa kau berada di sini?" Tanyanya tegas
Busyet, ini cowok mukanya saja bak dewa. Sepertinya sikapnya sebelas dua belas dengan Kleo ~ batin Regan
" Aku mencarimu." Regan berusaha tenang
Pemuda itu mengernyit, yang sumpah demi apapun ia terlihat sexi.
" Kau ada di jalan Marionate pada jumat malam 3 bulan yang lalu kan?" Tanya Regan meyakinkan
" Untuk apa aku mengingat di mana diriku malam itu." Jawabnya tak sesuai harapan. Sikapnya benar benar seperti singa yang hendak menerkam
" Aku mengalami kecelakaan malam itu. Bus yang aku naiki terbalik dan aku hampir saja mati. Aku yakin kau adalah orang yang menolongku ke luar dari bus kan? Aku ingin mengucapkan terima kasih." Senyum Regan dibuat semanis mungkin.
Pemuda itu terdiam, sepertinya mengingat. Ia menatap Regan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu tiba tiba jawaban sarkatis ke luar dari bibirnya
" Aku tidak mengenalmu, tidak mengingatmu dan tidak perduli. Sebaiknya kau ke luar dari tempat ini dan jangan kembali lagi!" Perintahnya diktator
Deg
Regan meremas jari jari tangannya. Jujur, sikap ini bukanlah yang Regan kira. Selama ini ia berkhayal malaikat penolongnya adalah orang yang punya rasa kemanusiaan yang tinggi, baik hati, ramah serta rupawan. Tapi rupanya hanya point terakhir yang benar dari tebakan Regan. Padahal ia sudah menaruh hati saat pertama melihat sepasang mata biru itu. Jangankan disambut hangat, mengingat Regan saja pemuda itu tidak mau.
Ia berbalik hendak melangkah ke dalam perpustakaan.
" Tunggu!" Pinta Regan. Pemuda itu hanya berhenti lalu menolehkan wajahnya sebentar, memperlihatkan hidungnya yang terpahat sempurna.
" Apa aku boleh tahu namamu? Setidaknya hanya nama saja." Pinta Regan
Terlihat pemuda itu tersenyum dingin lalu kembali melangkah tanpa menjawab. Seakan akan Regan begitu tidak berarti baginya.
" Sial! Ayo Regan jangan menyerah! Ayo! Samperin dia!" Gumam Regan menyemangati dirinya sendiri.
Ia hendak melangkah mengikuti pemuda tadi. Tapi tiba tiba...
" Sedang apa kau di sini?" Tanya sebuah suara membuka pintu perpustakaan kasar.
Regan memutar matanya kesal. Ia bahkan hafal siapa pemilik suara itu tanpa menoleh. Yang menjadi pertanyaan, kenapa Kleo selalu ada saat ia mencoba mencari dewa penyelamatnya?
Benar itu Kleo.
" Ada urusan penting. Jadi aku mohon sekali saja jangan menggangguku." Pinta Regan menoleh
" Ke luar dari perpustakaan ini. Tempat ini tidak aman!" Pinta Kleo serius
" Aku ada urusan penting!" Tolak Regan
" Kalau kau membantah aku bisa melaporkanmu pada dewan keamanan dan kedisiplinan sekolah!" Ancam Kleo serius
" Kleo kapan sih kau mau mati!"
" Apa?"
" Tidak! Kau menyebalkan. Itu maksudku! Lagi pula jika tidak ada yang boleh ke sini, kenapa ada siswa di sini tadi?" Komentar Regan berkacak pinggang. Kleo mengernyit
" Siswa?"
" Ya dan sepertinya dia anggota OSIS. Kalau gak kenapa dia berkeliaran di jam begini?"
" Tidak ada siapapun di sini. Kau memang sudah gila! Ke luar dari tempat ini sekarang juga!" Tekan Kleo.
Regan menghembuskan napas berat, ia benar benar kesal
" Regan!"
" Iya iya! Gak perlu memaksa!" Celetuk Regan kemudian menuruni tangga dan menabrak pundak Kleo saat melewati pintu. Mereka memang seperti tikus dan kucing.
Seperginya Regan, Kleo menatap sekitar perpustakaan. Benarkah ada siswa yang lain di sana?
" Apa ada orang di sini?" Teriak Kleo mencoba menyenter seisi ruangan. Tapi tidak ada jawaban
" Halo? Apa ada seseorang di sini?" Teriaknya lagi
Hening, hanya suaranya sendiri yang memantul
" Sial, Regan mencoba membuatku terlihat gila sepertinya." Celetuk Kleo kemudian bergegas ke luar, menutup pintu dan menguncinya. Membiarkan ruangan itu kembali tenggelam dalam kegelapan
Dan saat pintu itu terkunci, wajah pemuda tadi kembali terlihat. Ia berdiri di lantai dua perpustakaan itu, menatap ke arah pintu, kemudian mengulas senyum yang menyeramkan
Kau pikir ini adalah akhir?
Tidak, ini hanyalah awal