Tabrakan Maut...

2366 Kata
Ting tong Bel tanda pulang sekolah terdengar menggema. Regan menghembuskan napas kesal. Seandainya tadi Kleo tidak menyuruhnya ke luar dari perpustakaan lama, mungkin ia sudah tahu siapa nama pemuda yang ia cari. “ Jessy!” Teriak Regan mendapati lengan Jessy di ambang pintu. Gadis itu terlihat pucat, ketakutan saat melihat Regan “ Kau mau menemaniku ke perpustakaan lagi? Aku ingin mencari tahu sesuatu. Aku janji aku akan langsung memberikan nomor Kleo padamu, kalau perlu alamatnya juga.” Bujuk Regan berbinar binar “ Regan lepas! Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut! Aku tidak mau!” Tolak Jessy melepas genggaman tangan Regan. Ia terlihat sangat ketakutan Gadis itu berlari ke luar dari pintu kelas, wajahnya terlihat begitu pucat. Ada apa dengannya? “ Jessy!!” Teriak Regan. Beberapa siswi juga terlihat aneh menatap Jessy Kleo yang ke luar dari kelasnya mengernyit Hingga... Saat Jessy hendak menyeberang Brak “ Aaarrkkhh!” Teriak para siswa menggema bersama dengan suara hantaman keras sebuah bus yang menghantam tubuh Jessy, menggilas hingga kepalanya pecah dan berhamburan ke jalan. Bau amis menyeruak tajam bersama dengan darah yang memuncrat ke segala arah. Kejadian itu begitu cepat dan mengerikan. Dalam sekejap, tubuh Jessy kejang tanpa kepala kemudian kaku tak bernyawa. Apa ini? Kenapa begini? Apakah perpustakaan itu benar benar terkutuk? Regan melangkah pelan menghampiri kerumunan, ia gemetar, tubuhnya lemas “ Ada apa dengan Jessy?” “ Ia terlihat sangat ketakutan?” “ Kenapa ia berlari ke tengah jalan?” “ Ya tuhan... Ini mengerikan!” Pandangan Regan tiba tiba berputar, lalu... Brak Ia tak sadarkan diri. ----***----***----***---- “ Regan.” Suara itu menggema di telinganya “ Regan.” Suara yang sangat ia kenal. Regan berusaha membuka mata Ia masih terbaring, sendirian, dengan seragam sekolah dan masih ditempat yang sama. Kenapa tidak ada yang menolongnya? Kenapa ia dibiarkan sendirian? Kenapa? Regan melihat sekelilingnya, sekolah itu sudah sangat sepi. Bekas darah kecelakaan tadi masih meniupkan bau anyir. Lalu siapa yang menyapa telinganya? Siapa yang membangunkannya? “ Hello! Apakah ada seseorang di sini?” Teriak Regan. Hening, tak ada siapa pun. “ Lebih baik aku pulang!” Regan bergidik, ia meraih cepat tasnya yang masih berada di dalam kelas. Hendak berlari pulang. Tapi... Brak Pagar sekolah tiba tiba tertutup. “ Regan.” Sapa seseorang di belakang Regan. Regan menoleh, dan saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya... Regan melangkah mundur, wajah cantiknya berubah pucat. Bagaimana tidak? Tampak Jessy berdiri dengan wajah penuh darah, menatapnya tajam, dengan napas yang tersenggal senggal. “ Regan, kenapa kau mengajakku ke sana? Kenapa kau mengajakku ke tempat itu? Ini semua gara gara kau! Kenapa Regan? Kenapa harus aku?” Tuturnya dengan suara yang serak. Darah segar mengalir dari celah celah lehernya. Ia berusaha mendekati Regan, menggapai seragamnya. “ Gak! Ini Cuma mimpi! Menjauh! Menjauh!” Teriak Regan melangkah mundur. “ Regan! Aku masih ingin hidup!” Jessy meneteskan air mata darah “ Aku ingin hidup!” Ujarnya Kletak Separuh kepalanya meleleh ke lantai, menyisakan penampilan yang mengerikan “ Aku masih ingin hidup.” “ Tidak! Kau sudah mati! Kau sudah mati! Ini tidak nyata!” Regan berusaha mundur. Hingga, kakinya tersandung. Ia hampir saja terjatuh ke tanah. Sebelum... Deg Seseorang tiba tiba menopang tubuhnya. Regan gemetar saat menatap siapa orang itu. Itu pemuda yang sama, pemuda yang ia cari selama ini. Sosok yang begitu rupawan namun sukar ditebak “ Pergi!” Perintahnya pada Jessy yang seakan ketakutan melihat wujud pemuda itu “ Aku bilang pergi!” Tekannya Sosok Jessy kemudian berteriak, suaranya menggema lalu tiba tiba tubuhnya menghilang bagai asap. Regan berdiri di atas kakinya. Ia menatap sosok itu detail, bola matanya berkaca kaca karna shock barusan “ Terima kasih.” Tuturnya Tapi, pemuda itu tak menjawab, ia justru berbalik lalu beranjak pergi “ Tunggu! Aku mohon tunggu!” Teriak Regan mengejar Sosok itu tidak mendengarkan, ia terus berjalan tak peduli “ Tunggu!!” Teriak Regan Hingga tiba tiba... Semuanya memudar, seluruh tempat mulai gelap, langit tampak pekat. Sebelum... “ Regan, kau baik baik saja?” Sapa seseorang memegang pundaknya. Regan membuka mata, keringat dingin membanjiri keningnya. Ia terbangun di ruang UKS sekolah, bersama seseorang di sisinya. Seseorang yang wajahnya saja membangkitkan emosi. Siapa lagi kalau bukan Kleo. Tapi kenapa Regan tiba tiba berada di sana? Bukankah ia berada di luar? Ah pasti itu Cuma mimpi. Setidaknya, Regan bernapas dengan lega, pertemuan dengan Jessy hanya mimpi belaka. “ Bisakah kau tidak merepotkan? Aku harus mengurus kematian Jessy dan kau tiba tiba pingsan. Kalau tidak kuat melihat darah setidaknya jangan sok berani.” Omel Kleo menatap Regan kesal. Regan mengambil napas berat, kenapa harus Kleo yang menolongnya? Ia berusaha duduk. “ Terima kasih. Tapi kau tidak perlu repot repot menolongku.” Ujar Regan tak kalah geram “ Oh begitu? Jadi menurutmu kau bisa membawa dirimu sendiri ke UKS? Kau pikir kau ini hebat? Tubuhmu sangat berat dan itu menyiksaku!” “ Aku heran kenapa banyak yang menyukai orang tengil sepertimu.” Gerutu Regan dengan suara pelan “ Apa?” “ Tidak apa apa. Aku mau pulang.” “ Aku akan mengantarmu! Kau bisa saja pingsan di tengah jalan. Dan itu akan semakin merepotkan.” “ Tidak perlu! Aku masih trauma dengan kendaraan.” Regan berusaha menghindar “ Aku memaksa dan kau harus mau.” Tekan Kleo, Regan menghela napas panjang. Sepanjang jalan ia pasti harus pasrah menerima omelan Kleo nantinya. Belum lagi rasa traumanya belum hilang. Tapi tidak, kenyataannya, Kleo tidak mengatakan sepatah kata pun saat menyetir mobilnya, ia hanya fokus pada jalan bahkan tidak melirik pada Regan di sisinya. “ Kleo.” Regan membuka suara Ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan. “ Apakah benar di perpustakaan lama itu ada kutukan?” Kleo meminggirkan mobil lalu menghentikan lajunya di sisi jalan “ Jangan pernah membahas tentang perpustakaan itu lagi. Jangan mengajak siapa pun ke sana. Jika sesuatu yang buruk terjadi, kau akan disalahkan. Cukup Jessy saja dan berhenti di sini. Apa pun yang ingin kau ketahui simpan saja di dalam pikiranmu.” Ujarnya penuh penekanan “ Tapi kenapa?” Regan mengernyit. Hal itu benar benar terdengar konyol “ Jangan bertanya, patuhi saja!” Tekan Kleo kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya dan membawanya melaju menyusuri jalanan kota yang pekat. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Regan. Tampak sosok pria tua sedang sibuk menyirami tanaman. Melihat ada mobil Kleo mendekat, ia segera meletakkan apa yang dipegang dan langsung berlari menyambut. “ Turunlah! Aku harus pulang.” Celetuk Kleo tak suka. Ia memang tidak menyukai ayah Regan yang dianggapnya benalu. Selalu datang dan meminta sesuatu ke rumahnya. “ Nak Kleo, mari mampir dulu. Makan bersama paman!” Ajaknya menggedor kaca jendela Kleo yang terlihat enggan Regan turun dari mobil itu. Melihat sikap Kleo yang acuh pada ayahnya, Regan mendekati sang ayah “ Sudahlah ayah, dia tidak akan mau makan di rumah orang miskin. Ayo kita masuk!” Celetuk Regan kemudian memegang lengan ayahnya lembut “ Tidak, nak Kleo tidak seperti itu. Dia tidak akan berpikir begitu. Benar kan nak? Ayo masuklah!” Ajak pria tua itu lagi. Tapi... Brum... Kleo justru menyalakan kembali mesin mobilnya dan melaju pergi. Meninggalkan ayah Regan yang menatapnya hampa “ Benarkan kata Regan, gak usah bersikap baik pada orang seperti dia. Dia hanya bisa merendahkan kita saja.” Celetuk Regan kesal “ Jangan begitu, dia anak yang baik. Kau harus bersikap baik padanya. Keluarganya sudah sering membantu kita.” Tutur Ayah Regan dengan sabar. “ Itu karena ayah yang memintanya. Kalau ayah tidak memintanya, mereka juga tidak akan menolong.” Gerutu Regan Mendengar itu, Ayah Regan menundukkan wajah “ Ayah, maafkan Regan. Regan tidak bermaksud merendahkan ayah. Tapi Regan mohon, jangan merendah di hadapan mereka. Regan tidak suka.” Ujarnya kemudian menghentakkan kaki kesal dan melenggang masuk ke dalam rumahnya. Pria tua itu menatap kepergian putrinya dengan tatapan sendu. “ Maafkan ayah.” Gumamnya pelan kemudian kembali mengambil pot air yang tadi ia letakkan dan menyiram sisa bunga di taman kecilnya. Merasakan ketenangan dibalik hidup yang serba kekurangan. Tapi tiba tiba... “ Radit.” Sebuah suara seakan memanggilnya. Suara yang membuat bola matanya membulat. Pot ditangannya terjatuh, ia gemetar. “ Tidak mungkin! Tidak mungkin!” Ujarnya gugup kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya. “ Ayah baik baik saja?” Tanya Regan yang duduk melepas kaos kaki di kursi. Ayahnya tak menjawab, pria yang akrab dengan panggilan Adit itu justru masuk dan mengunci dirinya di dalam kamar. “ Kenapa aku mendengar suaranya lagi? Aku pasti sedang mengkhayal.” Gumamnya dengan wajah pucat. Pria itu kemudian melangkah menuju kamar mandi dan mulai membasuh wajahnya. Menghilangkan rasa takut yang menyeruak. Namun... Saat ia mengangkat wajah dan menatap cermin.. “ Radit, apa kabar?” Sesosok pria terbentuk di sana, seolah mengulas senyum kemudian menghilang bersama angin. “ Tidak, kau sudah menghilang! Tidak! Kenapa dia kembali! Ini tidak mungkin.” Ujarnya panik Apa yang sebenarnya terjadi? ----***----***----***---- Hari itu pun berlalu dengan cepat, sama seperti hari hari sebelumnya. Malam itu, Regan sama sekali tidak dapat memejamkan mata. Berita kematian Jessy yang mengenaskan sudah masuk ke media dan bahkan bisa dibaca melalui ponsel. Regan tidak bisa berhenti memikirkan kejadian mengenaskan itu. Bagaimana Jessy melepaskan genggamannya, wajahnya terlihat sangat ketakutan sebelum akhirnya ia meregang nyawa saat sebuah bus tanpa ampun melindas tubuhnya. Meskipun berusaha, Regan tidak bisa memejamkan mata. Hingga pagi pun menjelang, Regan ke luar dari kamarnya dengan wajah pucat. “ Ayah mau ke mana?” Tanyanya saat melihat Adit bersiap hendak ke luar dengan jaket kulitnya. “ Ayah sudah membuatkan nasi goreng untuk sarapan. Kita tidak punya lauk jadi hanya itu yang bisa ayah masak.” Adit tidak menjawab pertanyaan putrinya. Ia justru memalingkan wajah agar Regan tak bisa menebak apa yang ia pikirkan. “ Aku bertanya ayah mau ke mana?” Tanya Regan bergegas memegang lengan ayahnya. Barulah ia menyadari, kelopak mata ayahnya membengkak. Mungkin semalam ia juga tidak bisa memejamkan mata “ Ayah ingin menemui Qian sebentar.” Jawab ayahnya jujur Mendengar hal itu, wajah Regan memerah, ia menatap ayahnya dengan raut kesal “ Kenapa ayah mau ke sana? Bukankah sudah Regan bilang, Regan gak suka ayah ke sana. Kleo selalu menghinaku ayah. Dia menyebutku benalu.” Ujarnya kecewa “ Tapi kita tidak punya lauk nak.” “ Regan lebih baik tidak makan dari pada terus minta minta pada mereka. Regan mohon yah, kenapa sih ayah melarang Regan bekerja? Ayah juga tidak mau bekerja. Kenapa kita harus minta minta pada keluarga itu? Ayah gak malu?” Tekan gadis itu menyeka air mata “ Kita boleh susah ayah, tapi jangan meminta minta. Izinkan Regan bekerja ya. Regan bisa kok.” Imbuh Regan sedih “ Tidak, jangan!” Ayahnya terlihat ketakutan “ Tapi kenapa? Kenapa ayah begini? Sudah, ayah istirahat saja. Jangan ke sana! Regan akan marah jika ayah membantah. Jangan meminta apa pun pada paman Qian. Sudah cukup ayah.” Air mata Regan menetes “ Jangan menangis nak, maafkan ayah. Maaf.” Adit memeluk Regan yang menangis di pelukannya “ Kita boleh susah, tapi jangan meminta minta.” Isak gadis itu. Sebelum... Tok tok tok Terdengar ada yang mengetuk pintu. “ Biar Regan saja.” Regan menyeka air matanya kemudian bergegas ke arah pintu. Tapi saat membukanya, Ekspresi Regan berubah. Bagaimana tidak, terlihat pria seumuran ayahnya berdiri di sana. Ayah Kleo, sosok yang tampak rapi dengan pakaian kerjanya. Dia yang disebut paman Qian, kenapa justru datang ke rumah mereka? Apakah ayahnya yang menelefon? “ Ayahmu ada?” Tanyanya ramah. Regan hanya mengangguk tak suka. “ Boleh paman masuk?” Tanya sosok itu ramah. “ Silahkan paman.” Regan membuka pintu lebar lebar, mempersilahkan ayah dua putra itu masuk. “ Adit, kau baik baik saja? Minggu ini kau tidak datang ke rumah jadi aku berpikir mau mendatangi kalian ke mari.” Senyumnya duduk di kursi kayu tak jauh dari tempat Adit duduk. Regan yang sudah merasa tak nyaman memilih duduk di depan mereka, mendengarkan apa yang coba mereka katakan. Benar saja, Qian mengeluarkan amplop dari saku jasnya “ Ini, kau pasti sangat kesulitan.” Tuturnya menyerahkan amplop yang dengan senang hati diterima oleh ayah Regan itu. “ Paman, terima kasih. Tapi tolong jangan seperti ini lagi. Regan akan bekerja, jadi paman tidak perlu repot repot.” Tutur Regan memberanikan diri. Tapi... “ Regan! Masuk ke kamar dan bersiap siap ke sekolah!” Perintah ayahnya “ Tapi ayah... “ Regan, ayah mohon!” Pinta Adit dengan mata berkaca kaca. Regan tak bisa menolak, dengan berat hati gadis itu berdiri kemudian beranjak ke kamarnya. Tapi, ia tidak menutup pintunya rapat agar bisa mendengar hal penting apa yang ingin Qian sampaikan hingga rela datang jauh jauh ke rumah mereka. Tidak mungkin ia datang hanya karena cemas. “ Adit, kau tahu apa yang terjadi di sekolah itu kemarin? Apa putrimu tidak menceritakannya?” Tanyanya dengan suara pelan Ayah Regan mengernyit “ Ada apa?” Tanyanya “ Anakmu membuka pintu perpustakaan itu.” “ Apa?” Bagai disambar petir, wajah tua Adit berubah pucat “ Iya, dia mengajak seorang siswi bernama Jessyca Milanda untuk menemaninya ke sana. Entah apa yang dicari putrimu. Yang jelas, hal buruk terjadi setelah itu.” Tutur Qian dengan wajah pucat dan tatapan tegang “ Hal buruk apa? Apakah sesuatu menimpa anak itu?” Tanya Adit dengan wajah tak kalah panik, apalagi saat Qian mengangguk serius lalu membuka ponsel pintarnya dan menunjukkan berita tentang Jessy. “ Ya tuhan!” Ayah Regan terlihat gemetar. Apalagi saat melihat betapa tragisnya kondisi mayat anak gadis itu “ Kejadian yang dulu terjadi terulang kembali. Tolong nasehati putrimu agar tidak mendekati perpustakaan itu. Jika tidak, kutukan itu akan terulang kembali. Aku ingin hidup tenangku dit, semalam aku bahkan tidak bisa tidur sedetikpun. Aku sangat takut.” Ujarnya “ Ya, aku akan menasihati Regan. Terima kasih telah memberitahukan hal ini.” Tutur Ayah Regan “ Kalau begitu aku pergi dulu. Ingat, minta putrimu untuk patuh atau kita semua akan celaka.” Pesan Qian kemudian berdiri, merapikan jasnya dan melangkah pergi, meninggalkan ayah Regan yang menatap kepergiannya pucat. Tangannya gemetar memegang amplop itu. “ Ayah, apa maksud paman Qian tentang kutukan itu?” Tanya Regan yang langsung ke luar dari kamarnya “ Kutukan..? Kutukan yang mana?” Adit berusaha mengulas senyum, tetap saja, tangannya gemetar “ Aku mendengar semua percakapan kalian. Jadi sebaiknya ayah jujur saja, atau aku akan kembali mendatangi perpustakaan itu.” Ancam Regan Deg Ayahnya langsung menatapnya ketakutan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN