Awan mendung berarak di langit pekat pagi itu
Udara dingin berembus seakan menusuk tulang
Hanya rasa pedih yang menghangatkan hati
Luka yang tiba tiba ada, tidak berdarah tapi pedih tak kunjung akhir....
Luka karena kehilangan...
Kenapa hati tidak mau mengerti bahwa orang yang ia rindukan tidak akan pernah kembali?
Usai menyaksikan mayat ayahnya yang mengenaskan, Kleo seakan mati rasa karena duka, kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?
Pagi itu, usai dari pemakaman, dua orang polisi mendekatinya dan mengabarkan bahwa Regan tengah kritis di rumah sakit. Ia mengalami kecelakaan aneh di perpustakaan lama sekolah Adirangga
Kleo bergegas ke sana
Benar, ia mendapati tubuh Regan terbaring dengan banyak sekali alat penyambung nyawa. Rambut panjangnya tergerai, wajah cantiknya pucat bergeming, kulitnya begitu dingin dan napasnya lemah berembus, Regan terlihat sangat sakit tapi tidak ada satu pun luka di tubuhnya, bagaimana bisa ini disebut kecelakaan?
“ Maaf, apakah anda keluarga pasien?” Tanya seorang dokter mendekat
“ Ya, bagaimana kondisinya?” Tanya Kleo dengan mata berkaca kaca. Entah kenapa ada rasa sakit di hatinya melihat kondisi Regan seperti itu, rasa takut kehilangan yang pekat dan begitu dalam. Apakah ia benar benar secinta itu pada Regan?
“ Dia tidak baik baik saja tuan. Ini kondisi yang sangat langka terjadi di mana otak korban tidak merespon apa pun. Tidak ada cedera, tidak ada luka tapi korban mengalami koma. Mungkin, ini terdengar klise tapi kondisi medis tidak bisa menjelaskan hal ini. Jiwanya mungkin telah pergi atau dibawa ke suatu tempat.”
Deg
Penjelasan dokter itu sama sekali tidak masuk akal. Dan ini, mengingatkan Kleo akan sikap Regan beberapa hari belakangan ini.
“ Saya menemukan ini di sisinya. Dia melempar buku ini sebelum terjatuh.” Tutur polisi tadi pagi
Kleo menatap Black Note di tangannya, benarkah jiwa Regan tengah pergi?
Tak berapa lama setelah itu, Kleo melihat Prof. Sammuel setengah berlari ke sana. Itu membuat Kleo mengernyit, bukankah sosok itu tidak pernah peduli pada siapa pun? Apakah Regan benar benar telah memenangkan hatinya? Kleo menatap Regan yang bergeming penuh penyesalan. Seharusnya ia melindungi Regan, bukan meninggalkannya sendirian
“ Maafkan aku.” Tutur pemuda itu getir.
“ Buku itu ada di tanganmu?” Tegur Prof. Sammuel pada buku yang digenggam Kleo. Pemuda itu mengangguk hormat
“ Semoga tidak ada sesuatu yang buruk. Semoga Regan bisa pulih, entah bagaimana hidup saya tanpa dia. Dia sudah seperti putri saya sendiri. Segera masuk ke sekolah ya Kleo, sekolah membutuhkanmu.” Prof. Itu menepuk pundak Kleo kemudian hendak beranjak setelah menjenguk Regan. Tapi... Rasa penasaran menelanjangi hati Kleo. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang termasuk Regan dan ayahnya.
“ Prof. Apakah anda tahu tentang buku ini dan apa yang tengah Regan coba hentikan? Terakhir, saya melihatnya berlari ketakutan lalu ayahnya meninggal secara mengenaskan. Kemarin ayah saya juga meninggal dengan tragis, jatuh dari ketinggian. Saya yakin ayah tidak akan melukai dirinya sendiri. Dia juga bukan pecandu alkohol atau obat obatan. Tolong, jika anda mengetahui sesuatu, beri tahu saya.” Pinta Kleo menghentikan langkah pria tua itu.
Prof. Sammuel menghela napas panjang
“ Sangat sulit Kleo. Walaupun saya menjelaskannya dengan detail tidak mungkin kau akan mempercayai ini.”
“ Saya akan berusaha percaya! Semua keadaan ini memaksa saya untuk mempercayai penjelasan apa pun yang akan anda sampaikan.” Pinta Kleo berkaca kaca
Melihat kesungguhan di mata pemuda itu, Prof. Sammuel kemudian duduk di kursi tunggu diikuti Kleo di sisinya
“ Buku ini milik seseorang bernama Alankar Adirangga 40 tahun yang lalu. Kau tentu pernah mendengar nama itu kan?” Tanya Profesor itu memulai. Kleo mengangguk pelan
“ Regan berkali kali juga menyebutkan namanya. Dia bahkan bertengkar dengan ayahnya karena nama itu. Entah kenapa, paman begitu membenci nama itu dan bahkan marah hanya dengan mendengarnya.” Tutur Kleo
“ Ya, Alankar adalah masa lalu bagi semua orang. Bagi ayahmu, bagi Adit ayah Regan, bagi Harri ayah kandung Yusef, bagi Jack ayah dari Jennie dan bagi orang tua Jessy. Mereka adalah teman satu sekolah dulu.”
“ Apa?” Kleo memucat, jadi ayahnya memiliki hubungan dengan hantu itu?
“ Bagaimana bisa ini terjadi Prof?” Tanyanya semakin penasaran dengan kisah berikutnya
Maka, Prof. Sammuelpun menjelaskan segalanya, apa pun yang ia tahu termasuk kenapa Regan berlari malam itu, karena Regan tahu hanya tertinggal ayahnya dan Qian yang belum menemui ajal. Regan mencoba menghentikan semuanya, tapi ia tidak cukup kuat. Cerita Prof. Sammuel membuat air mata Kleo menetes turun
“ Andaikan ada yang mempercayai Regan, mungkin kematian beruntun ini bisa dihentikan.” Tutur Pria tua itu mengakhiri ceritanya
“ Apakah ayah saya terlibat dengan kematian Alankar? Karena itu dia membalas dendam?” Tanya Kleo getir, suaranya terdengar gemetar. Prof. Sammuel menghela napas panjang
“ Saya tidak tahu sejauh itu Kleo. Tapi yang jelas... Mereka semua berhubungan dengan masa lalu Alankar. Tidak pernah terbaca siapa yang telah menjadi penjagal di akhir cerita. Tubuh Alankar ditemukan meninggal di perpustakaan lama dengan kondisi darah yang sudah mulai mengering.” Jawab Prof. Sammuel
Kleo mengusap rambutnya jengah, ia kemudian berdiri dari duduknya, berusaha tegar dan mengatur napas yang mulai terasa sesak. Entah kenapa tiba tiba ingatan saat Regan pertama kali masuk ke sekolah membuatnya tertekan. Saat ia menemukan Regan memasuki perpustakaan lama saat itu. Bukankah Regan berkata ada anak lain di sana sebelum dia? Mungkinkah yang Regan lihat adalah Alankar?
Pemuda itu melangkah gontai memasuki ruangan Regan, meneteskan air mata menatap Raga kelu itu
“ Maafkan aku. Maafkan aku telah tidak mempercayaimu. Maafkan aku, tolong bangunlah! Akan aku lakukan apa pun asalkan kau mau membuka mata. Aku mohon!” Pintanya memegang tangan Regan lembut.
“ Aku mohon!” Ia kemudian menangis sesak
Menyesal, iya tentu. Seandainya Kleo mau percaya, mungkin saat ini ayahnya masih hidup. Seandainya Kleo mau percaya dan membantu Regan, mungkin saat ini semuanya baik baik saja. Mungkin Regan masih bisa membuka matanya, mungkin Regan masih berada di sisinya, masih bisa tertawa dan marah, dan mungkin, Kleo bisa mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Bahwa sejak dulu, Kleo menyukai Regan. Ia menjaga Regan dalam amarah, ia menjaga Regan dengan caranya. Benar, Kleo sangat mencintai gadis itu.
“ Tolong bangunlah!” Pintanya sesak
------***----***----***-------
Waktu terkadang mempermainkan...
Entah itu takdir atau harapan...
Terkadang, semuanya hanya tipuan waktu untuk mengulang segala hal yang menyedihkan.
Udara di tempat itu begitu sejuk, tak banyak polusi yang terhirup, rasanya begitu lega saat napas bisa berembus
Perlahan, ia mulai membuka kelopak matanya yang terasa berat, sekujur tubuhnya terasa sakit, sangat sakit seakan tulang tulangnya telah remuk
“ Di mana aku?” Gumamnya melihat sekeliling. Bukankah tadi ia berada di perpustakaan lama, malam hari, menggenggam tangan Alankar dan membaca mantra kuno untuk mengutuk dirinya sendiri? Apakah ia sudah mati? Atau ini kehidupan setelah mati.
“ Astaga!” Ujarnya saat menyadari ia memang tengah memegang tangan seseorang yang terlihat tergeletak tak sadarkan diri dengan posisi tertelungkup.
Mendengar seruan Regan, sosok itu bergerak. Ia mengangkat wajahnya. Dan...
Deg
Waktu...
Ini tipuanmu?
Atau ini takdir yang membuatku kembali ke masa itu?
Apa pun namanya, kutukan atau apa pun caramu menyebutnya,
Tapi saat ada dia di sana... Ini sebuah anugerah.
Regan melihat sekelilingnya, ia berada di dalam perpustakaan, begitu megah, bagus dan sangat luas. Itu seperti perpustakaan lama tapi dengan kondisi yang masih baru. Gadis itu melirik ke arah arlojinya yang berhenti berdetak di angka ke 3 dini hari. Ya, ia telah berhasil kembali ke masa lalu. Air matanya hampir menetes melihat Alankar nya tampak duduk memijit mijit pelipis. Rona wajahnya terlihat segar, cahaya matanya memiliki kehidupan.
“ Alankar, lihat! Kita berhasil.” Gumam Regan berusaha menyentuh kulit tangan Alankar
Hangat...
Dia masih hidup?
Tapi... Saat pemuda itu menatap ke arahnya, ia justru mengernyit, mata birunya menelisik Regan yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya
“ Siapa kau?” Tanyanya dengan nada dingin yang seakan menggema di dalam perpustakaan yang masih kosong itu.
Wajah cantik Regan seketika berubah menjadi pucat. Alankar tidak mengenalnya?
“ Ini aku, Anindita Regantara. Regan, kau lupa?” Tanya Regan sedih
Mendengar itu, Alankar mengulas senyum kemudian berdiri, merapikan pakaian dan rambutnya
“ Dengar, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa aku bisa berada di sini. Mungkin aku sedikit mabuk, tapi yang jelas aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku tahu kau mungkin salah satu wanita yang memujaku dan aku tidak tahu kenapa aku berada di sini bersamamu. Jadi tolong lupakan hal ini dan jangan membahas ini lagi. Kau cantik, tapi tidak cukup menarik bagiku.” Tuturnya terdengar lembut, manis tapi juga menyebalkan
Inikah Alankar saat ia masih hidup? Kenapa begitu berbeda dengan dirinya di masa depan?
Regan mengambil napas panjang, apa pun yang terjadi... Alankar ingat atau tidak, ia tetap harus menyelamatkan Alankar dari kematian.
“ Kau benar benar tidak mengingatku? Sedikit pun?” Tanya Regan lagi
Alankar menggeleng pelan
“ Cobalah ingat!”
“ Sudahlah, jangan memaksaku. Kau memang cantik, tapi seperti yang aku bilang tadi. Kau tidak cukup menarik. Tidak cukup menarik hingga aku bisa mengenalimu. Sebaiknya rapikan dirimu. Ini sudah jam 7 pagi, sebentar lagi kelas dimulai. Kalau kau salah satu murid baru maka bersiap siaplah.” Ujar Alankar kemudian meletakkan tangannya di dalam saku jaketnya dan melangkah pergi, meninggalkan Regan begitu saja.
Regan mengulas senyum, ia melangkah gontai menuruni tangga lantai dua. Menatap kepergian Alankar yang terlihat begitu tenang.
“ Akhirnya, aku bisa melihatmu dalam keadaan hidup. Tidak peduli kau mengingatku atau tidak. Aku berjanji tidak akan hal buruk yang menimpamu saat aku ada di sini.” Tutur Regan menyeka air matanya.
Gadis itu kemudian melihat sekelilingnya, benar... Ia kembali tepat pada masa di mana Alankar hidup 40 tahun yang lalu. Waktu mengutuknya untuk kembali tapi juga menantangnya dengan membuat ingatan Alankar tentangnya hilang. Bagaimana Alankar bisa mengingat dirinya? Regan memang tidak ada di masa lalunya bukan?
Ia kemudian melangkah ke luar perpustakaan, melihat sekeliling. Seluruh dunia terlihat berbeda, sekolah itu masih terlihat segar dan baru. Banyak pepohonan di sekitar, semua perumahan yang Regan lihat di masa depan masih belum terbangun hingga membuat udara terasa sangat segar. Beberapa gedung seperti auditorium, sanggar dan lapangan basket belum berdiri saat itu.
Regan sibuk melangkah sembari mengenali semuanya. Hingga...
Bruk
“ Aaaww.” Ia terjatuh usai menabrak seseorang. Seorang gadis yang meringis menahan luka di sikunya. Gadis yang sangat Regan kenal, bahkan fotonya terpajang di tembok kamarnya dan ayahnya. Gadis yang saat Regan bertanya dia siapa, ayahnya tidak pernah mau menjawab.
“ Maaf, aku tidak sengaja.” Tutur Regan merasa bersalah
“ Tidak apa apa, aku juga tidak melihat jalan tadi.” Senyum gadis itu kemudian berdiri. Menatap Regan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“ Kenapa?” Tanya Regan
“ Kau anak baru juga?”
Regan bingung, ia memilih mengangguk dengan senyum getir
“ Rokmu terlalu pendek, seragammu juga ketat. Kau tidak takut menjadi bulian nanti? Kau dari luar negeri ya? Kulitmu sangat bersih.” Tuturnya mengulas senyum. Regan terdiam sejenak,
Gigi kelinci?
Senyum manis dengan rambut panjang gelap?
Apa dia...
“ Kau Maria?” Tanya Regan mengulurkan tangan. Gadis itu mengernyit
“ Dari mana kau tahu namaku?” Tanyanya ragu ragu menjabat tangan Regan
Jadi benar, dia adalah Maria? Cintanya Alankar?
Entah kenapa hati Regan menjadi sakit, ingin rasanya ia marah tapi... Regan harus bisa menahannya. Maria adalah salah satu alasan kenapa Alankar berubah menjadi kejam, penyebab secara tidak langsung ayahnya meninggal. Regan tidak bisa menyukai gadis itu.
“ Kau belum menjawabku, dari mana kau tahu namaku?” Tanya gadis itu ramah
Regan mengulas senyum getir
“ Nametag mu! Aku membacanya.” Tunjuk Regan
Benar saja, untung Regan cerdas. Gadis itupun mengulas senyum mengerti
“ Namamu Anindita?” Tunjuk Maria pada Nametag Regan yang bertuliskan Anindita R.
“ Ya, Anindita Regantara. Panggil saja Regan. Aku lebih suka, semua orang memanggilku begitu.” Tutur Regan tegas.
“ Baiklah, salam kenal Regan. Maaf aku harus ke perpustakaan dulu. Sampai jumpa nanti.” Maria kemudian melepaskan jabatan tangannya dan melenggang pergi
Meninggalkan Regan yang menatapnya getir dengan tangan mengepal
“ Sok baik, lihat saja. Aku akan membongkar kelicikanmu nanti. Aku tidak akan membiarkan dirimu mendekati Alankar.” Gumamnya
Benar saja, Regan menjadi pusat perhatian di sekolah itu. Di jaman dulu, tentu gadis seperti Regan terlihat sangat cantik, di masa depan saja, Regan sudah terlihat cantik apalagi di masa 40 tahun yang lalu. Rambutnya yang brown, bulu matanya yang lentik, bentuk badannya, kulitnya, semuanya terlihat sempurna. Regan bagaikan orang asing yang seketika menarik simpati apalagi ia mengenakan seragam modern yang sedikit membentuk badan dan memperlihatkan paha putihnya yang sexi
Benar benar cantik
“ Hai, kau murid baru?” Tanya seseorang yang tiba tiba menegurnya.
Regan mengernyit, sosok pemuda berkaca mata dengan senyum lebar menghadang langkahnya
“ Ya?”
“ Aku Jack Al debaran, sexi disiplin di sekolah Adirangga, apa kau murid baru di sini? Dari mana kau mendapatkan seragam ini?” Tanyanya
Deg
Seketika wajah Regan berkaca kaca. Jadi ini paman Jack? Ayah Jennie?
Dia benar benar berada di masa yang sama dengan Alankar?
Regan tidak bisa menyembunyikan emosinya, melihat paman Jack masih hidup, Regan langsung memeluknya erat. Di depan semua orang.
“ Kau masih hidup, syukurlah... Kau tahu betapa merasa bersalahnya diriku?” Tutur Regan tak sadar.
“ Maaf, kenapa kau melakukan hal ini? Tolong lepaskan.”
Deg
Benar...
Dia terlihat seumuran denganku..
Bagaimana bisa aku...
Regan langsung melepaskan pelukannya.
“ Ma..maaf. Aku salah orang.” Tuturnya malu
Ini masa yang berbeda, aku juga harus mempelajari itu.
Jack menghela napas kemudian mengulas senyum...
Tentu saja, mereka menjadi pusat perhatian saat itu.
“ Mari, ikut saya ke ruangan OSIS!” Ajaknya
Apakah Regan bisa mengembalikan keadaan seperti yang ia inginkan?
Bisakah ia melawan kuasa takdir?