Koper Ajaib

2437 Kata
Malam sudah larut saat Regan ke luar dari sekolah. Ia harus ke mana? Berjalan menuju rumah yang dia tempati tapi di sana bahkan belum dibangun apa pun. Hanya ada tanah lapang Tidak ada yang Regan kenal, sekarang ia tahu rasanya kesepian dan menjadi orang baru. Saat ia mengenal semua orang tapi tidak satu pun diantara mereka yang mengenalnya. Haruskah Regan tinggal di sekolah? Perutnya mulai terasa lapar, benar benar lapar, tadi saja ia terpaksa minum air kran untuk mengganjal rasa laparnya. Regan pergi ke taman, ia duduk di taman itu kemudian menghela napas dalam dalam, menenangkan diri. Tapi tiba tiba... “ Ini si cantik di sekolah tadi kan?” Beberapa suara terdengar mendekat. Regan spontan berdiri. Benar saja, ada beberapa pemuda yang menatapnya liar dari ujung rambut sampai ujung kaki “ Sial.” Gerutunya kemudian berbalik hendak beranjak. Beberapa pemuda tadi terlihat mengejarnya “ Eith tunggu dong. Boleh kan kita kenalan? Wah body nya bagus ya.” Satu diantara mereka menghadang dan mencoba menyentuh lengan Regan “ Jangan menyentuhku!” Tekan Regan dengan tatapan tajam. “ Kenapa? Bukannya memang dipamerkan?” Tawa mereka mengepung Regan. “ Aku bilang jangan menyentuhku!” Teriak Regan saat mereka mendekat dan mencoba menyentuh anggota tubuhnya dengan tidak sopan. Entah dari mana datangnya pemuda pemuda itu, Regan yakin tadi ia sendiri saja di taman. “ Lepaskan pakaiannya yuk! Biar gak usah pakai apa pun lagi. Toh bajunya kurang bahan gini.” Tawa mereka “ Awas saja kalau kalian berani macam macam!” Ancam Regan melangkah mundur Hingga... Tak jauh dari tempat Regan bergelut dengan kerumunan itu, seseorang memperhatikannya dari perpustakaan yang baru saja ia tutup. Orang yang tak lain ada Jack itu bergegas masuk ke dalam rumahnya, mencari apa pun, entah itu alat pukul, tongkat baseball atau apa pun yang bisa digunakan untuk menolong Regan Usai menemukan apa yang ia cari, Jack segera berlari ke luar rumahnya. Tapi... Di mana Regan? Ia tidak melihat siapa pun. Jack berusaha melangkah ke sana walaupun sedikit takut. Ia mendengar suara dari semak semak. Terdengar seperti keluhan, desahan menahan sakit dan rintihan. Mendengar hal itu, Jack semakin marah dan menebak apa yang terjadi. Namun... Setelah ia memeriksa keadaan... Kletak Tongkat yang dipegang Jack terjatuh ke tanah karena kaget. Bagaimana tidak kaget, ia melihat Regan berdiri dengan pakaian sedikit koyak, rambut berantakan dan terlihat kelelahan. Sementara di bawahnya... Para pegajulan yang berjumlah 4 orang itu terlihat terkapar tak berdaya dipenuhi luka lebam sembari merintih menahan sakit. Apakah Regan memukuli mereka semua? “ Siapa yang menyuruh kalian?” Tekan Regan menarik rambut salah satu diantara mereka. “ A-Alankar.” Jawabnya membuat Regan sekali lagi menendang wajah pemuda itu karena kesal dan kecewa. Bisa bisanya Alankar melakukan semua itu padanya. Tapi jika dipikir lagi, bukankah tadi Alankar memang mengancamnya sebelum pergi. Melihat raut wajah Regan yang terlihat diam dan tampak sangat kesal, Jack memberanikan diri mendekat “ Kau baik baik saja?” Tanyanya grogi Regan menatap Jack dengan kening mengernyit. Benar, bukankah perpustakaan itu ada di sekitar sana? Mungkin saja, perpustakaan itu sudah berdiri sekarang. “ Tidak, aku tidak baik baik saja. Sangat lelah setelah menghajar orang orang tidak punya etika ini. Boleh aku mampir ke tempatmu? Kak?” Senyum Regan pucat “ A-apa?” Entah kenapa Jack menjadi sedikit gugup, Regan begitu berani menghajar preman preman itu seorang diri. Dia seperti tokoh komik yang selama ini dibaca Jack diam diam. Wajahnya merona. “ Boleh aku numpang istirahat sebentar?” Tanya Regan mengulas senyum Jika dia memang paman Jack, maka walaupun dia garang, dia pasti akan bersikap baik. “ Baiklah, ayo ikut!” Ajak Jack mengulas senyum. Regan tersenyum lebar. Ternyata, dia masih Jack yang sama. Dengan senang hati, Regan mengikuti pemuda itu. Benar saja, ia melihat perpustakaan itu sudah berdiri walaupun tidak sebesar saat di masanya “ Kau tunggu di sini! Aku akan membawakanmu makanan. Sepertinya kau sangat lelah.” Pinta Jack mempersilahkan Regan duduk. Gadis itu mengulas senyum. Tak lama kemudian, Jack kembali dengan mie instant dan segelas air di tangannya. Benar saja, Regan langsung melahap menu di depannya seperti orang kesurupan “ Kau dari mana?” Tanya Jack saat Regan selesai makan “ Boleh minta satu mangkok mie lagi? Aku sangat lapar.” Pinta gadis itu. “ Aku bertanya sebenarnya kau dari mana? Aku ragu kau datang dari Swiss. Orang yang bisa jalan jalan ke sana pastilah orang kaya. Tapi kau...” Jack memperhatikan Regan dari ujung rambut sampai ujung kaki Gadis itu menghela napas, apalagi yang harus ia karang kali ini. Jika mengatakan dari masa depan justru ia akan terlihat seperti orang gila pendatang baru. “ Sebenarnya... Aku.... Aku datang ke kota ini bersama orang tuaku. Tapi di jalan mereka mengalami kecelakaan, mereka semua meninggal dan aku sebatang kara tanpa tujuan.” Cerita Regan mengingat film kesukaannya “ Naruto “ Mendengar itu, Jack mengulas senyum kemudian berdiri “ Aku akan mengambilkan mie instant lagi. Tapi jangan berbohong seperti barusan. Tidak ada kisah seperti itu di dunia nyata. Kalau memang orang tuamu meninggal karena kecelakaan kau pasti masih memiliki keluarga lain, nenek, paman, bibi dan rumah sebelum ke sini. Tidak berantakan seperti ini.” Senyum pemuda itu membuat Regan malu. Sial, paman Jack memang cerdas dari sononya. Makanya, ia masuk sebagai anggota OSIS di sekolah elite Adirangga. “ Aku kabur!” Tutur Regan akhirnya. Ya, bukankah alasan itu yang terdengar sangat masuk akal saat itu. “ Boleh aku menumpang di sini untuk sementara? Aku takut diganggu preman seperti tadi.” Pinta Regan memelas. “ Sepertinya kau tinggal sendirian kan?” Bujuk Regan lagi “ Hanya jika kau mau menceritakan kenapa kau bisa kabur.” Ujar Jack akhirnya. Regan tersenyum senang kemudian mengangguk “ Aku akan menceritakannya nanti setelah kenyang.” Ujarnya Jackpun bergegas kembali ke dapur, tanpa Regan tahu... Pemuda itu mengulas senyum. Baginya, Regan terlihat sangat hebat, baru kali ini ada gadis seperti dia. Tapi apakah benar? Alankar yang menyuruh orang orang itu? Jack tak habis pikir Alankar bisa setega itu. Di sana, Regan pun terdiam menatap jari jarinya yang memar usai menghajar para preman tadi. Beruntung, ayahnya dulu memaksanya untuk belajar bela diri sejak usia 9 tahun. Tapi, mendengar Alankar yang menyuruh mereka justru membuat Regan lebih sedih dan kecewa. Andai Alankar tahu, Regan datang untuk menyelamatkan dirinya. Akankah Alankar mampu berbuat setega itu padanya? Malam itu, Regan menginap di tempat Jack, di kamar almarhum pamannya. Ternyata Jack memang tinggal seorang diri. Sejak kecil orang tuanya meninggal dan ia pindah ke kota itu untuk menemani pamannya yang melajang sampai tua. Baru minggu lalu pamannya meninggal dan mewariskan perpustakaan itu padanya. Regan kagum, ternyata paman Jack adalah orang yang tegar, mandiri sejak kecil walaupun agak penakut. Tapi benarkah, Alankar yang menyewa semua preman itu? Tentu saja tidak, Alankar tidak memiliki waktu untuk melakukan hal itu. Di tempat lain, Alankar tampak memarkirkan mobilnya di sisi jalan, ia mengernyit melihat seorang gadis tampak berjalan seorang diri. Siapa lagi kalau bukan Maria, pertemuan kali itu tidak disengaja. Melainkan Alankar yang berniat mencari piano baru untuk diletakkan di kamarnya, ia hendak menemui sahabatnya dan mencari tahu tentang piano terbaik, tapi... Takdir memang menyuratkan ia bertemu dengan Maria di sana, karena ternyata Maria mengajarkan Les private musik di tempat temannya itu. Alankar masuk ke dalam ruangan itu dan mendengarkan betapa merdunya alunan musik yang dimainkan Maria, nada yang sama dengan yang selalu dimainkan Alankar di masa depan. Pemuda itu mengulas senyum memperhatikannya “ Dia Maria, guru les baru di sini. Cantik ya.” Sapa teman Alankar memegang pundaknya. Alankar hanya menghela napas “ Lumayan.” Jawabnya Jam berdenting 9 kali saat Maria usai mengajar. Ia kemudian bersiap untuk pulang, sementara Alankar masih berbicara dengan temannya Maria tampak ke luar dan berjalan menyusuri gelap. Hingga... “ Sendirian? Mau saya antarkan?” Sapa pria bertubuh besar yang biasa mangkal di sana dan memalak siapa pun yang lewat. Maria tidak mendengarkan, 3 hari ini, pria itu memang selalu menggodanya. Maria tidak memiliki cukup uang untuk menaiki angkot. “ Hei sombong! Ayo paman antarkan!” Pria itu hendak berdiri mendekati Maria. Tapi... “ Ayo naik!” Sebuah mobil mewah mendekat dan berhenti di sisi Maria. Gadis itu mengernyit, apalagi saat melihat Alankar membuka kaca mobilnya. Pria tadi pun mengurungkan niatnya menggoda Maria. “ Ayo! Aku akan mengantarmu pulang!” Ajak Alankar. Maria mengulas senyum “ Tapi kak, apa tidak merepotkan?” Tanyanya manis Alankar menggeleng “ Masuk saja. Tidak baik wanita berjalan semalam ini sendirian.” Ucapnya Tentu saja, dengan senang hati Maria memasuki mobil itu. Berada di dekat Alankar membuat oksigen rasanya menipis. Pemuda itu pun melajukan mobilnya dengan tenang. Ternyata dia baik, bahkan sangat baik- Gumam hati Maria. “ Sudah lama mengajar?” Tanya pemuda itu mencairkan suasana “ Baru satu minggu.” Jawab Maria canggung “ Belajar dari mana memainkan piano? Ikut les dulunya?” “ Dari almarhum ayah dan kak Qian.” Jawab Maria kali ini membuat Alankar mengernyit menatapnya “ Qian si kutu buku itu?” Tanyanya seakan tidak percaya. “ Ya, dia kakakku.” “ Imposible. Kalian sangat berbeda.” Ujar Alankar mengulas senyum “ Iya, kata orang juga begitu. Aku mirip dengan ibu dan dia mirip dengan ayah.” Tutur gadis itu. Dalam waktu sekejap, mereka menjadi dekat. Maria bisa membuat Alankar tertawa dengan caranya bicara. Sulit dipercayai, gadis secerdas, semanis dan secantik itu adalah adik Qian yang terlihat biasa biasa saja di sekolah Tak lama kemudian, mobil Alankar mendarat di depan sebuah rumah sederhana, tampak Qian diam di luar menunggu adiknya “ Al?” Senyumnya senang melihat Alankar mengantar adiknya pulang. Entah kenapa, dari dulu Qian memang sangat mengagumi sosok itu. “ Terima kasih sudah mengantar Maria pulang.” Ucapnya gugup “ Tidak masalah, kebetulan bertemu di jalan. Aku pulang dulu sampai ketemu di sekolah.” Ujar Alankar hendak memasuki mobilnya. Tapi.. baru saja ia masuk... “ Pulang larut malam begini! Ingat! Kalian di sini numpang! Jangan seenaknya!” Teriak sebuah suara dari dalam. Suara seorang wanita yang tidak lain adalah bibi dari Qian dan Maria. Mereka memang menumpang di sana sejak ayah mereka meninggal dan ibu mereka memilih menikah lagi “ Kasihan sekali.” Gumam Alankar kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi. Tempat Maria tinggal tidak seberapa jauh dengan rumah megah kediaman Adirangga. Tapi takdir... Akan membawa jarak itu lebih dekat lagi. Beralih pada Qian dan Maria di sana... Plak Sebuah tamparan dilayangkan bibinya ke wajah cantik Maria, gadis itu terdiam menyeka air mata. “ Gadis macam apa yang ke luar larut malam begini hah? Kau pikir kau siapa? Tuan rumah? Tuan putri? Ayahmu mati meninggalkan banyak hutang jadi jangan membuatku pusing!” Bentak bibinya mengiris perasaan. “ Maria kerja bi.” Jawab gadis itu getir “ Kerja tapi tidak menghasilkan apa apa! Lebih baik melacur jelas jelas ada hasilnya. Menyebalkan!” Wanita itu kemudian beranjak meninggalkan Maria yang terduduk sedih memegang pipinya yang panas. Qian datang membawakannya segelas air “ Minumlah! Jangan sedih. Takdir kita akan berubah jika kau bisa mendapatkan simpati Alankar.” Tuturnya Maria menenggak air itu tandas, ia kemudian terisak memeluk kakaknya “ Kenapa semua orang jadi jahat saat ayah gak ada ya kak, padahal dulu bibi terlihat begitu baik. Harta ayah juga kan dia pegang dengan alasan ingin merawat kita.” Tuturnya terisak “ Itulah manusia Maria, saat butuh mereka akan terlihat begitu baik. Tapi saat kita butuh, sifat aslinya akan ke luar. Sudahlah kau mandi dan istirahat, besok datangi Alankar dan katakan terima kasih. Jangan biarkan dia melupakanmu.” Ujar Qian yang dijawab dengan anggukan oleh Maria “ Kak, aku tahu caranya mendekati Alankar.” Gadis itu mengulas senyum “ Bagaimana?” Qian mengernyit “ Besok kau akan tahu.” Jawab gadis itu kemudian menghela napas panjang. Ya, aku harus berusaha mengubah nasibku kan? Jika setiap orang memanfaatkan kebaikan orang lain, kenapa aku tidak memanfaatkan Alankar? Jangan nilai aku jahat, aku hanya bosan menjadi baik dan tertindas. ----***----***----***---- Besok paginya... Jack melihat Regan masih duduk pada salah satu kursi di dalam perpustakaan yang belum buka, dengan seragam yang sama. “ Kau tidak berangkat ke sekolah?” Tanya Jack yang tampak sudah rapi dengan seragamnya “ Tidak, aku tidak benar benar sekolah di sana.” Jawab Regan Melihat wajah cantik Regan yang terlihat sedih, pemuda itu mendekatinya “ Ganti pakaianmu! Aku akan mengambilkan kaosku.” Tuturnya kemudian bergegas ke kamar. Tapi... Baru saja Jack masuk ke kamarnya, tiba tiba Regan melihat sesuatu yang tidak asing di dekat salah satu rak. Sebuah koper yang begitu mirip dengan koper miliknya. Regan yakin, semalam koper itu tidak ada di sana. Ia pun mendekati koper itu. Benar saja, ia sangat yakin koper itu miliknya. Tapi kenapa bisa ada di sana? Bukankah Regan ke tempat itu sendiri tanpa membawa apa pun? Apakah takdir yang mengirimkan atau buku itu yang telah membawa kopernya datang? Tidak mungkin kan kalau koper itu datang sendiri? Dan tidak mungkin juga ada yang mengirimkannya. Regan bergegas membuka koper itu untuk mengetahui isinya. Ia terlonjak kaget saat melihat begitu banyak bajunya di dalam koper itu, selain itu ada beberapa lembar uang yang anehnya uang itu sama dengan uang di masa sekarang. Regan juga melihat sebuah map misterius yang saat ia buka ternyata adalah surat keputusan bahwa ia telah diterima di sekolah Adirangga sebagai murid pindahan dari sekolah lain pada tahun 1982. “ What the hell, apa apaan ini? Apakah buku itu yang membuat semua ini?” Gumam Regan takjub. Itu seperti ia benar benar berasal dari dimensi itu. “ Apa itu?” Tanya Jack yang kembali setelah mengambilkan setelan kaos miliknya. Regan mengulas senyum kemudian kembali menutup koper itu “ Ini koperku, jadi aku tidak perlu meminjam apa pun darimu.” Senyum Regan lega “ Dan ini, ini surat pindah sekolah. Jadi aku bisa ikut denganmu sekarang untuk mendapatkan seragam baru.” Imbuhnya senang Siapa pun yang mengirimkan semua itu, betapa bahagianya Regan. Ia mengira takdir yang telah mengirimkannya, walaupun semua itu tampak aneh dan terlalu rapi, bagaimana takdir bisa memilihkan baju baju miliknya? Lalu kenapa koper itu bisa berada di sana? Beralih ke masa depan... Kleo memucat kaget saat melihat koper yang baru ia siapkan tiba tiba menghilang setelah ia membaca mantra untuk mengutuk koper itu kembali ke masa di mana Regan terjebak sekarang. Jadi semua cerita tentang buku itu benar? “ Lihat! Koper itu benar benar menghilang bukan?” Tutur Prof. Sammuel yang tampak tak kalah takjub berada di sisinya “ Jadi benar, Regan mengutuk dirinya sendiri untuk kembali ke masa Alankar? Masa 40 tahun yang lalu?” Tanya Kleo masih setengah tak yakin “ Sepertinya begitu, ia mencoba merubah takdir. Semoga uang yang kita kumpulkan dari kolektor dan surat penerimaan siswa baru itu bisa membantunya di sana.” Tutur Profesor Sammuel Kleo menatap buku di tangannya dengan pandangan kelu. Jika itu benar, apakah Regan akan baik baik saja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN