Rengga menatap jam tangannya, sudah hampir satu jam dirinya duduk di kafe depan rumah sakit untuk menunggu seseorang yang selalu datang tidak tepat waktu. Lonceng pintu berbunyi, tandanya ada orang yang masuk ke kafe. Rengga tidak menoleh, feeling-nya mengatakan jika orang yang baru saja masuk itu akan langsung menuju ke mejanya. Benar saja, laki-laki dengan seragam doreng langsung duduk di depannya dengan mengatur napasnya yang tersengal. Rengga menatap orang itu, siapa lagi jika bukan Lingga. Orang yang meminta bertemu namun telat juga. Pasti ada saja alasannya, jika tidak latihan diperpanjang, ceramah atasan yang berjam-jam, atau jalan yang macet pada siang hari ini. "Maaf-maaf aku telat. Kali ini telat cuma satu jam," ucap Lingga yang mengelap keringatnya dengan tisu yang berada di

