Tiga putra dari Ayah dan Bunda

1696 Kata
           Suasana rumah bergaya minimalis dengan cat putih dan hitam yang memberi kesan elegan pagi itu terlihat lengang dan lebih terkesan sepi. Bukan. Bukan karna tidak ada penghuninya. Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana menjadi ajang bangun siang bagi para penghuni rumaja. Tapi, hal itu tentu tidak dilakukan oleh seorang wanita paruh baya yang kini terlihat tengah menyiram beberapa tanaman hias yang ia tanam sendiri di dalam media pot yang tentu ia tata di halaman rumahnya.  Banyak tanaman hias yang jika di lihat akan menyejukkan mata. Ada beberapa macam jenis bunga yang terlihat sudah bermekaran dengan berbagai warna. Dan tak lupa bunga matahari yang menjadi bunga favorit anak bungsunya. Tidak seperti Minggu - Minggu sebelumnya. Minggu ini wanita paruh baya itu tidak menyiram tanaman seorang diri, ia ditemani oleh pria paruh baya yang tengah duduk di salah satu bangku yang ada di teras yang tentunya menghadap ke halaman. Ditemani secangkir kopi buatan istrinya, pria paruh baya itu membaca koran pagi yang biasa diantarkan oleh tukang koran berambut gondrong yang setiap minggu pagi akan mengantarkan koran ke rumah itu.  "Bunda!"  Samar - samar terdengar suara anak laki - laki dengan   Suara khas orang bangun tidur. "Bunda! Bunda dimana?"  Wanita paruh baya itu pun menaruh selang yang barusan ia gunakan untuk menyiram tanaman - tanaman kesayangannya, tak lupa ia juga mematikan kerannya.  Wanita yang dipanggil Bunda itupun melangkahkan kakinya menuju bagian dalam rumah karna masih terus mendengar suara dari salah satu anaknya yang memanggilnya.  "Ada apa sih, Dit?" Tanya Bunda pada anak bungsunya yang kini tengah melahap ubi goreng kesukaannya yang tadi pagi sempat dibuat oleh Bunda.  Anak yang tadi memanggilnya adalah putra bungsunya. Namanya Radhitya Bagaskara Danu yang biasa dipanggil Adit. Seperti namanya, Adit merupakan anak yanh selalu ceria dan selalu bisa mngehidupkan suasana. Walaupun tak jarang juga suka membuat onar.  Anak itu terlihat menengokkan kepalanya menghadap ke sumber suara yang berasal dari belakangnya itu. "Gapapa Bun, cuma manggil aja."  "Kamu tuh ya Dit, suka banget ngerjain Bundanya." Ucap seorang pria paruh baya tadi sambil membawa cangkir gelas bekas kopi yang sekarang sudah tandas. Adit yang mendengar ucapan pria itu hanya menampilkan cengiran khas miliknya dan lanjut memakan kembali ubi goreng yang masih ia genggam.   Bunda yang melihat itu pun melangkahkan kakinya untuk kembali mengambil ubi goreng yang masih ada di atas serok untuk meniriskan minyak, lalu menaruhnya di atas piring ubi yang berada di hadapan Adit.  "Dit, tolong bangunin Abang sama Mas gih!" Perintah Bunda yang kini sudah menyiapkan beberapa bahan masakan untuk ia oleh menjadi suatu hidangan untuk makan siang nanti.  "Adit bangunin Bang Sam aja ah Bun, gamau bangunin Mas Asa." Ucap Adit masih tetap duduk di bangku nya, sama sekali belum ada niat untuk beranjak dari tempat duduknya.  "Kenapa Dit?" Tanya pria paruh baya yang baru saja keluar dari kamar mandi.  "Gamau ah Yah! Bangunin Mas Asa capek, buang - buang tenaga sama waktu. Mending Ayah aja deh yang bangunin." Memang. Adit selalu memberikan alasan yang sama setiap ia di mintai tolong untuk membangunkan Kakak keduanya itu. Pasalnya, untuk membangunkan Kakak kedunya itu ia memang harus menghabiskan banyak tenaga.  "Iyaudah, kamu bangunin Abang kamu aja, nanti biar Bunda yang bangunin Mas Asa."  Mendengar itu, dengan helaan nafas panjang Adit pun beranjak dari duduknya untuk membangunkan Abangnya itu. Tapi, sepertinya ia tidak ikhlas meninggalkan ubi nya. Takut - takut di habiskan oleh Ayahnya.  Belum genap Adit melangkah meninggalkan ruang makan, ia kembali membalikkan tubuhnya. "Ayah jangan di habisin ubinya Adit."  Pria paruh baya yang di panggil Ayah itu tertawa pelan mendengar penuturan putra bungsunya yang diikuti oleh istrinya yang tengah memotong cabai. *** "Bang, bangun Bang! Udah siang!!" Ucap Adit dengan suara yang kencang sambil menggoyang lengan Kakak pertamanya yang masih nyaman bergelut dengan selimutnya.  "Abang gece bangun dih! Disuruh Bunda bangun! Udang siang."  Melihat Kakak pertamanya yang tak kunjung bangun juga, Adit pun mulai menarik selimut yang melindungi Kakaknya itu sampai benar - benar terlepas dari sang pemilik. "Bang Sam! Bangun ga lo!"  Belum sempat ia menerjang Kakak pertamanya itu dengan guling yang sudah ia angkat tinggi - tinggi, Kakaknya itu sudah membuka matanya lebar. "Mau ngapain lo?!"  Yang barusan itu adalah Samudra Putra Pratama. Anak sulung dari Ayah dan Bunda. Dia biasanya di panggil Samudra. "Eh udah bangun, baru aja gue mau timpuk lo pake guling Bang." Adit pun menampilkan cengiran khas miliknya dan dengan perlahan ia menaruh kembali guling yang tadi hampir ia gunakan untuk menerjang Kakak pertamanya itu.  "Udah sana keluar!" Usir Samudra sambil mendorong tubuh Adit yang tingginya tidak beda jauh dengannya.  "Turun lo Bang! Awas aja lo ga turun dan malah balik tidur!"  "Berisik ah!"  Samudra pun mulai melangkahkan kakinya menuju salah satu bilik yang ada didalam kamarnya. Kamar Mandi.  Tak butuh waktu lama, ia pun keluar dari bilik itu lalu turun ke ruang makan. Sepertinya cacing - cacing di perutnya perlu di beri asupan.  "Pagi Yah, pagi Bun!" Sapa Samudra saat ia melihat Ayah dan Bundanya tengah berada di ruang makan sambil sedikit bercengkrama. Ah jangan lupakan Adit yang juga berada disana tengah memakan ubi goreng kesayangannya.  "Pagi darimana? Liat tuh udah jam berapa?"  Samudra mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang ada di ruangan itu. Pukul 11 siang.  Seketika Samudra hanya memberikan cengirannya pada Ayah dan bundanya. "Adik kamu yang satu mana? Ko ga sekalian kamu bangunin si Bang?"  "Lah aku kira dia udah bangun, Bun."  "Mana ada, tiap hari yang bangunnya telat kan Mas Asa mulu Bang." Kali ini Adit yang menyahut dengan mulut penuh.  "Adit, kalau mulut penuh jangan ngomong, ditelan dulu."  Seketika Adit pun langsung menelan ubi - ubi yang telah hancur di dalam mulutnya. "Iya Bun, Maaf."  "Yaudah, Sam tolong bangunin Angkasa." Ayah pun menengahi percakapan mereka. Ini sudah hampir jam makan siang, dan putra keduanya belum bangun juga.  "Iya Yah." Samudra yang mendapat perintah dari Ayahnya segera melangkahkan kakinya kembali menuju lantai atas, dimana kamar Adik pertamanya itu ada.  Tanpa mengetuk pintu, Samudra langsung membuka pintu kamar yang terlihat kontras dari semua pintu yang ada di lantai itu. Pintu bercat abu - abu.  "Sa! Bangun!" Ucap Samudra sambil menepuk - nepuk bahu adiknya yang tidak tertutup oleh selimut.  "Sa! Lo ga bangun, gue siram air seember! Cepet bangun!" Sepertinya ancaman yang di lontarkan oleh Samudra sama sekali tidak memancing adiknya untuk bangun. Alih - alih ia mengambil air untuk menyiram adiknya, ia justru berteriak kencang.  "Ayah! Kalau Asa ga bangun gausah di kasih uang jajan seminggu!" Teriakan Samudra itu mampu sampai ke telinga Ayahnya yang berada di ruang makan.  "Iya Sam!"  Seketika mata adik pertamanya itu langsung terbuka lebar saat mendengar teriakan Ayahnya yang mengiyakan ucapan Samudra. "Jangan Yah! Ini Asa udah bangun kok!"  Seketika semua orang yang berada di ruang makan pun tertawa. Tak urung, Samudra pun ikut tertawa. Adik pertamanya itu memang sedikit ajaib.  Dia adalah Alleandro Sheva Putra Angkasa, anak kedua dari Ayah dan Bunda. Biasanya dia di panggil Angkasa, tapi karna kata Adit kepanjangan, Adit pun mencetuskan nama Asa sebagai panggilan untuknya. Angkasa memang sedikit ajaib, diantara ketiga anak Ayah dan Bunda, dialah yang paling suka rebahan. Bahkan ia bisa tahan tidur seharian penuh jika perlu.  Bahkan petir maupun gempa sekalipun tidak mampu membangunkannya, terkecuali ancaman - ancaman yang akan merugikannya. Terutama jatah uang jajan.  "Mandi lo! Abis itu turun. Jangan mentang - mentang ini hari Minggu lo jadi tidur seharian penuh." Ucap Samudra sambil melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruang makan.  "Ih kayak lo engga aja! Gue tau lo juga baru bangun kan! Bahkan gue tau lo belom mandi."  Samudra yang mendengar itu hendak menendang p****t Angkasa kalau saja Angkasa tidak cepat menghindar dan masuk ke dalam kamar mandi.  *** "Sa, gimana sekolah kamu?"  Satu kalimat pertanyaan itu terlontar dari mulut sang Ayah. Siang menjelang sore itu diisi dengan seluruh anggota keluarga yang berkumpul di ruang tengah rumah mereka sambil menontoni Angkasa dan Adit yang tengah bermain PS di depan sebuah layar kaca yang berukuran cukup besar.  "Hah? Ga gimana - gimana Yah." Jawab Angkasa masih dengan matanya yanh fokus menatap layar kaca di depannya.  "Kamu udah kelas 12 loh Sa. Tingkatin belajarnya ya! Jangan tidur mulu." Kalo ini bukan Ayah yang berbicara, melainkan Bunda.  "Iya Bun. Asa tidur kalau di rumah aja ko, kalau di sekolah Asa rajin banget belajarnya."  "Rajin belajar melupakan Bulan ya, Mas?" Pertanyaan barusan menarik perhatian Angkasa untuk sedikit menjitak kepala adiknya yang asal ceplos saja. Ya, walaupun apa yang di tanyakan oleh Adit tidak sepenuhnya salah.  "Lo beneran putus sama Bulan, Sa?" Kali ini Asa menolehkan kepalanya karna game yang ia mainkan sudah selesai dengan dia sebagai pemenangnya.  "Eitss, biasa aja dong natapnya. Takut nih gue."  Samudra tertawa pelan. "Ya menurut lo aja Bang, gue putus atau ga?"  "Ya mana gue tau, asahan piso! Kan yang pacaran lo! Masa nanya udah putus atau engga nya ke gue!"  Kalau saja tidak ada Ayah dan Bunda, sudah di pastikan perang dunia ketiga akan di mulai.  Ya beginilah, ketika tiga bersaudara ini disatukan dalam suatu ruangan, jika tidak ada perang, ya berarti ada adu mulut.  "Tau nih Mas Asa! Udah tau Bang Sam jomblo."  Kali ini gantian Samudra yang membulatkan matanya ke arah Adit. "Heh anak kecil! Diem lo!" "Emang aku salah ngomong ya, Mas?" Tanya Adit pada Angkasa dengan wajah polosnya.  "Engga, Dit. Lo ga salah, lo bener!"  Mereka pun tertawa, bahkan Ayah dan Bunda pun ikut tertawa bersama kedua putranya diatas kecemberutan Samudra.  "Ayah sama Bunda ko ikut ketawa sih?"  Bunda terlihat berusaha berhenti tertawa. "Makanya kamu cari pacar lah, Bang."  "Nanti lah, Bun. Kalau ada yang buang, nanti Samudra pungut." Ucap Samudra asal lalu mengalihkan pandangannya pada ponsel yang ia genggam.  "Hush! Emang kamu kira sampah di buang."  Samudra hanya mengangkat bahunya.  "Bang, gue bilangin aja ya, jangan pacaran, nanti lo sakit hati kalo lo salah pilih." Angkasa kembali melontarkan kalimat yang lagi - lagj sebenarnya kalimat itu untuknya.  "Itu mah lo kali, Sa! Kan lo yang salah pilih Bulan sebagai pacar lo! Udah tau Bulan sukanya sama temen sekelas lo, malah lo ajak pacaran. Jadi cuma di jadiin pelarian kan lo."  Satu kalimat panjang itu seketika membuat mulut Angkasa bungkam seribu bahasa. Semua yang diucapkan oleh Samudra memang benar. Padahal Angkasa sendiri tidak pernah memberitahukan itu pada siapapun. Ini pasti ulah Adit. Pasalnya, Bulan adalah teman sekelas Adit di sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN