Bosan. Satu kata yang dapat mendeskripsikan ekspresi wajah dari setiap siswa dan siswi di kelas XII IPS 2. Siapa yang tidak bosan jika guru yang berada di depan hanya membacakan cerita suatu sejarah tanpa ekspresi. Bahkan, semuanya pun yakin, balita yang diceritakan dengan cara seperti ini juga akan merasa bosan.
Tak jarang ada siswa dan siswi yang sesekali melirikkan matanya ke arah jam dinding yang di tempatkan di atas pintu. 10 menit lagi.
Ada beberapa siswa dan siswi yang merasa 10 menit akan berjalan seperti sejam.
"Gila si! Bosen banget gue." Ucap seorang siswa yang tengah menyandarkan punggung nya di sandaran kursi yang ia duduki dengan jari - jari tangan yang sibuk memainkan pena.
"Nikmatin aja kali Ry, bentar lagi juga kelar." Ucap seorang siswa yang juga tengah duduk sambil sesekali menulis bagian penting dari sejarah yang di ceritakan oleh guru di hadapannya.
"Sa, lo beneran putus sama Bulan?" Tanya siswa yang dipanggil Ry itu.
Enggan menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabat bertahun - tahunnya itu, Angkasa hanya melontarkan tiga kata yang membuat sahabatnya itu memutar bola matanya malas. "Kepo lo ah!"
Terdengar bel yang berbunyi sebanyak 3 kali, menandakan bahwa jam istirahat telah di mulai. Guru sejarah yang tadi bercerita pun segera berpamit dan meninggalkan kelas itu untuk menuju ke ruang guru.
"Akhirnya istirahat juga! Gue laper banget Ry, mending langsung kantin aja deh yok!" Ajak Angkasa yang kini sudah berjalan meninggalkan sahabatnya yang masih duduk di tempat duduknya.
"Emang asahan piso s****n! Ngajak tapi ninggalin!" Walaupun sambil misuh - misuh, Nararya atau yang kerap di sapa Ary itu tetap beranjak dari tempat duduknya dan menyusul sahabatnya sejak kecil itu.
Kalau ditanya bosan? Sudah jelas pasti mereka bosan selalu berada dalam kelas yang sama dari mereka menginjak kelas 1 SD. Tapi, ya namanya manusia kan bisa di bilang makhluk yang banyak maunya, kalau satu tidak ada pasti di cari, kalau ada malah di ajak ribut.
Ary pun terlihat kelelahan mengejar langkah Angkasa yang lebar. Wajar saja lah, kaki Angkasa memang sangat panjang.
"Eh Sa, gue serius nanya nih! Kata Adit lo putus ya sama Bulan?"
Lagi - lagi, Angkasa mendengar pertanyaan dengan makna yang sama walaupun kalimat yang di lontarkan berbeda. Angkasa yang mendengar pertanyaan itu sekilas menghela napasnya. "Harus banget ya lo nanyain pertanyaan yang sama setiap jam?"
"Iya! Gue gaakan berhenti nanya sampe gue dapet jawabannya."
"Eh Ry, nih ya, lo kan udah di kasih tau sama adek gue yang bocor itu, ngapain lo nanya lagi ke gue?"
"Ya karna gue mau tau itu langsung dari mulut lo. Ya, semacam klarifikasi lah."
"Lo pikir gue sama Bulan itu pasangan selebgram yang kalo putus harus klarifikasi segala."
Ucap Angkasa mengingat beberap hari lalu bahwa di sosial media tengah di hebohkan dengan pasangan seleb dari suatu aplikasi yang sedang naik - naiknya itu mengklarifikasi mengenai hubungan mereka yang kandas karna sebuah perselingkuhan.
"Ya ga juga sih." Ary dan Angkasa mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin. Melihat - lihat apakah masih ada bangku yang kosong yang bisa mereka tempati.
Mata tajam milik Angkasa menangkap satu meja kosong yang terletak di tengah kantin, lalu ia pun mengajak Ary untuk segera kesana dan menempatinya. Namun, sayang sekali saat mereka hendak menduduki bangku yang tersedia, ada seorang siswi yang juga ingin menduduki bangku itu bersama temannya. Bulan dan Lala.
"Eh Kak, lo duduk disini aja gapapa, biar gue sama Lala cari tempat lain."
Baru saja ingin beranjak meninggalkan tempat itu, pergelangan tangan Bulan di cekal oleh Angkasa. "Gaada meja kosong lagi, mending lo duduk sini aja. Ini juga muat ko kalo cuma buat ber empat."
Angkasa memang hebat soal mengendalikan ekspresi wajahnya. Meskipun hatinya menolak untuk membiarkan gadis berseragam putih abu - abu itu duduk di hadapannya, namun ekspresinya mati - matian ia kendalikan supaya terlihat biasa saja.
Bayangkan saja bagaimana sakitnya jika harus dijadikan pelarian oleh seseorang yang kita sayang? Pasti menyakitkan 'kan?
Namun, Angkasa adalah Angkasa. Angkasa bukan tipe orang yang suka menyimpan dendam, sekalipun orang itu sudah menyakitinya.
"Hidup itu cuma sekali, buat apa nyimpen dendam? bikin beban aja. Kalo orang yang dendam sama gue yaudah biarin aja. Kan dia yang ngerasain bebannya bukan gue." Kalimat panjang itu pernah di lontarkan Angkasa pada Ary saat Angkasa dipalak oleh kakak kelasnya semasa SMP.
"Eh, emang gapapa Kak?" Tanya Lala dengan wajah tidak enaknya.
Ary sedikit tertawa kecil mendengar pertanyaan yang dilontarkan Lala. "Ya gapapa lah, ngapain nawarin kalo kenapa - napa. Ya ga, Sa?"
Angkasa pun hanya menganggukan kepalanya pelan tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ary.
Angkasa pun melangkahkan kakinya ke gerobak bakso yang berada di ujung kantin. Tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.
Ary yang menyadari itu pun segera meneriakkan pesanan untuk dirinya sebelum Angkasa menghilang dari pandangannya. "Sa, gue juga mau bakso satu ya!"
"Satu biji?"
Ary menarik nafas lelah. Lelah menghadapi sifat menyebalkan Angkasa. "Satu porsi b**o!"
Bulan yang menyadari Angkasa tetap bersikap baik pada dirinya bak tidak terjadi apapun sedikit merasa canggung sekaligus tidak enak.
"Kak Angkasa emang terlalu baik buat gue yang selalu bikin dia sakit hati. Bahkan disaat gue yang baru mutusin dia dengan alasan yang pasti bikin dia sakit banget, dia masih baik sama gue." Pikir Bulan sambil menatap kosong segelas jus jambu kesukaannya.
***
Seluruh penjuru sekolah terlihat sudah tidak ada tanda - tanda makhluk yang tinggal. Semua siswa dan siswi sudah meninggalkan setiap kelas sejak 15 menit yang lalu, terkecuali Angkasa yang terlihat masih mencatat catatan yang tadi di jelaskan oleh seorang guru dengan rambut yang sudah penuh uban saat jam pelajaran terakhir.
Ponsel yang sedari tadi ia letakkan di kolong meja bergetar terus menerus, namun tidak ia hiraukan.
Tanpa ia lihat siapa yang menelfonnya, ia sudah tau itu pasti adiknya yang tengah menunggu di parkiran, tempat dimana motor Angkasa terparkir.
Ya, Adit dan Angkasa memang berada di satu sekolah yang sama. Adit kelas 10 dan Angkasa kelas 12. Setiap hari mereka akan berangkat dan pulang bersama menggunakan motor milik Angkasa, fasilitas yang diberikan oleh Ayahnya saat Angkasa berumur 17 tahun, dan tentunya sudah memiliki Surat Izin Mengemudi.
Jangan permasalahkan sekolah mereka yang memperbolehkan siswa dan siswinya membawa kendaraan roda dua ke sekolah.
Tentu saja sekolah memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh siswa siswinya yang ingin mengendarain motor ke sekolah.
"Sabar dikit kek nih santen kara, gatau gue lagi nyatet apa." Ucap Angkasa entah pada siapa.
Sebenarnya Angkasa bukan tipe siswa yang rajin mencatat apapun yang gurunya tuliskan di papan tulis, tapi ia ingat Bundanya menyuruhnya menggiatkan belajarnya karna ia yang sudah kelas 12 dan ia akan lulus sebentar lagi. Dan pastinya dia tidak ingin mempermalukan orang tuanya jika dia lulus dengan nilai pas - pasan. Pasalnya, Abang pertamanya dulu menjadi lulusan terbaik di sekolahnya itu, masa iya adiknya menjadi lulusan pasrah. Kan tidak mungkin.
Lagi - lagi ponsel Angkasa yang berada di kolong mejanya bergetar kembali menandakan ada telfon masuk.
Santen kara is calling
Melihat nama kontak adiknya, Angkasa pun langsung menggeser icon telfon untuk menerima panggilan itu.
"Apaan si santen?!" Belum juga terdengar suara dari seberang telfon, Angkasa sudah terlebih dulu menanyakan apa kemauan si penelfon dengan suara yang menandakan ia kesal setangah hidup.
Terdengar suara helaan nafas di seberang sana. "Lo dimana sih Mas? Gue udah laper ini! Gece lah, ayo balik anying!"
Angkasa yang mendengar ajakan beserta satu kata makian dari adiknya pun mendecak kesal. "Ck, yaudah tunggu, bentar lagi turun."
Tanpa menunggu jawaban dari adiknya itu, Angkasa langsung memutuskan panggilan sepihak. Untung saja dengan menulis satu kata lagi catatannya akan selesai.
Setelah selesai, Angkasa pun segera memasukkan buku tulis dan juga satu buah pena yang baru saja ia gunakan, dan langsung berlari menuju parkiran sebelum adiknya itu kembali menghubunginya dan memakinya karna membuat ia menunggu terlalu lama.
"Lo kemana aja sih Mas? Lama banget! Gatau adik lo yang menggemaskan ini kelaparan apa?!"
Baru saja sampai di parkiran, kini Angkasa sudah kembali dihujani oleh kemarahan Adit yang kini air mukanya terlihat lemas.
Tanpa menghiraukan ucapan adiknya, Angkasa pun langsung menaiki dan menyalakan motor matic hitam kesayangannya itu.
"Ayo cepet naik! Katanya laper."
Adit yang sudah semakin lemas karna lapar pun segera naik ke atas motor Angkasa. Angkasa pun segera melajukan motornya menembus jalanan yang sore itu terlihat lengang, mengingat belum waktunya jam pulang kerja.
Jarak sekolah ke rumah mereka memang tidak terlalu jauh, di tambah kecepatan yang di pacu oleh Angkasa memang terbilang kencang, maka dari itu tidak sampai 10 menit mereka sudah sampai dirumah.
Adit yang memanh sudah sangat lapar dan lemas pun segera berlar menuju ke dalam rumah. Lebih tepatnya ke ruang makan.
"Bunda! Adit laper mau makan." Ucap Adit pada Bundanya yang terlihat tengah membuat adonan untuk ia jadikan kue.
"Yaampun, Dek! Kamu laper banget ya? Sampe keringet dingin begitu." Bunda yang melihat wajah Adit yang lemas dan di penuhi keringat dingin itu langsung mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya untuk diberikan pada anak bungsunya itu.
"Nih, makannya pelan - pelan Dek!"
Angkasa yang terlihat memasuki rumahnya pun langsung ke ruang makan juga, alih - alih ke kamarnya untuk sekedar menaruh tas dan mengganti pakaiannya.
"Kalian emang kemana dulu sih? Tumben banget jam segini baru pulang. Apalagi si Adek tuh sampe kelaperan kayak gitu."
"Tuh Bun! Mas Asa lama banget turunnya, Adit sampe nunggu diparkiran hampir setengah jam tau gak?!" Cerocos Adit yang masih mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya.
"Bawel lo Santen! Lagian kalo nungguin gue kelamaan bukannya balik duluan aja lo!"
"Ih ogah ya! Kata Ayah gue tuh kudu harus wajib berangkat, pulang sama lo! Lagian nanti kalo gue pulang sendiri trus gue diculik gimana?!"
Angkasa terlihat menghela napasnya pelan. "Mana ada yang mau nyulik lo? Nyulik lo bukan bikin mereka untung, yang ada malah nyusahin!"
"Man---"
"Eh udah - udah! Kok jadi ribut si ah?! Lagian kamu juga Dek, kan bisa samperin Mas Asa ke kelasnya, ngapain kamu nungguin di parkiran?"
Adit sedikit berdecak disela - sela kegiatan makannya itu. "Gamau ah Bun, kelas bang Asa tuh di lantai 3, cape naik tangganya."
"Iyaudah, yang penting sekarang udah sampe rumah, kamu juga udah makan. Angkasa ganti baju dulu gih abis itu baru makan ya!"
Angkasa pun mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan ruang makan.
Baru saja Angkasa ingin menaiki anak tangga pertama, ia pun kembali di panggil oleh satu laki - laki yang kini tengah menidurkan dirinya di atas sofa ruang tengah sembari menonton serial televisi web yang bergenre science fiction dan horror itu.
"Angkasa!"
"Lah kok ada lo sih?" Tanya Angkasa dengan wajahnya yang bingung karna melihat Kakak pertamanya yang tengah bersantai.
"Ya ada lah! Ini kan tempat berteduh gue juga, Sa." Jawab Samudra dengan sedikit kesabaran, karna pertanyaan adik keduanya yang terdengar sangat tidak bermutu itu.
"Bukan Bang, maksudnya tumben lo udah balik? Biasanya juga masih di kampus."
"Bosen gue di kampus mulu. Btw lo mau ke atas kan? Nanti kalo turun sekalian bawain laptop gue dong!"
Angkasa yang mendengarnya pun menghela nafasnya pelan. "Iya, ntar gue bawain."
Angkasa pun kembali melangkahkan kakinya menuju lantai 2, dimana kamarnya itu berada.
Angkasa memang sedikit terlihat lelah dari biasanya, mungkin faktor ia sudah tidak memiliki penyemangat di sekolah alias pacar.
Setelah manaruh tasnya diatas meja belajarnya, Angkasa pun memilih untuk mandi, setidaknya dengan mandi dirinya akan merasa lebih segar.
Tak butuh waktu lama ia untuk mandi, ia pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih fresh dengan air yang masih terus menetes dari rambutnya yang basah.
Baru saja ia ingin menuruni tangga, ia ingat bahwa Kakak pertama nya itu minta tolong di ambilkan laptopnya. Angkasa pun membalikkan badannya untuk menuju ke kamar milik kakaknya itu dan mengambil laptop yang masih terbuka di atas meja belajar kakaknya.
Kedua orangtua mereka memang mengajarkan mereka untuk tidak menolak permintaan tolong dari orang yang lebih dewasa semasa itu adalah permintaan tolong yang baik.
"Nih Bang, laptop lo."
Angkasa menaruh laptop milik Kakak pertamanya itu diatas meja ruang tengah, dan ikut duduk di salah satu sofa kosong yang ada.
"Lama banget lo!" Ucap Samudra sembari membuka laptopnya.
"Kalo mau cepet ya ambil sendiri Bang!"
Tak menghiraukan kalimat terakhir yang di lontarkan adiknya, Samudra pun kembali berfokus pada layar laptopnya yang menyala dan sudah menampilkan sebuah laporan yang belum ada akhirnya.
Suara derap langkah kaki yang menggunakan sepatu menginterupsi kegiatan mereka saat ini. "Lah Ayah tumben udah pulang?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Samudra membuat Ayah sedikit mengangkat sebelah alisnya. "Lah Samudra tumben udah di rumah jam segini?"
Ya, biasanya laki - laki yang biasa pulang larut akhir - akhir ini adalah Samudra dan Ayah. Mengingat Samudra yang sudah menginjak semester - semester akhir kuliah nya yang sudah pasti ia di sibukkan dengan banyak tugas atau skripsi. Dan tentunya Ayah yang di sibukkan dengan kantornya yang sedang banyak melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan milik kenalannya.
"Astagfirullah punya Ayah satu aja begini banget." Ucap Samudra mengusap gusar wajahnya.
"Astagfirullah punya anak pertama cowo gini amat kelakuannya."
Lagi - lagi Samudra mengusap gusar wajahnya saat Ayahnya itu sudah berlalu ke kamar, untuk mengganti pakaiannya. Pantas saja kalau kelakuan anak - anak Ayah dan Bunda menyebalkan, sudah pasti itu turunan dari Ayah.
"Sa, lo kadang kesel ga si punya Ayah begitu?" Tanya Samudra sembari menatap Angkasa yang di sibukkan dengan game yang tengah asik ia mainkan.
"Ga sih, b aja. Gue malah lebih kesel punya Abang kek lo yang suka memperbudak gue sama si santen!"
"Gue ga memperbudak ya, Sa! Gue cuma minta tolong."
Angkasa yang mendengar ucapan Abangnya itu hanya mengangkat bahunya tanda ia malas menanggapinya. Angkasa memang suka ribut, tapi kalau lagi asik main game seperti ini ia lebih memilih untuk mengalah daripada winrate dan rank nya yang susah payah ia naikkan harus turun.
"Ni no ni no, lalu lalu dokter datang."
Siapa lagi yang membuat suara aneh seperti itu kalau bukan Adit si santan kara yang kini tengah berlari menuruni tangga sambil mamainkan game balap mobil yang ada diponselnya itu.
"Minggir - minggir gue mau duduk!" Adit terlihat mendorong tubuh Angkasa yang masih asik bermain game diponselnya itu.
"Santen! Lo bisa diem ga?! ntar gue mati anying!" Kekesalan itu tentu saja keluar dari mulut Angkasa yang terlihat maju karna saking seriusnya bermain.
Adit masih saja mendorong - dorong lengan Angkasa. "Ya makanya lo minggir Mas ah! Gue mau duduk!"
"Arghhh!!!! Santen kara s****n! Mati kan gue! Gue gaterima kalo sampe rank gue turun!!"
Maki Angkasa pada Adit yang sudah duduk di atas sofa dengan tawa yang mendominasi dirinya. Memang adik kurang ajar.
"Yaelah Mas! Lebay banget sih lo! Tinggal push rank lagi aja sih! Katanya lo pro player, gimana sih?"
Angkasa terlihat sudah gemas dengan adiknya itu,m. Bukan, bukan gemas karna lucu, tapi gemas karna adiknya itu membuat ia kesal setengah mati. Pro player sih pro player, tapi kalau rank nya sudah tinggi tentu saja musuhnya juga pro.
Angkasa pun mulai menajamkan matanya dan sudah berancang - ancang untuk menerkam sang adik yang kini tengah memeluk toples berisi keripik pisang buatan Bunda sambil masih bermain game di ponselnya.
"Hayo! Mau berantem lagi! Bunda bilang Ayah ya? Biar dipotong uang jajannya." Kalau saja ancaman Bunda tidak menginterupsi perdebatan mereka sudah pasti Angkasa dan Adit kini sudah bergelut di atas karpet.
"Syukurin!" Celetuk Samudra.
"Kamu juga Bang! Bukannya di lerai adik - adiknya malah cuma nontonin aja!"
Angkasa dan Adit yang mendengar Bunda juga mengomeli Kakaknya pun tertawa meledek. "Mampus lo Bang!"
Samudra terlihat mengerucutkan bibirnya. "Ko Abang juga kena di omelin sih, Bun?"
"Pusing Bunda punya tiga anak laki - laki kerjaannya ribut mulu! Sehari aja gitu akur biar Bundanya juga tenang."
Ayah yang terlihat beru keluar dari kamarnya pun sedikit mengelus pundak Bunda yang masih berdiri memperhatikan ketiga anaknya yang kini diam. "Tuh dengerin Bunda! Atau uang jajan kalian Ayah potong."
"Ayah mah ga kreatif, ancemannya cuma potong uang jajan. Ga asik." Celetuk Angkasa yang kembali mulai memainkan ponselnya tapi tidak untuk bermain game melainkan membuka salah satu aplikasi yang ada di ponselnya.
"Oh, Angkasa mau motornya Ayah tarik?" Tanya Ayah dengan nada santainya.
Angkasa yang mendengar itu pun segera menatap Ayahnya dengan cengiran khas miliknya yang terpampang indah di wajahnya. "Eh engga Yah, becanda doang."
Bunda yang melihat itu hanya menggelengkan pelan kepalanya, lalu melenggang duduk di salah satu sofa yang masih kosong bersama Ayah.
Angkasa saat itu terlihat menscroll aplikasi yang tadi ia buka. Pandangannya pun berhenti pada sebuah postingan milik seseorang yang beberapa hari lalu telah memutuskan hubungan dengannya.
kania.bulan
1.104 suka
Tampilkan semua 7 komentar
slv.nayla foto hasil screenshot aja cantik, heran.
| kania.bulan tolong untuk tdk buka kartu ya
"Gimana mau move on kalo dipandangin terus." Celetuk Adit yang tanpa Angkasa sadari, adiknya itu mengintip kelakuan Kakak keduanya itu yang terus - terusan memandangi foto Bulan alias mantan pacar Kakaknya itu.
Angkasa melirik tajam ke arah adik satu - satunya itu. Kalau saja tidak ada Ayah dan Bunda di ruangan itu pasti keributan yang belum genap setengah jam berakhir akan terjadi lagi karna ulah sang santen kara.
"Bisa ga si lo sehari aja ga ngusik gue, santen!" Teriak Angkasa seraya mendorong badan adiknya yang tentu lebih kecil darinya itu.
"Ribut lagi!" Kali ini Ayah yang menyuarakan suaranya. Lama - lama pusing juga lihat anak ribut terus.
"Ini nih Yah, si adek ganggu privacy Asa!"
"Halah! Sok - sok an privacy." Cibir Samudra sambil beranjak dari duduknya. Sepertinya, mengerjakan laporan di antara adik - adiknya yang tukang ribut itu bukan ide yang bagus.
"Bulan udah bukan privacy kamu lagi, Mas. Satu rumah udah tau kali." Ucap Bunda pada Angkasa.
"Sa! Kamu mau Ayah kasih cara move on terbaik ga?"
Kali ini Ayah menyuarakan kembali suaranya untuk memberikan solusinya pada Anak keduanya itu. Angkasa itu baru berumur 17 tahun, wajar saja kalau dia belum terlalu bisa menyelami yang namanya patah hati dan susah move on.
Mengerti akan ada suatu pembicaraan antara Ayah dan Anak, Bunda mengajak Adit ke dapur untuk mengangkat kue yang tadi dibuatnya.
"Gimana, Yah?" Angkasa menggeser duduknya sampai dekat dengan Ayahnya.
Sembari menatap ke arah layar kaca didepannya. "Kalau kita mau melupakan sesuatu, kunci yang pertama itu adalah ikhlas."
Angkasa masih diam di tempat duduknya.
"Mengikhlaskan memang bukan hal mudah, Sa. Tapi kalau memang kamu bener sayang sama Bulan, kamu pasti ngerti kenapa Bulan lebih memilih untuk mengakhiri hubungan kalian." Ayah terlihat mengubah posisi duduknya yang semula menghadap layar kaca di depannya, kini menghadap Angkasa.
"Kamu juga harus berdamai sama dia, Sa. Jangan mentang - mentang kalian dulu dekat jadi jauh gitu aja cuma karna udah ga sama - sama lagi. Percaya sama Ayah, kalau kamu jalin hubungan kamu sama dia dengan baik walaupun kalian udah putus, kalian masih bisa jadi teman dekat. Dengan itu perlahan - lahan perasaan sayang kamu ke dia akan berubah jadi perasaan sayang ke seorang teman atau bahkan bisa jadi perasaan sayang ke seorang adik. Sama seperti kamu sama Adit."
Angkasa masih terdiam mencerna setiap kalimat yang Ayahnya katakan.
"Tapi Yah, tadi Asa udah ngelakuin apa yang Ayah bilang barusan, tapi kenapa Bulan malah kayak mau menghindar gitu?"
Ayah tersenyum tipis. "Itu artinya Bulan belum bisa berdamai sama hatinya."
"Tapi Yah---"
"Udah gausah pake tapi - tapian lagi, sekarang kamu siap - siap gih, kita sholat maghrib berjama'ah."