Kangen
Hey Diary. Dan hei kamu yang pernah singgah dihatiku.
Hey kamu yang pernah berteman akrab dengan aku
Kita dilihat orang itu bukan seperti sahabat melainkan,
Sebagai sepasang kekasih. Bagaimana kabarmu?
Apakah kamu rindu aku? Dan apakah kamu bahagia?
Dengan teman aku yang sempat aku benci?
Setelah berpisah sekian lama. Aku merindukanmu. Dulunya aku berharap aku akan baik- baik saja tanpa dirimu. Karena waktu kita masih bersama, engkau selalu merepotkan aku. Namun, aku salah ternyata tidak semudah itu berpisah denganmu. Benar kata orang kita tak akan bisa membenci sahabat kita. Meski bagaimanapun pertengkaran diantara kita.
Dan setelah kita berpisah, tak ada komunikasi. Tak ada sapaan dan canda tawa. Aku merindukan dirimu, sangat merindukan dirimu tetapi, aku tak bisa mengungkapkan langsung kepada dirimu. Aku tak bisa memeluk dirimu dan tertawa bersama tanpa ada yang namanya saling cemburu.
Ketika kepergianmu. Aku sadar kalau sebenarnya aku nggak seharusnya membawa hubungan kita kedalam perasaan karena ujung- ujungnya, itu hanya akan merusak persahabatan diantara kita. Dan dari kepergianmu juga aku belajar kalau orang yang kita cintai. Tak selamanya bisa kita miliki.
Ada saatnya kita harus mengikhlaskan dia demi kebahagiaan tersebut. Maafkan aku, karena keegoisan ini. aku menghancurkan pertemanan yang sudah kita jalin selama bertahun- tahun. Sekarang aku sadar, dan aku tak ingin mengambil peran apapun lagi.
Kamu harus tahu itu. Aku sudah mengikhlaskan perihal perasaan dan rasa ingin memiliki dirimu tersebut, dan aku sudah sangat rela melihat kamu bersama dengan orang yang kamu pilih. Namun hanya rindu yang sekarang aku miliki. Rindu yang tanpa ingin memiliki.
Rindu sahabat yang terbaik dalam hidupku. Sahabat yang selalu ada disaat aku sedih dan senang. Selalu membantuku dan melindungi jerrynya ini. aku harap kamu juga merasakan rindu kepada temanmu yang paling cuek di antartika ini. Gali kamu adalah pria yang selalu ada disamping aku.
Kamu tau? Aku sudah belajar menjadi dewasa, dan tak egois. Karena ada pria yang selalu menyemangati aku. Seperti kamu, dia lebih ganteng dan baik dari kamu. Dia mengubah rasa kebencian aku menjadi perasaan ikhlas dan senang karena kamu memilih wanita yang tepat, seperti Febiola.
Dan satu hal yang ingin aku sampaikan kepada dirimu. Karena dia. aku bisa menjadi kuat tanpa kebencian apapun, itu sebabnya kau berani menuliskan cerita dan kisahku ini.
Dari jerrymu
Gaby
Gaby tersenyum diiringi dengan tetesan air mata yang paling berharga dalam dirinya tersebut. Ketika memandangi buku diarynya tersebut. Tiba- tiba seseorang memegang bahunya dengan tersenyum. Gaby mendongak dan melihat orang itu dengan membalas senyuman dan memegang tangan pria yang tengah berdiri di belakangnya tersebut.
“Kok kamu malah disini, katanya mau pulang,” ucap Gaby dengan tersenyum.
“Ia, tapi aku kangen kamu makanya aku balik lagi. Soalnya kalau aku nggak lihat kamu satu detik saja. aku langsung kangen sama kamu,” jawab pria yang tak lain bernama Adrian, pria yang kini menjadi kekasihnya selama 4 tahun. Bahkan berencana ingin menikah untuk tahun ini.
“Hm. Gombal,” Gaby mengarah ke arah Adrian dan mencubit lengan sang kekasihnya tersebut dengan pelan. Yang disambut dengan senyuman hangat kekasihnya tersebut, “sudah sana. Kamu pergi, nanti pasien nyariin kamu tau,” suruh Gaby dengan mendorong kekasihnya itu keluar.
“Trus yang cariin kamu siapa? Aku maunya kamu ada didekat aku.”
“Apa Sih, gimana caranya biar aku bisa dekat sama kamu selalu ada disamping kamu, coba kamu mau aku masuk mana?”
“Kamu kan kecil. Jadi kalau kamu masuk kantong aku keknya kamu muat deh,” gombal Adrian dengan mengedipkan matanya ke arah Gaby. Dan dihadiahi oleh Gaby secara langsung dengan sebuah pukulan di lengan. Begitulah cara mereka untuk quality time berdua.
“Apaansih, kamu tu kebanyakan gombal bangat tau. Kamu belajar dari siapa?” tanya Gaby dengan sok cool. Bukannya berhenti menggoda. Adrian justru semakin menjadi- jadi dengan mencubit kedua pipinya tersebut. Ditengah- tengan hal tersebut dia teringat dengan sahabatnya yang bernama Galileo. Entah bagaimana kabarnya sekarang.
Apa dia- dia baik saja atau tidak. “Kamu kenapa?” tanya Adrian ketika melihat raut wajah Gaby yang tiba- tiba berubah. Gaby hanya menggelengkan kepala dan memeluk Adrian sebagai bentuk ada sesuatu yang berusaha kendalikan dalam pikirannya. Adrian dengan sigap membalas pelukan kekasihnya, dan mengelus rambut panjang milik Gaby dengan halus dan penuh perasaan.
“Kamu kepikiran lagi sama teman kamu itu?” Gaby mengangguk- angguk. Sudah 5 tahun dia tak bertemu dengan sahabatnya itu. Dikarenakan keegoisan yang ada dihati Gaby membuat persahabatan hancur dan retak.
“Begini saja. Kamu kan terima undangan pertunangan mereka, kamu hadir aja. ya setidaknya kamu bisa melihat dia dan lebih baik juga kamu minta maaf kepada dia. supaya dia mau memaafkan kamu. Ayolah, kamu jangan egois dong. kamu nggak mau kan terus- terusan begini?” Adrian berusaha mengingatkan Gaby supaya mau bertemu dan menerima undangan yang diberikan Febiola kala itu, dengan lembut dan pelan Adrian berusaha menjelaskan kepada calon istrinya kelak.
Gaby hanya diam dia masih bingung, dia takut jika nanti Galileo tak mau berteman lagi seperti yang dikatakan Galileo 5 tahun silam ketika mereka bertengkar hebat, gaby pergi berjalan ke sofa yang ada di ruangan tersebut dengan bingung dan bimbang. Seraya memijat kepalanya yang tak sakit.
Adrian menghela nafas melihat tingkah Gaby selalu saja begitu. Merasa bahwa dialah yang benar dan salah tetap orang. Dia mengambil air minum dan memberikan kepada Gaby. Supaya Gaby tenang.
“Kamu mau gini terus- terusan, coba deh sayang kamu pikirin deh, yang salah itu kamu bukan? Kamu yang terlalu bawa perasaan kepada dia.”
Gaby berpikir sejenak sembari minum air yang diberikan Adrian kepadanya. “Aku nggak mempermasalahkan siapa yang salah, tapi aku takut kalau apa yang dibilang Gali itu menjadi kenyataan. Dia nggak mau berteman karena aku, Cuma itu aja,” jawab Gaby.
“Kamu belum coba. Tapi kamu udah takut, ya seandainya pun dia bilang begitu. Kamu sudah lega bisa melihat dia karena sudah minta maaf. Lagian keknya juga Galileo sama seperti kamu. Dia juga pasti kangen kepada temannya, makanya Febiola sampai bela- belain dari Jakarta ke Bogor Cuma ngantar undangan sayang,” Gaby hanya diam tak ingin menjawab omongan kekasihnya, dia memilih bermain handphone.
Adrian hanya geleng- geleng kepala dengan tingkah Gaby, “Hei lihat aku,” Adrian memegang pipinya Gaby, dan menatap Gay dengan penuh makna, yang dibalas oleh tatapan juga, “Kamu bisa, karena kau sudah ikhlas dari hati bukan dari otak. Lagian aku udah ada disamping kamu, nggak akan mungkin seorang sahabat membuat temannya kecewa padahal dia tau dengan jelas bahwa sahabatnya berusaha berubah,” mata Gaby berbinar seolah- olah paham dan mengerti apa yang disampaikan kekasihnya itu.
Karena awal kejadian mereka adalah begini. 5 tahun silam