Gaby Aneh

1063 Kata
“Kamu tau nggak kalau ternyata Leo itu orangnya care bangat tau! Apalagi kalau dia tersenyum senumaannya itu manis bangat tau. Nggak kuat bangat aku,” Feby membayangkan bagaimana Gali yang memberikan perhatian kepada dirinya itu. Namun Gbay hanya diam dan tak mau menanggapi ataupun mengatakan sesuatu. Karena bagaimanapun itu hanya akan membuat dirinya sakit. Gaby lebih memilih mengetik di papan keyboard laptopnya tersebut dengan serius dan konsentrasi yang penuh sehingga dia tak memikirkan yang namanya Galileo. Walaupun Feby selalu saja menceritakan segala tentang Gali yang sangat care kepada dirinya itu, “Dan kamu tau nggak? Waktu aku baru sampai kampus dia langsung nyamperin aku,” Gaby berhenti sejenak dan mengingat jika dirinya dan Gali tak bersama ketika ke kampus. Gali beralasan bahwa dia ingin langsung gedung fakultasnya itu. Ternyata ia berbohong. Lalu apakah Gaby harus marah? Jawabannya tidak meski hal itu menyakitkan. Akhirnya Gali mulai melupakan dia. “Trus kalau kamu disamperin kenapa? Apa aku harus kasih kamu piala atau hadiah gitu? Nggak kan?” tanya Gaby dengan ketus. Dengan cepat dia mematikan laptopnya itu lalu pergi begitu saja. “lah kok dia ngamuk? Apa aku salah ya? Ngomong kek gitu. Tapi apa salahnya. Kan Gali tu dia bilang Cuma temen nya doang dan nggak lebih. Kok sekarang beda ya?” gumam Feby yang melihat kepergian Gaby dari balik jendela tersebut. Namun dirinya hanya bersikap acuh tak acuh. “Pantesan aja. dia bilang kalau dia mau berubah. Pake alasan berubah lagi biar bisa kabur. Padahal mau ketemuan sama Feby. Apa susahnya sih bilang kalau dia mau ketemu sama Feby. Emang kalau dia jujur aku makan dia, atau telan dia? nggak kan. Terus kenapa dia gak jujur lagi sama aku,” Gaby mulai ber argumentasi terhadap dirinya dan membuat spekulasi yang tak jelas bibit dan bobotnya itu. Jangan lupakan mukanya yang sudah masam, kesal dan marah sudah bersatu bagaikan gado- gado. Tak lengkap lagi jika dia tak menendang batu ke sembarang tempat untuk meluapkan emosinya. Dan menatap orang yang lewat dengan sinis. Dia melihat banyak sekali orang yang bersama dengan kekasihnya. Bagaikan drakor saja yang berada di real life. Kenapa sih orang- orang pada tebar pesona. Ke nggak ada kerjaan aja. please deh sadar diri dari bucin itu. Kalian pikir kalau kalian micin bisa makan? Ngakkan? Terus kenapa pake kata bucin- bucin segala. Hentikan semua ini! gerutu gaby yang sudah kesal makin kesal kala melihat orang yang berduaan. Dan matanya tak sengaja melihat Gali yang tengah bersantai diam dan duduk tenang seraya menikmati makanan yang sudah dipesannya itu, “Wah itu tu orang yang udah buat darah rendah aku naik. Bikin emosi aja,” ucap Gaby yang geram. Matanya sudah memerah menahan amarah. Ak lupa tangannya yang menegang, dan mengeras bersiap untuk meninju muka tampan milik Gali itu. Berjalan dengan cepat dia datang buat menyusul Gali yang masih saja sama dengan posisi yang baru saja dilihat dirinya itu, “Gali!!” teriak Gaby membuat seisi kartun terkejut dan hampir jatuh gara- gara suara Gaby yang amat keras mengalahkan kerasnya suara TOA yang ada di masjid sebelah. Dn orang yang diteriaki namanya malah santai melihat muka Gaby tanpa merasa bersalah. “Kenapa sih lo harus berpura- pura bohong kalau lo sebenarnya mau ketemu sama Feby? Kenapa apa gue salah. atau gue nggak bisa dekat sama lo lagi? Tapi kenapa Gali. Aku sayang kamu dengan tulus. Kamu nggak bisa lihatlah bagaimana hati aku sama kamu? Apa kamu nggak bisa merasakan cinta aku ini? apa kurangnya aku? Apa aku kalah saing sama Feby? Atau aku nggak secantik Feby?” Banyak sekali yang ingin ditanyakan Gaby kepada sahabatnya itu. Tetapi juga dia berpikir dampak apa yang akan terjadi jika sampai sahabatnya tau kalau dia mencintai temannya yang selalu ada selama ini disampingnya. “kenapa?” tanya Gali dengan santai. Gaby menggeleng kepala dengan lemah. Gali terkekeh dengan perilaku Gaby yang tiba- tiba saja menjadi lemah lembut. Padahal baru saja dia berteriak bagaikan orang gila. Tapi mau gimana lagi itulah Gaby yang suka berubah- ubah Temani aku yuk!” ajak Gali kepada gadis yang ada di sebelahnya tu. Gaby melihat kesamping dan menunjukan dirinya itu. Seolah- olah bertanya apakah yang disuruh Gali itu adalah dia. dan benar saja jawabannya ada;a dia dengan bahagia. Gaby tersenyum bangga dan merasa bahwa Faby belum bisa menggeser posisinya dari hati Gai. Namun tak akan semudah itu Gaby mengiyakan. Pasti ada- ada aja yang akan dibuat dirinya supaya berantem atau berdebat dengan Gali. “kenapa aku? Dimana Feby gebetan kamu itu. Biasanya kamu kan ajak dia. kenapa sekarang ajak aku,” tanya Gaby dengan datar. Gali melihat handphonenya sebentar untuk melihat siapa saja yang menerima dirinya chat serta membalas chatnya tersebut. “Apa Sih kamu, kamu kan teman aku. Bestie terbaik dan terhebat sepanjang masa. Makanya aku suruh kamu. Tenang aja ntar aku traktir kamu kok,” ujar Gali yang masih fokus dengan Handphone. Gaby masih belum puas dengan jawaban Gali yang menjawab seadanya. Dia mau jawaban yang lebih, sehingga perasaan itu lega, “oh ya? Jadi aku bestie kamu?’ tanya Gaby dengan menatap Gali tak percaya. Gaby hanya mengangguk dengan cepat dan santai. “Kalau memang aku bestie. Kenapa kamu udah suka bohong. Emang bestie itu harus bohong ya? Trus kalau teman itu. Kita nggak bisa tau apa kemana teman kita?” muka Gali mengert karena tak mengerti apa yang diomongin temannya tersebut kepada dirinya itu. “maksud kamu apa sih?” tanya Gali. “Coba deh kamu renungkan apa saja yang sudah kamu buat sama aku, masa Cuma karena mau ketemu gebetan kamu nggak jujur sama aku. Emangnya kalau kamu jujur aku marah? Nggak kan. Kamu kenapa sih harus berbohong sama aku?” Gali semakin tak paham dengan apa yang dikatakan Gaby kepada dirinya itu. “Apa Sih, aku nggak ngerti sama kamu. Lagian biasa aja kali. Tadi emang aku mau ke kelas aku. Tapi waktu aku mau pergi aku gak sengaja lihat dia. itu aja, lagian kamu tu aneh bangat. Cuma karena gitu marah. Biasa aja kali keles.” “Iss. Siapa yang marah?” “Kamu lah!” “Aku nggak marah ngapain aku marah. Aku Cuma nggak suka aja sama kamu yang udah bohong sama aku. Aku mau kamu jujur itu aja apa susahnya sih. Lagian kalau kamu jujur hati aku pasti lega tau,” Gali terkekeh mendengar perkataan Gaby yang semakin aneh saja. “kamu keknya kurang makan deh. Kamu pesan aja, biar aku yang traktir.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN