Sekembalinya aku dari warung, betapa terkejutnya aku begitu mendapati Andaru yang tengah menggendong si Oren. Ah, ini bahaya banget! Mau ditaruh di mana mukaku, kalau teman-teman sekelasku tahu Andaru sering ke rumahku. “Daru lo ngapain?!” tanyaku sambil menarik lengan Andaru, dan membawanya menjauh dari teman-temanku. “Apa, sih? Biasa juga gue ke sini.” “Ada teman-teman gue!” “Kenapa? Lo malu?” tanya Andaru dengan ekspresi super menyebalkan. “Gue cuma mau nengokin Oren kok.” “Bu-bukan begitu!” “Yaudah, gue ke rumah Bagas, deh. Tapi Oren gue bawa, ya?” Aku mengangguk singkat, sambil buru-buru memanggil Bagas yang masih berada di kamar Mas Tama. Aku harus sesegera mungkin mengusir mereka dari rumahku. Jadi begitu dua orang bodoh itu menghilang dibalik pagar rumah Bagas, aku b

